Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Aku Papanya!


__ADS_3

Ardha mondar-mandir di depan ruang operasi, pun dengan Devan. Mereka tidak bisa duduk tenang karen sedang menuggu Alana selesai operasi. Devan takut akan terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan yang sama seperti Nadia dulu saat melahirkan Shaka. Devan tidak mau saat sudah tahu kalau Alana adalah putrinya yang hilang, Alana akan pergi selamanya.


“Pa, duduk, jangan begitu,” ucap Nadia.


“Aku tidak bisa membayangkan jika terjadi apa-apa dengan Alana, Ma. Aku takut seperti kamu dulu, saat melahirkan Shaka,” ucap Devan.


Arofah dari tadi hanya diam, ia tak henti-hentinya berdoa, memohon pada Tuhan agar diberikan keselamatan pada Alana yang sedang bertaruh nyawa melahirkan bayinya.


“Selamatkan putriku, perjalanan dia masih panjang. Berikan kesempatan padanya untuk berkumpul lagi dengan kedua orang tua kandungnya juga saudaranya,” batin Arofah.


Pintu ruang operasi terbuka, Ardha dan Devan langsung bertanya pada dokter soal keadaan Alana.


“Bagaimana putri saya dan bayinya, Dok?” tanya Devan.


“Putri bapak sudah melewati masa kritisnya, tapi belum sadarkan diri, bayinya sehat jenis kelaminnya laki-laki,” jawab Dokter. “Selamat atas kelahiran putra pertamanya, Pak.” Dokter menyalami Ardha.


“Te—terima kasih, Dok,” jawab Ardha.


“Mari, Pak. Ikut saya ke ruangan bayi,” ucap Suster yang berada di samping dokter.


“Ah iya, Sus,” ucap Ardha.


Ardha mengekori suster tersebut. Devan juga mengikutinya. Devan menepuk bahu Ardha dengan keras. “Sejak kapan kamu menikahi Alana?” tanya Devan.


“Nanti saya jelaskan, Om,” jawab Ardha.


“Kamu mau main-main sama aku? Kamu kira aku akan setuju kamu dengan Alana? Aku tidak mau lagi Alana jadi korban anaknya Arkan! Bapak sama anak sama saja, tidak punya pendirian!”


“Kenapa Om Dev bawa-bawa papiku?”


“Karena papimu juga dulu menyakiti seorang perempuan! Tanya sendiri sama papimu!” jawab Devan.

__ADS_1


“Jangan samakan aku dengan papi dan Kak Zhafran dong, Om! Om sendiri tahu kan bagaimana papi? Papi dan mami selalu memprioritaskan Kak Zhafran, apa aku pernah baik di mata papi? Enggak, Om!”


“Sudah aku tidak mau ribut, tolong jangan dekati Alana lagi, aku tidak mau Alana sakit hati lagi,” ucap Devan.


“Pak Dev salah. Sejak ada Ardha, Alana kembali menemukan titik kebahagiaannya lagi, Pak,” sambung Iwan.


“Kamu ini siapa? Jangan sok tahu kamu!”


“Aku tahu Pak Dev ayah kandung Alana, tapi aku kenal Alana sejak Alana kecil, aku sepupunya, aku anaknya Bu Aninggar, namaku Iwan. Kita belum kenalan kan, Pak? Aku tidak mau Pak Dev mengatur soal perasaan Alana, Alana butuh calon suami seperti Ardha, aku rasa Ardha tidak sebajingan Zhafran? Dia di sini karena dia ingin membuktikan pada papinya, kalau dia juga bisa diandalkan seperti kakaknya. Pak Dev tahu menderitanya Ardha yang selalu diabaikan dan dianggap tidak bisa apa-apa, tidak seperti Zhafran? Aku yang menyaksikan Ardha di sini dari nol, jadi jangan bilang Ardha sama seperti papi dan kakaknya!” tegas Iwan.


“Wan, sudah jangan ribut. Kamu mau lihat keponakanmu, kan?” ucap Ardha.


“Gak terima saja Pak Dev bicara seperti itu pada kamu, Ar. Aku ini saksi perjuanganmu selama di sini, Ar!” ucap Iwan.


Devan diam mendengar ucapan Iwan yang membela Ardha. Memang Ardha berbeda dari Arkan dan Zhafran. Meski dia dulu santai dan tidak pernah dianggap oleh papinya, sekarang Ardha sudah membuktikan kalau dirinya tidak kalah baiknya dengan Zhafran.


