Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Cucu Sekaligus Menantu


__ADS_3

Ardha masih belum bisa pulang ke rumahnya, padahal hari ini ada acara penting di rumahnya. Orang tuanya merayakan ulang tahun pernikahannya yang, namun Ardha memilih untuk tidak pulang ke rumah, dengan alasan masih banyak sekali pekerjaan yang harus ia kerjakan. Apalagi usahanya baru merintis di tempat baru, tidak mungkin Ardha meninggalaknnya, Ardha masih ingin terus memantaunya.


“Mami ... nanti Ardha pulang kalau Kak Lina menikah deh, sekalian, ya?” ucap Ardha dari balik terlfonnya.


Thalia menggelengkan kepalanya, ia sudah menyerah membujuk anak bungsunya untuk pulang. “Kamu kok gitu, Ar? Gak sayang ya sama mami? Kak Lina masih setahun setengah lagi menikahnya,” ucap Thalia murung.


“Mami ... Ardha belum bisa meninggalkan pekerjaan Ardha. Nanti kalau sudah bisa Ardha tinggalkan Ardha pasti pulang. Kalau saja ada orang kepercayaan Ardha, pasti Ardha akan pulang, Bu. Soalnya dia sedang cuti, ibunya sakit katanya,” jawab Ardha.


“Ya sudah deh, kalau kamu gak bisa pulang, tapi janji, ya? Kalau kamu senggang, sempatkan pulang,” pinta Thalia.


“Iya mami, Sayang ... nanti kado buat mami papi, Ardha kirim deh, salam buat papi, Ardha kangen,” ucapnya.


“Iya nanti mami sampaikan, sudah dulu, itu Alana datang,” ucap Thalia.


“Oke, Mi. Sehat-sehat ya, Mi?”


Ardha mengakhiri panggilannya. Mendengar nama Alana di sebut maminya, hatinya bergemuruh, memorinya teringat kembali tentang Alana, padahal selama hampir satu tahun ia mencoba melupakan Alana, tapi tetap saja, saat nama Alana terdengar hatinya langsung bergemuruh, pikirannya riuh, mengingatkan tentang Alana. Itu kenapa Ardha masih belum bisa kembali pulang, karena jika dia pulang, ia akan bertemu Alana, dan semakin sering bertemu Alana, semakin tidak bisa ia melupakan Alana.


“Sudah satu tahun ini, Lan, tapi aku masih tidak sanggup membuang cinta untukmu. Aku tidak bisa, Lan. Padahal aku sudah mecoba ikhlas menerima kenyataan kalau kamu sudah menjadi istri dari kakakku,” ucap Ardha dengan memandangi foto Alana di ponselnya.


^^^


Devan menunggu Nadia yang sedang berdandan untuk ke acara ulang tahun pernikahan Thalia dan Arkan. Dari tadi Devan sudah menunggunya, tapi tumben sekali Nadia dandan agak lama dari biasanya.


“Ma, tumben mama lama dandannya? Sudah cantik, gak usah tebal-tebal. Mama mau ketemu siapa sih dandannya lama sekali?” protes Devan.


“Ya ketemu saudara-saudara mama di sana lah?” jawab Nadia.


“Kamu itu sudah cantik, sudah itu lipstiknya jangan ketebalan,” gerutu Devan.


“Iya enggak, ini warnanya soft kok,” jawab Nadia. “Yuk sudah, mama gak sabar pengin ketemu Alana, sudah lama sekali mama gak bertemu dengannya,” ajak Nadia.


“Ayo, papa juga sudah pengin ketemu Nadia, sejak menikah dengan Zhafran, dia malah jarang keluar rumah, pulang kerja dia langsung sibuk dengan Nina. Nina juga sekarang gak mau menginap di rumah opanya lagi sejak ada Alana,” ucap Devan.


“Iya, makanya mama itu selalu kelupaan untuk bicara soal gelang yang dipakai Nina, gelang itu mirip banget seperti milik Ayleen waktu bayi, dan waktu Ayleen hilang kan itu gelang posisi dipakai Ayleen? Bisa persis sekali, Pa.”


