
“Sepi ya, Ma?” ucap Devan dengan memeluk Nadia dari belakang. “Kita punya anak empat, semuanya tidak ada yang tinggal di sini. Kemarin mending ada Acha, sekarang Acha sudah pulang ke rumahnya lagi.”
“Beginilah orang tua, Pa. Dulu bunda sama ayah juga merasakan yang seperti ini, anak-anaknya satu-persatu meninggalkan rumah karena untuk menata hidup barunya dengan pasangannya. Sama halnya dengan kita. Ya semua orang tua pasti merasakan seperti ini semua, Pa,” ucap Nadia.
“Iya, benar apa katamu. Bagaimana rasanya yang memiliki satu anak seperti mama dan papaku ya, Ma? Sepi sekali rasanya. Aku saja yang punya anak empat begini, rumah yang tadinya ramai, penuh canda tawa, riuh anak-anak saling ejek, saling berebut, sekarang sepi, hanya kita berdua.”
Devan dan Nadia sedang menikmati malam yang sunyi di teras depan. Rumah megahnya yang biasanya ramai, sekarang hanya tinggal mereka berdua saja. Semua anaknya sudah hidup dengan pasangannya masing-masing. Begitulah hidup, tidak mungkin indah selamanya indah, bahagia selamanya bahagia, sedih selamanya sedih. Semuanya berputar, agar bisa menikmati semua tahapan dalam kehidupan.
“Besok ke rumah Shaka yuk, Ma? Kita jalan-jalan ke sana, pakai sepeda motor, kita berboncengan ya itung-itung touringlah. Aku kangen sama Shaka,” ajak Devan.
“Boleh, nanti habis dari Shaka, besok atau lusanya ke rumah Fatih, lalu ke rumah Acha, sambil nunggu Alana dan Ardha liburan di Bali, nanti kalau mereka sudah pulang dari Bali, kita ke sana.”
“Pakai sepeda motor, ya? Touring lah ke Jogja, ajak Arkan sama Thalia pasti mereka mau,” ujar Devan.
“Jiaaahh ... nanti encokmu kumat, Pa!” ucap Alana dengan terkekeh.
“Ih kamu malah doain gitu?”
“Ya orang naik motor dekat saja pegel pinggangnya? Apalagi sampai Jogja, Pa?”
“Iya sih, tapi kita wajib coba sih, Ma? Ada Arkan sama Thalia juga kok, kan rame?”
“Gak ah, takut papa sakit pinggang!” tukas Nadia.
“Wah ngejek nih! Mentang-mentang aku sudah tua kamu ngejek, ya? Yang umurnya di atas papa juga banyak lho yang masih suka touring? Malah jauh-jauh, Ma?” ujar Devan.
“Ya iya sih banyak? Tapi kan mereka sering touring jauh, papa kan sudah lama enggak? Paling jauh-jauhnya ya ke pantai? Iya, kan? Sama ke rumah Acha?”
“Iya sih, tapi papa mau sesekali touring ke Jogja, ngasih kejutan ke Ardha dan Alana. Seru sih, apalagi sama Arkan,” ucap Devan membayangkan.
“Kuat tidak?”
“Kuat, gendong kamu saja aku masih kuat kok?” jawab Devan.
“Ya sudah nanti direncanakan saja sama Om Arkan dan Tante Lia,” ucap Alana.
“Sama besannya manggil om?”
“Ishh susah mau manggil apa, udah biasa tahu, Pa!”
Nadia tidak menyangka Alana itu Ayleen. Kalau Ayleen tidak hilang, tidak mungkin akan berjodoh dengan Ardha. Anak dari omnya. Ya begitulah jodoh, yang penuh dengan misteri. Jangankan Alana dengan Ardha, dirinya saja tidak pernah menyangka kalau akan berjodoh dengan Devan? Laki-laki yang dulu ia anggap seperti omnya sendiri, dan setelah berpacaran dengan Keenan, adik sepupu Devan, Nadia makin dekat dengan Devan, karena akan menjadi kakak iparnya. Tidak tahunya, dia malah mejadi istri Devan, setelah kejadian kelam itu menimpa dirinya.
“Jodoh itu memang misteri ya, Pa? Kita gak pernah tahu, kita akan menikah dengan siapa, dan akan menua bersama dengan siapa,” ucap Nadia.
“Iya sih, jodoh benar-benar misteri,” Devan mengiyakan pendapat Nadia. “Kok mama jadi bahas soal jodoh?” tanya Devan.
