Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Dua Garis Merah Di Dua Testpack Berbeda


__ADS_3

"Zhafran, aku hamil." Kata-kata Binka begitu mengagetkan Zhafran.


Zhafran mengambil alat yang panjangnya tidak melebihi jari telunjuknya dari tangan Binka. Zhafran melihat dua garis merah tertera jelas pada alat tersebut. Zhafran tidak tahu harus bagaimana, dia harus memilih anatar Binka dan Alana. Alana yang tak kunjung hamil, dan Binka dia sudah hamil selama perselingkuhan itu mereka lakukan. Mereka menjalin hubungan sudah menginjak empat bulan lamanya. Binka kembali ke kota Zhafran, dan hidup sebagai simpanan Zhafran saat ini.


"Zhafran, nikahi aku, aku tidak mau melahirkan tanpa suami, Zhafran." Binka menangis dipelukan Zhafran.


“Binka, bagaimana dengan Alana kalau aku menikahimu?" ucap Zhafran yang kalau itu begitu kalut sekali.


Dia tidak bisa berpikir jernih, dan akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah, mencari ketenangan di rumahnya. Ya, dia bisa tenang jika melihat wajah Alana. Entah mengapa Zhafran selalu nyaman saat memandang wajah Alana yang meneduhkan hatinya.


Zhafran pulang dengan wajah yang kusut, dia tidak tahu harus berkata apa pada Alana saat ini. Alana menyambut Zhafran dengan senyum bahagia. Dia membawa amplop cokelat yang bertuliskan nama klinik ibu dan anak. Zhafran membukanya, betapa terkejutnya Zhafran melihat benda panjang dengan dua garis merah lagi dari istrinya. Dan ada hasil USG juga hasil lab yang menunjukan bahwa Alana telah hamil. Antara sedih dan bahagia Zhafran rasakan, tapi dia mencoba bahagia di depan Alana. Dia mememluk Alana dan meneteskan air matanya.


Zhafran menangis, entah karena menyesal, atau karena kasihan pada Alana. Alana masih memeluk Zhafran dengan erat dan penuh kebahagiaan.


"Akhirnya aku hamil, Mas. Penantianku ini tidak sia-sia, Tuhan mendengarkan doa kita," ucap Alana.


"Iya, terima kasih, Sayang. Nina mau punya adik, terima kasih." Zhafran menghujani wajah Alana dengan ciuman.


Zhafran masih bingung sekali harus bagaimana. Dia tidak tahu, harus memilih Binka atau Alana. Tidak mungkin akan hidup satu atap dengan dua wanita. Zhafran tidak bisa berpikir jernih lagi.


Sudah tiga hari Zhafran berada dalam lubang kebimbangan, antara menikahi Binka atau menceraikan Alana. Dia tidak tahu, jika semua ini ia ceritakan pada keluarganya, pasti semua menyalahkan Zhafran dan akan menyuruh mempertahankan Alana. Zhafran merahasiakan semua ini dari keluarganya.


Zhafran memutuskan untuk membawa Binka ke rumahnya dan akan menjelaskan pada Alana kalau hubungan gelapnya telah membuahkan hasil buah cinta mereka di dalam rahim Binka. Kala itu, Alana begitu terkejut, siang hari suaminya pulang bersama Binka, dan wajah mereka terlihat begitu bimbang.


"Binka, lama tidak bertemu, kalian bersama?" tanya Alana dengan penasaran.


"Alana, aku akan bicara sebentar," ucap Zhafran dengan suara datarnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Alana yang semakin penasaran.


Mereka duduk di ruang tamu, Zhafran langsung bersujud dan menangis di hadapan Alana. Dia menangis karena telah melukai hati Alana yang tulus mencintainya.


"Maafkan aku, Alana. Maafkan aku, Binka hamil, aku dan Binka sebenarnya sudah melakukan hubungan tersembunyi selama empat bulan ini." Zhafran menangis di depan Alana.


Perkataan Zhafran menyambar hatinya. Alana mencoba menepiskannya, semoga dirinya salah mendengar apa yang Zhafran katakan.


“Katakan sekali lagi, Mas? Aku tidak salah dengar, kan? Binka hamil? Ka—kalian selingku?” Mata Alana mengembun, ia memegang wajah Zhafran, menangkup pipi Zhafran dengan kedua tangannya, dan memandangi wajah Zhafran dengan tatapan nanar.