Devan mengangguk, ia juga tahu gelang itu mirip sekali dengan gelang milik Ayleen, apalagi gelang itu Devan yang membelikannya, meski Fatih yang memilihkan untuk Ayleen. “Iya, mirip sekali. Malah papa kok curiga sama Alana, ya? Apa Alana sengaja memakaikan gelang itu pada Nina, supaya siapa pun orang yang curiga dengan gelang itu, Alana jadi tahu, dan dia juga sepertinya sedang mencari tahu soal orang tua kandungnya.”


“Bagaimana kalau semua ini kita bicarakan dengan Alana? Kalau ada waktu senggang, kita bicarakan semua ini dengan Alana, sola gelang itu juga,” ujar Nadia.


“Papa itu curiganya dengan ibunya Alana. Mama lihat tidak, setiap kita bertemu ibunya Alana, gerak-gerik ibunya Alana sangat gugup dan ketakutan, padahal budhenya Alana juga santai-santai saja? Papa curiga, kalau Alana itu Ayleen, dan ibunya Alana itu yang menemukan, tapi berhubung ibunya Alana lama tidak memiliki anak, dia sembunyikan Alana saat kita ke sana.


Devan menebak seperti itu, karena dia curiga dengan setiap gerak-gerik dan ekspresi wajah ibunya Alana saat bertemu dengannya. “Ya papa hanya menebak saja, tapi ya gak tahu,” lanjut Devan.

__ADS_1


“Iya sih, memang terlihat ketakutan sekali ibunya Alana, saat lihat kita. Tapi, tetap saja dong kita kan harus menyelidikinya, Pa?”


Meski Nadia sependapat dengan suaminya, tapi dia tidak mau berburuk sangka dulu dengan ibunya Alana. Dia tetap ingin membicarakannya baik-baik dengan Alana, dan bila perlu ia akan membujuk Alana untuk tes DNA, atau dengan cara diam-diam mengambil rambut Alana, untuk tes DNA.


Devan dan Nadia sudah sampai di rumah Arkan, mereka disambut hangat oleh Thalia dan Arkan. Alana juga ikut menyambut kedatangan Nadia dan Devan.


“Ibumu tidak ke sini, Lan?” tanya Devan.


“Ibu sedang di Jogja, budhe katanya sakit, aku saja belum sempat ke sana, Om,” jawab Alana.


“Mana Nina?” tanya Nadia.


“Itu sedang sama tantenya, sedang merayu omnya supaya bisa pulang,” jawab Alana.


“Maksud kamu Ardha?” tanya Nadia. “Apa Ardha gak pulang?”


“Iya, Ardha gak pulang, katanya banyak pekerjaan, ya makanya Nina langsung merajuk, dengar om nya gak jadi pulang lagi. Itu sedang merayu omnya biar mau pulang,” jawab Alana.


“Kebiasaan sekali itu Ardha, kalau sedang sibuk, melupakan segalanya, sampai ulang tahun pernikahan mami-papinya gak pulang, Dev,” ucap Arkan.


“Ya kan sedang ada urusan pekerjaan, Arkan? Biar saja, nanti juga Ardha pulang, pasti ia sempatkan pulang, kalau urusannya sudah selesai,” tutur Devan.


Devan sebetulnya tahu, Ardha tidak pulang karena apa. Semua itu karena ia tidak sanggup melihat Alana dengan Zhafran. Devan tahu itu dari Fatih, Fatih cerita semuanya soal Ardha yang lebih dulu mencintai Alana, bahkan Ardha sudah berniat untuk melamar Alana saat kepulangannya kemarin. Namun, semua itu kandas, ternyata kakaknya lebih dulu mengenalkan Alana dengan kedua orang tuanya.


“Boleh, berdua, atau dengan Nadia juga?” tanya Devan.


“Kita saja, ini urusan laki-laki, sudah para istri biar pada gosip sendiri-sendiri,” jawab Arkan.


