Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
SAH


__ADS_3

Hari terus berganti, tiga bulan setelah Shaka menikah, Alana dan Ardha menikah. Resepsi pernikahannya di gelar di kediaman Devan. Itu semua karena Devan yang menginginkannya. Ardha mengalah, karena dia tahu papa mertuanya ingin sekali acara pernikahan putri bungsunya berlangsung di kediamannya. Jadi Ardha tidak jadi menggelar pernikahannya di Jogja, tapi nantinya dia akan menggelar resepsi di Jogja, setelah di Jakarta. Apalagi Ardha sudah memiliki rumah di sana, dan rumahnya sudah direnovasi


Alana sudah memakai gaun pengantinnya. Gaun yang di rancang khusus oleh desainer terkenal yang dipilihkan Thalia, juga MUA ternama yang Thalia pilihkan. Alana memakai gaun berwarna putih untuk mengikat janji sucinya dengan Ardha. Pernikahan yang hanya di hadiri keluarganya saja, namun begitu berkesan bagi Alana dan Ardha. Karena setelah mengikat janji suci, mereka melakukan upacara adat dengan pakaian adat basahan.


Itu semua karena keluarga Alana di Jogja masih kental dengan kebudayaannya. Ardha dan Alana menuruti saja apa yang ibunya mau. Jujur saat menikah dengan Zhafran, Arofah tidak seantusias ini mempersiapkan pernikahan putrinya. Meski digelar di orang tua kandung Alana, baik Devan atau Nadia, mereka juga menghormati ibu angkat Alana. Arofah juga mengundang perias terkenal dari Jogja, khusus untuk merias Alana dan Ardha saat mengenakan adat paes ageng.


Nadia dan Thalia juga bangga dengan  bisa memakai kebaya dan di sanggul layaknya orang Jawa. Mereka jarang memakai seperti itu, bahkan tidak pernah berdandan seperti ini, baru kali pertamanya mereka berdandan memakai pakaian adat. Begitu juga Zhalina, Binka, Acha, Vania, dan Irvina, mereka juga sama berdandan dengan menggunakan sanggul. Begitu juga dengan Fatih, Shaka, Zhafran, dan lainnya, mereka juga baru pernah memakai pakaian adat saat resepsi pernikahan.


“Kamu cantik sekali,” puji Nadia saat melihat Alana sudah siap memakai gaun putih untuk akad nikah.


“Mama juga cantik sekali, pakai sanggul gini, kayak putri kraton,” puji Alana.


“Ini semua berkat ibu dan budhe. Jadi kita disulap seperti sedang menghadiri pernikahan di keraton,” ucap Nadia. “Ide ibu benar-benar wow ... aku tidak menyangka akan seperti ini, pelaminan Alana juga seperti pelaminan di kerajaan, ini kamarnya juga dekorasinya seperti kamar seorang putri dan raja,” ucap Nadia.


“Semua ini untuk Alana, putri kami, Bu Nadia. Dulu ayahnya Alana selalu memimpikan, kelak kalau Alana menikah, pelaminan Alana harus pelaminan yang megah, dengan nuansa kraton, dan juga ingin melihat Alana dirias dengan pakaian adat tempat kelahiran ayahnya. Sayangnya ayahnya Alana meninggal saat Alana mau SMA. Itu semua hanya kenangan, dan sekarang aku bisa mewujudkan apa yang ayahnya Alana inginkan,” ujaer Arofah.


“Aku terima kasih sekali, ibu sudah merawat Alana dengan penuh kasih sayang, meski aku sempat kecewa karena ibu membohongi kami, tapi kami sadar, betapa inginnya ibu dan suami untuk memiliki anak,” ucap Nadia.


“Iya, saya minta maaf, Bu Nadia. Sejak melihat Alana jatuh, dan aku menolongnya, aku langsung jatuh hati pada bayi kecil yang cantik jelita, dan lucu. Maafkan saya, dulu saya sembunyikan Alana di Jogja, saat Bu Nadia dan Pak Dev mencari ke rumah,” ucap Arofah.


“Sudah, lupakan masa lalu. Sekarang Alana kita sudah mau menikah, dan ini pernikahan keduanya. Kita sekarang punya tugas baru, Bu. Menimang cucu-cucu kita kelak,” ucap Nadia, dan mereka saling berpelukan.


“Ibu, mama, sudah jangan melow-melow, dong? Alana bahagia, memiliki dua wanita yang sangat hebat dalam hidup Alana. Yaitu mama dan ibu. Doaka Alana ya, Ma, Bu? Semoga pernikahan Alana dan Ardha bahagia dunia akhirat.,” ucap Alana.


“Itu pasti, Sayang.” Nadia dan Arofah bersamaan mencium pipi Alana.


