Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Melamar


__ADS_3

Pagi hari, suasana di rumah Devan sudah ramai karena semua keluarga sudah berkumpul di rumahnya, dan bersiap untuk berangkat ke rumah Irvina, calon istri Fatih. Keluarga Arkan juga sudah berada di rumah Devan sejak pagi-pagi sekali. Semua sibuk menyiapkan dirinya sendiri untuk menyaksikan Fatih dan Irvina mengikat janji suci. Juga untuk mengikuti resepsi mereka berdua di hotel berbintang. Fatih sudah mengenakan setelan jasnya dengan begitu gagah dan tampan. Dia ditemani oleh Shaka, Alka, Zhafran, dan Ardha. Ardha malah terlihat belum bersiap-siap, karena Askara masih belum mau digendong bundanya.


“Ar, buy one get one, ya?” ujar Alka.


“Akhirnya perjuanganmu tidak sia-sia, menjomblo lama karena menunggu cinta Alana,” ledek Shaka.


“Teman bersaing sudah gak ada, aku yang akhirnya bisa meluluhkan dia kan?” ujar Ardha.


“Kamu pernah kalah juga kali? Sama orang yang ada di sampingmu?” ujar Alka dengan menunjukkan Zhafran di samping Ardha.


“Ya iya sih? Tapi kan akhirnya lihat sendiri, kan?” jawab Ardha.


“Kamu gak mandi, Ar?” tanya Fatih. “Sini biar Askara sama aku,” pintanya.


“Kakak sudah rapi, nanti malah gak rapi lagi, masa calon pengantin jadi baby sitter, masih pagi juga, masih lama jam delapannya,” ucap Ardha.


“Mau sama papa?” Zhafran mencoba mengajak Asakara, dan tetap Askara tidak mau.


Alana dari tadi mencari Ardha dan Askara, ternyata mereka di ruang tengah dengan Fatih dan lainnya. Alana dari tadi membujuk Askara yang tidak mau lepas dengan Ardha. Padahal Ardha mau mandi, tapi karena Askara tidak mau di gendong oleh siapa pun selain Ardha. Jadi dia terpaksa belum mandi. Alana melihat Binka sedang mendekati Nina yang rambutnya masih berantakan, belum tertata rapi. Nina sudah cantik menggunakan gaun dengan warna senada dengan keluaga Arkan. Karena memang mereka membuat pakaian yang senada.


“Sayang, sama bunda yuk? Biar ayah mandi dulu,” bujuk Alana pada Askara. Tapi, tetap saja Askara tidak mau.


Alana melihat Nina sedang ribut dengan mamanya, entah kenapa Nina sampai ribut seperti itu. "Tidak mau! Nina mau sama bunda! Mau dikepang seperti bunda." Nina berlari ke arah Alana yang sedang membujuk Askara agar ikut dengannya.


"Bunda, kepangin seperti rambut bunda, dulu kan kita sering jalan-jalan dengan rambut dikepang sama, bunda. Nina ingin lagi," pinta Nina.


"Oke, tapi ada syaratnya," ucap Alana.


"Apa bunda?" tanya Nina.


"Jangan seperti itu dengan mamamu, bunda kan sudah bilang, mama itu sayang sekali sama Nina. Jadi jangan seperti itu lagi, oke," tutur Alana.


"Iya, tapi mamah jahat, sudah mengusir bunda pergi dari rumah," ucap Nina yang terdengar oleh Zhafran, Binka, Ardha, dan semua yang ada di sana.


Alana berjongkok di depan Nina, dia mencoba menjelaskan kembali pada Nina.


“Nina lupa bunda pernah bilang apa? Jangan menyimpan dendam, Nak? Kok masih begini? Ayo minta maaf dengan mama, bunda tidak mau Nina jadi anak yang seperti ini.” Alana mencoba berbicara baik-baik dengan Nina.


"Iya, Nina janji tidak akan seperti itu lagi, Bunda," ucap Nina.


"Ya sudah, minta maaf sama mama, peluk mama, dia mama kamu, Nak. Mamamu sayang sekali sama kamu." Alana menyuruh Nina mendekati Binka.


Nina berjalan ke arah Binka, dia memeluk Binka dan meminta maaf.


"Mama, maafin Nina sudah bicara kasar. Tapi, Nina ingin di kepang bunda," ucap Nina.


"Iya, Sayang. Maafkan mama juga ya, Nak." Binka memeluk Nina dan meciumi pipinya.


