Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Negosiasi


__ADS_3

Devan sebetulnya ingin Alana tinggal di Jakarta saja, tapi Alana tidak mau, dia sudah nyaman tinggal di kota kelahiran ayahnya. Apalagi Ardha juga sudah nyaman di sana, dan pekerjaannya ada di sana, jadi tidak mungkin Ardha LDR sama Alana dan Askara. Sebentar ditinggal Ardha saja Askara sudah rewel. Mana bisa Ardha menjalani LDR?


Semua sedang berkumpul di rumah Arkan, sedang makan malam bersama, Devan, Nadia, dan anak-anaknya juga ikut. Arkan yang mengundang mereka untuk makan malam bersama. Setelah makan malam usai, mereka lanjut mengobrol di ruang keluarga. Devan dan Arkan dari tadi membujuk Alana dan Ardha supaya tetap tinggal di Jakarta.


“Aku sudah nyaman di sana, Pa, Pi. Mas Ardha juga kan kerja di sana?” jawab Alana saat papanya dan mertuanya meminta Alana tetap tinggal di Jakarta, bahkan Devan juga akan memberi rumah tinggal untuk Alana dan Ardha kalau mau tinggal di Jakarta.


“Masa aku sama Alana mau LDR, Pa? Gak enak, Pa. Pengantin baru masa LDR-an? Gak asik dong, Pa?” ucap Ardha.


“Ena-ena mulu yang dipikirin kamu, Ar!” tukas Fatih.


“Enak apanya? Baru nyium Askara bangun?” ujar Ardha. “Dua malam gagal, nih anak gak tau ayahnya udah pengin unboxing, malah nangis terus kalau malam?”


“Sabar, resiko buy one get one, Ar!” ucap Shaka dengan tertawa.


“Pengantin baru udah merasakan direcoki anak ya, Pak? Makanya bikinin kamar buat Askara nanti?” ledek Zhalina.


“Tenang sudah ada dua kamar anak di rumah, kemarin aku renovasi tuh rumah, tapi nanti kalau Askara sudah tiga tahun baru aku lepas dia tidur sendiri, kasihan masa baru satu tahun tidur dipisah? Gak apa-apa, anggap saja semua itu tantangan,” ucap Ardha.


“Sudah jangan bahas itu ih!” ucap Alana dengan wajah merona.


“Kenapa? Lagian di sini sudah menikah semua, paling yang kecil Nina, itu juga lagi mainan tuh sama Askara,” ucap Ardha.


“Ya tapi kan gak gitu juga, Mas?”


Nadia juga sebetulnya masih ingin Alana di Jakarta. Rasanya tidak adil sekali anak bungsunya malah memilih tinggal di kota kelahiran ayah angkatnya. Tapi, Nadia sadar, mereka orang tua yang baik, kalau mereka jahat dengan Alana, pasti Alana tidak akan dikuliahin, tidak akan disayang oleh ayah dan ibunya.


“Lan, benar kamu gak di sini saja?” tanya Nadia.


“Gak, Ma. Alana di sana kan sudah ada toko, Mas Ardha kerjanya di sana, jadi ya Alana akan tinggal di sana?” jawab Alana.


“Ibu juga tinggal di Jogja? Atau pulang ke desa?” tanya Nadia.


“Rumah saya di desa sudah saya jual, sawah dan perkebunan juga, karena sejak saya di Jogja tidak ada yang merawatnya. Saya sudah memutuskan untuk merawat rumah peninggalan suami saya di Jogja. Dan, hasil penjualan rumah di desa saya berikan semuanya untuk Alana, untuk membuka kembali toko peninggalan ayahnya. Biar hidup kembali peninggalan suamiku, Bu Nadia. Lagian di desa saya mau sama siapa? Mau merepotkan tetangga terus juga tidak enak,” jelas Arofah. “Meski saya tinggal di Jogja kan rumah saya dan Ardha lumayan jauh? Jadi gak bisa setiap hari sama Alana, ketemu juga kalau di toko saja, itu pun kalau saya ada waktu ke toko.”


“Iya juga sih, tapi kan masih satu kota, Bu?”