“Ya gak pernah menyangka aja Alana akan dengan Ardha. Mungkin kalau Ayleen tidak hilang, dan tidak akan menjadi Alana, dia tidak akan berjodoh dengan Ardha? Tapi ya karena semisterius itu jodoh, jadi mereka tiba-tiba bersatu. Mana pernah sama kakaknya lagi? Sumpah mama sampai sekarang keselnya sama Zhafran gak selesai-selesai, Pa!”
“Sudah jangan diingat. Alana sudah bahagia, Zhafran pun ya begitu? Bahagia mungkin, tapi papa yakin tidak sih,” ucap Devan.
“Kenapa pakai mungkin segala, Pa?”
“Ya mungkin bahagia, mungkin juga tidak. Mama tahu sendiri Binka sekarang bagaimana, kan? Sedangkan Alana, punya anak laki-laki darinya?”
“Iya sih, ya salahnya sendiri berulah, ya kena karmanya. Jangan anggap enteng karma makanya!”
“Iya, aku tahu. Sudah jangan marah-marah. Yang penting Alana sudah bahagia dengan Ardha sekarang. Kita di sini juga harus bahagia, bersyukur melihat anak-anak kita bisa hidup bahagia,” ujar Devan.
Nadia mengangguk, iya benar, yang paling penting sekarang anak-anaknya sudah hidup bahagia dengan pasangannya masing-masing.
^^^
Arkan dan Thalia setuju dengan usul Devan untuk touring ke Jogja, ke rumah Alana, memberikan kejutan pada Alana dan Ardha, kalau nanti mereka sudah pulang dari Bali. Arkan juga sudah lama tidak bermotor cukup jauh, paling yang dekat saja. Mumpung dirinya merasa masih sehat, dan masih bisa naik motor jarak jauh, dia menyetujui ide Devan.
“Papi yakin mau motoran ke Jogja? Gak capek? Nanti encok papi kumat?” ucap Thalia.
“Idih ngomongnya? Yakin lah, sudah lama aku rindu motoran jauh. Kan kita bisa mengenang dulu, Sayang?” ucap Arkan.
“Iya sih, lama sekali gak touring ya, Pi? Ya sudah nanti kita ke Jogja pakai sepeda motor.” Thalia menyetujuinya.
“Ya kalau pas mau pulang capek, ya sepeda motornya di tinggal di sana, kita pulang naik kereta atau paka travel, kan bisa?” ucap Arkan.
__ADS_1
“Kalau capeknya pas belum sampai?” tanya Thalia.
“Ya titipin saja sepeda motornya di mana gitu, nanti hubungi siapa suruh ambil sepeda motornya. Zaman sekarang mah serba canggih mi, gak usah khawatir, yang penting kita hati-hati saja,” jelas Arkan. “Gimana, mami mau, kan? Touring lho, biar kayak anak muda lah, meski umur kita sudah setua ini.”
“Iya, mau. Asal ada teman lainnya, gak kita saja berdua,” jawab Thalia.
Arkan dan Thalia tidak memberitahukan pada anak-anaknya kalau mau touring ke Jogja. Kalau dia bilang, pasti anak-anaknya melarng dirinya untuk pergi ke Jogja pakai sepeda motor.
^^^
Ardha dan Alana masih menikmati liburan sekaligus Honeymoon di Bali. Ardha masih belum mau pulang, dia masih betah berada di Vila pribadi milik Devan yang ada di daerah pantai.
“Papamu hebat ya, Lan? Di kawasan ini saja ada empat Vila punya papamu, yang ini vila pribadi, katanya gak boleh disewakan, yang pakai keluarga saja, kalau yang di sana, baru buat disewakan,” ucap Ardha.
“Iya papa memang orang hebat. Sayang aku tahu baru baru kemarin kalau aku anak kandung papa dan mama,” jawab Alana.
“Kalau kamu gak hilang, kita gak akan pernah berjodoh, Sayang ....” ucap Ardha.
“Iya juga, ya? Kita malah saudaraan?” ucap Alana.
“Lan, jangan pernah selingkuh, ya?”
“Ih ngomongnya? Aneh sekali kamu ini mas? Ya gak lah! Memang aku ini perempuan apaan?” ucap Alana kesal.
“Ya kali saja ada yang lebih dari aku, jadi kamu pengin coba lainnya?”
“Idih ... masa kayak gitu coba-coba? Aneh tahu kamu!”
“Sekarang banyak sekali, Lan. Perempuan pada selingkuh, main di belakang suami, gak tahu apa tujuannya kok bisa-bisanya begitu?”
“Cari sensasi saja mungkin? Sensasi di atas ranjang,” jawab Alana dengan tergelak.
“Dasar!” tukas Ardha.
“Ya memang sekarang banyak yang begitu, Mas. Aku saja heran sama perempuan yang begitu?”
“Ya aku sih lihat dari kakakku sendiri, dia diselingkuhi istrinya waktu itu.”
