
Malam ini, Zhafran mengajak Alana ke rumahnya untuk makan malam bersama denga keluarganya. Apalagi ini momen yang pas, kedua adiknya juga berkumpul di rumah. Ardha juga menyempatkan untuk pulang, karena ia penasara dengan calon istri kakaknya. Pun dengan Zhalina, dia juga terpaksa datang ke rumah maminya, karena ingin melihat siapa calon istri kakaknya. Lina sudah lama menempati rumah peninggalan oma uyutnya, tidak jauh dari rumah maminya. Lina menyayangkan kalau rumah peninggalan orang tua Oma Rere kosong, jadi Lina yang menempatinya sekarang.
Ardha juga langsung pulang dari Semarang, setelah urusan pekerjaannya selesai, harusnya Ardha langsung ke Jogja, tapi karena kakak laki-lakinya memaksa dirinya untuk menyempatkan pulang, jadi Ardha menurutinya, apalagi dia sudah lama tidak pulang, pulang hanya sebentar, melihat keadaan mami dan papinya. Ia juga berencana untuk menemui Alana besok pagi. Sudah lama dia tidak bertemu Alana, karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Hingga Alana sudah pindah kost saja Ardha belum pernah menemui Alana. Bertemu Alana yang terakhir juga saat Alana baru wisuda, itu pun sebentar saja, karena Ardha akan pamit ke Jogja, dan juga ingin menyampaikan sesuatu pada Alana.
Ardha duduk di sebelah maminya. Perempuan yang sangat ia rindukan saat ia sedang jauh. Ardha menyandarkan kepalanya di bahu maminya.
“Mana cewek kamu, hemm ...?” tanya Thalia sambil mengusap kepala Ardha.
“Nanti besok Ardha bawa ke sini, Mi. Kemarin kan Kak Lina ngenalin cowoknya, ini Kak Zhafran, besok aku yang ngenalin, besok atau lusa,” jawab Ardha.
Ardha memang mengabari Alana sejak tadi pagi. Ia katanya akan pulang, karena ada acara di rumahnya, dan besok Ardha juga akan mengajak Alana keluar, lalu mengenalkan Alana pada kedua orang tuanya.
Alana hanya menjawab, malam ini saja ketemunya, tapi Ardha tidak bisa karena malam ini akan ada makan malam keluarga, dan kakak laki-lakinya akan mengenalkan calon istrinya. Tidak mungkin Ardha akan membawa Alana ke rumah, karena itu bukan momen yang tepat.
“Nanti kita pasti ketemu kok?”
Alana kembali membalas chat dari Ardha. Ardha tidak tahu apa maksud chat tersebut. Ardha menghiraukannya, yang penting besok Alana mau menemuinya. Alana memang tidak memberitahukan pada Ardha, kalau dirinya akan menikah dengan kakaknya dalam waktu dekat ini. Alana memang sengaja ingin memberikan kejutan pada Ardha.
“Mami pernah lihat calon istrinya Kak Zhafran?” tanya Ardha.
“Belum, mami belum pernah lihat. Tapi, mami yakin kamu, dan Kak Lina pasti tahu siapa calon istri Kak Zhafran.
“Memang siapa, Mi?” tanya Zhalina.
“Ada deh, nanti kalian pasti tahu sendiri, tunggu saja, sebentar lagi Kak Zahfran pasti datang,” jawab Thalia.
“Kalian pasti penasaran, kan? Sama mami kalian juga penasara,” ucap Arkan.
“Siapa sih, Pi? Ih bikin penasaran saja papi sama mami?” ucap Lina.
“Iya mami bikin penasaran,” imbuh Ardha.
“Ya yang penting dia cantik, pintar, masih sangat muda juga,” jelas Thalia.
__ADS_1
“Daripada penasaran, sudah tunggu saja, nanti juga datang,” ucap Arkan.
Ardha masih sangat penasaran siapa yang akan dikenalkan kakaknya malam ini. Seperti apa calon istrinya, kok kata maminya dirinya dan kakak perempuannya tahu calon istri Zhafran.
Ardha tidak menyangka kakaknya secepat itu mendapatkan pengganti Binka. Ardha paham, mungkin karena Binka tertalu menyakitkan jadi Zhafran mudah melupakannya. Ardha jenuh menunggu, ia masuk ke dalam kamarnya sebentar untuk melihat ponselnya yang ia tinggal di dalam kamarnya. Ia kembali menghubungi Alana lewat chat, menanyakan Alana sedang apa, dan sudah selesai belum pekerjaannya. Setelah mendapat jawaban dari Alana, ia kembali keluar, karena penasaran kakaknya dengan calon istrinya sudah datang atau belum.