Arkan juga sudah curiga kenapa Ardha sekarang jarang pulang ke rumah. Arkan tidak sengaja menemukan foto Alana di laci meja kecil di kamar Ardha, saat kemarin ia mengambil sesuatu di laci meja yang ada di kamar Ardha. Arkan mengingat kisah abahnya dan om nya saat dulu yang mencintai satu perempuan, yaitu bundanya. Arkan tidak tahu Ardha ternyata menyukai Alana, karena Ardha memang agak tertutup dengan dirinya, apalagi soal pribadinya, dia sangat tertutup sekali.


“Ada apa? Mau bicara apa? Soal Restoran, atau kantor?” tanya Devan.


“Dev, kamu tahu abahku sama suami pertama bunda, yang tak lain adalah Om Arsyil, adik abah?” tanya Arkan.


“Iya tahu dikitlah, tahu kisah mereka juga, dari kamu juga aku tahunya. Mereka sama-sama mencintai Tante Nisa kan, dulu?”


“Ya benar,”


“Lalu?” Devan sudah tahu arah pembicaraan Arkan ke mana, pasti soal Ardha dan Zhafran yang menyukai satu wanita.


“Ini.” Arkan memberikan foto Alana pada Devan, yang Arkan temukan di laci meja di kamar Ardha.


“Ini foto Alana?”

__ADS_1


“Iya, aku temukan itu di laci meja di kamar Ardha. Jelas di belakang foto tertulis apa, kan? Itu foto Alana waktu dia bekerja di cafenya Tiara, dan satunya entah mereka foto di mana, sepertinya mereka sering bersama sebelum Alana kenal dekat dengan Zhafran,” jelas Arkan.


“Ya aku sudah tahu ini sejak lama, sejak awal Alana menikah dengan Zhafran, Kan. Fatih yang cerita. Kamu tahu, Fatih, Alka dan Ardha merek sering bareng, mereka ternyata saling belomba mendapatkan cintanya Alana. Ya, tapi berhubung Alka sudah dijodohkan, akhirnya hanya Ardha dan Fatih yang berlanjut. Ardha memang mau melamar Alana saat itu, tapi dia keduluan Zhafran, ternyata malam itu, Zhafran mengenalkan Alana  dengan kalian semua, dan langsung membicarakan soal pernikahan. Padahal besoknya Ardha sudah berencana akan melamar Alana, tapi ya mau bagaimana lagi, Alana sudah dengan Zhafran? Ardha juga gak gercep, dia malah fokus ke pekerjaan, jadi ya keduluan Zhafran?” jelas Devan.


“Kamu malah lebih tahu soal itu, Dev? Aku malah tidak tahu sama sekali,” ucap Arkan.


“Karena kamu terlalu cuek dengan Ardha, kamu lebih ke Zhafran kalau aku lihat, ya aku lihat sejak dulu, sejak mereka sama-sama remaja, kamu memang jauh dengan Ardha, lebih peduli ke Zhafran, ya mungkin karena Zhafran akademiknya lebih menonjol daripada Ardha, dan Ardha kan orangnya santai seperti itu? Kamu dan Om Arsyad juga kan sering marahin Ardha? Seperti tidak mengindahkan apa yang Ardha inginkan?”


Devan tahu, kalau Arkan memang agak jauh dengan Ardha. Arkan selalu saja membandingkan Ardha dengan Zhafran. Padahal Ardha pun tidak terlalu buruk, dia juga cekatan, Cuma dia memiliki hobby yang tidak dimiliki oleh Zhafran. Ardha lebih hobby main game, dan di rumah saja, tapi dia lah yang sangat peduli dengan maminya.


“Iya ini salahku, aku terlalu cuek dengan Ardha. Aku hanya fokus pada Zhafran, dan aku baru sadar, ternyata Ardha pun bisa membuktikan kalau ia bisa meneruskan usaha milik Ayah Arsyil.”


Arkan ingin Ardha pulang juga karena ingin bertanya soal foto Alana, dan tulisan di belakang foto Alana itu. Tulisan yang menyatakan kalau Ardha jatuh cinta dengan Alana, sejak pandangan pertama. Tepatnya saat pertama bertemu di pameran lukisan.


