
Zhafran sudah berada di ruang IGD untuk di berikan perawatan. Betis Zhafran sobek, dan perlu di jahit. Seorang perawat mendekati Zhafran dan akan membersihkan lukanya terlebih dahulu.
"Zhafran?" sapa perawat itu.
"Binka?"
Mereka saling memandang, tapi Binka menyadarinya, Zhafran sudah milik orang lain. Hati Binka bergemuruh saat itu. Dia sebenarnya tidak merelakan Zhafran menikah lagi. Tapi, karena kesalahannya yang fatal, jadi dia harus terima semua ini.
"Kamu kenapa di sini?" tanya Binka.
"Aku sedang ada proyek baru di sini," jawab Zhafran.
"Kamu di sini sekarang?" tanya Zhafran.
"Iya, semenjak mamah meninggal dua tahun yang lalu, aku mengurus papah di sini. Dan, baru dua bulan ini papah menyusul mamah, jadi aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Zhafran," jawab Binka.
"Oh, lalu Alex?" tanya Zhafran.
"Alex dia ikut bersama istrinya sekarang," jawab Binka.
"Lalu kamu?" tanya Zhafran.
"Maaf kita bahas lagi nanti, aku akan mengobati lukamu dulu, maaf ini sedikit sakit," jawab Binka.
Binka dengan telaten membersihkan luka Zhafran sebelum di jahit, dan setelah itu, Dokter menjahit luka Zhafran. Binka tidak menyangka akan bertemu Zhafran lagi di sini. Tapi, dia tahu, Zhafran sudah tidak bisa di miliki olehnya. Dia hanya sebatas mantan suami yang sekarang sudah memiliki istri lagi.
"Aku memang wanita yang bodoh, menyia-nyiakan orang sebaik kamu, Zhafran," gumam Binka.
Zhafran sudah selesai di obati, dia di papah sopir pribadinya keluar dari IGD. Dan, betapa kagetnya sopir pribadi Zhafran meliha Binka di rumah sakit itu.
"Tuan, bukankah itu, mamahnya Non Nina?" tanya Wily sopir pribadi Zhafran.
"Iya, jangan bilang Alana, aku bertemu dia. Aku tidak sengaja. Aku benar-benar tidak tahu kalau dia di sini, Wil," pinta Zhafran.
"Iya, aku tidak akan bilang pada Bunda. Tuan tunggu di sini, aku akan mengambil obat di ruang farmasi dulu," pamit Wily.
Zhafran duduk di ruang tunggu, dan tak lama kemuadia Binka mendekatinya dan duduk di samping Zhafran.
"Zhafran, bagaimana kabar Nina?" tanya Binka.
"Kamu baru ingat Nina? Setelah hampir tiga tahun lamanya kamu meninggalkan dia tanpa memberi kabar? Untung saja Nina lebih dekat dengan aku, coba kalau dekat dengan kamu, dia pasti membatin sekali saat di tinggal kamu," jawab Zhafran dengan nada yang sedikit sinis.
__ADS_1
"Maaf, Zhafran. Sebenarnya aku malu, malu dengan kamu, dengan keluarga besar kamu, itu sebabnya aku memilih langsung pergi dan tidak muncul lagi di kehidupanmu," ucap Binka dengan berlinang air mata.
"Sudah jangan membahas ini, ini akan menyakitiku sekali, Binka." Zhafran melihat Binka masih berlinang air mata.
"Pasti Nina senang memiliki ibu yang baik seperti Alana," ucap Binka.
"Ya, dia bahagia sekali, apalagi Alana adalah pilihannya," ujar Zhafran.
"Maksudnya?" tanya Binka.
"Ya, aku menikahi Alana karena Nina yang setiap hari ke butik Tante Tita, Alana kerja di sana, dan meminta dia menjadi ibu untuknya. Akhirnya semua keluargaku, menyuruh aku cepat-cepat manikahi Alana," jelas Zhafran.
"Lalu kamu?" tanya Binka
"Maksud kamu, aku bagaimana?"
"Hati kamu, apa mencintai Alana?" tanya Binka.
"Kalau masalah hati, aku tidak mau terlalu mencintai, karena aku tidak mau seperti dulu, sangat mencintai orang, lalu orang itu berkhianat. Kamu tahu, kan? Aku tidak suka dengan pengkhianatan?" tegas Zhafran.
"Maafkan aku, Zhafran," ucap Binka dengan suara lirih.
"Alex, dia kembali dengan istrinya, dan ikut dengan Nadin sekarang," jawab Binka.
"Why?" tanya Zhafran lagi.
"Dia, ternyata, mandul. Dia ingin sekali memiliki keturunan, dia mengira Nadin yang mandul, tapi ternyata dirinya. Karena Nadin merahasiakan kemandulan Alex. Dan dirinya yang mengaku mandul," jelas Binka.
"Lalu dari mana Alex tahu dia mandul?" tanya Zhafran lagi.
"Saat aku memohon pada Alex untuk menikahi ku, karena aku lelah memiliki hubungan tidak jelas. Saat itu Nadin memberi waktu aku lima bulan agar aku hamil dengan Alex, kalau aku tidak hamil, Alex berhak kembali padanya. Dan aku bicara dengan Nadin, aku bersama Alex hampir tiga tahun melakukannya, tapi tidak hamil. Dari situ, Nadin mengungkapkan semuanya." Binka menjelaskan semua pada Zhafran.
