Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Kabar Bahagia Dari Fatih


__ADS_3

Zhafran dan Binka sudah di rumah Arkan. Arkan sengaja mengudang Zhafran dan Binka untuk makan malam. Sejak Zhafran menceriakan Alana, Arkan menjauh darinya karena dia sangat kecewa dengan putranya yang sangat ia banggakan. Setelah bercerai dengan Alana, Nina ikut dengan Arkan dan Thalia, dia tidak mau dengan papa dan mamanya. Malam ini Zhafran di rumah opanya pun Nina memilih tetap di kamarnya, daripada dngan mamanya.


Binka juga tidak begitu dekat lagi dengan Zhalina, padahal dulu Binka teman sekolah Zhalina. Zhalina sudah terlanjur kecewa dengan sikap kakaknya dan kakak iparnya itu, tapi mau bagaimana lagi mereka masih sangat mencintai, dan cinta itu tidak bisa dipaksakan.


“Kamu tahu kabar Ardha?” tanya Arkan.


“Ya tahu sih, selama ini aku sering kontak dengan dia, Pi. Tapi, dia sepertinya sedang sibuk sekali,” jawab Zhafran.


“Papi ini bingung dengan adikmu, betah sekali di sana? Iya di sana kerjaannya juga semakin maju, tapi dia tidak memikirkan di sini, papi juga butuh dia, anak papi hanya dua yang laki-laki, Ardha sama sekali gak mau bantu perusahaan papi,” ucap Arkan.


“Bagaimana Ardha mau bantuin papi, Ardha selalu dibilang papi kerjanya tidak bagus? Padahal Ardha bisa, kan? Dia sudah membuktikan dirinya bisa tanpa bekerja dengan papi? Dia hanya bermodal dari bengkel Opa Arsyil yang ia kembangkan sendiri? Lihat sudah ada anak cabangnya kan di sini? Belum di Jogja,” jelas Zhalina.


“Papi gak gitu, Lin, memang papi bilang sesuai kenyataan, kan?”


“Iya sesuai kenyataan, tapi kasihan Ardha kalau selalu dibanding-bandingkan? Sekarang jelas kan siapa yang baik dan tidak?” Ucap Zhalina dengan kesal, lalu ia pergi ke dalam, tidak menghabiskan makanannya.


“Zhalina, sopan sekali kam bicaranya!” Arkan meninggikan suaranya saat Zhalina masuk ke dalam meninggalkan meja makan.


“Sudah, Pi, biar saja. Dia memang sedang tidak stabil perasaannya,” ucap Thalia.


Zhafran hanya diam mendengar penuturan Zhalina yang seperti itu.  Memang benar, dari dulu Zhafran yang selalu dielu-elu kan, sedang Ardha, dia yang selalu mendapat omongan dari papinya, entah itu dibilang pemalas lah, ini lah, itu  lah, dan mungkin yang membuat Ardha sakit hati dan tidak mau bekerja dengan papinya, kaena papinya selalu membandingkan dirinya dengan Zhafran.


Binka masuk ke dalam, menemui Nina yang sedang di kamarnya. Seperti itu Nina, saat ada mamanya, dia tidak mau menemuinya terlalu lama, hanya sekadar menyapa dan menyambut kedatangan mamanya saja, habis itu ke dalam lagi, ke kamarnya.


Tinggal Arkan, Zhafran, dan Thalia saja di ruang keluarga. Arkan ingin tanya soal Alana, karena selama ini sudah tidak ada kabar Alana, bahkan di desanya rumah Alana sudah kosong. Arkan dan Thalia saat itu ke sana, untuk mencari Alana dan meminta maaf, tapi rumah mereka kosong, kata tetangga, ibunya Alana sudah lama ikut dengan saudaranya.


“Kamu sudah tahu kabar Alana?” tanya Arkan.


“Sama sekali belum, Pi, gak tahu mau cari dia ke mana lagi, rumahnya di desa kosong, kata tetangganya ibunya Alana di rumah saudaranya, karena sedang sakit, jadi ibunya Alana yang menemani,” jelas Zhafran.


