Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 14


__ADS_3

"Halo." Terdengar suara yang sangat maskulin tapi juga lembut dari seberang sana.


"Selamat siang." sapaku pelan.


"Ee apa ini benar nomornya Roni Wijaya?" tanyaku ragu.


"Iya benar! Saya Roni Wijaya." jawabnya tegas. Seketika jantungku berdebar dengan sangat kencang.


"Maaf, saya sedang berbicara dengan siapa ya?" ucapnya balik bertanya.


"Saya Winda, Winda Amelia." jawabku memperkenalkan diri.


"Winda Amelia?" Pria itu terdengar seperti bingung mendengar namaku.


"Maaf, saya tidak bisa mengingat nama anda. Bisa jelaskan anda dari mana?" pintanya sopan. Dia memang pria yang sangat sopan! Tiba-tiba saja aku merasa sangat jahat sudah menjebaknya seperti ini.


"Saya wanita yang bertemu anda di hotel." ungkapku. Aku membuat suaraku lebih pelan agar tidak terdengar orang lain.


"Hotel?" Roni kembali terdengar seperti bingung.


"Iya, di hotel. Saya yang kamarnya kamu terobos." terangku. Hening! Tidak ada respon sedikitpun darinya.


"Ha.. halo.." panggilku pelan.

__ADS_1


"Hmm" Pria itu mulai bersuara kembali.


"Kamu mengingatku?" tanyaku.


"Ya." jawabnya singkat. Terasa sekali kalau ia tidak menginginkan kehadiranku di hidupnya.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya pria itu.


"Iya." jawabku. Suasana di seberang sana terdengar hening kembali, tapi samar-samar terdengar seperti seseorang sedang memainkan keyboard dan mouse komputer.


"Apa kamu sedang si..."


"Kamu bisa menunggu sampai awal bulan depan?" tanyanya memotong ucapanku.


"Maksudmu?" tanyaku bingung.


"Baiklah!" ucapku. Pria itu menyebutkan waktu dan tempat di mana kami akan bertemu. Tak lama kemudian pria itu memutuskan sambungan teleponnya denganku dengan salam perpisahan yang sangat sopan.


"Bagaimana?" tanya Bayu yang sedari tadi sudah tampak sangat penasaran dengan pembicaraanku dan Roni.


"Kapan kalian akan bertemu?" sambung Adnan yang juga terlihat sangat penasaran.


"Awal bulan depan kami bertemu." jawabku.

__ADS_1


"Sip!" seru Adnan. Dia terlihat bahagia sekali mendengar jadwal pertemuan kami itu, aku merasa sangat aneh, Adnan terlihat berlebihan sekali merespon ini semua. Aku tahu niatnya memang menolong temannya itu, tapi kenapa dia yang terlihat sangat bahagia? Sesayang itukah dia dengan temannya itu? Atau ada hal yang dia incar dari semua rencana ini?


"Lo harus merawat kandungan lo itu baik-baik!" ucap Adnan.


"Janin lo itu calon miliuner!" pujinya. Aku tersentak mendengar ucapannya.


"Lo tidak akan menyesal melakukan ini semua, Mel!" sambung Bayu. Aku tidak mengerti harus merespon apa dari semua ucapan mereka itu, aku hanya bisa terdiam.


Mereka mungkin merasa senang sekali karena rencana mereka berjalan lancar, tapi aku merasa sangat berdosa sekali! Aku sudah merusak citra baik dari seorang pria baik! Padahal dia, pria tampan satu-satunya yang bersikap baik dan sopan padaku dari awal pertemuan kami, biasanya pria-pria tampan di luar sana akan mengabaikan keberadaanku, tapi aku malah menghancurkan hidupnya. Maaf!


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..

__ADS_1


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤


Terima kasih 😘🤗🥰


__ADS_2