
“Eh ... eh ... eh ... siapa yang menyuruh peluk-peluk anak ibu?” Arofah menarik lengan baju Ardha. Dia tidak terima Alana dipeluk Ardha.
“Ih ibu, baru saja meluk. Udah kek Papa Dev saja nih?” protes Ardha.
“Bukan muhrim, jangan asal meluk, awas macam-macam! Sudah ini ajak Askara saja, ayo Lan bantu ibu sama budhe di dapur buat siapkan makan malam. Papi sama maminya Ardha nanti sampai habis maghrib,” ajak Arofah. “Jangan pacaran mulu, kalian lama-lama makin begitu!” ujar Arofah.
“Begitu gimana, Bu? Kan Alana biasa saja sama Ardha? Ardhanya saja yang begitu?” jawab Alana.
“Kan mumpung nih Askara sedang sama ibu, jadi ya manja sama bundanya Askara gak apa-apa, kan?” ucap Ardha.
“Ibu laporin sama papanya Alana nanti!” tukas Arofah.
“Ih mainnya ngadu ini mah!”
Arofah langsung ke belakang, mengajak Alana. Dia membiarkan Ardha bersama Askara. Sekarang Askara tambah aktif, lucu, dan menggemaskan. Siapa pun yang melihatnya pasti langsung jatuh cinta. Matanya indah, hidungnya mancung, pipinya chubby, dan sangat tampan. Masih bayi saja sudah bisa memikat hati orang. Kadang Ardha berpikir, kalau kakaknya lihat putranya yang tumbuh sempurna seperti itu bagaimana perasaannya? Sedang kakaknya sangat ingin memiliki anak laki-laki.
Ardha kadang merasa kasihan dengan Zhafran, dia hanya hidup dengan istrinya saja, anaknya pun tidak pernah mau dengannya, dan bilang sebelum bertemu bunda, tidak akan mau dengan papanya. Tapi, kadang opa dan omanya menasihati, supaya Nina tidak terlalu membenci papa dan mamanya. Kadang karena paksaan opa dan omanya Nina mau menemui mama dan papanya, tapi hanya sebentar saja.
Sebentar lagi paling tidak Zhafran juga akan tahu soal Askara. Apalagi sebentar lagi Fatih akan menikah, dan Alana bilang, dia akan kembali ke Jakarta, entah akan menetap di sana atau kembali ke Jogja. Alana bilang, dirinya sudah nyaman tinggal di Jogja, dia juga bilang di Jogja punya ketenangan tersendiri.
^^^
Arkan dan Thalia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Alana dan Askara. Dia ingin cepat-cepat memeluk cucu laki-lakinya itu.
“Oma, Opa, ini ke Jogja mau kondangan ke siapa? Om Ardha mau ajak kondangan oma dan opa ke mana sih? Kok oma sama opa bawa kado gede sekali? Siapa yang menikah atau ulang tahun?” tanya Nina penasaran, karena dia tidak diberitahu oleh Arkan dan Thalia kalau mau menemui bundanya dan adiknya.
“Oh itu hadiah buat anaknya teman Om Ardha,” jawab Thalia.
“Aku tadinya pengin gak ikut, tapi kangen sama Om Ardha, kalau di rumah juga gak ada siapa-siapa? Masa aku mau sama papa dan mama?” ucap Nina
“Memang kenapa kalau sama mama-papa, Nin?” tanya Arkan.
“Ya gak mau saja, Opa?” jawab Nina. “Papa itu udah gak sayang sama Nina, sayangnya sama mama saja, biar saja mereka berdua, Nina gak mau sama papa lagi, apalagi sama mama!”
Nina mungkin masih sangat kecewa dengan papanya. Jelas saja Nina kecewa karena papanya sudah menyakiti bundanya. Apalagi dirinya sangat menyayangi bundanya.2
“Opa, kapan Om Ardha cari bunda? Masa sampai Nina mau kelas tiga, om gak cari-cari bunda?” tanya Nina.
__ADS_1
“Sabar, ya? Semoga saja Nina bisa cepat bertmu bunda,” jawab Thalia.
“Iya oma, nanti kalau Nina sudah ketemu bunda, Nina mau tinggal sama bunda saja,” ucap Nina.
“Kok gitu? Kemarin janjinya mau tinggal sama papa dan mama kalau sudah ketemu bunda?” tanya Thalia.
“Gak mau, mana bisa mam urus Nina? Mama itu dari dulu mentingin kerja, Nina selalu sama pembantu di rumah, sedangkan pas sama bunda, Nina sama sekali gak pernah ditinggal bunda, Nina sama bunda terus, berangkat dan pulang sekolah bunda yang antar, bunda kerja di butik juga Nina ikut, mainan di butik, sambil belajar? Nina pengin makan apa pun serba dituruti dan dimasakin? Dulu Nina pengin dibuatkan nasi goreng mama saja, mama marah dan malah nyuruh bibi?” ucap Nina.