“Iya, papi juga begitu, waktu ke sana,” ucap Arkan.


“Aku sangat menyesal, Pi. Aku ini laki-laki macam apa?  Aku menyesal menceraikannya di saat sedang hamil. Kira-kira Alana sudah melahirkan belum ya, Mi? Dia dengan siapa sekarang?” ucap Zhafran.


“Mungkin sudah, Binka saja sudah melahirkan, kan?” jawab Thalia


“Dia dengan siapa ya, Mi? Aku merasa sangat berdosa sekali, ingin rasanya aku bersimpuh meminta maaf di kakinya. Aku seperti ini mungkin juga karena kemurkaan Alana. Anakku dengan Binka meninggal, dan aku tidak bisa lagi punya anak, karena rahim Binka sudah diangkat. Padahal aku ingin memiliki anak laki-laki, untuk meneruskan jejakku ini, Pi,” ucap Zhafran.


“Semoga anak Alana laki-laki,” ucap Arkan.


“Mana mungkin Alana memperbolehkan anaknya denganku, Pi? Aku sudah menghancurkan hidupnya, dan Alana pernah bilang, dia tidak akan memberitahukan anaknya, kalau aku papanya,” ucap Zhafran dengan matanya memerah menahan tangis.


“Mami yakin, itu hanya emosi sesaatnya Alana saja. Sudah kamu harus bisa menerima semua ini, toh ini semua keputusanmu, kan? Coba kalau kamu setia dengan Alana, mama jamin hidup kamu lebih bahagia daripada sekarang? Kamu seperti menjilat ludah sendiri, Fran! Ibarat kata kamu pungut sampah yang sudah kamu buang jauh-jauh!” ucap Thalia.


Bagi Thalia, mau Binka sekarang berbuat baik seperti apa, itu tidak ngaruh. Thalia tidak suka dengan yang namanya pengkhianatan, apalagi sampai perempuan yang menyelingkuhi suaminya. Itu adalah perbuatan yang sudah melanggar norma seorang perempuan, dan sudah benar-benar fatal perempuan yang seperti itu.


Binka mendengar ucapan ibu mertuanya itu. Memang dirinya salah, tapi tidak usah menyamakan dirinya dengan sampah.


“Aku memang hina, aku tidak bisa menjaga kehormatanku sebagai istri saat itu, tapi mami menyamakan aku dengan sampah yang telah Zhafran buang jauh. Iya sampah, aku ini sampah yang berhasil dipungut Zhafran!” batin Binka dengan menyeka air matanya yang membasahi pipi.


^^^


Binka langsung keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan kasar sepulang dari rumah orang tua Arkan. Binka berlari, sambil mengusap pipinya, menyeka air matanya yang dari tadi ia tahan saat di dalam mobil. Zhafran tidak tahu kenapa istriya seperti itu, padahal saat tadi di rumah papinya Binka biasa saja.


“Kenapa lagi dia?” ucap Zhafran lirih.


Zhafran langsung masuk ke dalam. Dia sedikit mempercepat langkahnya, dan langsung masuk ke kamar. Zhafran melihat Binka di tempat tidur dengan posisi tengkurab, wajahnya disembunyikan di bantal.


“Kamu kenapa sih gak jelas!” Ucapan Zhafran sedikit meninggi.

__ADS_1


“Iya memang gak jelas aku Fran! Harusnya kita gak usah ketemu lagi, Fran. Rumah tanggamu dengan Alana yang sedang bahagia hancur karena kedatanganku, sekarang Alana pergi, Nina pun tidak mau denganku. Nina mengusirku dari kamarnya, dan mami bilang aku sampah! Iya benar aku sampah yang kamu pungut lagi!” Binka berkata dengan suara serak, dan napas yang terengah-engah karena menahan sakit di dadanya.