Alana diapit oleh Nadia dan Arofah saat keluar dari kamar. Devan sudah menunggu di depan kamar, ia akan menjemput Alana untuk ke depan, karana akad nikah akan segera dimulai. Sama saat seperti Acha menikah, Devan lah yang menggamit Acha saat itu, untuk di bawa ke depan untuk melakukan ijab qobul. Sekarang Alana, Devan sangat bahagia, akhirnya dipernikahan Alana yang kedua, Devan resmi menjadi walinya, karena Alana adalah Ayleen yang telah lama hilang. Putri bungsunya yang hilang sejak bayi.


“Papa tampan sekali pakai pakaian adat begini? Gagah sekali,” puji Alana.


“Pasti dong, siapa dulu, papamu? Tuh mama kamu juga cantik sekali memakai sanggul, papa sudah tidak sabar setelah ini kamu akan dirias dengan pakaian adat basahan, pasti kamu cantik sekali,” ucap Devan.


“Kan memang putri papa ini cantik,” ucap Alana.


“Kamu sudah siap, Nak?” tanya Devan.


“Siap, Pa. Doakan Alana ya, Pa? Semoga pernikahan kedua Alana bahagia hingga akhir nanti,” ucap Alana.


“Itu pasti, Nak. Doa papa dan mama selalu yan terbaik untuk anak-anak papa,” ucap Devan.


Alana duduk di sebelah Ardha. Ardha sudah gagah memakai jas berwarna putih, senada dengan gaun yang Alana pakai. Ardha terlihat grogi, apalagi melihat Alana yang sangat cantik mengenakan gaun putih, dan sudah duduk di sebelahnya. Arkan yang duduk di sebelah Ardha, dia tahu kalau putrannya sedang grogi menghadapi detik-detik bersejarah dalam hidupnya.


“Bismillah, jangan grogi. Biar semua lancar,” bisik Arkan.


“Alana cantik sekali makanya aku grogi, Pi,” bisik Ardha.


“Sudah fokus, kamu jangan grogi pokoknya, biar sekali ucap langsung sah. Biar tar malam kamu bisa bikinin papi cucu lagi.”


“Lagi grogi malah minta cucu!” tukas Ardha.


Arkan juga terlihat gagah memakai baju adat, sama dengan Devan. Mereka sudah tua tapi masih sangat gagah dan tampan. Thalia pun terlihat cantik dengan menggunakan kebaya dan sanggul. Dia seperti bule jawa, karena memang Thalia keturuna bule.


Ardha mengucapkan qobul dengan lancar, dan semua orang yang menyaksikan mengucapkan kata sah secara bersamaan. Ardha begitu lega, akhirnya dia sah menjadi milik Alana. Alana mencium tangan Ardha, dan Ardha mengecup kening Alana. Ardha menyematkan cincin di jari manis Alana, pun Alana, dia juga menyematkan cincin di jari manis Ardha.


Setelah sah, Alana dan Ardha ke pelaminan untuk melakukan sesi pemotretan, juga foto keluarga. Setelah selesai sesi foto setelah akad, Ardha dan Alana dipanggil Aninggar, untuk dirias lalu mengenakan pakaian adat basahan.


“Ayo ganti baju dulu, Ar, Lan,” ajak Aninggar.


Tim perias sudah berada di kamar Alana. Ardha masuk ke kamar Alana. Dia baru melihat kamar pengantinnya itu disulap seperti kamar di kerajaan.


“Mas, keluar dulu gih, aku mau lepas gaun ini, ini disuruh ibu perias,” pinta Alana.


“Sudah menikah masa masih malu tho nduk?” ujar perias.

__ADS_1


“Kan baru jadi suaminya, Bu,” jawab Alana dengan malu.


“Yo wis tak metu sik,” ucap Ardha.


“Bisa bahasa jawa juga, Mas?” tanya ibu perias.


“Sedikit, Bu, kan lama di Jogja,” jawab Ardha.


Alana melepas gaunnya di bantu para perias, lalu dia mulai dirias kembali dengan mengenakan pakaian adat basahan


Setelah cukup lama dirias, akhirnya selesai sudah. Alana terlihat sangat cantik sekali memakai pakaian adat basahan. Ardha juga terlihat sangat gagah dengan dada bidang nya terlihat sempurna. Mereka melanjutkan acara yang belum selesai.


“Cantiknya ... aku tidak menyangka acara pernikahan kalian akan sesakral ini,” ucap Zhalina. “Tadinya aku ada acara adat seperti ini, ya? Kayaknya sakral sekali,” imbuhnya.


“Kakak mah beda konsep,” jawab Ardha.


“Gagah sekali adikku,” puji Zhafran.


“Baru tahu adiknya gagah?” jawab Ardha.


