Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Berbesanan Dengan Keponakan


__ADS_3

Binka dan Zhafran masih belum bisa memejamkan matanya. Mereka merindukan Nina, anak semata wayang mereka. Iya semata wayang karena Binka sudah tidak bisa hamil lagi.


“Kamu belum tidur, Sayang?” tanya Zhafran.


“Iya, aku kangen Nina, Mas,” jawabnya.


“Sabar, ya? Kita bujuk Nina lagi nanti,” ucap Zhafran menenangkan Binka.


“Kalau saja aku tidak masuk merusak hubungan kamu dan Alana, pasti semua masih baik-baik saja, Mas. Maafkan aku. Harusnya aku tidak bersamamu. Sekarang, aku seperti ini, aku bukan lagi wanita yang sempurna mas, aku sudah tidak bisa memberimu keturunan, tidak bisa memberikan anak laki-laki yang sangat kamu impikan, maafkan aku,” ucap Binka.


“Jangan begitu, aku tidak peduli dengan keadaanmu sekarang, Binka. Aku tidak peduli. Bagiku kau masih sempurna,” ucap Zhafran dengan memeluk Binka.


“Kalau Alana pulang, apa kamu akan menikahinya lagi?” tanya Binka.


“Tidak, itu sudah jadi wewenang Ardha. Ardha sangat mencintai Alana, sebelum aku dekat dengan Alana, lalu menikahinya. Aku tidak mau merebut apa yang seharusnya Ardha miliki,” jawab Zhafran.


“Apa kamu mencintai Alana, Mas?”


“Kalau aku bisa mencintainya, mungkin aku tidak akan lagi kembali padamu,” jawab Zhafran. “Sudah jangan bahas yang seperti ini. Masih banyak yang harus kita bicarakan selain ini,” ujar Zhafran.


Zhafran tahu perasaan istrinya, karena semua orang sudah tidak lagi menganggap istrinya lagi. Bahkan Nina yang anak kandungnya, dia juga sudah tidak mau dengan mamanya lagi.


“Kasihan Binka, sudah tidak ada orang yang mau menganggapnya lagi, bahkan Nina pun tidak mau dengannya lagi.  Semua ini salahku, benar kalau aku tidak mengulang kisah lama dengan Binka, pasti semua masih baik-baik saja, tidak akan seperti ini,” gumam Zhafran.


^^^


Arkan dari tadi melihat-lihat setiap sudut rumah Ardha yang terlihat begitu unik dan klasik. Ardha bilang semua ini rancangannya. Dia membuat rumah dengan gaya arsitekturnya sendiri. Arkan sedikit terkesan dengan rumah mewah tapi simple milik Ardha.


“Belum jadi istrinya foto Alana sudah terpajang di sini?” ucap Arkan dengan melihat foto Alana, Askara, dan Ardha di bingkai besar yang Ardha pasang di ruang tengah.


“Yang penting sudah izin sama Alana, dan Alana tidak masalah?” jawab Ardha.


Thalia juga melihat-lihat seisi rumah Ardha, dia melihat rak kecil yang ada di sudut ruangannya. Ada beberapa mainan anak kecil di rak tersebut.


“Sejak kapan kamu mainan beginian, Ar? Balik ke balita lagi?” tanya Thalia.


“Ih mami ada-ada saja kalau tanya? Itu punya Askara, sering aku bawa ke sini kalau pas Ardha gak ada kerjaan, dan Alana sedang bantu budhenya di toko,” jawab Ardha.


“Memang kamu bisa jaga anak kecil? Kalau mau minta susu?”


“Kan dibawain Alana dari rumah,” jawab Ardha.

__ADS_1


“Gak ngajak Alana nginep di sini, kan?” tanya Arkan.


“Pernah sih kalau weekend nginep di sini, tidur sekamar malah,” jawabnya asal, biar papinya kebakaran jenggot.


“Ngapain tidur sekamar! Jangan seperti kakakmu!” Arkan langsung geram mendengar jawaban Ardha, padahal mana mungkin tidur sekamar, orang Alana sama ibunya kalau menginap di rumah Ardha. Itu pun karena Askara yang masih betah di  rumah Ardha.


“Gak, papi sayang ... lagian Alana kalau di sini juga sama ibu kok? Itu juga kalau Askara maunya di sini, gak mau pulang,” jelas Ardha.


“Yakin gak pernah tidur bareng sama Alana?” tanya Arkan.


