
"Jadi, apa yang bisa kami bantu untuk teman ibu itu?" tanya Rangga. Ropha terdiam sejenak, ia menatap kedua mata Rangga dengan seksama.
"Bolehkah saya meminta tolong bapak untuk menunjukkan rekaman CCTV hotel ini?" pinta Ropha pelan. Rangga terlihat terkejut mendengar ucapan Ropha barusan.
"Saya hanya perlu melihat CCTV yang ada di depan kamar saja, pak." terang Ropha. Rangga menatap wajah Ropha dengan seksama.
"Maafkan saya, bu!" ucap Rangga akhirnya.
"Saya tidak bisa memberikan rekaman CCTV begitu saja kepada ibu tanpa surat dari kepolisian sebagai bukti bahwa telah terjadi penipuan seperti yang ibu utarakan pada saya tadi." terang Rangga.
"Bagaimana mungkin saya bisa memberikan surat kepolisian yang bapak minta itu, sementara untuk melaporkan penipuan itu saja saya harus menyertakan buktinya." tukas Ropha.
"Saya rasa teman ibu bisa membuat laporan kasusnya kepada pihak yang berwajib lalu meminta surat kepolisian untuk bisa melakukan penyelidikan dengan CCTV hotel kami." teeang Rangga.
"Kami akan sangat terbuka dan membantu teman ibu itu kalau memang membutuhkan rekaman CCTV dari hotel kami!" tambahnya. Ropha menghela nafasnya pelan.
"Saat ini teman saya sedang menebus dosa yang tidak pernah dibuatnya itu, pak!" ungkap Ropha.
"Maksud ibu?" tanya Rangga bingung. Ropha mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Rangga.
__ADS_1
...
Rangga membawa Ropha menuju ruangan kontrol. Rangga menghentikan langkahnya begitu tiba di depan pintu ruangan itu.
"Mohon tunggu di sini terlebih dahulu ya bu! Saya akan mencoba untuk membicarakannya dengan kepala ruangan kontrol." ucap Rangga. Ropha menganggukkan kepalanya dan menunggu di depan ruangan yang terlihat sangat tertutup itu, sementara itu Rangga masuk ke dalam ruangan untuk menemui kepala ruangan kontrol.
Ropha menunggu cukup lama hingga sekitar 45 menit, barulah Rangga muncul lagi dari balik pintu ruangan kontrol dan diikuti oleh seorang pria bertubuh sedikit kekar di belakangnya.
"Maaf membuat ibu menunggu lama!" ucap Rangga.
"Perkenalkan ini pak Eric, beliau yang akan membantu ibu untuk mencari bukti demi menolong teman ibu itu." terang Rangga sambil memperkenalkan rekan kerjanya. Ropha dan Eric berjabatan tangan dan saling berkenalan.
"Kalau begitu, saya serahkan semuanya ke pak Eric karena saya harus kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan saya!" ucap Rangga.
"Terima kasih banyak pak Rangga!" ucap Ropha. Rangga tersenyum manis pada Ropha dan sesaat kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Mari ibu!" ajak Eric. Eric dan Ropha masuk ke dalam ruang kontrol dan Ropha terlihat sangat takjub dengan apa yang ada di dalam ruangan.
Ruangan itu dihiasi dengan layar LED besar di bagian depan yang menampilkan seluruh hasil pengamatan CCTV hotel tersebut, kemudian di setiap meja stafnya terdapat masing-masing 1 buah komputer yang juga digunakan untuk pengawasan CCTV.
__ADS_1
"Mari ibu, kita ke ruangan saya saja!" ajak Eric. Ropha kembali mengikuti langkah Eric menuju ruangannya.
"Kita tidak bisa menggunakan komputer yang di depan karena mereka harus terus online dan mengawasi keadaan gedung." terang Eric. Ropha menganggukkan kepalanya.
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. π€ππ₯°πβΊ
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. β€
__ADS_1
Terima kasih ππ€π₯°
Baca juga karyaku yang lainnya ya! Kamu pasti suka! ππβΊπππ€