Nadia pun tidak menyangka Devan langsung bicara begitu pada Ardha. Padahal Nadia sudah tahu dari Aninggar, kalau selama Ardha di sini Alana menjadi lupa dengan kesedihannya. Lupa dengan Zhafran yang sudah menyakitinya.


“Iya, Pa. Papa sendiri kan tahu bagaimana Kak Ardha? Papa juga tahu dari dulu Kak Ardha bagaimana. Dia itu beda sama kakaknya, Pa,” ucap Fatih.


“Maaf hanya suami yang bisa masuk ke dalam untuk melihat bayinya,” ucap Suster.


“Sus mohon maaf, sebetulnya saya bukan suami Alana. Saya adik dari mantan suami Alana. Karena keadaan darurat, saya ingin Alana cepat diberi tindakan untuk keselamatannya, jadi saya terpaksa mengaku suami Alana. Alangkah baiknya, papanya Alana saja yang masuk ke dalam, untuk mengadzani bayi Alana,” ucap Ardha.


“Oh, baiklah,” jawab Suster.


“Om, Adzani Askara,” ucap Ardha.


“Kamu berani sekali sudah memberi nama cucuku?!”


“Alana sudah titip nama itu padaku dan Ardha, Pak Dev. Jangan marah-marah mulu, Pak. Ayo Adzani cucunya, atau aku suruh Ardha saja yang masuk!” ujar Iwan.

__ADS_1


“Siapa dia?”


“Calon menantu anda, Pak Dev!”


“Jangan harap!”


“Aku yang menentukan, bukan Pak Dev!”


“Aku papanya Alana!”


“Aku kakak sepupunya, dan yang tahu Alana?”


“Sudah-sudah, kalian malah ribut! Om Dev masuk atau aku yang masuk?!”


Devan berdecak lirih, dia tidak tahu bagaimana nantinya kalau dia berbesanan dengan Arkan. Rivalnya dulu saat memperebutkan Ica, apalagi Arkan itu om dari istrinya.


“Masa Alana mau jadi menantu sekaligus cucunya Arkan? Sesempit inikah dunia? Tapi tidak masalah, mereka bisa kok menikah. Biar saja aku kerjai Ardha, sampai di mana kuatnya cinta dia untuk Alana? Kalau aku kerasin dia masih sabar dan masih mencintai Alana, juga memperjuangkan Alana, aku akan merestuinya. Bagaimana pun, dia sudah mencintai Alana sejak dulu,” batin Devan.


Devan melihat cucunya dari luar inkubator. Bayi Alana masih lemah, jadi masih harus berada di dalam inkubator. Devan menyeka sudut matanya yang basah, saat menatap bayi mungilnya Alana. Devan menangis, seraya mengadzani Askara.


“Jadilah lelaki hebat, hargailah ibumu, Nak. Dan jadilah lelaki yang setia,” ucap Devan setelah mengadzani Askara.


Alana sudah berada di ruang perawatan. Tapi ia belum sadarkan diri. Alana, Devan, dan Arofah duduk di sebelah brankar Alana. Mereka ingin sekali melihat Alana membuka matanya, mereka terus mendoakan Alana, semoga Alana cepat siuman dan membaik keadaannya.


Alana mengerjapkan matanya, ia menyesuaikan pandangannya dengan sinar lampu di dalam ruangan. “Ibu ....” Panggil Alana.


“Iya ibu di sini, Nak,” ucap Arofah.


“Mana bayiku?” tanya Alana.


“Dia masih di ruang bayi, nanti besok dia baru bisa dibawa ke sini,” jawab Arofa.

__ADS_1


Melihat kedekatan Alana dengan Arofah, Nadia merasa ingin sekali seperti itu, ingin sekali Alana memanggilnya mama, tapi Nadia sadar, ini belum waktunya, biar Alana membaik dulu keadaannya, baru nanti dia akan menjelaskan semuanya. Nadia pun sudah mewanti-wanti Devan untuk bisa bersabar menunggu keadaan Alana memabaik. Nadia yakin, suatu hari nanti Alana akan berkumpul dengannya lagi. Sekarang yang paling penting ia sudah tahu Ayleen masih hidup. Dan Tuhan mendengar doanya, jika Ayleen hidup, semoga ditemukan dengan orang yang baik, dan menyayanginya. Buktinya Arofah dan suaminya sangat menyayangi Alana seperti anak kandungnya sendiri.


__ADS_2