
"Sejujurnya, bapak sangat terkejut mendengar ini semua." ungkap bapak.
"Kami tidak pernah mendengar tentang nak Roni sama sekali dari Amel tapi sekarang tiba-tiba nak Roni datang dan meminta ijin untuk menikahi anak bapak. Bapak benar-benar tidak menyangka!" lanjutnya.
"Apa kalian sudah benar-benar saling mengenal sebelumnya hingga bisa memutuskan hal sepenting ini?" tanya bapak. Dadaku terasa sangat sesak, aku benar-benar takut dengan reaksi bapak kalau Roni mengungkapkan alasan yang sebenarnya.
"Ya pak, saya mengerti. Saya tahu memang semua keputusan ini terjadi sangat mendadak, tapi saya memang harus mengambil keputusan ini secepatnya." ungkap Roni.
"Apa ada masalah?" tanya mamah pelan, sepertinya mamah menyadari sikap kami. Roni bertukar pandang denganku sejenak dan kemudian ia kembali menatap mamah.
"Saya memohon maaf pada bapak dan ibu..." ucapnya pelan.
"Saat ini Amel sedang mengandung anak saya." Akhirnya Roni mengungkapkan semuanya! Jantungku seperti berhenti berdetak sejenak. Bapak dan mamah terlihat sangat terkejut.
"Apa kamu bilang tadi?" seru bapak keras. Bapak terlihat marah sekali.
"Saat ini Amel sedang hamil, pak." jawab Roni pelan. Bapak bangkit dari tempat duduknya dan melangkah dengan cepat mendekatiku, tangannya terkepal kuat, sepertinya bapak akan memukulku. Aku menundukkan kepalaku dan berusaha mempersiapkan diriku menerima pukulan dari bapak.
"Bapak!" jerit mamah dan Tilla bersamaan. Aku memejamkan mataku.
__ADS_1
"Amel tidak salah pak! Sayang yang salah!" seru Roni. Aku mengangkat kepalaku dan melihat Roni bersimpuh di hadapanku sambil memeluk kaki bapak untuk menahan bapak menggapaiku. Suara Roni terdengar bergetar.
"Semuanya murni kesalahan saya pak." aku Roni. Dadaku terasa sangat sesak hingga aku kesulitan bernafas. Mendengar Roni mengucapkan hal itu dengan suara yang berat dan bergetar membuat hatiku terasa sakit.
"Saya yang malam itu memaksa Amel melakukannya, pak!" ungkap Roni.
"Saya yang menghancurkan hidup Amel..." lanjutnya.
"Amel tidak bersalah sama sekali pak." tambahnya.
"PLAAAKK!!" Jantungku seperti berhenti berdetak mendengar suara itu. Bapak menampar pipi Roni dengan sangat keras hingga Roni tersungkur di lantai. Ya Tuhan!
Tubuhku terasa sangat lemas. Akhirnya apa yang kutakuti terjadi. Aku membantu Roni bangkit dari lantai, mata Roni tampak memerah, sepertinya ia menahan perasaannya.
"Maaf." ucapku pelan. Air mataku meleleh membasahi pipiku. Roni menggeleng pelan sambil berusaha untuk bangkit.
"Sudah sepantasnya aku menerima ini." bisik Roni. Roni kembali bersimpuh di hadapan bapak. Bapak terlihat sangat marah dengan Roni.
Tidak seharusnya Roni menerima semua perlakuan ini. Ini semua bukan kesalahannya! Apa yang harus kulakukan? Ingin sekali mulutku ini menungkapkan yang sebenarnya terjadi, tapi aku takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tidak takut dengan pukulan bapak karena aku sudah sering merasakannya sedari dulu tapi aku takut kalau Roni akan pergi dariku.
__ADS_1
"Maaf.." lirihku.
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰
__ADS_1