Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 50


__ADS_3

Aku dan Roni mulai mempersiapkan pernikahan kami yang akan diadakan akhir bulan depan. Roni mengajakku untuk mengambil pesanan cincin pernikahan kami di salah satu toko perhiasan. Cincin itu terlihat sangat cantik dan mewah, tak pernah kubayangkan bisa mengenakan cincin seperti itu di dalam hidupku.


Setelah mengambil pesanan cincin pernikahan kami, Roni menemaniku melakukan pemeriksaan rutin pada kandunganku. Hari ini ekspresi dokter sangat tidak mengenakkan ketika melakukan pemeriksaan janin yang ada dalam kandunganku. Dokter menghela nafasnya perlahan.


"Ibu rutin meminum vitamin yang saya resepkan waktu itu kan?" tanya dokter. Aku mengangguk pelan. Jantungku berdebar kencang, apa terjadi sesuatu dengan kandunganku?


"Ada apa ya dok?" tanya Roni. Dokter kembali menghela nafasnya.


"Maaf, saya harus mengatakan ini." ucap dokter pelan. Aku membuka telingaku lebar-lebar agar bisa mendengar penjelasan dokter dengan jelas.


"Janin di dalam kandungan istri bapak tidak berkembang." ungkap dokter. Ucapannya itu membuat jantungku berhenti berdetak sejenak.


"Saya mencoba membantunya dengan vitamin-vitamin yang sudah saya resepkan itu." lanjut dokter. Tanganku bergetar. Ya Tuhan, aku takut terjadi sesuatu pada janinku ini.


"Lalu apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan anak kami ini, dok?" tanya Roni, ia terlihat sangat cemas.


"Seperti yang bapak ibu lihat tadi, kita masih bisa mendengar detak jantungnya, masih ada kemungkinan janinnya berkembang. Saya akan kembali meresepkan vitamin dan obat yang terbaik." jawab dokter. Aku dan Roni mengangguk bersamaan.

__ADS_1


"Saya harap ibu bisa benar-benar beristirahat." lanjutnya. Roni mengusap punggungku dengan lembut.


"Saya akan banyak beristirahat, dok!" seruku. Aku ingin bayiku bisa berkembang dengan baik.


"Kita coba sekali lagi, semoga saja bulan depan keadaan bayi bapak dan ibu bisa berkembang dengan baik!" ucap dokter. Dokter berusaha menyemangatiku.


...


Roni mengajakku makan siang di salah satu restoran yang berada tidak jauh dari klinik dokter kandungan tempat kami memeriksakan kandunganku. Setelah selesai memesankan makanan dan minuman yang akan kami santap siang itu, Roni beranjak dari tempat duduknya.


Roni bergegas ke wastafel untuk membersihkan tangannya. Ia adalah pria yang sangat mementingkan kebersihan, ia membersihkan tangannya dengan seksama.


"Kak Roni!" panggil seseorang dari belakang tubuh Roni. Roni menoleh ke arah orang yang memanggilnya itu. Ia tersentak begitu mengetahui siapa yang memanggilnya itu.


"Ro.. Ropha!" ucap Roni pelan. Roni terlihat seperti tidak menyangka akan bertemu dengan mantan kekasihnya itu di tempat ini. Ropha tersenyum lembut pada Roni dan Roni pun membalas senyuman cantik itu dengan senyum manis miliknya. Sejenak mereka hanya saling memandang sambil saling melempar senyum.


Terlihat sekali dari tatapan mata mereka kalau mereka saling merindukan satu sama lain, tidak bisa dipungkiri karena cinta di antara masih tersisa. Mereka memang sama-sama memiliki perasaan yang dalam terhadap satu sama lain, tapi mereka harus terpisah karena keadaan yang tidak mereka inginkan.

__ADS_1


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤


Terima kasih 😘🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2