Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Belum Siap Jatuh Cinta Lagi


__ADS_3

Ardha sudah sampai di rumah sakit jam tujuh pagi. Ia semalam berangkat sendirian. Padahal mami dan papinya melarang pergi malam-malam, tapi Ardha tidak mau lama-lama lagi, ia sudah tidak sabar ingin melihat Askara.


Ardha tadi sempat mandi di rumah dulu, supaya sudah bersih badannya dan langsung bisa gendong Askara. Ia tidak lupa membawa hadiah dari maminya untuk Alana.


Ardha menysuri lorong rumah sakit, ia mencari di mana ruangan Askara. Akhirnya ketemu, karena melihat Iwan dan Fatih yang sedang menyandarkan kepalanya di sofa, dan mengantuk. Mereka pasti semalaman jaga malam di sini, menjada Alana dan Askara.


Ardha menjawil lengan Iwan yang sedang mengantuk.”Wan!” bisiknya lirih.


Iwan mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya di sekitarnya. “Hei, kamu sudah datang? Jam berapa ini?” tanya Iwan dengan mengeliatkan tubuhnya.


“Jam tujuh, sana kali saja kamu dan Fatih mau istirahat di rumah, ibu sama budhe di rumah, kan?” ucap Ardha.


“Iya, tadi habis subuh pulang, ibu sama bulik Ovah,” jawab Iwan.


“Sudah sana kamu pulang, istirahat di rumah, ajak Fatih juga,” titah Ardha.


Ardha menyentuh lengan Fatih yang juga mengantuk. “Sudah sana pulang sama Iwan, aku sudah di sini, aku yang gantian menemani Askara,” ucap Ardha pada Fatih.


“Kamu sudah di sini, Ar?”


“Iya, baru saja. Sudah kamu istirahat saja di rumah Iwan atau rumahku,” tutur Ardha.


“Iya deh, badanku pegal sekali, semalam Askara rewel, sama papa bisa diam saja sebentar, terus kami bergilir menggendong,” ucap Fatih.


“Makanya kamu istirahat sana, Askara sudah mendingan, kan?” tanya Ardha.


“Udah gak demam, tapi nangis terus, sakit mungkin infusnya, mama juga semalaman gak tidur, jagain infusnya Askara,” ucap Fatih.


Fatih dan Iwan pamit untuk pulang. Ardha masuk ke dalam, terlihat Devan sedang tidur sambil duduk di sofa, dan Alana tidur dengan berbantal kaki Devan. Nadia tidur di sisi Askara, karena semalam Askara maunya sama Omanya. Melihat semua tertidur pulas, Ardha membiarkan saja merek tidur pulas, dia duduk di kursi yang ada di sebelah brankar Askara. Ia tatap wajah Askara yang mungil dan terlihat lesu, matanya sembab, mungkin karena semalaman menangis dan tidak tidur.


Selang lima belas menit, Askara terbangun, dia menangis, dan Nadia pun ikut terbangun.

__ADS_1


“Sayangnya om udah bangun, jangan nangis dong, sini kangen sama om, ya?” ucap Ardha lalu menciumi Asakara.


“Ar, kamu sudah di sini sejak kapan?” tanya Nadia.


“Sejak lima belas menit yang lalu, Tante,” jawab Ardha.


“Itu ada Om Ardha, kamu ditinggal om kamu dua hari saja sudah begini, Nak? Kangen sama om ya?” ucap Nadia


Askara langsung diam, dia langsung minta dipeluk Ardha. Ardha mengendongnya, wajah ceria Askara sedikit terlihat saat digendongan Ardha. Dia memeluk erat Ardha dalam gendongannya.


Alana juga terbangun karena mendengar Askara menangis, tapi tidak lama dan tidak sehisteris semalam menangisnya.


“Ada omnya pantas saja gak nangis?” ucap Devan. “Kamu apakan cucuku, sampai ditinggal pulang dua hari saja sakit begini?” ujar Devan.


“Ya gak diapa-apakan, kok?” jawab Ardha.


“Opamu cemburu sama om, Sayang. Eh sama ayah, ya? Iya sama ayah. Opamu cemburu, lucu ya wajahnya?” ucap Ardha dengan meledek Devan.


“Ayah, Ayah! Gak ada kata ayah! Sejak kapan kamu menjadi ayahnya Askara?”


“Papa, Ardha, jangan ribut mulu, sudah yuk cari sarapan dulu, mama lapar, mumpung ada Ardha, terus Askara juga gak rewel lagi,” ajak Nadia.


