Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Jiwa Mudanya Masih Sangat Kental


__ADS_3

Arkan dan Devan benar-benar menikmati perjalanan panjangnya ke Jogja menggunakan sepeda motor. Sepanjang jalan terukir kenangan masa muda mereka. Saat-saat mereka masih sama-sama kuliah, dan memperebutkan satu perempuan yaitu Ica.


“Dulu papi pernah ke sini dengan Ica juga kan, Pi?” tanya Thalia.


“Iya, waktu kita kuliah, bareng Dev juga,” jawab Arkan.


“Tapi kan lebih duluan sama kamu? Pas waktu kita mau perpisahan, kamu mau ke Berlin,” imbuh Arkan.


“Iya, sih. Jadi ingat dulu ya, Pi?”


“Iya, peluk papi dong, yang erat.” Arkan menarik tangan Thalia supaya memeluk dirinya erat.


Begitu juga Devan, sepanjang perjalanan, terlintas kenangannya bersama Ica, tapi sayangnya saat itu Ica dengan Arkan, dirinya dengan Ziva. Ya karena Ica dulu kekasih Arkan, tapi pulangnya Ica bonceng Devan, karena sedang kesal dengan Arkan saat itu.


“Nad ....”


“Hmmm ....”


“Ngantuk, Sayang?” tanya Devan.


“Gak, lagi menikmati perjalanan saja. Indah sekali pemandangannya,” jawab Nadia.


“Aku kira ngantuk, gak ada suaranya,” ucap Devan.


“Pasti papa ingat masa muda dengan Kak Ica, ya? Kan sering kalian touring  bareng? Dulu sepulang touring, pasti aku marah, karena aku gak diajak. Pasti kumpulnya di cafe bunda kalau bahas soal touring,” ucap Nadia.


“Kamu masih kecil banget itu lho, kok ingat?” ujar Devan.


“Ya ingat lah, masa gak ingat? Daya ingatku tajam lho, Pa?” jawab Nadia.


“Dulu aku sering touring dengan Ica, tapi pas SMA, pas kuliah tuh sama Arkan, kan Ica dulu pacaranya Arkan pas kuliah, pas SMA sering ke sini juga rame-rame sama teman sekolah,” jelas Devan.


“Iya, ya ... dulu Kak Ica sama Om Arkan? Tapi kenapa gak jadi, ya? Aku kok lupa?”


“Katanya daya ingatnya tajam?” sergah Devan. “Eh kalau masalah ini mungkin ya karena kamu masih kecil belum ngerti ya jadinya gak paham kenapa Arkan gak jadi sama Ica, dan akhirnya Ica kan tunangan tuh sama Satria, terus ujungnya sama aku. Gila gak ngarepin dia dari SMP, lika-likunya banyak sekali, pakai acara aku  nikah dulu, dia gagal nikah dua kali?”


“Udah gitu sekarang malah sama aku? Bocah kecil yang selalu ngamuk kalau kamu lama gak pulang-pulang dari Jepang!” potong Nadia dengan terbahak.


“Udah gitu nyuruh pulang Cuma buat makan es krim sama beli buku, coba ngeselin gak? Rasanya kek dibodohin anak kecil saja. Tapi aku suka, aku sayang banget sama kamu, kamu itu kek adikku sendiri,” ucap Devan.


“Kan aku memang ngeselin? Tapi ngangenin kan? Buktinya pasti pulang kan , meski aku ngeselin, kamu tetap kangen sama aku?” ucap  Nadia.


“Iya itu. Karena aku sayang kamu, Mama Nadia ... Bu dokter kecilku ...,” ucap Devan dengan mencium tangan Nadia.


Dulu Nadia selalu mengajak Devan bermain dokter-dokteran. Dia yang jadi dokter, Devan pasiennya. “Kau ingat, saat aku jadi pasien kamu dan aku pura-pura meninggal?” tanya Devan mengingat masa itu, saat Nadia masih kecil, mungkin baru masuk SD.


“Iya ingat, ingat sekali. Aku nangis tapi kamu gak bangun-bangun, sampai ayah bangunin kamu,” jawab Nadia terkekeh.


“Kocak sekali kamu, orang mati bohongan kamu nangisnya histeris banget,” ucap Devan.


“Habisnya kamu ih, ngeselin pura-pura mati! Kan aku jadi gak punya om yang sayang banget sama aku?” ucap Nadia kesal saat ingat itu.


