
Roni menatapku sejenak, tatapannya itu seakan ia mau meminta ijinku untuk menceritakan peristiwa itu dengan lebih detail. Aku hanya bisa menatap balik kedua mata Roni tanpa berbuat apapun. Roni kembali menatap kedua orang tuanya.
"Semuanya ini murni kesalahan Roni pa, ma!" aku Roni. Seketika jantungku seperti berhenti berdetak mendengar Roni mengakui semuanya itu sebagai kesalahannya sendiri.
"Roni tahu semuanya ini terasa sangat aneh untuk papa dan mama, tapi Roni semuanya ini murni kesalahan Roni." lanjut Roni.
"Amel wanita yang baik." ucap Roni pelan. Dadaku terasa sesak sekali mendengar Roni mengucapkan itu, padahal aku dan kedua temannyalah yang menjebaknya hingga semuanya ini terjadi.
"Amel sama sekali tidak menggoda Roni pa, ma!" ungkap Roni.
"Roni mabuk berat saat itu dan menerobos kamarnya lalu Roni memaksa Amel melakukannya, bahkan Roni melukainya!" tambah Roni. Nafasnya terdengar menderu.
Dadaku terasa sesak sekali mendengar Roni terus-menerus menyalahkan dirinya dengan apa yang sedang terjadi, padahal semuanya itu hasil pekerjaan kedua temannya itu dan aku yang ikut bersekongkol hanya demi sejumlah uang untuk membayar hutang-hutangku. Haruskah aku mengakui semuanya sekarang?
Tiba-tiba Roni beranjak dari tempat duduknya dan bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya. Beberapa kali ia menghela nafasnya, tangannya pun bergetar, ia sekuat tenaga menahan tangisnya.
__ADS_1
"Roni sangat bersalah pada papa, mama, dan Amel. Roni tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk Vino, Roni membawa aib untuk keluarga ini, dan Roni menghancurkan masa depan Amel. Roni mohon beri Roni kesempatan untuk menebus kesalahan ini." pinta Roni. Ya Tuhan, aku tidak menyangka Roni akan seperti ini! Jantungku berdebar terlalu kencang hingga membuat dadaku terasa sesak. Aku tidak tega melihat Roni seperti itu, padahal semuanya ini bukan kesalahannya! Ya Tuhan, aku benar-benar minta maaf dengan semuanya ini! Haruskah aku mengakuinya sekarang? Tapi aku sangat takut, ya Tuhan!
Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa terus menundukkan kepalaku. Aku sangat takut menatap wajah mereka semua. Perlahan air mataku pun menetes, dengan cepat aku menghapusnya. Aku benar-benar merasa bersalah pada Roni! Aku yang membuat semua kekacauan ini!
"Amel!" panggil ayah Roni pelan. Aku mendongakan kepalaku untuk menatap wajah pria berumur 65 tahun itu.
"Ini sudah larut, Amel istirahat saja dulu di kamar Roni, ya!" ucap ayah Roni. Aku terdiam terpaku.
"Wanita yang sedang hamil harus banyak istirahat!" terang ayah Roni. Pantas saja Roni sangat baik, ayahnya pun sangat baik! Aku mengangguk pelan.
"Vino!" seru ayah Roni memanggil adik Roni. Tak lama kemudian muncul pria jangkung itu.
"Antar kak Amel ke kamar kak Roni! Biar kak Amel istirahat!" perintah ayah Roni.
"Oke, pa!" jawab Vino.
__ADS_1
"Ayo, kak!" ajaknya. Aku beranjak dari tempat dudukku, sejenak aku menatap wajah Roni. Wajahnya tampak sangat menyedihkan malam ini tapi ia tersenyum lembut padaku. Senyumnya itu seakan menyampaikan suara hatinya yang berkata, "Istirahatlah, aku baik-baik saja!"
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
__ADS_1
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