Alana memang kecewa dengan Binka, tapi dia tidak mau kalau Nina juga membenci Binka. Karena sampai kapan pun Nina adalah anak kandung Binka. Dan, tidak ada mantan anak di dunia ini.

__ADS_1


"Ya sudah, sana minta kepang bunda." Binka menggandeng Nina mendekati Alana.


"Lan, maafkan aku." Binka memeluk Alana dan meminta maaf pada Alana.


"Sudah, Kak. Lupakan yang sudah, kita sudah punya jalan masing-masing. Yang berlalu biarlah menjadi pelajaran hidup kita, dan jangan sampai kita mengulangi kesalahan itu," tutur Alana.


"Iya, Lan. Sekali lagi maafkan aku, aku sudah membuat hidupmu hancur," ucap Binka.


"Sudah, Kak. Jangan di ingat lagi. Aku sudah punya kebahagiaan sekarang, lihat dua laki-lakiku sekarang, Ardha dan Askara. Mereka adalah bahagiaku saat ini," ucap Alana.


Mereka kembali berpelukan. Begitulah Alana, wanita yang tidak mau menyimpan dendam walaupun dia sudah di sakiti oleh seseorang.


"Ayo Nina, bunda kepangin rambut kamu, Nak." Alana mengambil kursi dan mengepang rambut Nina.


Nina sudah terlihat cantik dengan gaya rambut yang sama dengan Alana. Binka mencoba mengajak Askara, karena dia juga tahu Ardha belum mandi karena Askara tidak mau dengan siapa-siapa.


"Ayo ikut Tante." Binka mencoba mengajak Askara, tapi tetap saja dia tidak mau.


"Coba sini sama papa," ajak Zhafran.


Askara memandangi Zhafran terlebih dahulu, dan akhirnya dia mau di gendong oleh Zhafran. Zhafran merasa bahagia, Karen Askara mau di gendong dengannya.


"Akhirnya, dari semalam ingin mengajakmu susah sekali, sekarang mau juga. Sudah sama papa, biar ayahmu mandi," ucap Zhafran dengan mencium pipi Askara.


"Kak, titip Askara, aku mandi dulu," ucap Ardha.


"Iya, biar Askara denganku, gak apa-apa kan, Lan? Aku pinjam Askara sebentar," ucap Zhafran.


"Lan, baju ku semalam di mana?" tanya Ardha.


"Nanti aku ambilkan," jawab Alana.


"Cie, udah seperti suami istri saja kalian, sudah lah menikah," celah Alka.


"Memang aku mau menikah dengan Alana, tinggal itu nunggu Kak Shaka nikah," ucap Ardha dengan tegas.


"Sudah, sana mandi, aku siapkan bajumu,” ucap Alana.


Zhafran mengendong Askara, Binka senang sekali melihat Askara yang lucu, dia bergantian menggendong dengan Zhafran. Kebahagiaan Binka bertambah, dengan Nina yang mau lagi dekat dengannya.


^^^


Pesta pernikahan Fatih dan Irvina berjalan dengan lancar, semua tamu memberikan selamat untuk mereka. Dan saat acara sudah hampir selesai. Ardha berjalan ke arah panggung, tidak ada yang tahu Ardha berada di atas panggung. Hingga saat Ardha berbicara semua mata menoleh kearah panggung.


"Selamat sore semuanya, maaf sudah mengganggu, saya minta waktunya sebentar. Sebelumnya, selamat untuk Kak Fatih dan Kak Irvina. Selamat menempuh hidup baru, karena pada hari ini, mereka sudah menjadi sepasang suami istri. Semoga kalian selalu bahagia."


"Pada kesempatan hari ini, saya Ardha, ingin menyampaikan sesuatu pada semua keluarga saya, dan tamu undangan yang ada di sini. Bahwa hari ini, saya akan meresmikan hubungan saya dengan wanita yang saya cintai. Di hari yang bahagia ini, khususnya hari bahagia Kak Fatih dan Kak Irvina, saya juga ingin melamar wanita yang pilihanku, wanita yang sangat aku cintai. Alana, maukah kamu menjadi istriku?" Ardha dengan lugas meminta Alana untuk menjadi istrinya di depan semua tamu undangan yang kala itu masih berada di pesta pernikahan Fatih dan Irvina, dan di depan semua keluarganya.


