
Ropha masuk ke dalam apartemennya setelah seharian menghabiskan waktu bersama dengan sahabat-sahabatnya. Ketika ia melangkah ke dalam kamarnya, pikirannya kembali teringat akan wajah familiar yang dilihatnya tadi. Ia terduduk di ranjangnya sambil terus mengingat di mana ia melihat wajah itu sebelumnya.
Ropha meraih laptop berwarna merah muda miliknya yang sedari tadi tergeletak di meja kecil yang ada di samping ranjangnya. Beberapa saat ia terlihat sibuk mengutak-atik laptop kesayangannya itu.
"Ah iya!" serunya begitu menyadari sesuatu. Ia kembali sibuk mengutak-atik laptopnya dan membuka akun sosial medianya.
"Di mana ya?" gumamnya pelan. Ia terlihat sangat antusias mencari sesuatu. Tak lama kemudian Ropha terdiam terpaku, ia terlihat sangat terkejut sampai-sampai menutupi mulutnya dengan tangan kanannya.
Ropha menekan tombol play pada sebuah video yang ada di akun media sosial milik Bayu. Ia memperhatikan video itu dengan seksama.
"Apa ini benar wanita itu?" gumamnya pelan. Keningnya terlihat berkerut. Ropha mengarahkan krusor laptopnya ke nama-nama akun sosial media yang di tag pada video itu, dan hanya ada 1 nama akun wanita yang di tandai pada akun itu.
"Winda Amelia.." ejanya pelan.
"Am... el!" ulangnya. Ia membuka akun media sosial tersebut dan tampak sangat terkejut ketika ia melihat foto-foto yang ada di akun media sosial itu. Ropha terus memperhatikan semua yang ada di dalam akun media sosial itu.
"Dia mengenal Bayu? dan Bayu mengenal Roni? Aneh!" gumamnya.
...
"Huegkh!" Aku memuntahkan apa yang kumakan tadi di toilet. Mulutku terasa mual dan perutku terasa sangat sakit. Roni mengusap punggungku dengan lembut. Seluruh tubuhku terasa sangat lemas.
"Ayo kita ke dokter!" ajak Roni. Aku menggeleng pelan.
__ADS_1
"Tadi pagi kita sudah ke dokter." tukasku.
"Tapi keadaanmu seperti ini!" ucap Roni.
"Aku hanya ingin istirahat saja!" terangku.
"Ayolah!" bujuk Roni. Aku menggeleng pelan, perlahan air mataku mulai bercucuran.
"Aku takut dokter akan mengatakan yang buruk tentang anak ini!" seruku di sela-sela tangis. Roni terdiam, ia menghela nafasnya perlahan.
"Baiklah! Kita tidak perlu ke dokter, kamu beristirahat saja malam ini!" ucapnya lembut. Aku menganggukkan kepalaku pelan.
Roni membantuku berdiri dan kami berjalan perlahan menuju kamarku. Aku merebahkan tubuhku di ranjang dan Roni menutupi tubuhku dengan selimut. Sejenak ia hanya memandangiku tanpa berkata apa-apa, sikapnya itu membuatku gugup.
"Hah?!" Aku sangat terkejut mendengar ucapannya barusan.
"Eee.. aku tidak tenang melihat keadaanmu ini!" terangnya, ia terlihat gugup dan kikuk.
"Aku akan menjagamu malam ini." lanjutnya.
"Eem.. aku akan tidur di sofa depan!" tambahnya. Aku tersenyum lembut. Sikap kikuknya itu terlihat sangat lucu!
"Terima kasih!" ucapku pelan. Roni tersentak, ia kembali menatapku.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaanku dan mau menjagaku malam ini!" tambahku. Perlahan Roni tersenyum manis padaku. Astaga! Senyumnya terlihat sangat menawan!
"Aku membersihkan bekas muntahanmu itu dulu ya!" pamitnya. Aku menganggukkan kepalaku. Aku benar-benar sangat beruntung bisa bersama pria sebaiknya!
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. π€ππ₯°πβΊ
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. β€
Terima kasih ππ€π₯°
Baca juga karyaku yang lainnya ya! Kamu pasti suka! ππβΊπππ€
__ADS_1