“Iya, ayo cari sarapan,” ucap Devan mengiyakan. “Awas kamu kalau macam-macam sama anak dan cucuku!”


“Tenang calon papa mertua, akan aku jaga anak dan cucumu dengan segenap jiwaku, dan separuh hidupku,” ucap Ardha.


“Halahhh ... tukang gombal!” tukas Devan. “Persis seperti papinya!” pungkasnya, lalu keluar ke kantin rumah sakit untuk cari makan.


“Orang anaknya ya persis ya, Sayang? Opamu kadang lucu sekali kalau sedang merajuk?” ucap Ardha.


“Kamu sama papa itu sama saja, sukanya berdebat,” tukas Alana.

__ADS_1


Ardha masih menggendong Askara, sedang Alana mendekatinya, melihat slang infus Askara kondisinya baik atau tidak, soalnya semalam dilepas lagi.


“Aku minta maaf ya, Lan? Askara sakit aku pas gak di rumah, mama papamu dan kakak-kakakmu juga sedang di jakarta semua,” ucap Ardha.


“Gak apa-apa, Ar, ada ibu, buhde, sama Iwan kok,” jawab Alana.


Ardha mengajak bicara Alana, ia tidak ingin bohon soal mami papinya yang sudah tahu tentang dirinya dan Askara. Ardha menceritakan semuanya tanpa ditutu-tutupi.


“Kamu ngapain bilang sama mami papimu sih, Ar?” ucap Alana setengah tidak terima Ardha bilang dengan mami papinya soal dirinya di Jogja.


“Alana, aku minta maaf, jujur aku tidak ingin menceritakan, tapi saat aku telefon kamu, papi dengar aku menyebut Askara dan namamu. Papi terus mendesakku, dan aku gak bisa bohong, Lan. Nanti juga mereka bakal tahu kok, lagian aku gak bilang ke Kak Zhafran, aku juga sudah mewanti-wanti mami sama papi untuk tidak bilang pada Kak Zhafran,” ucap Ardha.


“Iya, tapi kan nanti kalau mami sama papi ke sini bagaimana?” ucap Alana.


“Lan, kamu tahu, mami sama papi itu sayang banget sama kamu, apa salahnya mereka tahu kamu di sini, Lan?” ucap Ardha.


“Aku tahu mereka sayang denganku, Ar, tapi aku belum siap kalau mami dan papimu ke sini, menemuiku,” ucap Alana.


“Jangan khawatir, mami dan papi ngerti kok, kamu belum mau ketemu. Aku sudah bilang sama mami papi, nanti kalau mau ketemu kamu nunggu kamu siap,” ucap Ardha.


“Makasih ya, Ar, kamu sudah mengerti aku. Aku juga pengin ketemu mami papi, tapi aku belum siap. Nanti kalau aku sudah siap, aku mau kok ketemu mami sama papi,”ucap Alan.


“Oh iya, Lan, aku juga sudah cerita soal kamu anaknya Om Dev dan Tante Nadia, soalnya aku gak mau bohong. Lagian aku mau serius melamar kamu, Lan. Aku gak mau lagi kamu sampai jatuh ke laki-laki lain, kamu tahu aku sangat mencintaimu, dan saat kamu pergi aku hajar Kak Zhafran sampai tersungkur. Aku bilang di hadapan semua orang kalau aku sangat mencintaimu, jauh sebelum Kak Zhafran dekat denganmu,” ungkap Ardha.


“Beri aku waktu, Ar. Aku belum siap jatuh cinta lagi. Aku memang nyaman denganmu, tapi sebuah hubungan kan harus dengan rasa cinta, bukan? Tidak hanya aku nyaman, aku mau menerima kamu. Kamu mau menunggu kan, Ar?” jawab Alana.


“Aku akan menunggu sampai kamu siap, Lan. Aku akan di sini menemani kamu dan Askara, hingga kamu siap untuk hidup denganku, dan hingga kamu bisa mencintaiku,” ucap Ardha.


“Makasih ya, Pak Ardha. Pak Ardha selalu mengerti aku,” ucap Alana.


“Kenapa pakai pak lagi sih?” protes Ardha,

__ADS_1


“Ingat dulu saja, Ardha,” jawab Alana dengan terkekeh. Ardha meraih tubuh Alana, dan mendekapnya dengan menggendong Askara.


“Tuhan, mereka adalah bahagiaku, satukanlah kami,” ucap Ardha dalam hati.


__ADS_2