
Aku dan Roni masuk ke dalam mobil, Roni membantuku memasangkan seat belt. Dadaku masih terasa sesak dan aku masih merasa sangat kesal dengan Roni, setelah melihatnya berbincang hangat dengan mantan kekasihnya itu. Aku tahu, seharusnya aku tidak seperti ini, tapi aku sangat kesal melihatnya! Mereka terlihat sangat serasi! Aku benci mereka bersama!
Roni menyalakan mesin mobilnya dan mengatur pendingin ruangan di mobilnya itu. Roni menatapku sejenak, aku tahu Roni pasti bingung dengan sikapku! Aku berpura-pura tidak mengetahui kalau ia menatapku, aku berusaha untuk menatap lurus ke depan. Terdengar suara hembusan nafas Roni pelan.
"Kamu melihat kami tadi?" terka Roni. Aku tersentak mendengar pertanyaan Roni barusan. Kutatap wajahnya yang terlihat sangat serius itu. Bagaimana dia tahu apa yang kupikirkan? Apa dia bisa membaca pikiranku?
"Kamu melihat aku dan Ropha tadi?" Roni memgulangi dan memperjelas pertanyaannya. Aku terdiam.
"Apa karena itu kamu meminta pulang?" tanya Roni lagi. Ia menatap kedua mataku dengan seksama, aku segera memalingkan wajahku dan kembali menatap lurus ke depan. Roni menghela nafasnya pelan.
"Kalian terlihat sangat serasi! Kalian sempurna!" ucapku pelan. Sekali lagi, Roni menghela nafasnya.
"Ya! Kami memang terlihat sangat serasi, tapi nyatanya kami tidak berjodoh!" tegas Roni. Jantungku terasa seperti terkena sengatan listrik ketika mendengar ucapan Roni itu. Roni mengalihkan pandangannya ke jalan yang ada di hadapannya. Ekspresi wajahnya berubah, ia terlihat sangat menyedihkan.
Roni mulai menekan pedal gas mobilnya dan mulai membuat mobilnya melaju kencang di jalan. Suasana di dalam mobil menjadi sangat hening dan canggung. Aku tidak suka dengan suasana seperti ini, tapi aku tidak tahu harus membahas apa dengannya. Aku melirik ke arah Roni, ekspresi wajahnya masih tampak sedih. Sepanjang aku mengenalnya, ini pertama kalinya aku melihat ekspresi wajahnya sesedih ini. Sepertinya ia benar-benar belum bisa mengikhlaskan hubungannya yang terpaksa harus kandas itu.
__ADS_1
...
Roni mengantarkanku ke apartemen, ia merapikan makanan-makanan kami tadi di peralatan makan yang ada di apartemenku itu. Ia melakukannya tanpa berbicara sedikitpun, aku menjadi sangat canggung dengannya. Apakah dia kesal denganku?
"Ayo kita makan!" ucapnya tiba-tiba setelah selesai merapikan semua makanan itu. Aku mengangguk pelan dan mengikutinya duduk di kursi makan.
Roni memberikanku peralatan makan. Ia masih terlihat aneh seperti tadi dan suasana di antara kami menjadi semakin canggung. Aku tidak suka suasana ini!
"Maafkan aku!" ucapku akhirnya. Roni tersentak, ia menatapku tanpa berkata-kata. Aku menundukkan kepalaku untuk menghindari tatapannya.
"Terima kasih!" ucapnya pelan. Terima kasih? Apa maksudnya? Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya.
"Kamu tidak berkata apa-apa setelah ucapan bodohku itu, kupikir kamu sangat marah padaku." lanjutnya.
"Tapi terima kasih karena akhirnya kamu mau menegurku!" tambahnya. Ekspresi wajahnya terlihat lebih baik dari sebelumnya. Ia menghela nafasnya, sepertinya ia sudah sedikit merasa lega.
__ADS_1
"Maafkan aku!" ucapnya lembut.
...
Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.
Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.
Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.
Dukung terus karya-karyaku ya..
Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
__ADS_1
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