“Sudah nanti kalau kita kangen sama Askara kan bisa ke sana, Nad?” ucap Thalia.


“Iya juga sih?”


“Ya begitulah orang tua, kita harus siap untuk jauh dari anak-anak, karena anak-anak kita pasti akan memiliki kehidupan sendiri?” tutur Devan.


“Iya benar, Dev. Sekarang nih aku Cuma berdua saja sama Thalia. Nina sudah ikut sama mama-papanya, Lina sudah sama suaminya. Ini anak bungsu harusnya stay di rumah saja, malah dia lebih jauh? Ya nikmati saja berdua bersama pasangan kita di masa tua?” ujar Arkan.


“Iya juga sih, tapi kadang kesepian, Pi,” protes Thalia.


“Makanya kalian semuanya, anak-anak papa, anak-anak Om Arkan juga, kalian harus rukun sama pasangan kalian, saling sayang, saling mencintai, karana mau siapa lagi kalau bukan pasangan kalian yang akan menemani kalian di masa tuanya? Hanya pasangan kalian, bukan ibu, ayah, bahkan anak dan cucu,” ujar Devan.


“Yang masih punya pasangan itu mending Pak Dev? Saya sama Arofah sudah menjanda puluhan tahun, dan hanya punya anak satu, setalah anak saya menikah nanti saya sendiri. Nanti Iwan juga pasti akan tinggal di rumahnya sendiri, untung saya punya adik ipar yang baik sekali, rukun dari dulu, jadi ada teman untuk masa tua,” ucap Aninggar.


“Kalian berdua ibu yang hebat, menjanda puluhan tahun, padahal saat suami ibu meninggal pasti baik Bu Aninggar atau Bu Arofah masih muda. Tapi kalian lebih memilih mengurus anak. Hebat sekali, ibu yang sangat hebat,” puji Arkan.

__ADS_1


“Beruntung anak saya diasuh ibu. Anak saya menjadi wanita yang hebat, yang tegar, seperti ibu,” ucap Devan.


“Seperti mamanya juga,” sambung Arkan.


“Ya Nadia juga wanita yang hebat, yang tegar, meskipun badai menerjangnya, dia tetap tegar, dan tangguh melawan badai. Aku tidak tahu bagaimana jadinya, kalau dulu Alana sampai ditemukan orang jahat,” ucap Devan.


“Di sini semua perempuan yang hebat. Thalia juga pernah melewati masa terberat dalam hidupnya, Almarhum Ica juga seperti itu, pun dengan Nadia. Makanya, laki-laki, dengarkan laki-laki ya ini? Jangan sampai kalian menyakiti pasangan kalian. Sekali kau gores hati wanitamu, tidak akan pernah kau dapatkan senyuman indahnya, dan bahkan perhatiannya,” tutur Arkan.


Semua mendengarkan nasihat dari Arkan dan Devan dari tadi. Kedua keluarga itu semakin erat lagi, tidak seperti saat kemarin, waktu Zhafran menceraikan Alana. Devan begitu marah dengan Zhafran, dan jadi sedikit jauh dengan Arkan. Padahal saat itu Devan belum tahu kalau Alana adalah anak kandungnya, tapi ia tidak terima sekali Alana diperlakukan seperti itu oleh Zhafran.


Ardha mengajak Alana keluar, mumpung Askara sedang bersama oma dan opanya, juga dengan papanya, Ardha mengajak Alana keliling pakai sepeda motor. Dia sudah lama sekali tidak memakai sepeda motornya sejak ada di Jogja.


“Pi, Mi, titip Askara,” pamit Ardha dengan bisik-bisik.


“Mau ke mana?” tanya Arkan.


“Jalan sebentar sama Alana,” jawab Ardha.


Ardha ingin merasakan pacaran, berduaan dengan Alana. Sejak dekat dengan Alana, dia seringnya jalan bertiga. Sekarang mumpung ada kesempatan jalan berdua, Ardha tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.


“Mau ke mana, Ar?” tanya Zhafran.


