
Alana mencoba menghindari Zhafran setelah malam itu. Alana juga bersikap biasa saja kalau Nina ingin main di rumahnya. Tita juga aneh dengan Alana yang sepertinya menghindar dari keponakannya. Tita tahu keponakan kesayangannya itu jatuh cinta dengan Alana, dan Tita juga tahu, keponakannya sudah menyatakan cinta pada Alana, tapi Alana menolaknya.
Tita tidak mempermasalahkan Zhafran menyukai Alana, ia setuju, karena tahu siapa Alana, dan bagaimana orangnya. Alana gadis yang sangat baik, dia juga sangat rajin, pekerjaannya juga bagus, tidak pernah sama sekali mengecewakan Tita. Tita sebetulnya malah ingin mengenalkan Alana dengan Ardha, tapi Zhafran malah mendahuluinya. Biarlah, lagi pula Tita yakin Ardha tidak akan mau, apalagi setelah Ardha memiliki usaha barunya, pulang ke rumah pun sekarang sudah jarang sekali kata maminya.
Tita melihat hari ini Alana seperti sedang banyak pikiran. Kerjanya juga terlihat tidak fokus, bahkan Alana sampai melupakan janji dengan klien hari ini, yang akan melihat desain gaun pesta.
“Kamu ini kenapa, Lan? Tumben kerjamu tidak fokus, untung klien tadi menerima alasanmu, kalau kamu kemarin sakit? Kalau tidak bagaimana? Kita akan kehilangan klien kan jadinya?” ucap Tita yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja Alana.
“Maaf, Bu. Saya memang sedang tidak konsentrasi sekali akhir-akhir ini,” ucap Alana.
“Karena Zhafran?” tanya Tita.
“Bu—bukan, Bu,” jawab Alana tergagap.
“Iya juga tidak apa-apa, Lan?” ujar Tita, lalu duduk di depan Alana.
Tita melihat beberapa desain yang dibuat Alana, memang Alana sempurna cara kerjanya, semuanya tertata rapi, tapi sudah tiga hari ini Alana terlihat tidak konsentrasi dalam bekerja. Tita melihat ponsel Alana bergetar, dan terlihat nama Zhafran di layar ponsel Alana, tapi Alana menolak panggilang dari Zhafran.
“Kenapa ditolak?” tanya Tita.
“Ditolak gimana, Bu?” jawab Alana.
“Zhafran telefon, kan? Kenapa ditolak. Angkat saja. Saya tahu kok,” ucap Tita.
“Enggak penting, Bu,” ucap Alana.
__ADS_1
“Yakin gak penting? Lan, ada orang yang mengajak hal baik, kok ditolak sih? Ya saya tahu keponakan saya duda, umurnya jauh dari kamu, tapi dia memang sedang mencari istri yang kriterianya seperti kamu, Lan. Menolak sesuatu yang baik itu sayang lho, Lan?” tutur Tita.
“Saya belum siap menikah, Bu. Bu Tita, juga Zhafran belum tahu saya ini siapa, dan bagaimana? Saya belum siap berkomitmen dengan pria, karena status saya saja belum jelas, Bu,” jawab Alana.
Alana tidak tahu harus bercerita dengan siapa, hanya Tita yang bisa dipercaya. Tita bos yang baik, meski kadang galaknya keluar, tapi Tita sangat mengayomi semua karayawannya. Tidak membeda-bedakan karyawannya, dia baik menurut Alana.
“Gak jelas bagaimana, Lan? Status kamu gadis, kan? Dan masih perawan?” tanya Tita.
“Ih ibu, kalau itu mah dijamin keasliannya, Bu. Saya masih perawan ting-ting!” ucap Alana.
“Lalu, yang gak jelas apa, Lan?” tanya Tita bingung.
“Bu, salah tidak kalau saya pengin tahu orang tua kandungku siapa? Salah tidak kalau saya meminta bukti untuk bekal mencari orang tua kandung saya?”
“Ma—maksud kamu, orang tua kandung yang bagaimana, Lan? Itu ibu kamu, kan?”
“Alana ... kamu harus punya pikiran luas. Kamu anak yang diadopsi, kalau menikah meski pakai wali hakim, juga sah. Karena kamu sama sekali tidak ada petunjuk siapa orang tua kamu, kecuali ada petunjuk, dan kamu sudah mencarinya beberapa tahun yang lalu, juga sudah bertemu. Kalau begini, kamu nanti gak akan kawin-kawin dong, Lan? Mau kamu jadi perawan tua? Kamu saja belum punya bukti untuk bekal mencari siapa orang tua kandungmu?” tutur Tita.