"Alex juga menjalani serangkaian tes, untuk membuktikan dirinya mandul atau tidak. Dan, ternyata dia benar-benar mandul. Lalu untuk menebus rasa bersalahnya pada Nadin, dia kembali dengan Nadin, karena Nadin masih sangat mencintai Alex. Aku bisa apa, aku hanya wanita simpanannya, Zhafran." Binka semakin terisak menceritakan kehidupannya.
"Itu jalan yang kamu pilih. Jadi, kamu harus menerima," ujara Zhafran.
"Iya, Zhafran. Dan semenjak itu, aku sudah fokus mengurus papah yang sakit-sakitan. Lalu aku memutuskan untuk menetap di sini," ucap Binka.
"Ya sudah, aku lanjut kerja dulu, Zhafran. Salam buat Nina. Jika kamu dan Alana memperbolehkan, dan Nina mau, aku ingin bertemu Nina," pinta Binka sebelum melanjutkan pekerjaannya.
"Nanti akan aku bicarakan kepada Alan dan Nina," ucap Zhafran.
__ADS_1
"Iya, Zhafran," jawab Binka dengan tersenyum.
Zhafran menatap punggung Binka yang sudah semakin menjauh dari pandangannya. Zhafran merasa sedikit trenyuh dengan kehidupan Binka sekarang.
"Ini jalan hidupmu, Binka. Maaf aku sudah menikah, aku memiliki istri, sebisa mungkin aku tidak akan berkhianat, walau aku hanya setengah hati mencintai Alana," gumam Zhafran.
Zhafran pulang ke hotelnya lagi setelah Wily selesai menebus obat untuk Zhafran. Zhafran masih memikirkan hidup Binka sekarang yang mungkin sudah hancur sekali. Ya itu semua karena perbuatan dirinya sendiri. Hati Zhafran merasa trenyuh mendengar penuturan Binka tadi. Apalagi Binka sampai meneteskan air mata di depan Zhafran. Dan baru kali ini Zhafran melihat Binka menangis dan benar-benar rapuh sekali hidupnya.
Zhafran merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Pikirannya masih tertuju pada Binka, dia benar-benar ingin sekali bertemu dengannya lagi. Dan sekarang Binka menjadi wanita biasa dan sederhana sekali. Tubuhnya juga semakin kurus, sepertinya banyak sekali beban hidupnya.
Zhafran mencoba menghubungi nomor Binka yang dulu. Dia hanya mencoba saja, tapi ternyata masih aktif nomor Binka.
"Ada apa, Zhafran?" Binka tiba-tiba mengirim pesan pada Zhafran.
"Ah tidak apa-apa, aku hanya mencoba menghubungi nomormu, dan ternyata masih aktif." Zhafran membalas seperti itu.
"Oh, aku kira ada apa." ~Binka
"Tidak, kalau ingin bertemu Nina, hubungi nomor aku atau Alana." Zhafran membalasnya dengan memberikan nomor Alana juga.
Sudah lima hari Zhafran berada di luar kota. Pekerjaannya sudah selesai, dia langsung berkemas untuk segera pulang, karena dia sangat merindukan Alana. Dia semakin bingung dengan keadaan. Di satu sisi ada Alana yang sudah menjadi istrinya, dan di sisi lain, Binka, dia mantan istri yang hingga sekarang masih ia cintai.
Hari ini, Zhafran membelikan hadiah untuk Alana. Ya, hadiah ulang tahun yang tertunda, karena kemarin Zhafran masih berada di luar kota. Dan, sekarang, dia sedang perjalanan pulang, sebelum sampai rumah, Zhafran menyempatkan membeli hadiah untuk istrinya. Zhafran memberikan jam tangan pada Alana.
Sesampainya di rumah, Zhafran di sambut hangat oleh istri dan anaknya. Juga keluarga Zhafran yang berada di rumahnya. Mereka semua sengaja mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun Alana yang terlambat.
"Selamat ulang tahun, Sayang." Zhafran memberikan bunga mawar dan kado untuk Alana.
"Terima kasih, sayang." Alana membuka kado dari suaminya.
"Zhafran, kamu tahu sekali apa yang aku inginkan. Dari kemarin aku ingin mengajak kamu keluar beli jam tangan ini, tapi kamu sibuk terus." Alana senang sekali mendapatkan jam tangan yang ia impi-impikan seminggu yang lalu.
"Iya, aku kan lihat kamu buka-buka kalatog jam itu terus di ponselmu, jadi aku tahu. Kamu suka?"
"Suka sekali." Alana memluk suaminya. Zhafran menghujani istrinya dengan ciuman di wajahnya.
Ardha melihatnya begitu sesak sekali. Ya, bagaimanapun Alana adalah istri kakaknya. Dan, dia bisa apa? Hanya bisa mencintai Alana dalam diam.
"Kenapa kadonya sama, sih? Untung aku belum memberikannya pada Alana," gumam Ardha
Ardha memang membelikan jam tangan yang persis sekali dengan milik Zhafran yang di berikan untuk Alana. Dan, akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk memberikan kado itu pada Alana.
__ADS_1