
Ardha keluar dari ruang dokter setelah selesai berbicara dengan dokter. Langkahnya gontai menuju ke arah ibu dan budhenya Alana.
“Bagaimana, Ar?” tanya Aninggar dan Arofah bersamaan.
“Alana harus segera dioprasi, dan dia butuh darah, karena pendarahan hebat,” jawab Ardha.
“Apa salah satu dari ibu atau budhe ada yang sama golongan darahnya dengan Alana? Golongan darah Alana AB rhesus negatif, atau mungkin Iwan? Sepertinya kalau ibu atau budah sama-sama rhesus negatif, meski dari golongan darah yang beda bisa donor untuk golongan darah AB negatif?” ucap Ardha.
“Ibu golongan darahnya, A positf, Ar,” ucap Arofah.
“Aku dan Iwan B positif, Ar,” jawab Aninggar.
“Astagaa ... aku tadi baru saja cek, tidak cocok dengan Alana? Lalu bagaimana?” tanya Ardha.
“Mungkin salah satu dari saudara kandung Alana ada yang sama,” ucap Arofah lirih.
Ardha melirik tajam ke arah ibunya Alana. Saudara Alana yang dimaksud beliau siapa? Ardha penasaran dengan apa yang dikatakan ibunya Alana.
“Maksud ibu, saudara Alana yang mana?” tanya Ardha.
“Orang tua Alana masih dalam perjalanan ke sini,” jawab Arofah.
“I—ini? Orang tua kandung Alana? Memang sudah ketemu?” tanya Ardha.
“Duduk, Ar. Mungkin mereka sebentar lagi datang,” ucap Aninggar menenangkan Ardha.
“Budhe, Fatih sepertinya dia golongan darahnya sama dengan Alana, papanya juga, tapi mereka ada di Jakarta,” ucap Ardha.
“Sudah kamu tenang, Ar.” Aninggar mencoba menenangkan Ardha.
Ardha terus mendoakan Alana, sebentar lagi Alana akan di bawa ke ruang operasi. Alana sedang dipersiapkan di dalam ruangan. Ardha terpaksa menandatangani surat persetujuan untuk operasi Alana.
__ADS_1
“Bu Arofah, apa yang terjadi dengan Alana!” Devan langsung menuju ke arah Arofah.
”Om Dev?”
“Ardha kamu di sini?”
“Iya, aku di sini om,” jawab Ardha. “Om bantu Alana, om golongan darahnya AB, kan? Fatih juga?” tanya Ardha.
“Iya, Om golongan darahnya AB minus, sama dengan Fatih,” jawab Devan.
“Ah syukurlah, berarti ada kemungkinan cocok dengan golongan darah Alana. Alana pendarahan, Om. Dia harus operasi, dan membutuhkan tranfusi darah,” jelas Ardha.
“Antar om ke ruang donor darah!” Ajak Devan, dia tidak peduli tujuannya menemui ibunya Alana, tapi ia langsung bertindak menolong Alana. “Fatih, kamu ikut papa!” ajak Devan.
Nadia mulai bertanya-tanya dalam hatinya, ia semakin yakin Alana adalah putrinya. Nadia mendekati Arofah yang duduk di sebelah Aninggar. “Katakan yang sebenarnya, kenapa sampai sama golongan darah Alana dengan suami dan anak saya, Bu Arofah!” tanya Nadia.
“Saya akan jelaskan nanti, Bu Nadia. Saya sedang tidak karuan rasanya melihat Alana sedang berjuang bertaruh nyawa. Akan saya jelaskan semuanya, kita doakan anak kita, iya anak kita, Alana anak kandung Bu Nadia. Maafkan saya, doakan Alana, Bu, dia harus kuat melawan semuanya,” ucap Arofah dengan terisak.
“Maksudnya? Alana itu, Ayleen? Iya begitu?!”
“Kenapa kamu sembunyikan dari kami? Kenapa baru bicara sekarang?! Sejak kapan kamu tahu Alana itu anak saya?! Alana itu Aylee! Jahat kamu!” erang Nadia yang tidak peduli sekarang ada di rumah sakit.
“Bu Nadia, sabar, jangan begini, ini di rumah sakit. Kita doakan Alana, kita doakan supaya persalinannya lancar, dan tidak ada halangan operasinya. Alana butuh doa kita, bukan perdebatan kita!” ujar Aninggar.
“Kamu tidak mengerti rasanya kehilangan anak selama dua puluh lima tahun? Tahu rasanya seperti apa? Ternyata, dia orangnya yang menyembunyikan anakku! Jahat sekali Bu Arofah? Lalu di mana saat dua puluh lima tahun yang lalu saya ke rumah ibu, menayakan di mana anak saya, ibu melihat atau tidak? Di mana kamu sembunyikan Alana saat itu, Hah? DI MANA!!!!” Nadia semakin keras, dia sampai teriak, dan menangis karena geram dengan Arofah.
“Bu Nadia, tolong jangan seperti ini, kita bisa bicarakan semua ini dengan cara baik-baik, dengan cara kekeluargaan. Kita sedang mengalami musibah. Anak kita, sedang terbaring lemah, untuk berjuang melawan sakit, berjuang demi anaknya, cukup jangan ribut lagi! Tolong jangan seperti ini, semua akan kami jelaskan. Semua menyayangi Alana, mencintai Alana, saya mohon jangan memperkeruh suasana, Bu,” lerai Aninggar.
