Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Merindukan Alana


__ADS_3

Alana di kejutkan dengan kepulangan Zhafran dari kantor yang membawa beberapa paper bag. Alana menyambutnya dengan pelukan hangat. Zhafran memberikan lima paper bag pada Alana dan dua untuk Nina. Zhafran menyuruh Alana membukanya nanti saja di kamar karena ada Nina.


"Buka nanti saja, kalau di kamar." Ucap Zhafran.


"Baiklah, aku taruh ini di kamar dulu, mandilah, aku buatkan kopi."


"Terima kasih, sayang." Zhafran mencium krning Alana.


"Papah, ayo ke kamar Nina dulu, ayo ...." Nina mengajak Zhafran ke kamarnya.


Tadi siang Alana menyempatkan menata kamar untuk Nina. Karena Nina ingin sekali memiliki kamar sendiri sekarang.


"Memang Nina sudah punya kamar?" tanya Zhafran.


"Sudah, kan tadi bunda yang menata kamar Nina," ucap Nina sambil menarik tangan Zhafran ke kamarnya.


Zhafran dan Nina masuk ke kamar Nina. Zhafran mengernyitkan dahinya melihat kamar Nina terlihat rapi sekali dan di dingnya terpasang wallpaper princess kesukaan Nina.


"Ini bunda yang menata semua?" tanya Zhafran.


"Iya, papah, tadi siang bunda yang menata ini, dan yang menempel ini semua," jawab Nina.


"Hmm ... Nina suka?"


"Suka sekali," jawabnya sambi duduk di tepi ranjang dan membuka paper bag yang tadi di bawakan Zhafran.


"Wah piyama Princess, bagus sekali, cantik." Zhafran membelikan piyama untuk Nina bermotif princess aurora.


"Nina suka?"


"Suka, papah. Ini cantik sekali," ucap Nina.


"Papah tinggal mandi dulu, ya." Zhafran meninggalkan kamar Nina.


Dia masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Dia mendapati istrinya yang sedang mengambilkan bajunya. Zhafran memeluk Alana dari belakang.


"Mas, aku kira sudah di kamar mandi," ucap Alana.


"Tadi Nina ingin memperlihatkan kamar barunya. Itu semua kamu yang mendesain?" tanya Zhafran.


"Iya, mau siapa lagi kalau bukan aku, Mas?" jawab Alana.


"Ya sudah aku mandi dulu, tidak usah buat kopi, aku ingin langsung makan saja, sudah lapar sekali," ucap Alana.

__ADS_1


"Oke, aku tata makanannya dulu."


Zhafran masuk ke dalam kamar mandi, dan Alana membuka paper bag dari suaminya dulu sebelum menata makanannya di meja makan. Alana mengernyiktkan dahinya melihat apa yang Zhafran berikan, semua isi paper bag adalah berbagai jenis pakaian seksi.


"Ya ampun, Mas Zhafran! Ini beli lingerie sebanyak ini? Untuk apa?" gumam Alana dalam hatinya.


Alana menaruh lagi lingerie dalam paper bagnya dan keluar menata makanannya. Nanti akan membahas lingerie itu setelah makan.


Malam harinya, setelah mereka menidurkan Nina di kamar barunya. Zhafran kembali membuka pekerjaannya yang belum ia selesaikan di kantor. Alana pun demikian, dia mengerjakan laporan butiknya, karena tadi dia harus pulang terlebih dahulu menyiapkan kamar untuk Nina.


Alana ingat kejadian kemarin malam saat Binka meneleponnya. Dan, entah kenapa Binka tidak menelepon lagi sampai sekarang. Sepertinya Binka juga tidak meneror Alana lagi.


"Semoga saja Binka selamanya tidak mengusik kehidupan ku lagi, aku tidak mau, kalau dia sampai merebut apa yang aku miliki sekarang," gumam Alana.


Alana terjingkat mendengar telepon masuk di ponselnya. Dia melihat siapa yang menelepon. Dia mengembuskan napasnya dengan lega, karena ternyata Ardha yang meneleponnya.


"Ah Ardha, aku kira Binka lagi," gumamnya sambil mengangkat telepon Ardha.


"Hallo, ada apa Ar?" tanya Alana.


"Mana Kak Zhafran? Aku telepon tidak diangkat-angkat," tanya Ardha.


"Sedang di ruang kerjanya, sebentar aku panggil," jawab Alana.


"Oke, nanti aku sampaikan," ucap Alana.


"Terima kasih, Kak. Kakak sama Nina sehat?" tanya Ardha.


"Sehat, kamu bagaimana?" Alana bertanya kembali pada Ardha.


"Sehat kak, cuma hatiku yang kurang sehat," jawab Ardha.


"Hmm ... gimana mau sehat, makanya cari tambatan hati biar sehat," celetuk Alana.