Tidak salah Nina bicara seperti itu. Arkan dan Thalia gak pernah menyalahkan Nina, karena memang Binka seperti itu, dia hanya mementingkan dunianya saja. Kehidupan sosialnya yang ia pentingkan. Tapi, sekarang memang Binka sangat berubah, ia lebih sering di rumah, dia juga belajar mengurus rumah dan suaminya. Meski kadang ia rindu ingin mengurus Nina, tapi Nina tidak pernah mau untuk dekat lebih lama dengan dirinya.
“Itu dulu, Sayang ... mama kan sekarang gak gitu?” ucap Thalia.
“Iya sekarang, karena mama kehilangan adek, dan Nina gak mau pulang! Mama juga pasti merasa bersalah merebut papa dari bunda? Jadi sekarang mama berubah, coba kalau tidak? Ya mama masih sama saja?” ujar Nina.
Arkan dan Thalia tidak menyangka cucunya akan bicara seperti itu, padahal sama sekali tidak pernah mengajari Nina bicara seperti itu. Dia mungkin bisa menilai sendiri bagaimana mamanya, toh Nina sudah mulai tahu mana yang baik dan yang tidak baik, meski dirinya egois masih belum mau bertemu mamanya.
Arkan dan Thalia sudah sampai di depan rumah, yang halaman rumahnya sangat luas. Mereka langsun turung dari mobilnya, Nina pun langsung turun, karena dia penasaran saat melihat om nya yang berdiri di depan teras dengan menggendong anak kecil dan di sampingnya ada perempuan yang sangat ia kenali.
“Oma, opa, itu bunda?” tanya Nina dengan mata berkaca-kaca, karena ia tidak percaya melihat Alana berdiri di sebelah Ardha.
Nina menyeka air matanya yang jatuh. Dadanya riuh bergemuruh, merayakan kebahagiaan bercampur haru karena bisa bertemu dengan orang yang sangat ia rindukan.
“Bunda ....!” Nina berlari mendekati Alana, dia berhambur langsung memeluk Alana. “Bunda ... Nina kangen sekali dengan bunda,” ucapnya dengan menangis.
“Bunda juga kangen, jangan nangis dong? Peluk bunda yang erat, cium bunda, bunda kangen sekali sama kamu, Sayang.” Alana juga tidak bisa membendung air matanya. Sekuat tenaga dia menahan air matanya, tapi melihat Nina yang menangis karena merindukannya, ia pun turut berlinang air mata.
“Bunda juga nangis?” Nina menghapus air mata Alana dengan jarinya.
“Bunda kangen kamu, bunda bahagia bisa bertemu kamu, Sayang,” ucap Alana.
“Bunda jangan pergi lagi, ya? Nina mau sama bunda,” ucapnya.
“Iya bunda di sini kok, kalau Nina kangen Nina bisa ke sini, nanti Om Ardha bisa jemput Nina kalau liburan sekolah,” ucap Alana.
“Jadi bunda tidak mau pulang ke Jakarta?”
“Bunda kan sudah tinggal di sini?” jawab Alana.
__ADS_1
“Nin, gak kangen sama om?” ucap Ardha.
“Kangen, tapi lebih kangen ke Bunda,” jawabnya.
“Ini ada adikmu, ayo sapa adiknya,” titah Ardha.
“Hai, namanya siapa adek lucu?” tanya Nina.
“Namaku Askara, Kakak ...,” jawab Ardha.
Sedangkan Thalia dari tadi sudah menahan air matanya saat melihat Alana, pun dengan Arkan.
“Mami ....” Panggil Alana, lalu langsung memeluk Thalia. “Maafkan Alana, Mi.”
“Mami juga minta maaf. Maafkan mami,” ucapnya. “Kamu sehat, Sayang?”
“Sehat, Mi. Mami sama papi juga sehat, kan?”
“Iya kami sehat, Alana,” jawab Arkan.
“Pi ....” Alana juga memeluk Arkan. Arkan mengusap kepela Alana. Dia benar-benar menyayangi Alana seperti putrinya sendiri.
“Maafin papi ya, Lan.”
“Alana juga minta maaf, Pi.”
“Akhirnya papi bisa ketemu kamu lagi, Lan. Papi sangat yakin Ardha akan menemukanmu,” ucap Arkan.
Mereka saling melepas rindu. Arofah mempersilakan mereka masuk ke dalam, supaya mengobrolnya lebih leluasa. Arkan juga langsung membicarakan hubungan Ardha dan Alana, karena memang Arkan sudah membahasnya dengan Devan, dan lusa Devan dan Nadia menyusul Arkan untuk membicarakan hubungan Alana dan Ardha.
“Pi, tapi kan Kak Fatih dan Kak Shaka belum menikah? Apa sebaiknya tidak nanti saja membicarakannya? Nunggu mereka menikah dulu, toh tahun ini merek akan menikah?” ucap Ardha.
“Ya nanti bahas saja dengan papanya Alana, besok atau lusa Om Dev ke sini,” jawab Arkan.
Alana sebetulnya masih belum siap lagi untuk menikah, tapi kelamaan sendiri kata mamanya juga tidak baik. Apalagi Ardha memang sudah serius dengannya.
“Semoga Ardha yang terakhir untukku,” batin Alana.
__ADS_1