Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Ingin Membuktikan


__ADS_3

Nadia masih membuka foto-foto dirinya dengan Alana di galeri ponselnya. Kemarin Nadia mengajak Alana makan siang, beruntung saat itu Alana memang sedang keluar izin sebentar, karena dia ada kepentingan dengan seseorang,  jadi sekalian memenuhi ajakan Nadia yang mengajaknya makan siang dengannya.


Nadia senyum-senyum sendiri melihat foto tersebut. Benar kata Fatih dan suaminya, kalau Alana sangat mirip dengannya. Nadia juga merasa seperti bercermin saat melihat Alana.


“Ma ... sedang apa?” tanya Fatih.


“Ini lagi lihat foto mama dengan Alana kemarin,” jawab Nadia.


“Makin akrab saja dengan Alana?” Acha tiba-tiba duduk di sebelah mamanya.


“Mama membayangkan kalau Alana itu adik kalian, Ayleen yang hilang, tapi mama tidak mau berharap lebih, takut sudah terlalu berharap, tapi tidak tepat. Ya mungkin itu hanya perasaan mama saja,” ucap Nadia.


“Tapi, kalau Acha lihat-lihat, memang Alana mirip mama. Tapi, Acha juga gak mau berharap lebih, kalau Alana itu Ayleen,” ucap Acha.


“Aku memang sedang mencari tahu siapa Alana, Ma, Kak. Aku merasa, kemungkinan Alana adalah Ayleen, karena dia juga anak adopsi, bukan anak kandung ibu dan ayahnya. Alana ditemukan ibunya di depan rumahnya, saat masih bayi. Katanya sih bayi baru lahir, usianya belum genap sebulan. Ya Fatih merasa saja kalau Alana itu Ayleen, dan desa di mana Alana tinggal juga desa yang sama di mana Ayleen hilang, kan? Bisa jadi ada yang menemukan Ayleen, lalu menaruh Ayleen di depan rumah ibunya Alana. Bisa jadi, kan?” ucap Fatih.


“Iya juga sih, tapi bagaimana bisa kita membuktikan Alana itu Ayleen?” tanya Acha.


“Jalan satu-satunya tes DNA, tapi masa iya tiba-tiba mau ajak Alana tes DNA, hanya karena wajahnya mirip mama? Nanti dikira gimana dong?” ucap Fatih.


“Iya juga sih, kita harus sabar, kalau misal Ayleen masih ada, pasti kita dipertemukan dengan Ayleen lagi kok,” ucap Acha.


Acha melihat setelah mengenal Alana, mamanya tidak sering melamun lagi, mamanya juga selalu terlihat bahagia, padahal hanya bertukar kabar dengan Alana lewat ponsel saja kelihatannya sudah sangat bahagia sekali.


“Kalau Alana itu Ayleen, berarti ada yang gak bisa memiliki Alana dong?” ucap Acha.

__ADS_1


“Siapa?” tanya Nadia.


“Anak laki-laki mama yang belum mau mengenal cewek lah?” jawab Acha.


“Oh Fatih?”


“Kenapa aku, Kak? Aku dekat dengan Alana, ya memang aku suka, aku mencintainya, tapi aku itu agak ragu ingin mengungkapkan perasaanku pada Alana, entah kenapa, rasanya berat sekali ingin mengungkapkannya, padahal ya sudah dekat, sudah mau bilang, tapi kok rasanya berat, aneh sekali. Padahal dengan Diana aku bisa menyatakan cinta dulu, tapi tahu sendiri kan, Kak? Diana menolak, malah memilih orang yang plin-plan, yang masih bucin dengan mantannya. Ya sudahlah,” ucap Fatih.


“Ya biar saja, kalau ditolak, namanya belum jodoh,” ucap Nadia.


“Iya, Ma. Tapi mau bilang sama Alana kok susah, ya? Kayak ada yang mengganjal,” ucap Fatih.


Fatih memang sulit sekali mengungkapkan cinta pada Alana, padahal kesempatan selalu ada. Malah lebih banyak kesempatannya Fatih dengan Alana, daripada Ardha, dia sama sekali belum bertemu dengan Alana lagi, karena dia sibuk, dan dia juga tidak tahu di mana Alana kost sekarang. Apalagi Alana sudah pindah lagi kostnya, ia sekarang mengontrak rumah, dan hanya Fatih dan keluarganya yang tahu, karena Nadia ingin selalu berkomunikasi dan bertemu Alana.


