Sebuah Kebodohan

Sebuah Kebodohan
Episode 10


__ADS_3

"Roni Wi.. jaya." ejaku pelan membaca tulisan yang ada di kartu nama itu. Jadi namanya Roni Wijaya! Namanya sama bagusnya dengan wajahnya.


Aku melangkah ke beranda kamar itu, pemandangan dari beranda sangat indah. Aku duduk di lantai beranda itu sambil memperhatikan pemandangan pantai. Tiba-tiba saja perasaanku berubah menjadi sensitif.


Dalam benakku berulang bagaimana aku dan pria yang bernama Roni itu melakukan semuanya semalam. Aku merasa sangat berdosa! Aku merasa seperti menjadi manusia rendahan, yang melakukan hal semacam itu hanya untuk mendapatkan uang. Tiba-tiba saja dadaku terasa sangat sesak dan tangisku mulai pecah. Bagaimana kalau selanjutnya tidak terjadi sesuai dengan rencana? Apakah aku akan menanggung ini semua sendirian?


...


Sudah sebulan berlalu, hidupku berangsur-angsur kembali normal. Bayu mencarikanku pekerjaan di toko roti milik kenalannya dan aku kini sudah bisa mengangsur kembali pinjamanku pada debt collector. Hidupku sudah bisa sedikit lebih nyaman.


"Mel!" seru Hendra sambil menepuk pundakku. Seruannya itu membuatku terkejut dan seketika memecah lamunanku.


"Kenapa, Ndra?" tanyaku.


"Lo sudah gajian belum?" tanyanya. Ia bertanya padaku tapi matanya berfokus pada ponsel yang ada di tangannya.


"Emm" gumamku. Aku merogoh saku celana seragamku dan mengeluarkan ponselku. Aku memeriksa saldo di rekeningku melalui mobile banking.


"Sudah!" ucapku begitu mengetahui kalau gajiku bulan ini sudah masuk ke rekeningku.

__ADS_1


"Lah kok gue belum ya?!" tanya Hendra. Aku mengangkat bahuku.


"Mungkin lo sudah ga dianggap karyawan di sini lagi!" candaku sambil tertawa kecil.


"Wah ga bisa dibiarkan ini!" seru Hendra kesal. Ia tampak serius mengutak-atik ponselnya. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya itu.


"Tunggu dulu!" gumamku. Aku mencoba mengingat-ingat, aku gajian setiap tanggal terakhir di bulan berjalan, berarti ini sudah akhir bulan dan aku biasa menstruasi di pertengahan bulan! Aku mencoba mengingat-ingat lagi apakah aku sudah menstruasi atau belum bulan ini.


"Huh menyebalkan sekali!" gerutu Hendra. Suara Hendra itu kembali memecah lamunanku.


"Kenapa lagi, Ndra?" tanyaku.


"Yah mungkin dia sedang ada masalah makanya nama lo saja yang terselip!" candaku. Hendra terus saja menggerutu, meluapkan emosinya.


...


Aku melangkahkan kaki dengan cepat agar segera sampai di kontrakkanku. Jantungku berdetak dengan cepat begitu aku melangkah masuk. Aku bergegas meraih satu-satunya kalender yang ada di kontrakanku dan memeriksanya.


Aku biasa menandai tanggal menstruasiku di kalender jadi aku bisa mengetahui apakah periode mestruasiku teratur atau tidak. Seketika jantungku berdetak dengan sangat cepat. Aku memperhatikan, tidak ada sedikitpun goresan atau tanda di setiap tanggal yang ada di kalender bulan ini.

__ADS_1


"Bagaimana ini?" gumamku pelan. Aku belum menstruasi sama sekali bulan ini dan ini sudah lewat hampir 2 minggu dari periode menstruasiku yang seharusnya.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus bahagia atau malah bersedih? Lalu siapa yang harus kukabari terlebih dahulu, Adnan dan Bayu atau Roni? Debaran jantungku membuat dadaku terasa sesak.


...


Cerita ini adalah versi lain dari cerita sebelumnya.


Mohon untuk kembali membacanya dari awal agar bisa merasakan perbedaannya.


Terima kasih banyak untuk dukungannya pada cerita sebelumnya.


Dukung terus karya-karyaku ya..


Aku sayang kalian semua.. 🤗😘🥰😊☺


Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..


Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤

__ADS_1


Terima kasih 😘🤗🥰


__ADS_2