
Ropha berjalan perlahan keluar dari lift apartemennya. Ia menghentikan langkah kakinya tepat di pintu apartemen miliknya, ketika ia akan menekan tombol password pintu apartemennya itu tiba-tiba saja matanya tertuju pada kotak surat yang ada di samping pintu itu. Ropha membukanya dan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Sejenak ia memperhatikan beberapa amplop surat yang kini ada di tangannya.
Ropha membawa surat-surat itu ke dalam apartemennya dan meletakkannya di meja yang berada di hadapan televisinya, ia duduk di sofa yang ada di ruangan itu dan mulai membuka satu persatu amplop-amplop itu dan terakhir, Ropha terdiam menatap sesuatu yang berada di tumpukan terakhir itu. Sebuah undangan berwarna putih dengan tulisan yang dicetak dengan tinta emas. Ropha perlahan mengambil undangan cantik itu, tangannya terlihat bergetar.
Sejenak Ropha membaca seluruh isi dari undangan yang ternyata itu adalah undangan pernikahan dari mantan kekasihnya, Roni. Perlahan air matanya mengalir satu persatu, semakin lama semakin deras. Suara tangisnya mulai memenuhi ruangan itu, ia menangis sejadi-jadinya.
...
Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar kesepian kalau tidak ada Roni bersamaku. Apa temanku hanya Roni?
"Tttrrrrttt... tttrrrttt!" Tiba-tiba saja ponselku bergetar. Aku meraihnya dan melihat siapa yang meneleponku.
"Adnan!" gumamku pelan. Apa aku harus menerima telepon dari orang ini? Ada perlu apa dia meneleponku lagi? Jantungku langsung berdebar tak karuan.
"Ha.. halo!" sapaku gugup.
"Hai tuan putri!" sapanya dari seberang sana. Dadaku terasa sesak hanya dengan mendengar suaranya saja.
"A.. ada apa?" tanyaku pelan. Terdengar tawa Adnan yang begitu menakutkan dari seberang sana.
"Selamat ya!" seru Adnan.
"Selamat? Selamat untuk apa?" tanyaku polos.
__ADS_1
"Barusan Roni mengirimkan undangan pernikahan kalian!" terang Adnan.
"Bagaimana rasanya sebentar lagi bisa jadi nyonya besar?" tanya Adnan. Aku terdiam, aku bingung apa yang harus kukatakan untuk merespon pertanyaannya itu.
"Sepertinya pernikahan kalian akan sangat mewah, undangannya saja terlihat sangat mewah!" ucap Adnan.
"Mamanya Roni yang mempersiapkan semuanya!" terangku.
"Waah hebat! Selain jadi istri pengusaha kaya, sekarang jadi calon menantu kesayangan juga ya!" seru Adnan. Dia mengatakan kata-kata pujian untukku tapi terkesan seperti sedang merendahkanku! Adnan berhasil membuat mood-ku down!
"Tidak menyangka kalau akhirnya cewek kampung bisa memiliki kehidupan seindah ini!" tukas Adnan.
"Apa maksud lo berkata seperti itu?" protesku dengan nada tinggi.
"Tenang saja! Gue bahagia kok melihat akhirnya kalian bisa bersama!" lanjutnya.
"Iya, lo bahagia karena rencana jahat lo bisa berjalan dengan lancar, kan?!" terkaku.
"Rencana jahat gue?" ucap Adnan pelan.
"Apa di sini hanya gue yang menjalankan semuanya?" tanya Adnan. Aku terdiam.
"Gue masih menyimpan surat perjanjian kita yang sudah lo tanda tangani loh!" lanjutnya. Jantungku nyaris meledak karena berdebar lebih kencang lagi.
__ADS_1
"Di sini yang bisa dituntut sebagai penjahat itu lo, bukan gue dan Bayu karena lo terbukti sebagai pelaku utama kejahatan ini." terang Adnan. Apa dia sedang mengancamku?
"Lo seperti kacang lupa pada kulitnya!" ucapnya dengan suara berbisik.
"Padahal kami mengusahakan lo sampai mendapat kehidupan mewah seperti ini tapi lo malah menyebut kami sebagai penjahat!" tambah Adnan. Ia tertawa keras, entah kenapa tawanya itu terdengar sinis. Apa aku tidak bisa terbebas dari semua dosa ini ya Tuhan?
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. π€ππ₯°πβΊ
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. β€
Terima kasih ππ€π₯°
__ADS_1
Baca juga karyaku yang lainnya ya! Kamu pasti suka! ππβΊπππ€