Mata Alana berkaca-kaca, mendengar Ardha meminta dirinya untuk menjadi istrinya di depan semua tamu undangan. Thalia dan Nadia merangkul Alana dan memberi isyarat untuk naik ke atas panggung menemui Ardha.

__ADS_1


"Ma, Alana harus bagaimana?” tanya Alana pada mamanya. “Mi, Ardha kok gitu sih? Bikin aku gini?” ucapnya.


"Kalau kamu yakin, ke atas bicara dengan Ardha. Dia tidak main-main, Nak. Dia rela menunggu kamu sampai detik ini. Ayo terima anak bungsu mami. Mami tahu kamu masih bimbang, dan masih trauma dengan kejadian saat dengan Zhafran," ucap Thalia.


“Sambut Ardha, dia sangat mencintaimu,” ucap Nadia.


"Mama, mami, Alana mencintai Ardha, tapi Alana masih takut," ucap Alana.


"Jangan takut, Lan. Ardha laki-laki yang baik, aku yakin, dia yang terbaik untuk kamu dan Askara," ucap Zhafran.


"Ke atas, sambutlah Ardha, dia sangat mencintaimu, Lan," imbuh Zhafran.


"Benar kata Zhafran. Ayo papa antar kamu ke sana.” Devan  memegang tangan Alana, dan mengantar Alana naik ke atas panggung


"Pa, Alana ...."


"Sudah, papa yakin, Ardha yang terbaik untukmu, jangan kecewakan Ardha. Dia rela menunggumu bertahun-tahun, karena dalam hidupnya hanya mencintaimu, Nak," ujar Devan.


“Ayo ke atas, sambut anak papi yang sudah gagah memintamu untuk menjadi istrinya,” ujar Arkan.


Semua memantapkan hati Alana untuk menerima Ardha. Dan akhirnya Alana mau menerima Ardha, dan menerima lamarannya yang mendadak itu. Alana sudah berada di depan Ardha. Senyum merekah terlihat jelas di wajah Ardha kala itu.


"Lan, bagaimana? Apa kamu bersedia menjadi istriku, Alana?" ucap Ardha dengan menunjukan kotak merah yang berisi cincin cantik betahtakan berlian.


Alana dengan didampingi papanya, dia berkali-kali menyeka air matanya. Ia tidak menyangka Ardha akan memberikan kejutan yang seperti itu.


“Maukah kau menjadi istriku? Menjadi pendamping hidupku? Menemaniku hingga ujung waktuku?” ucap Ardha sungguh-sungguh.


"Ardha, aku terima dan aku bersedia menjadi istrimu," ucap Alana dengan lugas.


"Terima kasih, Alana. Mana jari manismu?" Alana mengulurkan tangannya di depan Ardha, dan Ardha menyematkan cincin di jari manis Alana.


"Aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu dan Askara," ucap Ardha.


"Jangan berjanji, tapi lakukanlah yang tebaik untuk rumah tangga kita nanti, Ardha," ucap Alana.


"Itu pasti, Sayang." Ardha memeluk Alana dan mencium keningnya.


Thalia dan Arkan akhirnya lega, Ardha sudah memiliki wanita yang ia cintai, dan itu Alana. Menantu kesayangannya kembali lagi, dan sekarang akan menjadi istri anak bungsunya.


Acara pernikahan Fatih berjalan dengan lancar. Semua tamu udangan satu persatu meninggalkan pesta pernikahan Fatih. Malam ini Fatih langsung berangkat bulan madu ke Paris. Ya tentunya semua keluarga malam ini melepas keberangkatan Fatih yang akan ke Paris. Mereka tidak bisa mengantarkan Fatih dan istrinya ke bandara. Hanya melepas keberangkatan mereka dari rumah Irvina.


“Kak, titip Kak Fatih, ya?” ucap Alana.


“Itu pasti, Sayang,” jawab Irvina.


“Jadi suami yang baik, bertanggung jawab, sayang istri dan anak, selalu jadi laki-laki yang terbaik pokonya, untuk anak istri kakak, juga keluarga kakak,” ucap Alana pada Fatih.


“Itu pasti, Sayang. Kamu juga, jangan takut dan sedih lagi, sudah ada Ardha, kakak yakin dia laki-laki yang baik dan tepat untukmu,” ucap Fatih.

__ADS_1


Alana memeluk Fatih, di susul Shaka dan Acha yang juga memeluknya. Devan dan Nadia bahagia, anak-anaknya sudah berkumpul kembali sekarang.


__ADS_2