Tak lama kemudian, suara mobil terdengar dari halaman rumah Arkan. Ardha sangat penasaran sekali siapa calon kakak iparnya, kok sampai Zhafran merahasiakannya. Semua menyambut kedatangan Zhafran dan calon istrinya dengan senyum bahagia. Zhafran turun dari mobilnya, ia membukakan pintu, dan meminta Alana keluar. Nina langsung keluar, dan berlari berhambur memeluk oma dan opanya.
“Oma ... Opa ... Nina kangen sekali,” ucap Nina dengan memeluk Thalia dan Arkan bergantian.
“Oma juga kangen kamu, Nak. Duh mau dapat bunda baru, ya?” ucap Thalia.
“Iya dong, bundanya Nina sangat sayang ... sekali sama Nina,” jawab Nina.
“Sini opa kangen, opa pengin gendong kamu,” ucap Arkan.
“Siapa sih calon bundanya Nina? Kok om gak diberitahu?” tanya Ardha penasaran.
“Ada deh? Itu nanti bunda mau turun sama papa, lagian Om pasti tahu siapa bundanya Nina sekarang?” ucap Nina.
“Iya bikin penasaran banget nih keponakan om?” ucap Ardha dengan mencubit gemas pipi Nina.
“Itu ... itu bundanya Nina.” Nina menunjukkan ke arah papanya dan Alana yang sedang berjalan menuju teras rumah.
“Alana?” ucap Ardha dan Zhalina bersamaan.
“Ini kamu gak bohong, Nin?” tanya Zhalina.
“Iya, tente, itu bunda Alana, calon bundanya Nina,” jawab Nina.
“Mi, Pi, ini gak salah kan? Aku gak salah lihat?” tanya Zhalina yang juga belum percaya.
“Kenapa harus Alana?” ucap Ardha dalam hati, dengan hati yang meradang.
__ADS_1
“Nin, benar Tante Alana akan jadi bundamu?” tanya Ardha.
“Iya, Om ... kemarin saja Nina sudah ke rumah bunda yang di desa?” jawab Nina.
Ardha yakin Nina gak akan bohong soal semuanya. Tidak pernah Ardha sangka, Alana akan menikah dengan kakak kandungnya. Padahal besok ia sudah mempersiapkan semuanya untuk melamar Alana, lalu mengenalkannnya pada kedua orang tuanya.
“Tuhan ... kenapa harus Alana?” gumam Ardha.
Bagai tersambar petir di siang hari, saat kakak yang Ardha sayangi mengajak calon istri barunya, dan terlihat Zhafran begitu mesra menggamit tangan perempuan itu. Perempuan yang sangat Ardha cintai ternyata calon istri dari kakaknya yang bernama Zhafran.
Ardha tersenyum di tengah kedukaan hatinya saat ini. Mencoba menerima kenyataan yang sedang terjadi di hadapannya. Semua keluarga besarnya menerima baik calon istri kakaknya. Semua menyetujui hubungan Alana dengan Zhafran, karena Alana perempuan yang dipilih Nina, anak semata wayang Zhafran dengan mantan istrinya yang bernama Binka.
Ardha mengalah demi keponakan yang paling ia sayangi. Zhafran sudah berada di depan mereka, Alana langsung disambut Thalia dan Arkan dengan baik.
“Ini yang namanya Alana? Cantiknya ...,” puji Thalia.
“Tante bisa saja?” ucap Alana. “Salam kenal Tante?”
“Lho kok tante? Kalian mau menikah, masa manggilnya tante?” protes Thalia.
“Ma—maaf, tadi Mas Zhafran memang sudah menyuruh saya memanggil mami,” jawab Alana.
“Gitu dong, mami manggilnya, jangan tante,” ucap Thalia. “Ayo masuk, mami sudah masak masakan spesial buat kalian.”
“Sebentar-sebentar, ini kalian serius?” tanya Zhalina.
“Iya dong, Sayang ... kakak serius lah mau menikahi Alana?” jawab Zhafran.
“Haduh, aku panggil kamu kakak dong, Lan?” ucap Ardha dengan senyum mengembang, padahal hatinya menahan seribu sayatan.
“Iya juga ya, Ar?” ujar Lina.
“Sudah gak apa-apa, toh Alana pilihan kakak kita, Kak,” ucap Ardha. “Eh Kak Lana maksudku,” ralatnya.
__ADS_1
Ardha menahan kedukaan malam ini. Ia masih memperlihatkan raut wajah yang bahagia demi kakak dan keponakannya.
“Sakit sekali, sekali jatuh cinta, ternyata dia calon istri kakakku, padahal aku sudah menyiapkan semuanya untuk besok,” gumam Ardha.