“Tapi, tetap saja, Bu? Mana mungkin keluarga Pak Zhafran menerima saya?”
“Hei, saya ini siapa? Saya tantenya, adik dari maminya Zhafran. Saya jamin kedua orang tua Zhafran setuju. Apalagi kamu ini baik, dan kakakku juga penasaran dengan kamu. Kalau papinya Zhafran kamu sudah pernah bertemu, kan?” jelas Tita.
“Iya pernah sekali, tapi kok gak seperti Pak Zhafran, ya? Malah lebih ke Pak Ardha,” jawab Alana.
“Kamu kenal Ardha juga ternyata?” tanya Tita.
__ADS_1
“Ya kenal, kan sering di cafe Bu Tiara dulu?” jelas Alana.
“Iya, dia sukanya di sana, dia suka dengan dunianya sendiri, disuruh pegang perusahaan papinya, malah dia senang di bengkel dengan suami saya, tapi sekarang dia juga sudah membuka cabang di mana-mana. Dia sibuk dengan dunianya sendiri, sampai lupa punya pacar. Setiap dikenalkan sama perempuan, langsung dia menolaknya.”
“Ya mungkin belum ingin memiliki komitmen kali, Bu?”
“Iya, lebih tepatnya memang begitu,” jawab Tita. “Terus bagaimana Zhafran? Ini kayaknya kamu masuk ke dalam rekor, hanya kamu perempuan yang berani menolak keponakan saya yang tampan itu, biasanya dia banyak dikejar wanita, sekarang dia kena karmanya, ngejar kamu sampai dia pusing sendiri, mikir bagaimana kamu mau dengannya, dan tidak cuek lagi dengannya,” jelas Tita.
“Ibu bisa saja. Saya belum bisa menerima Pak Zhafran, Bu.”
“Karena itu? Karena kamu belum tahu siapa orang tua kandungmu?” tanya Tita, dan hanya dijawab dengan anggukkan Alana.
Tita menarik napasnya dengan berat. Tita padahal sangat berharap Alana mau menjadi istri keponakannya, dan Tita juga yakin mami dan papinya Zhafran akan merestuinya, apalagi Alana baik, sama Binka yang sudah jelas rusak saja terpaksa setuju karena Zhafrannya yang mau dan sangat mencintainya, apalagi dengan Alana yang jelas-jelas dia adalah perempuan baik.
“Alana ... Alana ... jangan memikirkan itu, saya yakin kakak saya mau menerima kamu sebagai menantunya, yang penting Zhafran mencintaimu, dan kamu juga mencintainya, kan? Iya, kan? Kamu suka dengan Zhafran?”
“Eng—enggak, Bu. Saya gak tahu!” jawab Alana gugup.
“Kamu itu bohong Alana, sorot matamu tidak bisa bohong. Jangan menutupi perasaanmu, kalau cinta ya bilang cinta,” tutur Tita. “Cinta memang kadang membingungkan, Lan. Kadang sampai salah menempatkan perasaan,” imbuhnya.
“Bu, saya malu dengan keluarga Pak Zhafran, saya ini siapa sih, Bu? Masa iya menikah dengan orang seperti Pak Zhafran? Nanti bagaimana kata orang? Pak Zhafran yang tadinya istrinya seorang perawat, dia juga dari keluarga terpandang, kok setelah pisah, cari istri lagi istrinya statusnya tidak jelas, dan dari keluarga tidak punya pula?”
“Alana ... kami tidak memandang siapa keluargamu, siapa kamu. Kami melihat kamunya, kamu perempuan yang baik, bahkan lebih bermartabat daripada mantan istri Zhafran. Untuk apa dari keluarga terpandang tapi kelakuan berantakan?” ucap Tita.
Alana tidak mengerti dengan perasaannya yang setiap hari ia pun merindukan bercengkrama lama dengan Zhafran. Sudah beberapa hari setelah kejadian itu, Alana menghindari Zhafran, tapi dia merasa ada yang kurang saat bertemu Zhafran sebentar, lalu pergi menghindar.
__ADS_1
“Apa benar aku jatuh cinta dengan Pak Zhafran? Apa aku jatuh cinta?” gumam Alana.