
Hendra tampak sedikit kesulitan menutup rooling door toko tempat kami bekerja, ketika aku hendak membantunya tiba-tiba saja Roni menarik lenganku. Cengkramannya cukup kuat.
"Biar aku saja!" ucapnya dengan suara berbisik. Dengan sigap Roni menarik rooling door itu bersama dengan Hendra hingga tertutup. Ia terlihat sangat tampan ketika melakukan hal sesederhana itu saja.
"Terima kasih kak!" ucap Hendra ketika mereka sudah selesai menutup toko.
"Mel, gue duluan ya!" seru Hendra sambil melambaikan tangannya padaku.
"Kak, gue duluan ya!" pamitnya pada Roni.
"Oh ya! Hati-hati di jalan!" sahut Roni. Tak lama kemudian Hendra meninggalkan aku dan Roni berdua saja di depan toko.
"Ayo masuk ke mobil, aku akan mengantarmu pulang!" ucap Roni lembut. Aku mengangguk pelan.
Roni membantuku lagi untuk memasuki mobilnya, ketika aku hampir terpeleset, dengan cepat ia menangkap tanganku dan memegangi tubuhku. Jantungku berdebar dengan kencang dan tak karuan ketika tangannya menyentuh punggungku dengan lembut.
__ADS_1
"Apa kamu tidak punya mobil yang tidak setinggi ini?" tanyaku. Aku tidak serius menanyakan hal itu, aku hanya ingin menghilangkan sedikit kegugupanku. Roni hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa sambil terus membantuku untuk bisa masuk di mobilnya dengan baik.
Aku mengenakan seat belt pada tubuhku, sementara itu dengan cepat Roni memasuki mobilnya. Ia sudah terbiasa dengan mobil tingginya ini jadi dengan mudahnya ia memasuki mobilnya. Perlahan ia menyalakan mesin mobilnya dan mengatur pendingin mobilnya. Aku melirik ke arahnya, ia tidak segera menjalankan mobilnya. Apa dia sedang memanaskan mobilnya?
Dugaanku salah! Roni berbalik menghadapku yang duduk di sampingnya, sejenak ia hanya terdiam sambil memandangi mataku. Itu membuatku sangat gugup dan salah tingkah! Aku memalingkan pandanganku ke pemandangan yang ada di balik jendela mobilnya.
"Ayo kita menikah!" ucapnya tiba-tiba. Ia mengucapkannya dengan suara yang sangat lembut tapi berhasil membuat jantungku seperti tersambar petir! Dia membuatku benar-benar terkejut. Aku berbalik dan kembali menatap wajah tampannya. Apa dia sedang bercanda denganku?
"Apa yang kamu katakan tadi?" tanyaku. Tanpa merubah posisinya sedikitpun, Roni kembali mengulangi ucapannya itu.
"Ayo kita menikah!" Ekspresi wajahnya terlihat sangat serius. Ada apa ini sebenarnya? Apa dia sedang meledekku? Tapi untuk apa? Lalu untuk apa juga dia mengatakan hal itu? Waktu itu dengan tegas dia menolakku dan bilang hanya akan mengambil anakku, tapi sekarang tiba-tiba saja dia mengajakku menikah.
"A.. ada apa denganmu?" tanyaku gugup. Roni menghela nafasnya perlahan.
"Aku akan bertanggung jawab pada kehidupanmu dan anak itu ee... maksudku anak kita!" ungkapnya.
__ADS_1
"Berikan aku kesempatan untuk menebus dosaku padamu dan anak kita!" pintanya. Apakah dia serius? Jantungku berdebar kencang dan perasaanku pun tak karuan. Ini bukan kesalahannya! Dia akan menebus dosa yang bukan miliknya! Kasihan sekali dia! Ada apa dengan perasaanku ini? Bukankah ini yang aku tunggu? Tapi kenapa perasaanku tiba-tiba menjadi tak tega melihatnya seperti itu? Oh Tuhan, maafkan aku!
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
__ADS_1
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