“Iya, kamu tidak salah mendengar Lan. Binka hamil. Maafkan aku, aku sudah mengkhianatimu.” Zhafran menangis memeluk Alana, Alana hanya terdiam membeku, tatapannya kosong, mulutnya menganga dan tidak menyangka Zhafran akan menyakitinya sedalam itu.


"Kamu jahat sekali, Mas! Kalian benar-benar kejam!" Alana teriak histeris di depan Zahfran.


Alana meraskan tidak memiliki tulang lagi pada tubuhnya. Tubuhnya melemas di sofa dan hanya bisa menangis.

__ADS_1


"Mas, kamu jahat, aku juga sedang hamil, Mas? Bagaimana bisa semua ini terjadi." Alana masih meratapi nasibnya, dia terus melontarkan kata-kata tidak jelas dari mulutnya. Seperti orang yang sudah kehilangan akalnya.


"Alana, maafkan aku, aku harus bagaimana? Aku juga tidak mungkin meninggalkan Binka saat hamil seperti ini. Juga tidak bisa meninggalkan kamu, Alana." Zhafran terus memandangi wajah Alana yang dari tadi menatap ke depan dengan tatapan kosong.


"Alana, jawab aku. Maafkan aku Alana, Alana, aku harus bagaimana?" Zhafran mengusap air mata Alana yang terus menangis.


"Tinggalkan dia! tinggalkan dia!" teriak Alana yang dengan menangis.


"Alana, dia juga mengandung anakku, Alana." Zhafran terus memohon agar bisa menikahi Binka.


"Ceraikan aku, Mas!" ucap Alana dengan lantangnya.


"Kamu sedang hamil, bagaimana bisa kita bercerai, Alana," ucap Zhafran.


"Ceraikan aku!" teriak Alana.


"Tidak Alana, aku tidak akan menceraikanmu," ucap Zhafran.


"Aku akan pergi dari sini, kalian menikahlah." Alana beranjak dari tempat duduknya, tapi Zhafran memegani tangan Alana.


"Alana, tidak seperti ini caranya, aku akan menihaki Binka tanpa menceraikan kamu, Alana," ucap Zhafran.


"Aku tahu, hati kamu hanya mencintai Binka, bukan aku. Apa gunanya ada aku? Kamu hanya menganggap aku pemuas nafsumu saja, bukan? Cukup, Mas! Aku tidak mau berada di dalam drama kalian berdua," ucap Alana denan tegas.


"Alana, kamu sedang hamil," ucap Zhafran.


"Urus perceraian kita secepat mungkin, atau semua keluargamu akan tahu kebusukan dan kebodohanmu!" ancam Alana. Beruntung Alana belum memberitahukan pada ibunya, dan mertua, serta keluarga besar Zhafran kalau dirinya hamil. Ia akan memberitahukannya nanti, kalau ada acara makan malam bersama, di ulang tahun Mama mertuanya. Pasti momen itu formasi keluarganya lengkap. Tidak mungkin tidak kumpul semua dalam acara spesial itu.


Alana masuk ke dalam kamarnya. Dia benar-benar hancur saat ini, kebahagiaannya hanya tiga hari saja disaat kehamilannya. Untung saja dia belum memberitahukan kepada siapa-siapa perihal kehamilannya. Nina juga belum tahu kalau bundanya sedang hamil. Alana memandangi foto pernikahan dirinya dengan Zhafran. Betapa jahatnya Zhafran pada Alana. Alana melempar foto-foto dia bersama Zhafran hingga suara gaduh itu terdengar oleh Zhafran yang sedang berada di luar.


"Aku tahu, kamu tidak pernah mencintaiku, Mas. Aku tahu itu. Setidaknya kamu bisa menghargai ku sebagai istrimu, walau kamu tak mencintaiku." Alana terus menangis mengingat Zhafran yang sudah menyakitinya.


"Arrrgghhhttt...!" Alana berteriak dengan menjambak rambutnya. Dia tidak menyangka suaminya akan sekejam itu pada dirinya.


"Alana, sudah jangan seperti ini, Sayang." Zhafran mendekati Alana dan memeluknya.


Alana menepiskan tangan Zhafran, dia mendorong tubuh Zhafran menjauh dari dirinya. Alana mencoba menenangkan dirinya, dia harus siap untuk ditinggalkan Zhafran saat ini. Dia tidak ingin membuat Zhafran terbebani karena harus menikahi Binka tanpa menceraikannya.