Zhafran hanya diam, dia mendudukkan dirinya di sebelah Binka, lalu mengusap kepalanya. Iya semua kehancuran ini berawal dari dirinya yang bertemu Binka lagi, bertemu mantan istri yang sudah mengkhianatinya, tapi masih sangat dicintainya. Sejak kedatangan Binka kebahagiaan Zhafran hilang seketika, tidak ada lagi kebahagiaan yang hadir, meski sedikit. Hidupnya dipenuhi dengan rasa salah dan dosa, apalagi saat mengingat Alana.


Demi Nina, Zhafran menikahi Alana. Selama menikah dengannya memang belum ada cinta yang tumbuh di hatinya, baru saja benih-benih cinta itu hadir, Binka turut hadir, hingga benih cinta untuk Alana tidak tumbuh dan berbunga. Meski pura-pura mencintai, tapi hidup Zhafran selalu bahagai, selalu hangat rumah tangganya, tidak pernah ada pertengkaran hebat, tidak ada perdebatan sama sekali, meski dia tidak mencintai Alana. Dan, setelah dia berkhianat, kembali berhubungan dengan Binka, hingga Binka hamil, di situlah kebahagiaan Zhafran mulai hancur, dan sampai sekarang ia tidak merasakana bahagia lagi. Alana pergi, Nina pun tidak mau dengan dirinya.


“Binka, aku pun sakit kamu dibilang begitu, kita sama-sama salah di  mata mereka. Aku pun sama, selalu diusir Nina kalau aku ke sana. Tidak hanya kamu saja, aku juga, Sayang? Itu kenapa aku jarang ke rumah papi, kalau gak soal pekerjaan seperti tadi, aku pun malas ke sana. Karena berjuta kali kita meminta maaf, mereka tetap akan seperti itu, memaafkan tapi masih membekas di hati mereka karena ulah kita.”


“Ceraikan aku saja, Fran. Aku memang pantasnya sendiri seperti saat sebelum kita bertemu lagi. Aku merasa, lebih nyaman sendiri, daripada menikah lagi dengan kamu, tapi semua keluargamu tidak bisa menerimaku, dan yang paling menyakitkan, aku pun tidak diterima anakku sendiri, Fran,” ucap Binka dengan sesegukkan.


“Sayang ... jangan bicara seperti itu. Aku sangat mencintaimu, biarkan seisi dunia membenci kita, aku tidak akan membiarkan kamu pergi, Binka?” Zhafran meraih tubuh Binka lalu memeluknya.


“Hanya kamu yang aku punya, Fran, siapa lagi yang masih peduli denganku di dunia ini?” isak Binka.


“Sudah mulai sekarang, kita tidak usah peduli dengan ucapan orang lain. Hidup kita, kita yang jalanin dan kita yang merasakan. Rumah tangga itu hanya aku dan kamu, bukan orang lain ikut di dalamnya untuk mengatur,” tutur Zhafran.


Binka meredakan tangisannya di pelukan Zhafran. Iya benar, tidak usah mendengarkan ucapan orang di luar sana. Binka akui dirinya salah, tapi inilah jalan yang ia pilih. Ia harus terima segala bentuk cacian dari keluarga suaminya, dan dia juga harus menerima kalau anaknya tidak mau lagi dengannya.


“Mungkin sekarang Nina tidak mau denganku, tapi aku yakin Nina pasti akan memaafkanku dan mau denganku lagi,” batin Binka.


^^^


Ardha semakin dekat dengan Alana, meskipun Devan kadang sengaja membuat Ardha kesal, tapi dia tidak peduli, dia tetap mendekati Alana, dan Alana pun selalu melibatkan dia dalam kondisi apa pun. Tidak hanya Devan saja yang membuat dirinya kesal, ada Fatih dan Shaka yang juga proteks sekali dengan Alana, juga Acha yang selalu judes dengannya, karena Acha sedikit trauma dengan Zhafran yang sudah menyakiti Alana.


“Jangan harap kamu bisa memiliki Alana segampang itu! Langkahi dulu mayatku kalau ingin dapatin Alana!” sarkas Acha.