“Aku padahal kangen sama Ardha, pengin juga bicara soal ini. Kalau dia bilang sama aku, dia suka Alana, aku akan melamarkannya untuk dia, Dev. Dia gak pernah bicara padaku dan maminya soal perempuan, baru kemarin saat Zhafran akan mengenalkan Alana, dia pun bilang besok atau lusa mau mengenalkan perempuan juga. Ternyata perempuan itu adalah Alana. Kenapa dia bisa setenang itu melihat Alana menikah dengan kakaknya? Aku tahu dia mencintainya, bahkan dia yang lebih dulu mencintai Alana?”


“Tapi balik lagi pada Alananya, kalau misal Alana tidak mencintai Ardha, malah cintanya ke Zhafran bagaimana? Mungkin kalau dari dulu Ardha mengungkapkan dan meyakinkan Alana lebih dulu, pasti Alana mau dengan Ardha, tapi kan saat itu malah justru Zhafran yang dekat dengan Alana? Kontrakannya juga dekat dengan Zhafran, ditambah Nina dekat dengan Alana, dan mereka sudah terbiasa bersama, di sisi lain Zhafran duda, butuh seorang lagi yang mengerti hidupnya? Sedangkan Ardha, dia di luar kota terus, kan?” ujar Devan.


“Iya juga sih? Oh iya, lalu dengan Fatih bagaimana? Dia kan suka dengan Alana juga?” tanya Arkan.


“Dia malah lebih mengira itu Ayleen. Adiknya yang hilang, anak bungsuku yang hilang. Dia tidak mencintai Alana, tapi dia sayang lebih dari apa pun pada Alana. Dia juga ingin cari tahu Alana itu siapa, apalagi kamu tahu sendiri Alana hanya anak angkat, kan? Aku sebetulnya ingin sekali menanyakan sesuatu pada Alana, kamu lihat  gelang yang ada di tangan Nina? Gelang itu mirip sekali dengan gelang milik Ayleen, dan Nina bilang itu dari Alana. Gak mungkin Nina memakai gelang inisial A, kan? Harusnya N?” jelas Devan.


“Namanya Nina itu depannya A. Aurellia Karenina!” tukas Arkan.


“Oh iya juga sih? Tapi kok sama ya gelangnya, modelnya juga?”


“Kalau Alana anak kandung kamu, dia cucuku dong, Dev? Cucu sekaligus menantu? Ini lucu kalau begini, manggilnya bagaimana nanti? Aku sama Nadia saja sudah bingung manggilnya, gara-gara dia nikah sama kamu?” ucap Arkan.


“Sudah itu kamu dipanggil Thalia, jangan bahas ini dulu, nanti mereka curiga. Sudah kamu ngertiin Ardha saja, kali saja dia gak pulang karena gak mau menambah pedih hatinya saat melihat Alana?” tutur Devan.


“Iya sih, ya sudah kita juga nanti bahas soal gelang Nina juga, ya kapan-kapan saja, aku juga janggal, karena Alana sama persis dengan Nadia,” ucap Arkan.


Arkan dan Devan menyudahi percakapan mereke. Mereka menghampiri istri-istrinya yang dari tadi menunggunya.’


“Papi sama Dev ngobrolin apa sih? Lama sekali,”ucap Thalia.


“Biasa, urusan laki-laki,” jawab Devan.


“Enggak bahas soal perempuan, kan?” tanya Nadia.


“Enggaklah, ngapain bahas perempuan sih, Ma?” jawab Devan.


“Hanya bahas restoran saja, tenang saja, Devan itu setia, Nad,” ucap Arkan.

__ADS_1


Devan dan Nadia menikmati jamuan di pesta Arkan dan Thalia. Devan melihat Alana dan Zahfran sedang mengobrol, terlihat Alana sangat bahagia dengan Zhafran, tapi sepertinya Zhafran tidak sebahagia Alana.


__ADS_2