"Cukup, Mas! Aku minta sekarang urus perceraian kita. Nikahi Binka. Percuma kita bersama, dan kamu menikahi Binka itu akan membuat salah satu dari aku atau Binka sakit hati." Alana berusaha berkata dengan tenang.


"Alana, tapi ...." Ucapan Zhafran berhenti, saat jari telunjuk Alana menempel di bibir Zhafran.


"Mas, ceraikan aku, aku tidak ingin membebani pikiranmu. Aku tidak apa-apa. Aku tidak bisa memaksakan cinta. Pernikahan tanpa cinta akan menyakitkan. Kecuali, walaupun tanpa cinta kamu bisa setia. Tapi, nyatanya kamu mendua. Aku baik-baik saja. Percayalah, jangan bilang keluargamu soal ini, aku yakin semua pasti akan mempertahankan aku, tanpa tahu perasaan kamu dan Binka. Sekali lagi, ceraikan aku, Mas," ucap Alana.

__ADS_1


"Ya Tuhan, dengan hati yang sakit dia masih memikirkan hati aku dan Zhafran saat ini," gumam Binka yang mendengar ucapan Alana.


"Lalu kalau mamah tanya?" tanya Zhafran.


"Kamu beritahu mereka saat kita sudah resmi bercerai," jawab Alana.


Alana berdiri dan akan beranjak ke kamar tamu. Dia menoleh ke arah suaminya yang masih duduk di lantai, tempat di mana tadi dia duduk bersimpuh tidak ada tenanga dan menangisi kepedihannya.


"Mulai malam ini, hingga proses perceraian kita selesai, aku akan tidur di kamar tamu," ucap Alana sambil melangkahkan kakinya.


Dia melihat Binka yang sedang berdiri di depan pintu, seketika pandangan Binka menunduk saat Alana melihtanya.


"Jaga Mas Zhafran, jangan khianati dia lagi, aku akan menyerahkan suamiku untuk kembali dengan kamu. Jika kamu mengkhianati lagi, aku orang pertama yang akan mengambil Zhafran kembali," ucap Alana dengan tegas dan melangkahkan kakinya dari kamarnya.


Alana berjalan dengan gontai ke arah kamar tamu. Dia harus rela melepaskan semuanya. Mengubur cintanya untuk Zhafran, dan tentunya mengurus anaknya sendiri tanpa Zhafran.


"Ibu, Ayah, maafkan aku," gumam Alana sambil menatap foto ibu dan ayahnya yang ada di ponselnya.


Alana mencoba meredam rasa sakit dan tangisannya. Karena semua akan sia-sia saja menangisi orang yang sudah mengkhianatinya. Ponsel Alana berdering, ada telepon masuk, dia melihat siapa yang meneleponnya. Ardha, dia menelepon Alana seakan tahu Alana sedang tidak baik-baik saja.


Alana mengangkatnya, karena mungkin ada kepentingan yang akan di sampaikan oleh Ardha.


"Hallo, And, ada apa?" tanya Alana


"Kak Alana menangis?" tanya Ardha yang mendengar suara Alana serak seperti orang menangis.


"Aku habis bangun tidur, And. Ada apa, And?" tanya Alana lagi.


"Cuma pengen tahu kabar Kak Alana saja, sehat kan, kak?"


"Iya, sehat. Kamu bagaimana?" tanya Alana.


"Ya seperti biasanya, Kak," jawabnya.


"Benar kan, Kak Alana baik-baik saja?" tanya Ardha lagi.


"Iya, ini Kak Alana baru baru bangun tidur. Ardha, Kak Alana mau ke kamar mandi, kakak matikan ya teleponnya," ucap Alana.


"Iya, kak. Baik-baik ya, Kak?" jawab Ardha.


Alana meletakan ponselnya. Kenapa setiap dia ada masalah dengan Zhafran, selalu Ardha yang memerhatikannya.


"Ardha, apa kamu tahu? Kakak kamu sudah menyakitiku?" ucap Alana dengan lirih.

__ADS_1


Ardha di sana benar-benar khawatir dengan Alana. Entah Zhafranapa rasa khawatir itu bisa muncul seketika dalam hatinya. Bahkan dia sama sekali tidak konsentrasi saat tadi meeting dengan klien.


"Alana, aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja, andai jarak ini dekat, aku akan pulang, Lan. Memastikan keadaan kamu sekarang. Sekarang aku jauh, dan pekerjaanku ini tidak bisa ditinggalkan sama sekali," gumam Ardha.


__ADS_2