“Tidur bareng ya pernah pi? Lagian Cuma tidur bareng saja, gak membahayakan, yang mebahayakan itu melek bareng lalu mesra-mesraan!” cetus Ardha.


“Kamu itu jawabannya bikin papi hampir jantungan!” tukas Arkan. “Sudah cukup Zhafran saja yang seperti itu, papi mohon sama kamu, meski kamu sudah diberi tangung jawab oleh Om Dev, kamu harus jaga kepercayaan Om Dev, jangan main-main kamu, papi tahu Om Dev tidak akan main-main dengan ucapannya,” tutur Arkan.


“Iya, pi ... lagian jarang kok Alana tidur di sini, itu pun kalau kita habis jalan dan pulang kemalaman, jadi Alana istirahat di sini,” jelas Ardha.


Ardha mengajak mami dan papinya duduk di ruang tengah sambil mengobrol, sudah lama sekali dia tidak mengobrol dekat seperti sekarang dengan mami papinya.


“Kalau kamu menikah dengan Alana, kamu akan tinggal di sini atau balik ke jakarta?” tanya Arkan.


“Di sini lah, Pi? Kan Ardha sudah ada rumah? Alana juga sudah mulai pegang cabang toko oleh-oleh milik budhe? Sebetulnya itu cabang milik ibu, dan Alana yang ibu suruh untuk mengelola. Itu adalah toko peninggalan almarhum ayahnya Alana yang sudah lama tutup, dan sekarang beroprasi lagi,” jelas Ardha.


“Mau kamu tinggal di sini atau di jakarta, papi hanya pesan, jika kamu sudah berumah tangga, hargai istri kamu, hargai perasaannya, dan jangan sakiti atau khianati dia,” tutur Arkan.


“Padahal mami ingin kalian tinggal di jakarta, tapi ya sudah kalau ini sudah keputusan kalian,” ucap Thalia.


“Iya, Mi. Ini sudah Ardha bicarakan jauh-jauh hari dengan Alana, dan Papa Dev, juga Mama Nadia memperbolehkan kami tinggal di sini kalau sudah menikah. Malah aku sama Alana rencananya mau resepsi di sini saja,” ujar Ardha. “Tapi papa Dev kurang setuju, boleh sih menggelar resepsi di sini, tapi setelah resepsi di rumah Papa Dev,” jelas Ardha.


“Ya papi juga gak mau kalau kamu hanya rame-rame di sini, ya harus di rumahnya Devan lah, masa iya mau di sini? Nanti kalau sudah dari rumah mertuamu, baru kamu mau bikin pesta semeriah mungkin di sini silakan,” tutur Arkan.


Arkan tidak menyangka anak bungsunya akan semandiri ini. Dia menciptakan lapangan kerja sendiri, dengan modal seadanya dari uang bagi hasil bengkel peninggalan opanya. Ardha sekarang yang memegang kendali bengkel itu, dibantu dengan Fajar, suami Tita,  dan anaknya yang usianya sama dengan Ardha.


“Sekarang aku sadar, Ardha ternyata membuktikan ucapannya bahwa dia bisa memulai bisnisnya dari bawah, sekarang dia menjadi orang yang sukses, dan aku malu, karena aku selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Zhafran, dan ternyata Zhafran melukai banyak orang, dan membuat malu diriku,” gumam Arkan.


^^^


Devan langsung meminta Askara dari gendongan Arkan. Sudah dari tadi Arkan menggendong Askara, dan masih belum mau bergantian dengan Devan. Padahal Devan sudah kangen sekali dengan cucunya. Ia sudah tidak sabar membawa Alana pulang ke Jakarta, tapi Devan masih ragu Alana mau ikut pulang dengannya atau tidak. Itu semua karena Alan bilang dengan dirinya, dia lebih nyaman tinggal di Jogja. Apalagi Ardha sudah memiliki rumah untuk tinggal dengan Alana di sini.


“Kamu asal ambil cucuku saja!” tukas Arkan.


“Askara juga cucuku, lagian kamu kan sudah gendong dari pagi, dari pagi kamu di sini, sama Askaran terus, aku kan baru datang dua jam yang lalu, gantian dong, aku juga kangen Askara,” protes Devan.

__ADS_1


“Kamu kan sering ke sini, Dev!”


“Iya, tapi kan aku lama baru ke sini lagi, Arkan ....!”


