
Fatih semakin penasaran sekali dengan Alana. Ngobrol dengan Alana, dia seperti ngobrol dengan adiknya. Obrolannya nyambung, dan tidak bosan mendengar Alana bercerita. Apalagi saat tadi Alana dikirim ayam bakar madu, Alana langsung video call Fatih sambil makan makanan yang ia kirimkan. Rasanya senang sekali melihat Alana menerima pemberiannya, dan memakannya dengan lahap. Seperti mamanya kalau Fatih membelikan ayam bakar madu, pasti mamanya langsung menikmatinya dan tidak mau berbagi dengan lainnya, papanya minta pun mamanya tidak akan memberikan.
“Aku tahu, kalian sedang berlomba untuk mendapatkan hati Alana, aku pun sama, tapi kenapa aku lebih senang menganggap dia adikku, apalagi dia mirip sekali dengan mama, seperti tadi saat makan sambil video call denganku, dia benar-benar terlihat berbinar, bahagia, dan sedang mendapat kiriman makanan kesukaannya, seperti saat aku membelikan mama itu, sama ekspresi wajahnya,” gumam Fatih.
Fatih terus berpikir tentang Alana. Ia merasa Alana itu Ayleen, dia penasaran sekali setelah mendengar Alana itu bukan anak kandung dari ibunya, dia hanya anak angkat. Tapi, dia ditemukan ibunya di depan rumahnya, bukan di jurang atau di sungai.
“Gak, mana mungkin dia Ayleen? Jelas-jelas dia dibuang di depan rumahnya, bukan ditemukan di jurang atau di sungai? Tapi, aku harus mencari tahu lebih soal Alana. Dia sebetulnya bagaimana. Aku ingin Ayleen ketemu, aku ingin bertemu lagi dengan adik perempuanku, aku harus mencari tahu siapa Ayleen. Iya aku suka, mungkin aku jatuh cinta dengan Alana, tapi rasanya hati ini menolak, untuk menumbuhkan rasa cinta, malah yang tumbuh rasa cinta dan sayang untuk seorang adik, bukan kekasih, aku akui aku sangat menyayangi Alana,” gumam Fatih.
Alana keluar dari kamarnya, ia mengunci pintu kamarnya, dan keluar menemui Ardha yang mungkin sudah lima belas menit menunggunya. Namun, ia terkejut melihat tiga laki-laki yang ia kenal, dan yang tadi siang mengirimkan makan siang untuknya.
“Maaf Pak Ardha, pasti lama menunggu,” ucap Alana. “Kok ada Pak Alka dan Mas Fatih? Kalian bertiga dari pagi kompak sekali, ya? Lebih-lebih tadi siang sangat kompak.”
“Kompak bagaimana?” tanya mereka bersamaan.
“Tuh kan kompak sekali,” ucap Alana.
“Kompak bagaimana, orang kami tidak janjian. Kalau saya kan sudah jelas memang ada janji sama kamu, Alana,” ucap Ardha.
“Ya kompak saja, chat bareng, ke sini bareng, terus tadi siang kompak sekali kirim makan siang, sampai perut saya tidak muat makan makanan yang Pak Ardha, Pak Alka, dan Mas Fatih kirim. Dikira saya makannya banyak?” ucap Alana.
“Maksud kamu? Kirim makanan? Jadi kamu juga kirim makan buat Alana, Mas?” tanya Alka pada Ardha.
“Iya,” jawab Ardha sampai. “Kamu juga, Fatih?” tanya Ardha pada Fatih.
“Ya seperti itu, kenapa memang kalau aku kirim makanan buat Alana?” jawab Fatih.
“Sudah kalian jangan ribut. Saya kan mau pergi sama Pak Ardha, jadi maaf nih saya tinggal,” ucap Alana.
__ADS_1
“Gak bisa gitu dong!” tukas Alka.
“Saya kan sudah janjian lebih dulu dengan Pak Ardha? Memang tujuan Pak Alka dan Mas Fatih ke sini mau apa?” tanya Alana.
“Mau ajak kamu jalan, makan malam sekalian,” jawab Alka.
“Aku mau ajak kamu ke rumahku, mama penasaran dengan kamu, Lan,” jawab Fatih.