“Wuiiihhh ... datang-datang langsung nampakkin wajah garang tuh budhemu, Nak,” ucap Ardha yang melihat Acha baru datang dari Jakarta bersama suaminya. “Ibu hamil gak boleh marah-marah lho kakak ipar?” gurau Ardha.


“Kakak ipar dari mana, hah? Memang kau suamiku, Ardha?” ucap Alana.


“Calon, Lan,” jawabnya dengan kepedean.


“Jangan kepedean jadi orang!” tukas Alana.


“Lihat, kamu mau mendapatkan adikku? Ada kami yang akan menggemblengmu, supaya tidak semena-mena seperti Zhafran!” ujar Fatih. “Belum lagi papa, yang mungkin masih belum suka sama kamu,” imbuhnya.


“Kakak ini datang-datang kok gitu? Peluk adikknya kek? Malah marahin Ardha? Lagian siapa juga yang mau sama Ardha sih?” ucap Alana.


“Sini kakak peluk.” Acha memeluk Alana lebih dulu. “Kamu itu Ayleen, tapi aku lebih suka manggil kamu Alana,” ucap Acha dengan mencium kepala Alana.


“Ayleen nama bayiku, Kak. Namaku yang terdaftar di kartu identitas dan di surat-surat penting kan Alana?” ucap Alana.


“Iya juga sih. Kakak kangen sama kamu, seminggu tidak ketemu kamu rasanya kangen sekali, pulang dong ke Jakarta, biar kita bisa sama-sama,” ucap Acha.


“Belum saatnya, Kak. Tenang saja nanti bakal pulang kok,” jawan Alana.


“Ini yang dipeluk Kak Acha saja? Sini sama kakak, kamu tahu kakak sedang bahagia sekali, Lan,” ucap Shaka.


“Ih kakak cemburu nih gak dipeluk aku?” ucap Alana manja.


“Jelas dong, kakak sudah kangen kamu seminggu ini, malah diceuki, sini peluk,” jawab Shaka.


“Lagian datang-datang malah ngedumel sama Ardha?” ucap Alana.


Shaka memeluk adik bungsunya yang selama ini ia rindukan, selama lima bulan setiap satu atau dua minggu sekali Shaka, Fatih, dan Acha ke Jogja menemui Alana, pun dengan Nadia dan Devan, mereka juga rela bolak-balik Jogja, karena Alana belum mau tinggal bersamanya di Jakarta. Mungkin Alana masih belum bisa menerima masa lalunya dengan Zhafran yang sangat menyakitkan, jadi wajar Alana belum mau ke Jakarta lagi.


“Lan, kamu tahu, ada kabar bahagia,” ucap Shaka.


“Apa itu kabar bahagianya?” tanya Alana.

__ADS_1


“Kak Fatih mau melamar kekasihnya,” jawab Shaka.


“Wah sainganku bakal berkurang nih!” seloroh Ardha.


“Berkurang apaan?! Dulu memang aku ingin Alana, ingin kenal Alana lebih dekat, karena aku yakin dia Ayleen, bukan seperti kamu, deketin tapi takut ngungkapin, kan ditikung sama Zhafran! Giliran gini kamu jadi pahlawan kesiangan!” ucap Fatih.


“Kakak ... sudah dong, jangan ribut? Selamat, ya? Siapa nih calonnya?” tanya Alana.


“Dia itu sama seperti Ardha, takut ngungkapin, giliran ditikung temannya sendiri baru kelojotan! Ehh ... tuh cewek disakitin sama cowoknya, diselingkuhin, baru beraksi kek pahlawan kesiangan, sama seperti Ardha!” tukas Acha.


“Kak Acha ih buka-buka kartu!”


“Ya gak apa-apa sih kak, kan intinya saling mencintai, tapi jangan sesekali menyakiti hati perempuanmu, sekali sakit hati, gak bisa tuh balik seperti semula hati kita,” ucap Alana. “Kak Riki jangan sakiti Kak Acha, ya? Kak Acha sedang hamil, kakak harus perhatiin Kak Acha.”