Nadia dan Thalia menggelengkan kepala,  melihat suami mereka berebut Askara, sampai wajah Askara terlihat kebingungan dari tadi diperebutkan opanya.


“Tuh lihat, calon besan yang bar-bar. Rebutan cucunya,” ucap Ardha.


“Biasa papimu kan anti kalah sama Devan! Devan pun sama, dari dulu mereka selalu bersaing dalam hal apa pun!” ujar Thalia.


“Termasuk waktu sama Tante Ica, kan?” ujar Ardha.


“Ya begitulah, gak Cuma itu, dia saja terus bersaing dalam bisnis, ditambah sekarang saingan ingin gendong cucu. Memang mereka gak pernah sadar kalaus sudah pada tua!” ujar Thalia.


“Biasa tua-tua keladi, makin tua semakain menjadi, Tante,” ucap Nadia.


“Itu suamimu kok, tua-tua makin jadi, mentang-mentang istrinya masih muda sekali,” ujar Thalia.


“Ini gak salah ya? Masa mau besanan manggilnya Tante?” tanya Iwan.


“Ini nih Wan yang aneh nantinya. Mama Nadia itu keponakan papi, dan berarti Mama Nadia ya kakak sepupuku, Alana cucunya papi sama mami sebenarnya, Alana ya keponakanku sebetulnya. Aneh, kan? Dulu Papa Dev itu teman papi kuliah, nah papi dulu mau menikah sama istri Papa Dev yang pertama, namanya Tante Ica. Terus gak tahu kenapa kok jadi nikah sama Kak Nadia, eh maksudku Mama Nadia. Tuh kan belibet pokoknya, makanya Mama Nadia ya manggil mami tante?” jelas Ardha.


“Tapi gak apa-apa dong, nikah sama keponakan, kan bukan mahromnya, Ar?”


“Iya gak apa-apa, tapi manggilnya belibet. Sekarang Mama Nadia jangan manggil mami tante dong, Kak atau apa gitu, Ma? Atau jeng, biar kek ibu besan sosialita gitu?” ujar Ardha.


“Kamu itu! Mama sudah jadi lidahnya manggi papimu om, dan mamimu tante, jadi mau gimana lagi?”


“Om sama keponakan besanan, kocak! Sungguh kocak kalian,” ujar Iwan.


“Lucu ya, besanan sama keponakan?” ucap Thalia dengan terkekeh. “Dulu itu Almarhum Ica, kalau aku jodoh-jodohkan Acha sama Ardha atau Zhafran, dia selalu bilang, gak ada kamusnya Ica besanan sama mantan! Ini malah mau besanan sama keponakan? Lucu sekali,” ujar Thalia. “Kamu sih pakai nikah sama Devan, Nad?”


“Ya mau gimana lagi tante? Orang sudah jodoh, terus aku juga cinta,” jawab Nadia.


“Hmm ... gitu, ya? Devan tuh kek jagain jodohnya dari kecil, dari mamanya kamu TK nih Lan, papamu itu sering jagain mamamu. Saat di Jepang sedang banyak pekerjaan sekali pun, kalau mamamu merengek meminta papamu pulang, papamu pulang langsung esok atau lusanya. Padahal kamu tahu Lan, apa yang mamamu pengin? Makan es krim saja sama beli buku. Padahal bisa kan diantar Papinya Ardha mungkin, atau ayahnya atau bundanya? Mintanya papamu, harus pulang,” ujar Thalia.


“Gak begitu juga ih tante? Sukanya buka kartuku?” ucap Nadia.


“Ya pokoknya unik sekali,” ucap Thalia.


“Iya sih bisa-bisanya Om Dev juga mau ya?” ujar Iwan.

__ADS_1


Mereka asik mengobrol dengan membicarakan hari pernikahan Ardha dan Alana. Nadia dan Thalia juga dari tadi memilih undangan juga gaun pernikahan untuk Alana dan Ardha. Padahal yang sudah dekat pernikahan Fatih dan Shaka, tapi mereka sudah menentukan apa-apa sendiri. Nadia juga sudah memilihkan gaun untuk kedua calon menantunya. Tidak terasa diumurnya yang masih belum genap lima puluh tahun, Nadia sudah memiliki cucu dan menantu.


“Baru saja aku bertemu Ayleen, sekarang dia akan menjadi milik orang lagi. Ayleen kecilku ternyata Alana, gadis yang selama ini aku sayangi, seperti anakku sendiri,” gumam Nadia.


__ADS_2