Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 23


__ADS_3

"Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan orang yang belum aku kenal sama sekali? Aku tidak tahu bagaimana cara hidupnya! Aku tidak tahu bagaimana sifatnya! Aku bahkan tidak tahu bagaimana keluarganya!" seru Roni.


Roni meraih tangan kekasihnya itu dan menggenggamnya erat, kali ini kekasihnya itu memperbolehkan Roni menggenggam kedua tangannya.


"Aku sungguh mencintaimu! Aku berani bersumpah kalau aku sangat mencintaimu!" ucapnya lirih. Suaranya terdengar bergetar. Kekasihnya menganggukkan kepalanya pelan.


"Aku tahu! Aku percaya itu." ucap wanita itu pelan.


"Tapi keadaannya sekarang seperti ini!" lanjutnya.


"Bagaimana mungkin kamu memisahkan seorang bayi dari ibunya?!" tambahnya.


Roni menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Terlihat sekali kalau ia benar-benar depresi dengan permasalahannya ini.


"Aku harus bagaimana, yank?" gumamnya pelan. Wanita berambut panjang dan lurus itu menghela nafasnya pelan.


"Jadilah pria yang tangguh, yank!" ucapnya pelan. Roni menatap wajah cantik kekasihnya itu dengan seksama.


"Bertanggung jawablah pada wanita itu!" Sambil mengucapkan kata-kata itu, air matanya kembali bercucuran membasahi pipinya. Roni memeluk wanita cantik itu dengan erat dan mereka menghabiskan malam terakhir mereka sebagai sepasang kekasih bersama.

__ADS_1


...


Aku menggeleng pelan. Adnan tersenyum sinis padaku, ia seperti sedang meremehkanku.


"Kenapa lo ga mau, Mel? Kan lo bisa untung banyak!" kata Bayu.


Untung? Astaga! Apakah aku mesin yang memproduksi bayi lalu kemudian menukarnya dengan sejumlah uang?! Aku jadi bingung, apa benar motivasi mereka merencanakan ini semua karena mereka sangat menyayangi sahabat mereka itu dan menyelamatkannya dari perempuan jahat yang sekarang menjadi pacarnya itu, tapi kenapa saat ini mereka tidak mencerminkan itu semua dan malah terlihat seperti orang jahat yang akan menghancurkan sahabatnya sendiri.


"Terus kalau seandainya Roni tetap pada keputusannya ga mau menikahi lo bagaimana?" tanya Bayu lagi. Aku mengangkat bahuku.


"Gue mungkin akan merawat bayi ini seorang diri!" jawabku.


"Tapi pertanyaannya, lo dapat uang dari mana untuk melahirkan anak itu dan merawatnya hingga besar?" tanya Adnan. Lagi-lagi wajahnya berekspresi seperti meremehkanku.


"Ya gue akan bekerja keras dari sekarang dan menabung untuk semua biayanya!" jawabku. Nada bicaraku sedikit tinggi karena aku merasa kesal dengan ucapannya.


"Lo mau terus kerja di toko roti itu?" tanya Adnan. Aku mengangguk pelan.


"Memangnya lo ga malu? Nanti perut lo bakal membesar sedangkan semua temen kerja lo tahu kalau lo belum menikah?!" tambahnya. Aku terdiam.

__ADS_1


Sakit rasanya mendengar ucapan Adnan, tapi ucapannya itu ada benarnya juga! Kalau aku benar-benar ingin membesarkan anak ini, aku harus tetap bekerja tapi tidak mungkin kalau aku bekerja di tempat yang sama sedangkan keadaan sekarang sedang seperti ini, pasti sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan lagi.


Sekarang aku benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan! Haruskah aku menukar anak ini dengan sejumlah uang seperti yang Adnan dan Bayu katakan itu?


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤

__ADS_1


Terima kasih 😘🤗🥰


__ADS_2