“Terus habis itu, aku gak dibolehin pulang, hanya karena takut aku mati beneran,” ucap Devan tergelak. “Kamu minta aku menginap, tiga hari pula? Sampai aku menunda keberangkatanku ke Jepang. Cuma kamu yang membuat aku senurut gitu ke kamu. Sama keenan pun aku gak sedekat itu, tapi saat orang tua Keenan meninggal, baru aku dekat dengannya.”


“Iya, waktu itu sampai bunda dan ayah bujuk aku, supaya memperbolehkan kamu berangkat ke Jepang,” ucap Nadia.


“Kamu itu benar-benar, Nad ... sumpah aku gak pulang kangen banget, pulang ngeselin, mau berangkat lagi ditangisin? Berat tahu ninggalin kamu pas mau balik lagi ke Jepang? Kek ninggalin anak mau jadi TKI ke luar negeri. Histeris sekali kalau nangis, saat aku tinggalin?” ucap Devan dengan teringat masa kecil Nadia. “Sekarang, kamu malah jadi istriku. Huh ... takdir memang tidak bisa ditebak ya, Nad? Dari jadi keponakan, terus jadi calon adik ipar, habis itu jadi istri kedua, dan sekarang istriku satu-satunya, yang aku cintai, aku sayangi, pokoknya gak mau aku kehilangan kamu, Nad.” Devan menarik tangan Nadia, supaya memeluknya dengan erat.


“Asal kamu gak nyakitin aku lagi, ya aku gak akan pergi?” ucap Nadia.


“Gak akan, Sayang?”


“Gak kerasa juga kita sudah punya cucu ya, Pa?” ucap Nadia.


“Iya, dunia begitu cepat berputar. Kayaknya baru kemarin aku lihat kamu masuk SD, masuk SMP, SMA, terus kuliah, tunangan dengan Keenan, eh ujung-ujungnya jadi istriku?” ucap Devan.


“Kisah cinta kita penuh air mata sekali ya, Pa? Aku dihamilin kamu duluan, dicuekin kamu, diasingkan di rumahmu, diusir, akhirnya dipungut lagi?”


“Bahasamu itu lho, Ma ... masa dipungut? Lebih tepatnya aku memintamu lagi, itu pun aku melalui ujian berat, pakai bersaing segala, Fatih gak mau sama aku?” ucap Devan.


“Ya kan habis dibuang, ya dipungut lah!” tukas Nadia.


“Jangan kesal gitu? Kamu capek, gak? Mau istirahat? Sekalian sholat maghrib?” ajak Devan.

__ADS_1


“Boleh, kasih kode dulu pada Om Arkan, biar tahu, sambil nyari masjid, sholat, terus makan, terus lanjut lagi,” ucap Nadia. “Aku lapar, Pa,” imbuhnya.


“Iya nanti kita sekalian makan,” jawab Devan.


Devan memberikan kode pada Arkan, kalau dia mau cari masjid, untuk sholat dan istirahat sebentar. Arkan mengiyakan, karena dari tadi Thalia juga sudah pengin istirahat. Katanya lapar sekali.


Setelah berjalan beberapa kilometer, akhirnya mereka menemukan masjid. Mereka memarkirkan sepeda motornya, melepas helm, jaket, dan kaca matanya.


“Aduh ... pinggangku kok sakit, Ma?” ucap Devan.


“Tuh kan? Masih kuat gak? Masih tiga jam lebih lagi kata Om Arkan?” ucap Nadia sedikit khawatir.


“Kuat lah, masa gak? Ya Cuma tadi kan kelamaan gak istirahat, jadi ya begini, gak masalah papa masih kuat, tenang saja. Jangan khawatir, jangan manyun gitu, nanti papa gigit bibirmu,” ucap Devan.


“Ih jangan gitu, Pa! Gimana aku gak khawatir sih? Kamu bilang pinggangmu sakit?” ucap Nadia.


“Gak usah khawatir, Nad. Aku juga sakit pinggangnya,” ucap Thalia.


“Ya wajar, sakit. Aku juga iya? Pegel sih bukan sakit,” imbuh Arkan.


“Kok aku enggak?”


“Kau masih muda, Nadia ... usiamu tepaut puluhan tahun dengann kita!” tukas Thalia.


“Mungkin sih? Ya udah tuk sholat, habis itu cari makan, aku lapar sekali,” ajak Nadia, dengan ngeloyor jalan duluan.


“Tuh, mentang-mentang masih bocil dia, jalan saja masih keras gitu, ini pinggangku sakit, Pi!” ucap Thalia. “Pegel ....”