“Itu pasti, Lan.” Ucap Riki, suami Acha.


“Sini aku pengin gendong Askara,” pinta Fatih.


“Ini, sama pakdemu dulu, ayah mau mandi dulu, kamu dari pagi maunya sama ayah terus gak mau sama bunda,” ucap Fatih.


“Heh! Apa kamu bilang? Ayah, ayah! Ayah macam mana?!” tukas Acha.


“Gak tahu tuh kak, makin gak jelas Ardha!” ucap Alana.


“Kamu hadapi dulu papa, kalau mau dipanggil ayah oleh keponakanku,” ujar Shaka.


“Itu masalah gampang, aku juga pastinya nunggu hati Alana sembuh dong? Ya kan, Lan?”


“Gak tahu, Ar! Sudah deh sana mandi, mumpung Askara mau sama Kak Fatih?” jawab Alana.


Ardha masuk ke dalam, ia memang belum mandi sampai siang, karena Askara maunya sama dia, sudah dari pagi dia tidak mau tidur lagi, maunya sama Ardha, sama Alananya kalau mau ASI saja. Fatih duduk dengan memangku Askara.


“Lan, kok wajahnya lebih ke Ardha daripada Zhafran, ya?” tanya Shaka.


“Ya gak tahu, aku saja heran?” jawab Alana.


“Kamu suka dengan Ardha?” tanya Fatih.


“Dia itu baik, Kak. Sejak ketemu aku di sini, dia yang selalu antar aku check up, antar aku ke mana pun aku inginkan, bahkan tengah malam aku ingin makan malam di Tumpeng Menoreh pun Ardha turuti, Kak. Aku padahal dah usia delapan bulan kandungannya, sampai ibu, budhe, dan Iwan saja ikuti kemauanku,” jelas Alana.


“Kamu ini? Tumpeng Menoreh itu kan naiknya saja tinggi tuh? Kam gak capek? Kamu hamil besar lho, Lan?” ujar Acha.


“Ya namanya pengin, mumpung om nya si jabang bayi mau antar kan?” jawan Alana.


“Sudah nikah saja sama Ardha, dia baik kok, dia tuh pas kamu nikah sama kakaknya, dia nangis semalaman di kamarku, Lan,” ucap Fatih.


“Oh pas waktu itu nginep di rumah kita ya, Kak? Pas besoknya Kak Zhafran mau menikah dengan Alana?” tanya Shaka.


“Iya, dia tuh jatuh cinta sama kamu sejak ketemu di pameran lukisan, dia terlalu rapi sekali nyimpen perasaannya, Lan,” jelas Fatih.


“Aku belum mikir buat ke situ, Kak. Aku mau fokus ke Askara dulu. Ya aku akui Ardha baik, dia juga perhatian dengan aku, dan tidak sekali dua kali dia bilang mencintaiku, tapi hati ini belum siap untuk memulai lagi, Kak. Aku masih ingin sendiri dulu, nunggu Askara gede mungkin? Lagian Kak Fatih sama Kak Shaka belum menikah, nanti dong nunggu kakak?”ucap Alana.


“Kamu itu bisa saja, aku nunggu Kak Fatih punya pacar saja capek, Lan? Ujung-ujungnya balik ke Kak Irvina lagi? Ya memang jodoh sih?” ucap Shaka.


“Nanti kalau kakak lamaran ikut, ya?” ajak Fatih.


“Alana belum siap pulang ke Jakarta. Kakak lamaran pasti kan ada keluarga Ardha?” jawab Alana.


“Ya sudah gak apa-apa. Tapi, pas kakak menikah pulang, ya?” pinta Fatih.

__ADS_1


“Alana usahakan ya, Kak?” jawab Alana.


Siang ini mereka kembali berkumpul, setelah satu minggu mereka LDR saling kangen lewat video call saja.


__ADS_2