“Selamat ya, Ar? Titip Askara, dan sayangi Alana juga Askara,” ucap Zhafran.


“Itu pasti kak,” jawa Ardha.


“Askara di mana, Kak?” tanya Ardha.


“Sama bibi, takut lihat orang pada pakai kebaya,” jawab Zhafran,


Acara demi acara sudah terlewati dengan lancar dan tanpa hambatan. Alana dan Ardha beganti baju di kamarnya. Kamar yang di hiasi bunga melati dan mawar. Ranjang yang di hiasi kelambu putih dan kelopak mawar di atas tempat tidur bak kamar seorang putri raja zaman dahulu. Ardha memeluk Alana dari belakang saat Alana sedang melepas hiasan yang ada di kepalanya. Seorang perias masuk ke dalam kamar Alana untuk membantu melepaskan sanggul dan hiasan yang ada di kepalanya Alana.


"Waduh, sabar toh, Mas. Ngko nek wayahe bengi wae, ritual sing tentrem, Ben biso di paringi putra lan putri sing iso dadi panutan," ujar perias itu dengan basa Jawa. Ardha hanya tertawa karena masih sedikit tidak mengerti.


"Nggih, Bu,” jawab Ardha.


“Kamu juga, kan?” balas Ardha.


"Sudah, jangan berdebat, sini tak bantu lepaskan pakaiannya,” ujar perias.


“Mas, jangan di sini, mas ganti di kamar tamu, ya?” pinta Alana.


“Iya sayang ....” Jawab Ardha.


Ardha keluar ke kamar tamu yang dan meminta bantuan Zhafran dan Fatih untuk melepaskan semua pakaiannya tadi.


"Ribet amat nikahanmu, Pak. Pakai acara adat, sungkeman, terus apa tadi, Panggih Manten, lempar-lemparan apa tadi. Unik juga tapi, ya?" ucap Fatih sambil membantu melepaskan pakaian Ardha.


"Ya seperti itu, itulah kebudayaan. Kaluarga ibu dan buhde di sana masih lekat dengan kebudayaannya, nanti kalau di Jogja sepertinya juga akan seperti ini lagi?" jawab Ardha.


"Tapi kamu cocok pakai baju seperti ini, seperti Raden Arjuna, mencari cinta hingga ke kutub Utara," ledek Iwan


“Ku tunggu jandamu ya Ar judulnya?” ledek Fatih


"Sudah jangan banyak bicara, aku gerah sekali, tolong ini lepaskan peniti di sebelah sini," pinta Ardha


"Sabar, nanti malam saja ***-*** nya. Jangan sekarang," ucap Iwan.


"Sumpah kamar pengantinku seperti kamar pengantin di kerajaan. Aku saja kaget tadi masuk, dari tadi di rias di kamar ini, baru saja masuk meluk Alana, mbak-mbak perias masuk mau bantuin Alana melepaskan hiasan di kepalnya, ngomongnya pakai basa Jawa lagi, untung aku bisa?" ucap Ardha.


"Makanya belajar, biar bisa ngomong Jawa, kamu mau menetap di Jogja setelah ini kan. Kalau kamar pengantin adat sana memang seperti itu rupanya, Ar. Di kasih kelambu serba putih, setiap sudut kamarnya ada kembang mawar, melati, dan kembang kantilnya. Nuansa kamar yang agak redup, iya, kan?" ucap Zhafran.


"Kok kak Zhafran tahu?" tanya Ardha.


"Iya, karena ada teman Kakan yang seperti itu," jawab Zhafran.

__ADS_1


"Oh, ya sudah, kak. Aku mau ke kamar Alana dulu," pamit Ardha.


"Masih sore, jangan main-main," ucap Iwan.


"Mainan sama istri sah-sah saja dong, sirik aja kamu, Wan ," ucap Ardha sambil berlalu ke kamar utama menemui Alana.


Ardha padahal ingin pesta pernikahannya di Jogja, tapi dia menghormati papanya Alana. Dia juga sudah merombak rumahnya sebelum menikah, dia memperluas kamarnya lagi. Semua di rombak, karena Ardha ingin Alana hidup nyaman di rumahnya.


Dia mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar utama, karena dia ingat Askara yang dari tadi pagi dia belum menggendongnya. Dia ke depan mencari Askara. Dan terlihat Askara sedang bersama opanya. Ardha mendekatinya karena ia kangen dengan Askara. Seharian belum menggendongnya.


"Ayah kangen sekali, sini sama ayah," ajak Ardha.


Askara langsung ke gendongan Ardha, dia memeluk Ardha dengan erat seperti seharian tidak bertemu. Beruntung Askara takut dengan dandanan Ardha dan Alana saat menggunakan pakaina adat. Jadi Askara dengan yang lainnya yang tidak memakai pakaian adat.