“Enak aja bocil, dia udah punya tiga anak, sama kayak kamu, Lia? Sama-sama sudah punya cucu juga,” protes Devan.


“Ya kan kalau bukan bocil apa? Kan dia memang masih kecil? Umurnya jauh banget lho sama kitaa?”


“Iya dia dong ... kan dia istri kecilku. Lagi hot-hotnya dia,” ucap Devan.


“Otak lo mesum mulu, Dev!”


“Sudah setelannya gini, Arkan! Ayo sholat dulu, nanti keburu waktu maghrib habis,” ajak Devan. Devan menyusul Nadia yang sedang melepas sepatunya.


“Mau lanjut jalan, atau sewa mobil saja?” tawar Arkan.


“Gak dong, lanjut saja. Tanggung paling kan beberpa jam lagi?” jawab Thalia.


“Iya, sih, tapi kalau kamu sakit banget pinggangnya kita cari mobil saja bagaimana?” tanya Arkan.


“Enggak usah, Papi ....”


“Ya sudah yuk sholat dulu, habis itu kita cari makan. Papi juga lapar,” ajak Arkan.


Arkan berjalan sambil merangkul istrinya. Arkan sebenarnya juga capek, pegal semua persendiannya. Tapi, karena dia semangat untuk bertemu cucunya, dia tidak merasakan semua itu.


^^^


Alana masih menemani Ardha yang sedang menyelesaikan tugas kantornya, bersama Iwan. Mereka kumpul di ruang tengah. Alana memerhatikan dua orang sahabat itu yang sedang sibuk sekali mengerjakan tugas kantornya.


Sudah hampir jam sepuluh malam mereka belum selesai dengan pekerjaannya. Tadi Ardha memang pulang lebih awal, jadi pekerjaannya dibawa pulang, sedangkan Iwan, dia butuh tanda tangan Ardha, jadi dia ke rumah Ardha, sembairi ia membantu Ardha mengerjakan pekerjaannya.


Sayup-sayup mereka mendengar suara deru motor sport di depan rumahnya. Ardha juga melihat ada cahaya dari lampu sepeda motor tersebut. “Kayaknya kok ada sepeda motor di depan, ya?” ucap Ardha.


“Iya, Ar. Siapa malam-malam yang datang? Kok pakai sepeda motor? Kayaknya suara sepeda motornya, seperti motor sport?” ujar Iwan.


“Iya benar, Wan? Siapa ya?” Ardha semakin penasara.


“Iya, siapa ya mas malam-malam bertamu ke sini pakai sepeda motor? Ini sudah jam sepuluh malam lho, Mas?” ucap Alana.


“Makanya itu, Mas juga penasaran, Lan? Yuk kita lihat?” ajak Ardha.


“Mas kalau penjahat gimana?” tanya Alana.


“Masa penjahat sih? Gak mungkin lah, Lan!” ujar Iwan.


“Makanya kita hati-hati lihatnya?” tutur Ardha.


Ardha melihat dari balik jendela lebih dulu. Pelan-pelan ia membuka sedikit tirai jendela, Alana dan Iwan di belakang Ardha.

__ADS_1


“Astaga .... papi ... Lan! Papamu juga tuh!” Ardha terperanjat melihat kedatangan orang tuanya dan mertuanya, pun sebalikan, Alana juga begitu.


“Ya ampun ... mereka itu kok ya pakai motor sih ke sininya?” ucap Alana.


Alana dan Ardha langsung membukakan pintu rumahnya. Ardha menggelengkan kepalanya melihat papi dan maminya seperti anak muda saja. Dari Jakarta ke Yogyakarta menggunakan sepeda motor.


“Berasa anak muda ya, Pi, Mi? Nanti kalau pinggang kram gimana? Papi sama mami gak punya mobil lagi, ya?” ucap Ardha. “Mau Ardha belikan? Ke sini kok pakai sepeda motor? Bahaya sih mi, pi? Papi sama  mami kan udah bukan anak muda lagi?” ucap Ardha.


“Iya, papa sama mama juga! Apa papa mama gak punya mobil lagi? Papa kan sering sakit pinggang? Malah ke sini pakai motor? Nanti kalau ada apa-apa gimana coba?” ucap Alana dengan khawatir.


“Aduh  om ... tante ... bahaya sekali udah pada tua pakai sepeda motor dari Jakarta ke Yogyakarta?” ujar Iwan.


Mereka menggeleng, saling menatap satu sama lain, karena anak-anak mereka ngomel, ditambah ocehan dari Iwan. “Benar kan apa kataku? Reaksi pertama mereka adalah ngomel!” ucap Arkan.


