
Aku hanya bisa menangis, menangis sekeras-kerasnya. Ini pertama kalinya aku melakukan hal seperti ini dan aku melakukannya dengan orang yang sama sekali tidak kukenal hanya demi sejumlah uang untuk membayar hutangku. Aku malu mengakuinya, tapi sungguh aku sama seperti wanita murahan!
Rasanya sakit sekali! Aku tidak menyangka kalau rasanya akan sesakit ini, tapi pria itu tidak berhenti melakukannya padahal aku terus berteriak padanya untuk menghentikannya. Ia melakukannya berkali-kali. Aku mencoba menghentikannya tapi tenaganya sangat kuat. Aku tidak menyangka kalau kami akan benar-benar melakukannya, padahal aku sama sekali tidak punya firasat apa-apa kalau pria yang kutemui di bandaralah yang akhirnya melakukan hal ini padaku.
"Aku sudah lelah, kumohon hentikan!" pintaku di sela-sela tangisku.
...
Aku terus menangis hingga sinar matahari menerobos ke dalam kamarku melalui celah-celah jendela. Entah mengapa aku yang awalnya sangat yakin melakukan pekerjaan ini untuk membayar hutangku tapi setelah melakukannya aku malah merasa sangat memyesal.
"Eerrggh.." Pria itu mengerang, ia memegangi kepalanya sambil menegakkan tubuhnya. Ia mulai tersadar. Aku menaikkan selimut yang menutupi tubuhku sedari tadi karena aku malu kalau ia melihat tubuhku.
Pria itu terus memegangi kepalanya, sepertinya kepalanya itu terasa sangat sakit. Perlahan ia membuka matanya tapi ia belum menyadari kalau ada aku di sampingnya. Bagaimana ini kalau dia melihatku? Jantungku berdebar sangat kencang.
Perlahan pria itu menoleh ke arahku, ia mengerutkan keningnya begitu menyadari ada aku di sampingnya. Ingin rasanya aku bersembunyi di balik selimut!
"Ka.. kamu?!" serunya tiba-tiba. Ia tampak sangat terkejut dengan keberadaanku di sampingnya, bersamanya di ranjang yang sama dan sama-sama hanya berbalut selimut.
"Kenapa kamu di sini?" tanyanya kalut karena menyadari kalau kami tidak berpakaian. Beberapa kali ia mengintip ke balik selimut untuk memastikan keadaannya.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, ini kamarku!" ucapku pelan.
Pria itu memperhatikan setiap sisi ruangan dan akhirnya ia tersadar kalau ia bukan berada di tempatnya. Sejenak ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu, mungkin ia mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Bagaimana aku bisa berada di sini?" tanyanya pelan.
"Semalam kamu mabuk dan menerobos ke kamarku ini." bohongku. Semoga saja dia tidak bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam. Pria itu kembali terlihat seperti sedang berusaha mengingat sesuatu.
"Aku hanya minum satu gelas, bagaimana mungkin aku mabuk!" gumamnya. Ia terlihat seperti tidak mempercayai ucapanku.
"Apa saja yang kita lakukan semalam?" tanyanya lagi.
"Kamu memaksaku melakukannya. Kita melakukannya." jawabku pelan.
"Itu." jawabku singkat. Awalnya ia tampak bingung dengan apa yang kumaksud tapi setelah berpikir sejenak akhirnya ia mengerti.
"Aku memaksamu?" tanyanya pelan. Aku menunjukkan pergelangan tanganku yang ada bekas cengkramannya semalam.
Melihat pergelangan tanganku itu, ekspresi wajahnya berubah, keningnya berkerut. Ia tampak sangat shock. Beberapa kali ia mengacak-acak rambutnya dengan tangan. Kasihan sekali dia! Ia tampak tidak bisa menerimanya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya." ucapnya pelan.
"Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya!" serunya.
"Aku juga! Ini pertama kalinya terjadi di hidupku." akuku. Ia terdiam menatapku, akupun menatapnya. Ia terlihat sangat tampan meskipun baru saja bangun dari tidurnya. Sesaat kami hanya saling memandang tanpa berbicara apa pun.
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
__ADS_1
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