Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 58


__ADS_3

Ropha mencoba untuk segera tidur dengan memaksakan matanya untuk terpejam, tapi baru sekejap ia memejamkan matanya, ia kembali membuka matanya itu lagi. Ia terlihat sangat gelisah malam itu. Beberapa kali ia mencoba mengganti posisi tidurnya.


"Hash!" serunya kesal. Ia bangkit dan duduk di ranjangnya, dengan cepat tangannya meraih ponsel yang sedari tadi tergeletak di meja kecil samping ranjangnya. Ia membuka chat-nya bersama Roni yang sudah lama berlalu. Ia terlihat seperti sedang mencari sesuatu dari kumpulan chat bersama mantan kekasihnya itu.


"Ah ini dia!" serunya ketika menemukan sesuatu yang dicarinya pada kumpulan chat tersebut.


Ropha beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju meja kerjanya, ia duduk di kursi kerjanya dan membuka laptopnya. Sesaat kemudian ia terlihat sangat sibuk dengan laptopnya, wajahnya tampak sangat serius.


...


Aku terbangun dari tidurku. Hari ini langit terlihat sangat cerah bahkan pagi-pagi saja sinar mentari sudah menerobos masuk ke dalam kamarku. Tunggu dulu! Apa benar ini masih pagi? Aku melirik ke arah jam yang tergantung di dinding kamarku. Astaga, sudah jam 11 siang!


Aku segera bangkit dari ranjangku dan bergegas keluar kamar. Langkah kakiku terhenti begitu aku mencium aroma lezat makanan. Apa seseorang sedang memasak di dapurku? Apa itu Roni yang sedang memasakan makanan untukku?


Aku melangkah perlahan menuju dapur dan tepat sekali! Roni terlihat sedang sibuk dengan beberapa peralatanan memasak yang ada di dapurku. Ia terlihat tampan sekali ketika sedang menggunakan pisau dan peralatan masak itu! Dia sepertinya bisa melakukan semua hal! Ah.. dia terlalu sempurna!


"Eh.. kamu sudah bangun?!" serunya yang terkejut melihatku sudah ada di belakangnya.


"I.. iya!" jawabku. Aku menjadi sangat gugup karena menyadari kalau ini pertama kalinya ada seseorang pria menginap di apartemenku. Aku berusaha untuk tersenyum padanya tapi malah terlihat sangat kaku.

__ADS_1


"Tunggu sebentar lagi ya!" ucapnya. Aku mengangguk pelan dan duduk di kursi makan.


"Aku tidak menyangka kalau kamu bisa memasak." ucapku.


"Hanya bisa sedikit!" tukas Roni.


"Kamu ingat restoran tempat kita pertama kali bertemu waktu itu?" tanya Roni.


"Iya, aku ingat!" jawabku.


"Dulu, restoran itu tidak seperti itu." terangnya.


"Dulu, tempat itu hanya sebuah kios kecil yang kusewa untuk berjualan olahan mie bersama ibuku." ungkap Roni.


"Jadi, aku punya sedikit keahlian dalam memasak olahan mie!" tambahnya sambil menaruh sepiring spaghetti di hadapanku. Spaghetti itu terlihat sangat lezat, begitu juga dengan aromanya yang menusuk ke hidungku.


"Ini makanan kesukaanku!" ungkap Roni sambil duduk di kursi yang ada di hadapanku. Sejenak ia terlihat hanya menatap sepiring spaghetti yang ada di hadapannya.


"Dulu..." ucapnya pelan.

__ADS_1


"Ah! Ayo kita makan!" serunya. Ada apa dengannya? Mengapa ia tidak meneruskan ucapan sebelumnya? Apa ada kenangan juga dengan spaghetti di masa lalunya? Terlalu banyak kenangan indah di masa lalunya, mungkinkah dia bisa melupakan semuanya untukku?


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. πŸ€—πŸ˜˜πŸ₯°πŸ˜Šβ˜Ί


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❀


Terima kasih πŸ˜˜πŸ€—πŸ₯°

__ADS_1


Baca juga karyaku yang lainnya ya! Kamu pasti suka! πŸ˜πŸ˜Šβ˜ΊπŸ˜šπŸ˜˜πŸ€—


__ADS_2