“Wah ... wah ... mau langsung ngenalin ke orang tua nih?” ucap Alka.
“Mama pengin kenal kamu, kemarin papa kan sudah kenal kamu, Lan?” ucap Fatih.
“Maaf, Mas. Saya kan lebih dulu mengiyakan ajakan Pak Ardha. Dan sudah janjian dua hari yang lalu,” ucap Alana.
“Oke, tidak masalah, lagian masih banyak waktu kok. Mama pasti mengerti,” jawab Fatih.
“Iya, nanti aku sampaikan sama mama. Ya sudah kalau mau pergi dengan Kak Ardha, aku pamit pulang,” ucap Fatih pada Alana. “Kak, jaga Alana, jangan macam-macam lho?” ucap Fatih.
“Iya, memang mau macam-macam apa? Aku kan Cuma ngajak ke pameran lukisan saja?” jawab Ardha.
“Ayo Kak Alka, pulang! Mau apa masih di sini, sudah jelas kan Alana mau pergi sama Kak Ardha,” ajak Fatih pada Alka.
“Ya sudah ayo,” ajak Alka.
“Mas Fatih, Pak Alka. Terima kasih makanannya,” ucap Alana.
“Sama-sama Alana,” jawab mereka.
__ADS_1
Alana mengernyitkan dahinya saat melihat mobil mereka melajut. Alana tidak tahu kenapa hari ini tiga orang pria sangat kompak sekali. Dari pagi sudah kirim chat barengan, kirim makan barengan, dan sekarang malah ke kost Alana bareng juga.
“Ayo sudah? Mereka sudah gak kelihatan lho?” ucap Ardha.
“Ah iya, Pak. Habisnya aneh saja mereka, yang lebih anehnya Pak Alka, dia aneh sekali, sekarang gak galak lagi,” ucap Alana.
“Suka mungkin sama kamu,” ucap Ardha.
“Suka bagaimana? Kalau pun suka aku ya gak mau lah! Orang dia galak, ada maunya saja baik,” ucap Alana.
“Kalau sama Fatih?” tanya Ardha.
“Mas Fatih? Biasa saja, aku belum tertarik untuk menjalin hubungan, Pak,” jawab Alana.
“Aku suka, kita bicara pakai aku, kamu. Ya meski ada embel-embel pak di belakangnya. Kenapa gak mas gitu? Gak adil ya, kamu manggil Fatih dengan sebutan mas,” ucap Ardha.
“Ih kok Pak Ardha protes? Seperti Pak Zhafran saja aku memanggil Mas Fatih, Pak Zahfran protes,” ucap Alana.
“Memang Kak Zhafran bilang seperti itu?” tanya Ardha.
“Iya, ayo berangkat, atau mau ngobrol di sini saja, Pak?”
“Ya sudah ayo berangkat.”
Ardha melajukan mobilnya menuju ke galeri pameran lukisan. Ia ingin melihat-lihat lukisan, kali saja ada yang cocok untuk ruangan di rumah barunya. Tanpa sepengetahuan papi dan maminya, Ardha membeli rumah baru. Ia memang suka memberitahu belakangan, karena ia tidak mau menunjukkan apa yang ia capai pada kedua orang tuanya, karena tetap saja orang tuanya lebih memuji kakaknya, yaitu Zhafran. Dari dulu Zhafran yang selalu dielu-elukan. Meski Ardha melakukan seribu kebaikan, tapi tidak pernah diakui oleh papi maminya, jadi dia lebih baik diam. Dia juga sebetulnya terpaksa bekerja di perusahaan papinya. Ia ingin merintis usahanya sendiri, dan sedikit demi sedikit Ardha mulai merintis bisnis itu, tapi di luar kota, supaya semua keluarganya tidak tahu.
Percuma saja mereka tahu, toh apa yang ia capai, meski mengungguli kakaknya selalu dipandang sebelah mata, jadi untuk apa Ardha memberitahukan semua itu pada mami dan papinya. Itu kenapa Ardha menjadi sosok yang cuek, tapi tetap sayang dengan maminya. Nomor satu dan yang paling utama adalah maminya, ia anak yang paling penurut menurut Thalia, meski kadang sifat malasnya sering kambuh.
__ADS_1