Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Pernikahan Zhafran


__ADS_3

Hari terus berganti, Nina sudah keluar dari rumah sakit dan sekarang tinggal di rumah opanya. Nina tahu, kalau mamahnya kembali lagi dengan papahnya. Namun, tidak ada rasa bahagia sedikit pun dari dirinya. Dia hanya bersikap biasa dengan mamah dan papahnya, apalagi dia tinggal di rumah Arkan.


"Nin, papa dan mama kamu akan menikah lagi hari ini," ucap Ardha.


"Biarin, aku maunya sama Om Ardha, katanya mau cari bunda, kok belum ketemu?" tanya Nina dengan bergelayut manja pada Ardha.


"Sabar sayang, Om juga belum berangkat ke Jogja lagi. Nanti sekalian om ke Jogja, om cari bundamu, oke." Ardha mencium pipi Nina dan menggendongnya.


"Sekarang kita ke rumah papah, menyaksikan mamah dan papah mu menikah lagi," ajak Ardha.


"Tidak mau, Nina mau di sini saja," ucap Nina.


"Mau sama siapa? Di rumah tidak ada orang, semua ke rumah papah, tinggal Nina sama Om yang belum berangkat," ujar Ardha.


"Oke, tapi ada syaratnya," ucap Nina.


"Apa syaratnya?" tanya Ardha.


"Beli Es Krim coklat dulu, tapi cup yang gede," pinta Nina.


"Oke, kita berangkat sekarang, dan sebelum ke rumah papahmu kita beli es krim." Ardha menggedong Nina dan mengambil kunci mobilnya.


Ardha membuka pintu mobil, Nina langsung duduk di samping kemudi, dia memasangkan seatbelt pada Nina dan melajukan mobilnya menuju mini market untuk membeli es krim untuk Nina.


"Ayo keluar, katanya mau Es krim," ajak Ardha.


"Oke." Nina berjalan di samping Ardha dan masuk ke dalam mini market.


Nina memilih es krim yang ia inginkan tadi. Benar dia milih es krim coklat dengan cup yang besar. Setelah selesai membayar Ardha melakukan mobilnya lagi menuju rumah Zhafran.


Zhafran sudah resmi menikah dengan Binka hari ini. Ada sedikit rasa menyesal dalam diri Zhafran saat ini. Iya, karena hidupnya hampa. Dia menikahi wanita yang sangat di cintainya itu, tapi anak kesayangannya tidak mau lagi tinggal dengannya. Seperti mendapat napas baru namun melepas sebagian hidupnya.


Pernikahan Zhafran yang mendadak, tidak ada tamu dalam pernikahan Zhafran, hanya keluarga saja yang menyaksikannya saat ini. Zhafran yang masih terlihat tampan dengan balutan jas yang dulu Alana buatkan. Zhafran teringat akan Alana, wanita yang benar-benar mengabdikan hidupnya pada Zhafran. Dan, kini Zhafran menyakitinya hingga ia pergi entah ke mana dengan calon anaknya yang masih berada di dalam kandungan Alana.


Binka nampak cantik dengan gaun seadanya yang ia pakai untuk mengikat janji suci dengan suaminya, yang sudah berlangsung tadi. Binka melihat Zhafran yang sedang memerhatikan Nina makan es krim dengan Ardha. Mereka terlihat akrab sekali, bahkan seperti anak dan ayah. Ardha sesekali terlihat menyuapi es krim pada Nina.

__ADS_1


Nina memang dari tadi tidak mau menemui papah dan mamah nya, dia tidak mau masuk ke dalam. Dan, Ardha terpaksa menemaninya. Dia tidak mau memaksa keponakannya itu, karena kalau di paksa dia tambah ngambek dan mengajak pulang.


"Zhafran, Nina dengan Ardha akrab sekali," ucap Binka yang tiba-tiba berada di sebelah Zhafran.


"Ya, seperti itu, kalau sudah dengan Ardha. Lupa sama papahnya," ucap Zhafran.


"Kita ke sana, yuk?" ajak Zhafran.


"Apa dia mau kalau ada aku?" tanya Binka.


"Ayo kita coba ke sana," ajak Zhafran dengan menggandeng tangan Binka.


Binka mendekati Nina yang sedang menikmati es krim bersama Ardha. Tawanya renyah saat Ardha mencoba melucu di depan dia. Nina terlihat bahagia dengan Ardha, tapi saat mamah dan papahnya mendekat, tawa renyah itu tidak ada lagi. Dia kembali diam dan bicara seperlunya.


"Nina, mau makan?"tanya Binka. Nina hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Nina masih marah sama mamah?" tanya Binka lagi. Lagi-lagi dia hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu gak mau masuk, Nak? tanya Zhafran.


