
"Ibu Winda Amelia!" panggil perawat yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan dokter. Akhirnya tiba giliranku untuk melakukan pemeriksaan. Aku beranjak dari tempat dudukku dan bergegas masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
"Selamat siang, ibu Winda!" sapa dokter itu lembut.
"Selamat siang, dok!" sahutku.
"Ibu sendiri saja? Tidak didampingi suami?" tanya dokter itu.
"Ee.. tidak dok!" jawabku singkat. Pertanyaan dokter itu membuat jantungku berdebar kencang.
Dokter mulai melakukan pemeriksaan di perutku. Dengan menggunakan alat utrasonografi (USG), dokter memperlihatkan janin yang ada di dalam perutku. Kini aku yakin kalau di dalam rahimku benar-benar ada janin! Dokter mulai menerangkan tentang kondisi janinku yang masih berbentuk seperti gelembung itu. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa sangat terharu melihat 'gelembung' itu.
"Besok-besok kalau periksa lagi, ajak suaminya ya bu!" ucap dokter itu. Aku hanya bisa menatap dokter itu sambil tersenyum.
"Karena ayahnya juga penting mengetahui kondisi dan perkembangan buah hatinya itu." terang dokter. Aku menganggukkan kepalaku pelan.
Bagaimana mungkin aku bisa membawa pemilik janin ini, dia saja belum tahu kalau kini ada janin ini di rahimku! Kalaupun dia mengetahuinya, kurasa dia pun tidak akan menemaniku juga! Atau malah mungkin tidak menginginkan janin ini! Eh! Kenapa perasaanku menjadi melow seperti ini? Mataku mulai berkaca-kaca.
...
__ADS_1
Adnan dan Bayu mengajakku bertemu di restoran tempat kami bertemu pertama kalinya itu. Mungkin mereka ingin mengetahui hasil pemeriksaanku ini.
"Bagaimana hasilnya, Mel?" tanya Bayu. Bayu dan Adnan tampak sangat antusias untuk mengetahui hasil pemeriksaanku.
Aku mengeluarkan hasil dari pemeriksaanku hari ini dan kuserahkan semuanya pada mereka. Mereka memperhatikannya dengan seksama dan mereka juga melihat hasil foto USG janinku.
"Mantap!" kata Adnan. Seruan Adnan itu membuatku tersentak dan juga bingung. Entah mengapa rasanya aneh sekali melihatnya begitu senang dengan kehamilanku ini.
"Lalu apa yang harus gue lakukan selanjutnya?" tanyaku polos.
"Sekarang lo ajak Roni untuk ketemuan! Lo punya nomornya kan?!" ucap Adnan. Aku mengangguk pelan.
"Gue ajak dia ketemuan sekarang? Saat ini juga?" tanyaku polos.
"Maksud gue, lo telpon sekarang nanti lo janjian sama dia kapan gitu dia bisanya!" terang Adnan.
"Oh, gue kira.."
"Lo nih kadang-kadang lemot juga ya! Dia itu pengusaha yang punya banyak bisnis, mana bisa lo telpon sekarang terus dia dateng sekarang juga!" potong Adnan. Deg! Sakit sekali aku mendengar ucapan Adnan barusan! Tidak seharusnya dia berbicara seperti itu, kan dia tahu kalau aku berasal dari keluarga miskin! Dari lahir aku miskin, bahkan sampai sekarang pun aku miskin! Kalau aku tidak miskin, aku tidak akan melakukan semua pekerjaan kotor ini!
__ADS_1
"Sudah, sudah! Ayo cepat hubungi Roni, gue juga mau dengar gimana respon dia!" seru Bayu. Untung saja ada Bayu, kalau tidak pasti aku sudah bertengkar hebat dengan Adnan.
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰
__ADS_1