“Udah jangan begitu, aku sih lihatnya ngeri saja, bisa-bisanya perempuan selingkuh gitu?”
“Ya bisa kalau ada niat, Mas?” ucap Alana.
“Iya sih semua itu tergantung dari niat.”
Alana seharusnya yang takut kalau diselingkuhi lagi. Tapi, dia percaya kalau Ardha tidak seperti kakaknya. Ardha sosok lelaki yang sangat baik. Alana sudah merasakan itu sejak dulu ia dekat dengan Ardha.
^^^
Tiga bulan telah berlalu, Alana menjalani hari-harinya menjadi istr Ardha. Istri yang benar-benar dibahagiakan oleh suaminya. Pasalnya Ardha selalu saja memberikan kejutan setiap harinya.
Alana sedang tercernung duduk di tepi ranjang. Ia baru saja menelan kekecewaan karena benda yang menunjukkan kehamilan itu bergaris satu. Padahal dia sudah terlambat datang bulan. Alana sudah ingin membeirikan Ardha anak, meski Ardha kadang melarang Alana untuk hamil, karena Askara masih terlalu kecil. Kata Ardha biar Askara gede dulu, paling tidak lima tahun ke atas. Kasihan kalau belum genap dua tahun sudah dikasih adik lagi.
“Kamu kenapa manyun, Lan?” tanya Ardha. “Pagi-pagi kok manyun gitu?”
“Ini garisnya Cuma satu? Aku pengin kasih kamu anak, Sayang?” jawab Alana murung.
“Lagian kamu ini, aku kan sudah bilang jangan dulu hamil, kasihan Askara, Sayang? Dia masih terlalu kecil,” ucap Ardha. “Dia masih butuh kita, masih butuh bimbingan kita, masih membutuhkan perhatian lebih dari kita, kalau kamu hamil, kasihan Askara. Nanti waktunya pasti terbagi, kita lebih sering urus bayi, dan Askara malah nanti dekatnya sama opa dan omanya? Sudah nikmati saja dulu, nanti kalau sudah saatnya, kita pasti akan diberikan keturunan. Percaya padaku,” ucap Ardha.
“Iya sih, aku takutnya kamu marah aku gak hamil-hamil?”
“Kita nikah baru tiga bulan, belum tiga tahun, Sayang? Sudah jangan khawatir, nanti kamu bisa hamil lagi. Jangan mikir yang gak-gak lho?” tutur Arya.
“Iya gak mikir apa-apa kok?” ucap Alana.
“Ya sudah kamu mandi gih. Aku hari ini mau ada meeting, jadi mungkin balik sore ya?”
“Iya, tidak apa-apa,” jawab Alana.
Setelah selesai mandi, Alana menghampiri Ardha yang sedang menggendong Askara di teras depan. Alana melihat masakan sudah tertata rapi di atas meja makan. Sekarang Ardha tidak memperbolehkan Alana memasak, itu semua karena dia tidak mau Alana lelah, karena pagi sampai sore saja dia di tokonya bersama Askara, kadang Askara dia titipkan pada ibu di rumah ibu.
“Sarapan, yuk? Itu sudah siap sarapannya,” ajak Alana. “Ayo Askara sama bunda sini.” Alana mengambil Askara dari gendongan Ardha.
__ADS_1
Mereka menikmati sarapan bersama, dan setelah itu, mereka kembali beraktifitas seperti biasanya. Alana pergi ke tokonya sampai siang, dan Ardha ke kantornya.
^^^
Sore hari, Alana dan Ardha dikejutkan dengan kedatangan Zhafran yang sendirian. Tidak tahu kenapa tiba-tiba Zhafran datang ke Jogja sendirian tanpa Nina dan Binka.
“Kak Zhafran?” Ardha kaget kakaknya mendatangi rumahnya. “Kok ke sini gak bilang-bilang?” tanya Ardha.
“Iya, aku sudah di Jogja dua hari, ini baru sempat mampir. Ada pekerjaan di sini,” jawab Zhafran. “Ini saja mampir sebentar, terus lanjut pulang. Ya mumpung ada saudara di sini, kan aku bisa mampir meski sebentar?”
“Kenapa baru mampir sih? Ayo masuk,” ajak Ardha.
“Aku sibuk sekali, Ar. Klienku agak gitu lah pokoknya. Makanya ini baru sempat mampir, nanti paling habis isya aku pulang. Soalnya besok nih Nina minta ditemani aku di acara sekolahannya, jadi ya harus pulang hari ini, biar besok pagi-pagi sudah di rumah,” jelas Zhafran.
Alana langsung masuk, meminta asistennya membuatkan minuman untuk kakak iparnya.