"Tidak ada bunda," jawab Nina dengan singkat.


"Ayo ke dalam, ambil makan, sama Om," ajak Ardha.


"Gak mau, Nina tunggu sini saja," jawab Nina.


"Oke, Om masuk ambil makan siang untuk kamu." Ardha masuk ke dalam, mengambil makanan dan minuman.


Ardha dari tadi memang di luar saja, karena Nina tidak mau di ajak masuk ke dalam. Entah kenapa anak itu tidak mau msauk ke dalam rumah papahnya.


Binka dari tadi melihat anaknya yang sedang menikmati es krim tanpa memandang Binka yang berada di sampingnya.


"Nina masih marah sama mamah?" tanya Binka lagi.


"Tidak," jawab Nina.

__ADS_1


"Lalu kenapa Nina tidak mau masuk?" tanya Binka.


"Kalau Nina masuk, Nina ingat bunda, sedangkan bunda sudah tidak ada di sini, dan tidak mungkin kembali bersama Nina dan papah. Jadi Nina tidak mau masuk, karena pastinya akan ingat bunda," jawab Nina.


Binka menyeka air matanya yang hampir jatuh di pipinya. Dia tidak menyangka anaknya akan sedekat itu dengan Alana, hingga dia tidak sanggup masuk ke dalam rumah Zhafran yang penuh kenangan dengan Alana.


Binka semakin ingin menangis, di beranjak dari tempat duduk nya untuk masuk ke dalam. Nina melihat mamahnya sepertinya menangis. Nina memegang tangan mamahnya itu.


"Mamah mau ke mana?" tanya Nina.


"Mamah ke dalam dulu, Nak," ucap Binka sambil menahan tangisnya.


"Mamah, maafin Nina. Bukan Nina membenci mamah, Nina tidak mau ingat bunda, karena itu sakit, dan bunda tidak akan kembali. Mamah di sini saja, suapi Nina makan," pinta Nina.


Air mata Binka mengalir semakin deras, dia memeluk dan mencium putrinya itu. Binka tak menyangka, Nina bisa sedewasa ini pikirannya. Ya, Alana memang ibu yang baik, bisa mengubah sikap manja Nina menjadi mandiri.


"Iya, mamah di sini, mamah akan menyuapi kamu. Terima kasih, Nina tidak marah dengan mamah lagi." Binka menciumi wajah putrinya itu.


Ardha yang melihatnya sedikit trenyuh dengan Binka. Ardha tahu, ini bukan salah Binka atau pun Zhafran. Ini semua karena hati yang tidak bisa berbohong. Mencintai itu sulit, kadang sulit di mengerti, karena cinta tak dapat di tebak apa maunya hati.


"Mau di suapi mamah apa Om?" tanya Ardha.


"Mamah saja, sekarang om makan sendiri, di sini temani Nina makan di siapi mamah," ucapnya.


"Oke, om akan di sini." Ardha menuruti apa yang keponakannya inginkan itu. Bahkan dia juga akan menuruti keponakannya itu untuk mencari Alana.


"Om akan mencari bundamu, Nak. Om pastikan bunda akan baik-baik saja bersama dengan adik kamu yang masih berada di perut bunda," gumam Ardha.


^^^


Nadia melihat Nina yang seperti itu, sangat tidak tega. Dia harusnya kemarin menahan Alana untuk tidak pergi, tapi menahan Alana pergi pun tidak mungkin, karena Alana sudah terlanjur kecewa dengan Zhafran.


Keesokan harinya setelah Alana pergi dari rumah Zhafran, Fatih melihat Alana berada di depan stasiun. Fatih langsung menepikan mobilnya, dan menghampiri Alana. Alana berusaha menghindar, tapi Fatih bilang, dan berjanji tidak akan memberitahukan siapa pun, karena sudah tidak sengaja bertemu. Fatih juga langsung share lokasi pada mama dan papanya, supaya langsung ke stasiun.


Devan, Nadia, dan Fatih akhirnya bertemu dengan Alana, mereka mengobrol dari hati ke hati. Devan dan Nadia membiarkan Alana pergi, karena Alana memberitahukan pada mereka Alana akan pulang ke rumah ibunya. Hanya itu yang Alana katakan. Sebetulnya Nadia dan Devan ingin Alana ikut dengannya, tinggal dengannya sampai anaknya lahir, tapi mau bagaimana lagi, Devan dan Nadia tidak mau memaksa Alana.

__ADS_1


“Pa, kalau kemarin kita tidak melepaskan Alana, mungkin Nina tidak akan seperti itu,” ucap Nadia.


“Sudah, biar Alana menenangkan dirinya dulu. Dia butuh ruang untuk sendiri,” ucap Devan.


__ADS_2