Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 11


__ADS_3

"Halo, Bayu?!" Akhirnya kuputuskan untuk menghubungi Bayu terlebih dahulu untuk meminta petunjuk apa yang harus kulakukan.


"Gue lagi sama cewek gue, Mel! Kenapa lo nelpon malam-malam begini?" tanya Bayu, dari nada bicaranya sepertinya ia kesal karena aku meneleponnya.


"Maaf!" ucapku pelan.


"Hash sudahlah! Ada apa?" tanya Bayu.


"Gue cuma mau cerita, Bay." jawabku.


"Cerita apa?" tanya Bayu lagi, sepertinya ia sudah tidak sabar mendengar ceritaku.


"Gue biasa datang bulan setiap tanggal 19, periode datang bulan gue selalu teratur selama ini tapi..." ungkapku.


"Tapi apa?" Bayu semakin penasaran.


"Tapi sampai hari ini gue belum datang bulan!" terangku.


"Hah?!" Bayu terdengar seperti terkejut.


"Serius lo?" tanya Bayu.


"Iya, Bay!" jawabku.


"Lo sudah coba periksa pakai test pack?" tanya Bayu lagi.

__ADS_1


"Belum, Bay." jawabku.


"Coba lo cek dulu, habis itu lo kirimkan hasilnya sama gue, nanti gue akan menghubungi Adnan untuk menentukan langkah selanjutnya!" jelas Bayu.


"Oke." sahutku.


Aku berjalan menuju apotek yang berada tak jauh dari kontrakkanku untuk membeli test pack. Jantungku berdebar sangat kencang, ini pertama kalinya aku membeli test pack, rasanya canggung sekali!


"Malam, mbak!" sapa petugas apotek sopan. Aku tersenyum lembut pada petugas itu.


"Mau beli apa, mbak?" tanyanya.


"Ee.. ada test pack, mbak?" tanyaku dengan suara berbisik.


"Ada mbak! Mau beli berapa?" tanya wanita berambut ikal itu.


"Untuk siapa mbak test pack-nya?" tanya petugas apotek itu. Aduh! Aku harus menjawab apa?


"Mbaknya belum menikah kan ya?!" terka petugas apotek itu. Aku tidak menyangka kalau ada yang mengenaliku juga di sekitar sini, padahal aku selalu sibuk bekerja dari pagi hingga malam dan pada saat libur jarang sekali bergaul dengan lingkungan ini.


"Rumah saya dekat dengan toko roti tempat kerja mbaknya, saya sering lihat mbaknya di sana!" ungkap petugas itu. Oh pantas saja dia mengenaliku!


"Oh iya mbak!" ucapku sambil tertawa kecil.


"Lalu test pack ini untuk siapa mbak?" Ia mengulangi pertanyaan yang merepotkan itu lagi.

__ADS_1


"Untuk istrinya teman saya mbak!" bohongku.


"Oh yang petugas toko itu juga ya mbak?" terkanya.


"Bukan! Ada yang lain lagi mbak!" ucapku. Sumpah! Petugas apotek ini terlalu banyak bertanya dan ingin tahu! Menyebalkan!


Akhirnya petugas apotek itu memberikanku test pack yang kupesan. Aku bergegas meninggalkan apotek itu agar tidak ada pertanyaan-pertanyaan lagi yang terlontar dari mulut petugas apotek itu. Aku menyembunyikan test pack itu di dalam saku jaketku, karena bila tetangga-tetanggaku mengetahui aku membeli test pack pasti akan jadi cerita heboh di antara mereka.


Aku membuka kemasan test pack itu setelah berada di dalam kontrakkanku dan sudah mengunci pintu dengan rapat. Kubaca baik-baik petunjuk penggunaannya yang ada pada kemasan. Jantungku berdebar sangat kencang dan bertambah kencang ketika alat itu mulai menunjukkan hasilnya. Hash! Dadaku rasanya sesak sekali!


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤

__ADS_1


Terima kasih 😘🤗🥰


__ADS_2