“Gimana aku gak ngomel, Pi? Ini terlalu bahaya sekali, Pi!” ucap Ardha.


“Iya, papi sama papa itu bandel ya?”


“Ya memang mereka bandel-bandel, Lan?” ujar Thalia.


“Ini gak disuruh masuk gitu?” protes Devan.


“Oh iya, ayo papa, mama, papi, mami, yang jiwanya masih jiwa muda, silakan masuk ....” Ucap Alana dengan mempersilakan masuk mereka. Alana diapit mama dan papanya. Tangan Alana merangkul mama dan papanya.


“Jangan diulang lagi, Papa ... aku gak mau papa dan mama kenapa-napa,” ucap Alana penuh khawatir.


“Nyatanya papa sama mama gak apa-apa, kan? Kami baik-baik saja?” ucap Devan.


“Iya sih? Tapi, sudah. Sekali ini saja, ya?” ucap Alana.


“Iya, Sayang,” jawab Devan.


“Alana siapkan air hangat untuk mandi mama-papa dan papi-mami, ya?” ucap Alana setelah mengantar mama dan papanya ke kamar yang biasa digunakan menginap mereka kalau di rumah Alana.


“Iya, nanti tapi mandinya, biar otot-otonya gak kaku dulu,” jawab Devan.


Ardha juga masih ngomel saja di depan papi maminya. Dia benar-benar tidak menyangka papi dan maminya pakai sepeda motor dari Jakarta ke Jogja. Pakai mobil saja kadang Ardha merasa capek, ngantuk, dan lainnya, ini mami-papinya pakai seped motor?


“Sudah ya mi, pi? Sekali ini saja. Papi sama mami sudah bukan darah muda lagi. Aku khawatir sekali, Pi. Kaget lihat papi sama mami sampai sini pakai sepeda motor?” ucap Ardah.


“Iya gak sekali ini saja, kita pengin saja mengenang masa muda kita, Ar. Jangan khawatir begitu, Ar? Kita kan sudah sampai di sini dengan selamat dan baik-baik saja?” ucap Arkan.


“Pasti nih papi sama mam gak pamit sama Kak Lina atau Kak Zhafran?” tanya Ardha.


“Iya sih kami gak pamit? Takut mereka gak ngebolehin juga,” jawab Thalia.


“Tuh kan beneran? Mami ih! Ya jelas lah mereka gak ngebolehin papi sama mami motoran ke sini?” ujar Ardha. “Dari rumah jam berpa tadi, Pi?” tanya Ardha.


“Jam enam pagi sih, kurang malahan,” jawab Arkan.


“Istirahatanya berkali-kali, makanya sampainya lama,” imbuh Thalia.


“Salut sih, mami papiku yang sudah mau kepala enam masih bisa motoran dari Jakarta ke Jogja? Jarang-jarang tahu, Mi, Pi?” ujar Ardha.


“Ini namanya riders sejati, Ar. Dari dulu papi sama papa mertuamu, hobi touring, papi ke Jogja empat kali ini pakai sepeda motor,” pamer Arkan.


“Hmm ... aku suka touring juga malas aku, Pi! Capek banget pastinya!” ujar Ardha.


“Ya itu kan kamu sekarang lagi sibuk-sibuknya bekerja, coba kalau sudah kek papi dan papa  mertuamu, jenuh di rumah, semua perusahaannya sudah dihandle anak menantu, ya mau apa lagi? Kangen touring ya akhirnya sekalian ke sini, mumpung ada tujuan, lihat anak cucu di sini,” jelas Arkan.


“Ya sudah papi, mami istirahat dulu, aku mau bikin teh dulu, nanti kalau udah ilang capeknya baru mandi,” tutur Ardha.


Ardha keluar dari kamar orang tuanya. Dia menemui Alana yang sedang sibuk membuatkan minuman hangat untuk orang tua dan mertuanya.


“Heran saja, orang tua kita jiwa mudanya masih kental sekali ya, Sayang?” ucap Ardha.


“Iya, gak tahu aku khawatir apa sih?” ujar Alana.


“Gak ada yang bilang sama Kak Zhafran apa Kak Lina lagi?”


“Ya sama mas? Mama papa juga gak bilang sama Kakak-kakak kok?” ucap Alana.


Ardha mengambil ponsel di sakunya, dia ingin menelefon kakak-kakaknya memberitahukan kalau papi maminya ke Jogja, ke rumahnya menggunakan sepeda motor bareng besannya.

__ADS_1


__ADS_2