“Tuh, ada papa, Sayang?” ucap Ardha pada Askara.
“Sini sama papa, papa kangen kamu,” pinta Zhafran.
Alana belum keluar lagi menemui Zhafran, padahal minuman Zhafran sudah diantar bibi keluar. Alana sedang menata makan malam, ada kakak iparnya datang, setidaknya dia harus menjamu tamunya dengan baik. Alana keluar setelah selesai menata makan malam.
“Ih langsung mau nih sama papanya?” ucap Alana yang melihat Askara sedang di pangkuan Zhafran. Tumben sekali Askara mau langsung ikut, bisanya dengan yang lain harus penyesuaian dulu.
“Iya itu tumben, langsung mau dia, Lan,” ucap Ardha.
“Kan sekarang Askara sudah gede, jadi ya sudah tahu ya, Sayang?” ucap Zhafran pada Askara.
“Kak Zhafran, makan dulu yuk?” ajak Ardha.
“Iya nanti,” jawab Zhafran, karena dia masih ingin bersama Askara.
Setelah lama bermain dengan Askara, Zhafran akhirnya mau diajak makan malam bersama.
“Pasti ini yang masak kamu ya, Lan?” tanya Zhafran.
“Bukan, bibi yang masak, aku sekarang jarang masak, Kak. Soalnya kadang pulang sore,” jawab Alana.
“Daripada istriku repot, jadi aku nambah asisten satu lagi, khusus buat masak.”
“Iya benar, jangan terlalu capek, lagian istri kan gak hanya masak saja kerjanya, Lan. Kecuali kerjaannya di rumah, bisa disambil dengan masak, jadi ya wajar kalau gak ada asisten.”
“Iya benar, Kak. Alana sibuk sekali sekarng.” Ujar Ardha.
“Toko lagi ramai terus, Kak. Apalagi kalau weekend, padat pengunjung pasti kak,” ucap Alana.
Dari tadi Askara tumben-tumbennya masih nempel dengan Zhafran. Mungkin dia kangen, bagaimana pun Askara adalah anak kandungnya, jadi pasti ada ikatan batin di antara mereka.
Zhafran sudah pamit mau pulang pun Askara masih mau digendong Zhafran. Ya tidak hanya dengan Zhafran saja, kemarin saat Iwan ke rumah Ardha juga, Iwan gak dibolehin pulang sama Askara, sampai Askara tidur baru Iwan pulang.
“Papa mau pulang, Nak? Nanti lagi ya? Nanti papa ke sini Kak Nina, besok pagi-pagi papa mau ada acara di sekolahan kakakmu soalnya. Papa pulang, ya?” Zhafran mencoba merayu Askara, tapi tetap saja Askara tidak mau lepas.
“Tumben ya, Mas, Askara kok dekat sekali sama Kak Zhafran?” ucap Alana galau.
“Sudah, mungkin di kangen, kayak sama Iwan kemarin juga begitu, kan?” ucap Ardha.
“Jangan takut, Lan. Anak kecil pasti begini kok. Dulu juga Nina begitu kalau sama Ardha, kalau Ardha main ke rumah, Nina belum tidur, ya Ardha gak boleh pulang?” ucap Zhafran.
“Iya juga sih, dulu Nina juga gitu?” sahut Ardha.
“Tenang, Askara tidak mungkin akan dekat sekali denganku, Lan. Dia itu di sini sama kamu dan Ardha, mana mungkin akan dekat denganku? Dia begini ya mungkin sedang nyaman saja denganku,” tutur Zhafran.
“Iya, Kak. Bukan maksudku begitu, tumben sekali, biasanya sama kakak kan gak mau, kakak sampai susah merayunya kalau mau ajak Askara.”
“Ya kan aku bilang, dia mungkin sedang nyaman saja, bisa jadi juga kangen sama aku,” ucap Zhafran.
“Iya mungkin,” jawab Alana gundah.
Alana takut, takut kalau dengan seperti ini Zhafran nantinya sering ke sini. Dia tidak mau Askara dekat dengan Zhafran, meski dia adalah ayah kandungnya, bukannya mau memisahka anak dan papa kandungnya, tapi Alana masih sedikit ada rasa kecewa dalam hatinya, saat Zhafran tidak peduli waktu dirinya dicerai dalam keadaan hamil.
“Aku tahu kegundanhan hatimu, Lan. Aku tahu itu. Aku juga sadar diri, aku ini siapa? Aku sadar aku telah menyakitimu, dan mambuatmu takut kalau aku akan mengambil Askara. Itu tidak akan mungkin, Lan. Karena Askara sudah dapat ayah sambung yang baik, dialah adik kandungku,” gumam Zhafran.
__ADS_1