"Sudah tidak takut dengan ayah?" tanya Ardha pada Askara.


Askara menggelengkan kepalanya dan mencium pipi Ardha dengan sayang. Ardha membalas menciumnya dan mengajak Askara masuk menemui Alana.


"Eh mau di bawa ke mana? Sana kamu dengan Alana saja, membuat adik untuk Askara," ucap Arkan.


"Masalah itu gampang, Pi. Aku mau mainan dengan Askara dulu dan Alana, baru nanti mainan dengan Alana malaman," ucap Ardha sambil masuk ke dalam. Semua yang mendengar hanya tertawa, begitu juga dengan Shaka dan istrinya.


"Siap-siap saja, kalau nanti Alana Hamil lagi, tengah malam kamu di suruh mengantar dia ke Malioboro dan bukit bintang," seru Iwan.


"Itu udah biasa, asal tidak minta ke kutub Utara saja, Wan." Ardha menyahutinya.


Ardha masuk ke dalam, dan semua bertanya-tanya apa Alana benar-benar mengajak Ardha malam-malam ke bukit bintang dan Malioboro.


"Masa Alana ngidamnya gitu, Wan?" tanya Thalia.


"Iya, tante. Tanya saja ibu, jam sebelas malam ngajakin ke bukit bintang, pakai nangis lagi," ujar Iwan.


"Ya, mungkin karena hormon sedang hamil, Bu Lia," imbuh Aninggar.


"Lalu kalian menuruti?" tanya Devan.


"Ya, mau bagaimana lagi, Alana nangis, akhirnya aku antar Alana ke sana dengan Ardha. Untung dekat dengan rumah temanku, jadi kita bermalam di sana," jawab Iwan.


Semua keluarga Ardha sudah pulang. Ardha dan Alana tidak memperbolehkan Askara di bawa mereka, karena Askara masih meminum ASI Alana. Dan, Ardha juga tidak mau jauh dari Askara.


Lengkap sudah kebahagiaan Ardha saat ini. Wanita yang ia cintai, sudah berada di pelukannya, dan menjadi istri sahnya. Setelah menidurkan Askara di ranjangnya Alana dan Ardha merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Dik tidak apa-apa?" Ardha berkata seperti itu, seperti saat pertama bertemu Alana, saat bertemu di depan mini market, dan Alana tertabrak Ardha yang gugup mau masuk mini market.


"Em ... tidak, Mas. Terima kasih, sudah membantu," jawab Alana sesuai apa yang dulu ia katakan pada Ardha saat di tolong Ardha waktu itu.


"Lucu ya, Mas? Kalau di pikir-pikir jodoh itu rumit," imbuh Alana


"Ya lucu sekali, dan saat aku tahu kalau kamu calon istri kakaku, duniaku runtuh, Lan. Tapi, aku tidak menyerah. Karena kau yakin kamu cinta sejati ku," ucap Ardha.


"Kok bisa yakin seperti itu?" tanya Alana dengan menggoda.


"Yakin, lah. Buktinya kamu sekarang menjadi miliku seutuhnya, Lan. Dan, aku janji, aku akan selalu membahagiakanmu, menjaga kamu dan Askara seumur hidupku, Sayang." Ardha mengecup bibir Alana.


"Jangan mengumbar janji, buktikan saja, Ardha. Janji tanpa bukti seperti burung merpati yang tidak memiliki sayap. Sakit, Ardha," ucap Alana.


"Iya, sayang." Ardha memeluk tubuh Alana


Jujur saja, baru kali ini Ardha berada di kamar bersama wanita sambil rebahan, dan sangat intim, rasa gugup juga menyelimuti dirinya. Dia hanya mengikuti naluri lelaki yang normal. Ardha dan Alana mulai bercumbu di tengah sunyinya malam. Lenguhan, *******, dan kecapan lembut dari mereka terdengar menggema di ruangan yang luas itu.


"Alana, Aku mencintaimu. Apa kamu siap, aku menginginkannya malam ini," ucap Ardha.


"Aku juga mencintaimu, Ardha. Lakukanlah, ini sudah menjadi kewajiban mu, Mas," jawab Alana.

__ADS_1


Ardha mencumbu setiap inci tubuh Alana. Ardha menindih tubuh Alana dan bersiap melakukan ritual malamnya. Namun, suara tangis bayi terdengar nyaring di telinga mereka. Askara menangis, dan membuat Ardha dan Alana tertawa. Seketika hilang hasrat mereka berdua. Alana dan Ardha memakai kimononya lagi. Ardha menggendong Askara yang menangis dan menimangnya agar tertidur kembali.


__ADS_2