
"Siang ini aku ada pertemuan dengan beberapa investor, kemungkinan aku akan selesai larut malam, kamu tidak apa-apa kan kalau seharian ini sendirian?" tanya Roni. Aku menganggukkan kepalaku.
"Tidak apa-apa!" jawabku pelan.
"Oh iya, undangan pernikahan kita pun sudah jadi, aku juga akan mengirimkannya ke beberapa orang hari ini." ucap Roni lagi.
"Oke!" sahutku. Roni merapikan kemejanya kembali dan bersiap untuk pergi.
"Emm.. malam ini kamu akan pulang ke sini atau ke rumahmu?" tanyaku kikuk. Roni terdiam sejenak, ia terlihat seperti sedang berpikir.
"Kamu maunya aku pulang ke mana?" ucapnya balik bertanya. Aku tersentak.
"Aku..." Aku tidak siap dengan pertanyaannya itu. Dia membuatku bertambah gugup.
"Kalau tidak terlalu larut nanti aku akan pulang ke sini, tapi kalau sudah terlalu larut aku akan pulang ke rumahku." ucapnya.
"Baiklah!" sahutku. Aku sudah terbiasa di temaninya di sini, rasanya ada yang hilang kalau dia tidak berada di sini. Sebenarnya aku sangat berharap kalau Roni akan pulang ke tempatku ini.
"Lagipula sudah lama aku tidak menjenguk rumah itu!" lanjut Roni. Aku menganggukkan kepalaku. Baiklah! Roni tidak akan pulang ke sini malam ini! Aku akan kesepian sepanjang hari ini.
...
__ADS_1
"Stop pak!" seru Ropha. Ropha menemukan sosok yang dikenalnya di rekaman CCTV itu. Ropha mencoba memfokuskan pandangannya untuk memastikan kalau yang dilihatnya adalah sosok yang benar.
"Ketiga orang ini pak, bisakah bapak mencari tahu ke mana saja mereka?" pinta Ropha.
"Baik bu, sebentar!" jawab Eric. Eric tampak dengan teliti memeriksa rekaman CCTV dan Ropha menunggunya dengan sabar hingga beberapa menit kemudian akhirnya Eric menyelesaikan permintaan Ropha itu.
"Kalau saya telusuri, ini pergerakan dari ketiga pria tadi." ucap Eric akhirnya. Ropha mengamati potongan-potongan rekaman CCTV itu.
"Boleh minta tolong rekaman yang ini diperbesar pak?" pinta Ropha. Eric kembali melakukan apa yang Ropha minta itu, ia menampilkan potongan rekaman yang Ropha minta itu di layar besar yang ada di ruangannya.
Ropha mengamati rekaman CCTV itu dengan seksama, tiba-tiba saja ekspresi wajahnya berubah. Mata cantiknya terlihat berkaca-kaca.
"Ibu, kenapa?" tanya Eric yang terkejut melihat perubahan ekspresi Ropha.
"Boleh saya minta potongan rekaman ini pak?" tanya Ropha. Eric menganggukkan kepalanya.
"Siap bu!" jawab Eric. Eric mulai terlihat sibuk mengutak-atik komputernya. Ropha menghela nafasnya perlahan.
...
Roni berdiri di depan pintu sebuah apartemen, ia terlihat terpaku sejenak di hadapan pintu itu. Roni menghela nafasnya perlahan dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya. Ia terlihat kembali terpaku memandangi undangan pernikahannya yang kini ada di tangannya. Ia kembali menghela nafasnya, terlihat dari wajahnya kalau apa yang ia lakukan saat ini sangat berat, bahkan matanya pun tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
Perlahan tangan Roni bergerak, ia memasukkan undangan itu ke dalam kotak surat yang ada di samping pintu apartemen mewah itu.
"Maaf!" gumamnya pelan dan kemudian ia bergegas meninggalkan tempat itu. Roni mengusap wajahnya pelan dengan kedua tangannya.
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. π€ππ₯°πβΊ
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. β€
Terima kasih ππ€π₯°
__ADS_1
Baca juga karyaku yang lainnya ya! Kamu pasti suka! ππβΊπππ€