“Jalan sama Alana, nitip Askara, ya? Itu lagi sama mami-papi. Mumpung di sini banyak yang ngasuh Askara, mau rasain jalan sama cewek lah,” jawab Ardha.


“Memang gak pernah jalan berdua saat di Jogja?”


“Gak lah, bertiga terus. Sudah aku mau kencan dulu.” Ardha mengambil kunci sepeda motor miliknya, lalu mengambil dua helm, dan mencari Alana yang sedang di teras depan.


“Ke mana? Kok bawa helm?” tanya Alana.


“Jalan bentar, pengin jalan berdua, mumpung Askara lagi jadi piala bergilir tuh,” jawab Ardha.


“Nanti kalau nangis?”


“Kan ada eyangnya? Ayo dong sekali saja jalan berdua,” ajaknya.


“Iya deh.”


“Kasihan kalian, pasti gak pernah jalan berdua, ya?” ejek Shaka.


“Iyalah, bertiga mulu. Kadang berempat, tuh Iwan ikutan nimbrung!” jawab Ardha.


“Sana jalan berdua, puas-puasin sana. Check-in saja sekalian, biar Askara sama aku,” ujar Iwan.


“Ish ... kamu itu sukanya begitu, ngasih saran menyesatkan!” jawab Ardha.


“Gak salah dong, check-in sama istri?”


“Ya juga ya? Ya sudah yuk, Lan!” Ajaknya seraya menggamit tangan Alana. “Yuk check-in, Lan?”


“Ish ... apaan sih!”

__ADS_1


“Kan dua malam ini gak jadi mulu, Lan?”


“Ih kamu itu, gak ah! Nanti kalau Askara nangis gimana?”


“Bentaran, Lan, dua jam saja.”


“Idih kamu ini kek lagi negosiasi apaan gitu?”


“Negosiasi minta jatah istri, Lan!”


“Nyatanya belum saatnya, mau gimana lagi, Sayang? Sabar, ya? Di rumah saja, biar enak, biar bersih, takut ah kalau check-in di hotel,” tutur Alana.


“Iya deh, di rumah saja, nurut sama suhunya,” jawab Ardha.


“Suhu bagaimana?”


“Sudah berpengalaman, jadi kamu itu suhu, nanti ajari aku, ya?”


“Dih kemarin saja sudah bisa, pakai acara diajarin lagi?”


“Biar gimana gitu?”


“Ya nanti, semoga saja malam ini Askara tidurnya anteng, ya? Yuk beli es krim saja, Mas?” ajak Alana.


“Aku juga punya es krim kok, Lan?”


“Mana, memang ada di kulkas?” tanya Alana.


“Es krim permanen, yang kalau dinikmati keluar larva mayonaisnya,” jawab Ardha dengan terkekeh.


“Dasar mesum!” tukas Alana.


“Benar, kan?”


“Ah udah ah, kamu itu sukanya bikin aku geli saja?” ucap Alana dengan pipi merona.


“Jujur gede dan lebih berurat mana, Lan? Kamu kan pernah lihat dua?”


“Ih tanyanya? Ya berurat bakso pojok jaya lah! Tuh uratnya banyak! Ngawur sukanya kamu!” tukas Alana dengan mencubit perut Ardha. “Bisa-bisanya tanya yang gak jelas, dan gak berfaedah sekali!”


“Auuuhhh sakit, Lan?”


“Lagian ih kamu begitu?”


“Ya sudah maaf-maaf, jangan ngambek dong?”


“Jangan tanya kek gitu lagi, Mas. Gak enak didengar tahu pertanyaanmu?” ucap Alana kesal.


“Ya sudah yuk, kita jalan-jalan, cari cemilan, cari es krim, cari cilok, martabak, dan jajanan lainnya,” ajak Ardha.


Ardha memasangka tali helm Alana, menatanya supaya Alana nyamana, dan setelah itu mereka berangkat jalan berdua menggunakan sepeda motor. Alana baru pertama kali boncenga Ardha, dia memeluk erat Ardha, dan tangan Ardha memegang tangan Alana yang ada di perutnya.

__ADS_1


__ADS_2