
"Ketika aku benar-benar terpuruk saat itu karena orang-orang yang kupercayai menipuku, Ropha membantuku untuk bangkit. Dia melakukan berjuta cara untuk menghiburku dan membuatku bisa bangkit kembali menata bisnis serta kehidupanku." ungkap Roni. Suaranya terdengar berat dan bergetar, matanya pun terlihat berkaca-kaca. Aku bisa merasakan perasaan cinta Roni sangat dalam pada Ropha. Roni menghela nafasnya perlahan.
"Kata orang, ketika kita sedang terpuruk kita akan mudah jatuh cinta. Aku yang awalnya tidak pernah berpikir akan jatuh cinta padanya tapi lama kelamaan aku benar-benar mulai jatuh hati padanya dan ingin memiliki serta melindunginya di sepanjang kehidupanku." aku Roni. Ya Tuhan, dadaku terasa sangat sesak mendengar pengakuan Roni itu!
"Dia memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang lain. Ketika dalam keadaan yang sangat buruk sekalipun, ia bisa memiliki pemikiran positif." ungkap Roni. Roni benar-benar mengagumi wanita itu! Ya, Ropha memang pantas untuk dikagumi!
"Kamu ingat ketika pertama kali kita bertemu untuk membicarakan kehamilanmu?" tanya Roni. Aku mengangguk pelan.
"Kamu ingatkan, saat itu aku benar-benar tidak ingin menikah denganmu?!" Aku menganggukkan kepalaku lagi.
"Ropha memarahiku habis-habisan ketika aku mengungkapkan semua yang kukatakan padamu saat itu. Dia benar-benar marah hingga menamparku." terang Roni. Roni menghela nafasnya.
"Dia yang mengubah pemikiranku itu dan membuatku bisa mempertanggung jawabkan kesalahanku padamu." ungkap Roni akhirnya. Jadi Ropha yang membuat Roni berubah pikiran dan mau bertanggung jawab padaku? Astaga! Aku selama ini berpikir kalau dialah yang memiliki ide gila untuk mengambil anakku ini!
"Maaf!" ucap Roni pelan. Aku tersentak.
"Seharusnya aku tidak mengungkapkan hal ini padamu." tambahnya. Kepala Roni tertunduk.
__ADS_1
"Ti... tidak apa-apa, toh aku yang memintamu untuk menceritakannya!" tukasku.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana kalian bisa bertemu dan saling jatuh cinta." terangku. Roni mengangkat kepalanya dan menatap kedua mataku, perlahan ia menghela nafasnya.
"Boleh aku mengakui sesuatu?" tanyanya pelan. Jantungku berdebar sangat kencang mendengar pertanyaannya itu.
"A.. apa itu?" ucapku.
"Sampai saat ini, di hatiku masih tersisa perasaan untuknya..." ungkapnya pelan. Roni berhasil membuat dadaku terasa lebih sesak lagi.
"Aku tahu kita akan segera menikah dan seharusnya aku tidak memikirkan wanita lain lagi, tapi aku belum bisa menghilangkan perasaan ini sepenuhnya." aku Roni. Kusembunyikan kedua tanganku yang mulai bergetar di bawah meja.
"Maafkan aku!" ucapnya. Aku menatap kedua mata Roni dengan seksama, tampak sekali perasaan sedihnya.
"Tidak apa-apa!" ucapku pelan. Tenggorokanku terasa seperti tercekat hingga membuat suaraku terdengar berat dan bergetar. Roni balik menatap kedua mataku, apa dia terkejut karena mendengar suaraku itu?
Roni hanya terus menatapku tanpa berkata apa-apa, ia seperti sedang membaca apa yang kupikirkan melalui kedua mataku, tapi tunggu dulu! Apa ini? Perlahan aku merasa sesuatu yang basah mengalir ke pipiku! Tanpa kusadari air mataku mulai menetes membasahi pipiku dan setelah menyadarinya, jantungku berdebar dengan lebih kencang lagi hingga membuat dadaku terasa sangat sesak.
__ADS_1
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. π€ππ₯°πβΊ
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. β€
Terima kasih ππ€π₯°
__ADS_1
Baca juga karyaku yang lainnya ya! Kamu pasti suka! ππβΊπππ€