Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 27


__ADS_3

Aku meraih tasku yang tergeletak di meja kecil samping ranjang ini dan aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas. Sejenak aku hanya memandangi layar ponselku sambil berpikir. Apakah aku harus memberi tahukan Roni tentang keadaanku saat ini? Aku penasaran dengan reaksinya kalau mendengar kondisiku lemah, apakah dia akan memperhatikanku atau malah bersikap cuek?


Aku mengetikkan sebuah pesan singkat untuk Roni yang berisi tentang keadaanku saat ini. Jantungku berdebar kencang menantikan balasannya. Semenit.. dua menit.. Lama sekali dia membalas pesanku! Kurasa dia tidak peduli dengan keadaanku!


Akhirnya 1 jam 15 menit berlalu dan aku belum juga mendapat balasan dari pesan singkat yang kukirimkan pada Roni. Kurasa walaupun dia sudah memutuskan untuk menikahiku tapi hatinya tetap bukan untukku! Hash! Aku menghela nafasku dengan kasar. Baiklah! Aku memang harus tetap mandiri!


Aku beranjak dari ranjang karena merasa keadaanku sudah membaik dan kakiku juga sudah cukup kuat untuk menopang tubuhku. Aku melakukan pembayaran di kasir untuk biaya pemeriksaan dan obatku dan beranjak dari klinik itu. Ketika akan melangkah keluar, tiba-tiba saja ponsel yang berada di dalam tasku bergetar, aku segera mengeluarkan ponselku itu dan melihat siapa yang meneleponku. Sebuah nomor yang tidak kukenal. Siapa ini?


"Halo." sapaku pelan.


"Kamu di mana sekarang?" tanya si penelepon itu *to the poin*t. Siapa ini? Suaranya terdengar tidak asing di telingaku.


"I.. ini siapa?" tanyaku ragu.


"Ini aku! Roni!" ucapnya. Jantungku berdebar kencang ketika si penelepon itu menyebutkan namanya.


"A.. aku masih di klinik." jawabku gugup.


"Klinik mana? Share lokasimu sekarang dan tunggu aku di sana!" seru Roni. Ia terdengar seperti sedang cemas. Roni membuat dadaku terasa sesak karena debaran jantungku terlalu kencang. Aku tidak menyangka kalau ia akan memberi perhatian padaku seperti ini. Aku sangat bahagia! Sungguh aku sangat bahagia!

__ADS_1


"Baiklah!" sahutku. Aku mengirimkan posisiku saat ini dan menunggunya di ruang tunggu klinik.


...


Sudah 1 jam lebih aku menunggu kedatanga Roni dan aku mulai bosan. Aku merasa sedikit kesal, kalau saja aku pulang sendiri, aku pasti sudah sampai rumah dari tadi dan aku sudah bisa beristirahat.


"Suaminya belum jemput ya, bu?" tanya perawat yang tadi memberikan obat padaku. Ini lah pertanyaan yang menambah kekesalanku.


"Iya, sus." jawabku pelan.


"Mel!" Seseorang memanggilku, aku menoleh ke arah sumber suara dan tampak Roni dengan langkahnya yang terlihat terburu-buru. Begitu sampai di hadapanku, ia terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya.


"Maaf, aku tadi masih berada di luar kota karena ada meeting! Aku langsung menuju ke sini begitu membaca pesanmu!" terang Roni.


"Bapak suami ibu ini?" tanya perawat itu. Roni tersentak dan terlihat sedikit kikuk mendengar pertanyaan perawat itu.


"Iya, sus!" jawab Roni pelan. Jawabannya itu membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.


"Istri saya sakit apa ya, sus?" tanya Roni. Dia bersikap benar-benar seperti seorang suami. Dia membuatku terpaku menatapnya.

__ADS_1


"Kata dokter, istri bapak perlu banyak istirahat dan minum vitamin!" ungkap perawat itu.


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤


Terima kasih 😘🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2