^^^


Alana berjalan di jalan setapak yang ada di sisi taman, ia mencari di mana Nina menunggunya.


“Tante!” Alana mendengar Nina memanggilnya, Alana langsung mendekatinya.


“Hai, sudah menunggu lama?” tanya Alana.


“Enggak lama sih,” jawab Nina.


“Nina pengin ketemu Tante Alana di sini mau apa coba?” tanya Zhafran.

__ADS_1


“Mau mainan saja sama tante, di rumah sepi sekali soalnya. Kan jarang Nina main? Sekarang jauh dengan oma, opa, om, dan tante, jadi ya jarang ketemu. Sekarang dekatnya malah dengan Tante Lana?” jawab Nina.


“Ya sudah yuk mau mainan apa?” ajak Alana.


“Ke sana yuk, Tante?” Ajak Nina dengan menarik tangan Alana.


“Pak saya ajak Nina ke sana, ya? Tidak apa-apa, kan?” pamit Alana.


“Iya, tidak apa-apa,” jawab Zhafran.


Nina begitu bahagia bisa bertemu Alana lagi. Lama sekali Nina ingin bertemu dengan Alana, tapi omnya tidak tahu di mana Alana tinggal. Sejak Zhafran bercerai dengan Binka, Zhafran memang pindah rumah, ia membeli rumah yang dekat dengan kantornya, karena ia ingin selalu memantau Nina juga. Ke mana pun ia pergi, ia akan membawa Nina. Zhafran mengerti, kedua adiknya juga sedang sibuk. Orang tuanya juga sekarang sering ke Berlin, untuk menemui papanya Thalia yang sudah sakit-sakitan, dan inginnya di rawat di Berlin saja. Jadi Zhafran sekarang lebih sering dengan Nina, Nina adalah prioritas utamanya sekarang.


Zhafran tidak mau lama-lama mengurus cerai dengan Binka. Sudah jelas Binka salah, ia benci sekali dengan perselingkuhan. Sejak memantapkan hatinya memilih Binka, Zhafran tidak pernah lagi main perempuan, dia setia dengan Binka, tapi Binka malah mengkhianatinya.


Hak asuh jatuh pada dirinya, dengan bukti yang sangat kuat, Binka tidak mendapatkan hak asuh Nina, meski hak asuh Nina harusnya jatuh pada ibunya karena masih di bawah umur. Semua bukti perselingkuhan Binka, semuanya disimpan oleh Zhafran, dan Binka juga mengakui perselingkuhannya dengan dr, Alex. Padahal dr. Alex juga memiliki keluarga, dan istrinya juga sama-sama seorang dokter, tapi bertugas di lain rumah sakit.


Nina terlihat bahagia bisa bermain dengan Alana. Entah kenapa anak itu suka dengan Alana, sejak bertemu Alana dan diajak main di taman cafe milik Tiara, Nina menjadi suka dengan Alana, dan ingin selalu bertemu dan bermain dengan Alana.


“Tante, apa orang yang sudah bercerai, tidak bisa kembali lagi?” tanya Nina.


“Kok Nina tanya seperti itu?”


“Iya, mama pergi, Tante. Mama pergi dan bercerai dengan papa. Sekarang Nina hanya sama papa saja tinggalnya,” ucap Nina.


Alana tidak menyangka, padahal papa dan mamanya Nina adalah pasangan yang terlihat harmonis dan romantis sekali, tapi malah bercerai. Alana juga sangat senang, kalau dulu saat bekerja di cafenya Tiara, melihat Zhafran dan istrinya mengunjungi cafe. Mereka terlihat mesra, dan benar-benar pasangan terperfect yang Alana lihat.

__ADS_1


“Papa dan mama kamu bercerai?” tanya Alana memastikan lagi, dan hanya dijawab Nina dengan anggukkan kepalanya.


“Memang yang terlihat sempurna malah begitu. Padahal dulu saat aku melihat Pak Zhafran dengan istrinya, sangat romantis banget, pasangan yang benar-benar sempurna, ehh malah bercerai? Kadang apa yang kita lihat belum tentu dalamnya itu sempurna, buktinya aku melihat pasangan yang harmonis tapi bercerai?” ucap Alana dalam hati.


__ADS_2