Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 39


__ADS_3

"Mama janji akan merancangkan pesta pernikahan yang berkesan untuk Amel!" seru mama.


"Terima kasih, ma!" ucapku. Mama kembali membelai rambutku dengan lembut.


Mama meraih kotak kecil yang dikeluarkannya dari lemari pakaiannya tadi dan membukanya perlahan. Tampak sebuah kalung emas dengan liontin cantik berhiaskan berlian kecil berada di dalam kotak itu.


"Kalung ini kalung warisan dari neneknya mama, setiap keluarga kami memiliki anak perempuan akan kami turunkan ke putri kami yang tertua." ucap mama pelan. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.


"Karena mama tidak punya anak perempuan dan Amel adalah menantu mama yang pertama jadi mama akan turunkan pada Amel!" terang mama. Aku tersentak.


"Ta.. tapi ma.."


"Amel harus menerima kalung ini karena kalung ini adalah sebuah warisan dan dengan begitu berarti Amel sudah resmi menjadi bagian dari keluarga ini!" ungkap mama. Aku benar-benar beruntung! Aku tahu yang kulakukan untuk mengawali semua kisah ini adalah sebuah kesalahan tapi aku sungguh merasa beruntung karena bisa menjadi bagian dari keluarga yang sangat baik ini!


...


Aku dan Roni melambaikan tangan kami kepada papa, mama, dan Vino sebelum Roni melajukan mobilnya.


"Baik-baik ya kalian!" pesan mama.

__ADS_1


"Iya, ma!" seruku dan Roni bersamaan. Tak lama kemudian Roni mulai menjalankan mobilnya.


Setelah beberapa menit mobil itu melaju di jalan raya, akhirnya semua perasaan yang kutahan tadi meluap-luap. Air mataku mulai mengalir membasahi pipiku. Aku menarik beberapa helai tisu yang ada di dashbor mobil Roni untuk menyeka air mataku. Roni melirik ke arahku dan ia terlihat terkejut.


"Kamu kenapa?" tanya Roni bingung. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya itu karena kalau aku menjawabnya hanya akan membuat tangisku meledak.


"Hei! Kenapa kamu menangis?" tanyanya lagi. Akhirnya pertanyaannya itu membuat tangisku pecah. Tertumpah semua air mataku ke pipi.


Roni mengendarai mobilnya ke pinggir jalan dan perlahan menghentikan laju mobilnya. Ia menatapku, dengan lembut tangannya membimbing pundakku untuk menghadap ke arahnya.


"Kamu kenapa?" tanyanya lagi. Aku masih belum bisa menjawab pertanyaannya karena dadaku terasa sesak sekali.


"Lalu kenapa kamu menangis?" tanyanya lembut. Ia menatap kedua mataku dengan seksama seakan mencari jawaban dari kedua mataku itu. Aku tertunduk.


"Tidak ada ucapan atau sikap keluargamu yang menyinggungku." ucapku akhirnya.


"Aku hanya merasa sangat terharu dan sangat bersyukur karena keluargamu mau menerima orang sepertiku ini." ungkapku. Roni terus menatapku.


"Aku menahannya sedari tadi. Bisakah kamu membiarkanku meluapkannya di mobil sebentar?" pintaku. Roni masih menatapku sejenak.

__ADS_1


"Baiklah!" ucapnya akhirnya. Aku membenarkan kembali posisi dudukku dan menghela nafasku perlahan, tiba-tiba saja Roni meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat. Aku menoleh ke arahnya tapi ia memalingkan wajahnya dan menatap ke arah jalanan yang ada di hadapannya. Sikapnya ini membuatku semakin ingin menangis.


Sejujurnya, aku sungguh menyesal merusak masa depan pria sebaiknya! Seharusnya dia bisa hidup dengan sangat baik bersama pujaan hatinya itu tapi kini dia malah menanggung semua dosa yang sebenarnya bukan miliknya. Air mataku pun semakin deras menangis. Roni sesekali mengusap lembut tanganku yang berada dalam genggamannya itu dengan ibu jarinya.


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤

__ADS_1


Terima kasih 😘🤗🥰


__ADS_2