"Yah belum memikirkan itu, Kak,” jawabnya “Lagian yang aku suka sudah menjadi milik orang?” lirih Ardha.


“Kamu tadi bicara apa?” tanya Alana.


“Gak, itu temanku, ditinggal nikah sama ceweknya,” jawab Ardha asal.


“Oh, aku kira,” ucap Alana.


“Ya sudah, Ardha mau istirahat dulu, kak," ucap Ardha

__ADS_1


"Oke, sehat-sehat di sana." Alana mematikan teleponnya dan menaruh ponselnya lagi.


Dia menyelesaikan pekerjaan lagi. Setelah selesai semua pekerjaannya, Alana membersakan pekerjaannya dan masuk ke dalam kamar. Alana menata kamarnya dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Dia ingat akan paper bag yang tadi di bawa suaminya.


"Oh iya, aku akan menanyakan ini semua pada Zhafran, apa gunanya coba beli lingerie banyak sekali," gumam Alana.


Alana mencoba satu-persatu lingerie yang Zhafran belikan itu, dan semua pas di tubuh Alana. Dia menggunakan lingerie nya yang menurut dia paling bagus, dia memakai lingerie warna hitam. Dia menutupinya dengan kimononya dan dia memoles make up tipis di wajahnya.


Alana menunggu Zhafran yang masih belum kembali dari ruang kerjanya. Akhirnya setelah hampir 20 menit menunggu, Alana keluar kamarnya dan menemui suaminya yang masih berada di ruang kerja.


Zhafran terlihat sedang menata pekerjaannya, Zhafran ternyata baru selesai dengan pekerjaannya. Zhafran menoleh ke arah pintu yang terbuka, dan memperlihatkan wanita cantik, yaitu Alana. Zhafran mengembangkan senyumannya saat melihat Alana masuk dan terlihat sangat cantik sekali.


"Sayang, ada apa?" tanya Zhafran.


"Sepi di kamar, kamu lama sekali," ucap Alana manja dan bergelayut manja di lengan Zhafran.


"Ini baru saja selesai, Sayang." Zhafran melingkarkan tangannya di pinggang Alana dan mencium kilas bibirnya.


"Aku kesepian, Nina sudah tidur terpisah, kamu lama sekali," ucap Alana.


"Kamu cantik sekali." Zhafran mencium bibir Alana lagi.


Tangan nakal Zhafran mulai bergerilya di tubuh Alana. Dengan beralaskan meja kerja Zhafran, mereka menikmati permainan panasnya.


"Sayang, udah, lanjut di kamar saja," ucap Alana dengan napas terengah-engah setelah dua kali dia bermain dengan Zhafran.


"Oke, kita ke kamar." Zhafran menggendong tubuh Alana untuk ke kamarnya dan melanjutkan permainannya lagi.


(Yogyakarta)


Ardha masih gelisah sekali, dia tidak bisa memejamkan matanya. Mendengar suara Alana menambah hatinya gundah dan tak bisa tertidur pulas. Rasa rindu semakin menebali di rongga hatinya.


Ardha melihat foto Alana yang ada di foto profil media sosialnya. Ya, setiap hari Ardha selalu memikirkan Alana tanpa absen. Walaupun selalu memikirkannya, dia masih bisa memejamkan matanya. Namun, malam ini dia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Bayangan Alana memenuhi lensa matanya.


"Apa kamu bahagia menikah dengan Kak Zhafran, Lan?" gumam Ardha.


Ardha sebenarnya tahu, kalau kakaknya masih setengah hati mencintai Alana. Zhafran sering cerita soal perasaannya pada Alana dengan Ardha. Ya, sejak adiknya jauh, Zhafran malah sering bertukar kabar, dan sering telfonan kalau waktunya senggang. Zhafran juga pernah bilang pada Ardha, kalau dirinya masih setengah hati mencintai Alana, menikah dengan Alana karena Nina, supaya Nina mendapat seorang ibu yang baik seperti Alana.


"Kasihan Alana, Kak Zhafran tidak mencintai sepenuh. Kalau terus seperti itu, aku yakin Alana pasti akan menderita batinnya," gumam Ardha.


Ardha benar-benar tidak bisa tidur malam ini, dia masih tebayang wajah Alana. Wanita yang ia cintai. Dia tidak tahu, bagaimana dia harus menepiskan semua bayangan Alana. Ardha membuka buku catatan hariannya. Dia menuliskan sesuatu yang ada di dalam benaknya. Dia mencurahkan semuanya didalam buku catatannya.


Ardha terbawa suasana malam ini, dia mencurahkan semua tentang malam ini dengan sebuah puisi. Dia benar-benar tidak bisa memejamkan matanya. Hanya Alana, dan Alana yang ada di pikirannya malam ini.

__ADS_1


__ADS_2