
Aku meletakan kembali ponselku dan sekejap air mataku meluncur deras membasahi pipiku, tangisku pun akhirnya pecah. Tuhan, aku sungguh sangat takut dengan keadaan ini! Aku tahu aku sangat bersalah, tapi aku ingin lepas dari semuanya ini tanpa harus menyakiti Roni dan juga anak ini!
"Tttrrrrttt... tttrrrttt!" Aku tersentak, ponselku kembali bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak kukenal. Jantungku berdebar dengan sangat kencang. Siapa yang meneleponku ini?
"Halo..." sapaku pelan. Sejenak hanya terdengar suara hembusan nafas.
"Halo!" ulangku.
"Ini benar Winda Amelia?" Terdengar suara seorang wanita dari seberang sana.
"I.. iya benar!" jawabku.
"Ini siapa ya?" ucapku balik bertanya.
"Ini Ropha!" jawab wanita itu. Deg! Seketika jantungku seperti berhenti berdetak mendengar jawabannya.
"Kamu tahu aku siapa, kan?!" tanya Ropha. Tanganku mulai bergetar.
...
Ropha menghapus sisa-sisa air matanya di pipi, ia menghela nafasnya beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Ropha mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan mulai mengutak-atiknya lalu ia terlihat menelepon seseorang.
"Halo kak Roni!" sapa Ropha. Ternyata orang yang di hubungi Ropha adalah mantan kekasihnya, Roni.
"Maaf aku mengganggumu." ucapnya pelan. Ropha menghela nafasnya perlahan.
"Boleh aku meminta nomor telepon calon istrimu? Winda Amelia." pintanya.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya." ucap Ropha lagi.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa, kak! Aku hanya ingin berbicara padanya kak." terang Ropha.
"Apa kamu sudah tidak mempercayaiku lagi, kak?" ucap Ropha balik bertanya. Ropha terdiam sejenak.
"Terima kasih, kak!" ucapnya pelan dan tak lama kemudian ia memutuskan panggilan teleponnya itu. Ropha menghela nafasnya kembali.
Sebuah pesan masuk di ponselnya itu, ia membuka pesan yang ternyata dari Roni. Pesan itu berisi nomor telepon seseorang. Ropha mengutak-atik ponselnya tersebut dan menelepon pemilik nomor yang diberikan oleh Roni itu. Ropha menghela nafasnya beberapa kali untuk sedikit menenangkan perasaannya.
"Ini benar Winda Amelia?" tanya pelan.
...
"A.. ada apa kamu menghubungiku?" tanyaku gugup. Ini pertama kalinya aku berbicara dengan Ropha, suaranya terdengar sangat lembut tetapi juga tegas.
"Bicarakan?" gumamku pelan. Apa yang ingin dia bicarakan denganku? Apa dia ingin membatalkan pernikahanku dengan Roni?
"Bisakah kita bertemu besok?" tanyanya lembut. Aku terdiam sejenak, pikiran dan perasaanku sangat kacau!
"Mel!" panggil Ropha.
"Eh, i.. iya!" sahutku.
"Apa kamu punya waktu sebentar besok untuk kita bertemu?" Ropha mengulangi pertanyaannya.
"Iya!" jawabku.
__ADS_1
"Di mana kita akan bertemu?" ucapku balik bertanya. Ropha menyebutkan waktu dan tempat di mana kami akan bertemu besok. Sejujurnya, aku merasa sangat takut bertemu dengan Ropha, tapi aku juga sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakannya padaku. Tunggu dulu! Apa dia mengetahui sesuatu tentang kejahatanku?
Seketika jantungku berdebar dengan sangat kencang hingga rasanya seperti akan meledak. Mungkinkah kalau Adnan atau Bayu memberi tahukannya? Atau dia mengetahui sebuah bukti yang mengungkapkan semua kejahatan ini? Tidak mungkin! Semuanya tersusun dengan sangat rapi, bahkan Roni saja tidak bisa merasakannya!
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. π€ππ₯°πβΊ
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. β€
Terima kasih ππ€π₯°
Baca juga karyaku yang lainnya ya! Kamu pasti suka! ππβΊπππ€
__ADS_1