Nadia sadar, ia seharusnya ia berdoa, meminta kepada Allah, supaya Alana diberikan kelancaran dalam persalinannya.
“Kamu Ayleen? Alana ... kamu Ayleen, kamu anak mama sayang,” ucap Nadia lirih.
__ADS_1
Nadia menyandarkan kepalanya, ia terus berdoa meminta kelancaran persalinan untuk Alana. Nadia melihat Devan dan Fatih yang baru saja keluar dari ruang donor. Nadia langsung memeluk Devan, dan menangis di pelukan Devan.
“Alana anak kita, Pa. Alana itu Ayleen ....” Alana menangis memeluk Devan.
“Mama tenang, ya? Mama harus berdoa, supaya operasi Alana lancar, bayi dan ibunya juga sehat,” ucap Devan. “Papa sudah meminta dokter supaya mengurus tes DNA sekalian, untuk memastikan Alana itu Ayleen atau bukan,” imbuh Devan.
“Jadi papa sudah tahu?” tanya Alana.
“Iya, papa hanya merasa saja, kalau Alana adalah anak kita. Kalau Alana itu Ayleen. Mumpung begini, papa minta tes DNA juga,” jelas Devan.
“Alana benar anak kita, Pa,” ucap Nadia.
“Maafkan saya, Pak Dev,” ucap Arofah. “Alana adalah putri bapak yang saya rawat, saat saya melihat Alana jatuh dari tebing. Ini semua buktinya.” Arofah memberikan kotak, tempat untuk menyimpan bukti kalau Alana adalah anak Naida dan Devan.
Devan menerimanya, dia mengajak Nadia duduk, lalu membuka kotak tersebut. Devan dan Nadia terkejut melihat barang-barang milik Alana dulu saat masih bayi. Mereka ingat, masih jelas ingatan mereka, saat jatuh Ayleen memakai baju apa, topi apa, dan sepatu apa. Benar-benar sama.
Nadia mengambil ponselnya, membuka galeri, lalu mencari foto bayi Ayleen, saat dulu di vila, saat mau pulang dirinya foto dengan Ayleen dulu sebelum masuk ke mobil. “I—ini benar milik Ayleen, Pa.” Alan tidak percaya Alana benar Ayleen.
“Iya Alana adalah putri kalian. Maafkan saya, saya egois, saya ingin memiliki anak, hingga saat mendengar ada tim pencarian, dan polisi akan datang besama Pak Dev dan Bu Nadia, saya menyembunyikan Alana di Jogja,” ungkap Arofah.
“Saya yang membawanya. Saya tahu perasaan adik ipar saya yang sangat ingin memiliki anak.” Aninggar menimpalinya sesuai kenyataan.
“Kenapa kalian tega? Kenapa Bu Arofah setega ini? Membohongi mama dan papa?” ucap Fatih.
“Bu, kenapa ibu lakukan itu?” tanya Iwan pada Aninggar.
“Semuanya karena ibu ingin adik laki-laki ibu memiliki anak. Buktinya pamanmu tidak pernah sedikit pun menyakiti Alana, kami rawat Alana dengan baik, dengan cinta dan kasih sayang. Tidak pernah kurang sedikit pun perhatian kami, dan mendiang adik saya melakukan apa pun untuk membahagiakan Alana,” ucap Aninggar.
“Saya sama sekali tidak menyakiti Alana. Saya mencintai Alana, menyayangi Alana, meski dia bukan anak kandungku, separuh jiwa saya ada pada Alana. Bahkan jika saya bisa menggantikan posisi Alana sekarang, akan saya gantikan. Biar pun nyawa taruhannya. Saya terlalu mencintai Alana, itu sebabnya saya takut memberitahu siapa orang tua kandung Alana. Saya takut Alana meninggalkan saya. Saya mencintai, menyayanginya seperti anak kandung saya sendiri. Demi Tuhan, saya mencitainya, Pak Dev.” Ungkap Arofah dengan terisak. “Saya sangat mencintai Alana, putriku, meski bukan anak kandungku,” ucapannya semakin lirih.
Aninggar memeluk adik iparnya, ia tahu perasaan adik iparnya, juga perasaan Nadia dan Devan yang sudah dibohongi oleh Arofah puluhan tahun lamanya.
__ADS_1
“Sudah, semuanya tenangkan diri kalian, masalah ini bicarakan nanti setelah Alana selesai operasi, setelah Alana sehat. Tolong jangan menambah masalah lagi, aku minta doa kalian, doa dari orang tua Alana, baik ibu atau Om Dev dan Tante Nadia. Alana butuh doa kalian, kuatkan doa kalian untuk orang yang sangat aku cintai. Aku mohon jangan berdebat dulu.” Ardha memohon dengan terisak. Devan memeluknya, dan mengajak Ardha duduk. Semua teridam, berdoa di dalam hati mendoakan Alana yang sedang berjuang di dalam ruang operasi.
“Selamatkan anakku, Ya Allah. Ayleen ... kuat sayang, kami semua mencintaimu,” batin Devan.