Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Kutunggu Jandamu


__ADS_3

Hari ini, Askara sudah genap berusia satu tahun. Di usia satu tahun ini, Askara sudah bisa berjalan dan memanggil ayah dan bunda walaupun belum terdengar jelas saat menyebut kata ayah dan ibu. Hubungan Alana semakin harmonis dengan Ardha, layaknya seperti suami-istri. Mereka dekat seperti itu, karena mereka ingin yang terbaik untuk Askara, agar memiliki orang tau yang lengkap. Bukan karena mereka ingin romantis-romantisan berdua. Bahkan jarang sekali mereka romantis-romantisan, karena hal yang paling utama mereka berikan untuk Askara.


Di mata Alana, Ardha adalah sosok pria yang penyayang, sabar, dan bijaksana. Dia selalu menasehati Alana saat Alana kesal dengan Askara yang semakin hari semakin ingin banyak tahu ini itu. Ardha lebih sabar jika soal mengurus Askara di banding Alana yang kadang sifat manjanya keluar. Ardha tahu, jika Ardha ke kantor, Alana lah yang lelah seharian mengurus Askara. Jadi, di saat malam, urusan Askara dia yang mengambil alih, apalagi Askara lengket sekali dengan dirinya, bahkan tidur pun Ardha yang menemaninya. Sejak sudah semakin lengket dengan Ardha, Askara semakin sulit dipisahkan, jadi Ardha kadang tidur di rumah Iwan demi Askara. Aninggar dan Arofah juga tahu, kalau Askara lengket sekali dengan Ardha, apalagi Ardha akan menikahi Alana dalam waktu dekat ini. Setelah Fatih dan Shaka menikah.


Alana memang berencana menikah dengan Ardha, saat Askara berusia 1 tahun. Alana juga sudah ingin sekali mengembangkan usahanya yang ia tinggalkan lama. Memang Alana menutup butiknya. Karena ia ingin fokus dengan anaknya. Tadinya dia masih ingin buka, tapi kalau dia harus kembali ke Jakarta,  dia tidak bisa. Jadi, dia memutuskan untuk menutup butiknya, dan mengelola bisnis dengan budhenya, mengurus toko pusat oleh-oleh Yogyakarta.


Satu bulan setelah ulang tahun Askara. Ardha mengajak Alana menghadiri pesta pernikahan Fatih. Itu memang sudah Alana persiapkan meskipun Alana masih berat untuk kembali ke Jakarta. Papa dan mamanya juga terus menyemangati Alana supaya bis move on dari masa lalunya, apalagi sudah memiliki Ardha yang jauh lebih sempurna dari mantan suaminya, yang tak lain kakak kandung Ardha. Dan hari ini, dia bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya dengan membawa Alana dan Askara. Tentu ini menjadi kejutan bagi mereka yang belum tahu soal Alana dan Askara. Alana juga sudah memantapkan hatinya untuk menemui keluarga lainnya yang belum tahu soal Alana, walau rasa takut itu masih bersemayam dalam dirinya. Dia takut bertemu dengan Zhafran, karena takut Zhafran mengambil Askara. Di sisi lain, Alana masih membenci Zhafran karena dia tidak bisa menjadi suami yang tegas pada hatinya sendiri.


"Lan, kamu sudah siap?" tanya Ardha.


"Ini lagi menata baju-baju Askara. Mau selesai kok," jawab Alana. "Kira-kira berapa hari kita di sana?" tanya Alana.


"Kalau satu minggu, bagaimana?" jawab Ardha.


“Boleh, terserah kamu, sih. Aku juga ingin melihat butikku, karena aku mau menutupnya. Aku sudah bilang sama Kak Acha, kalau mau pakai buat buka praktik Kak Riki juga gak apa-apa,  tapi katanya nanti, setelah Kak Acha melahirkan,” ucap Alana


"Kamu sudah siap, mau pulang ke sana?" tanya Ardha.


"Kalau ada kamu yang selalu berada di sampingku, aku mau, dan aku tak pernah takut lagi," jawab Alana.


"Kalau pun bertemu Kak Zhafran?" tanya Ardha.


"Iya, asal kamu berada di dekatku," jawab Alana.


"Itu pasti, Sayang," ucap Ardha.


"Ayo kita sudah ditunggu ibu, budhe, dan Iwan," ajak Alana.


Mereka bersiap untuk berangkat ke Jakarta. Alana sudah mantap dan tidak goyah lagi perasaannya. Empat bulan sebelum pulang ke Jakarta, Alana sedikit demi sedikit berlatih untuk tidak takut pada Zhafran dan berusaha agar tidak membenci Zhafran.


Ardha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia menyalakan musik lagu anak-anak kesukaan Askara. Agar Askara nyaman di perjalanan dan tidak Rewel. Berkali-kali Thalia menghubungi Ardha, menanyakan sudah sampai di mana. Dia benar-benar sudah rindu pada anak laki-lakinya itu.


"Mami, ini dua jam lagi Ardha sampai, apa sudah kumpul semua?" tanya Ardha pada Thalia.


"Sudah, Nak. Semua sudah di sini," jawab Alana.


"Kak Zhafran juga?" tanya Ardha.


"Iyalah, jelas, masa tidak ada Kak Zhafran. Dia bilang sangat merindukanmu,” ucap Thalia.


"Iya mi, tunggu Ardha," ucap Ardha.


Alana mengernyitkan dahinya, saat selesai Ardha menerima telepon dari Thalia. Ardha mengusap kepala Alana dan mencium keningnya. Dari tadi tidak Nadia, tidak Thalia, sama-sama menelefoni Alana dan Ardha.


"Tenang, ada aku, jangan takut. Lagian, semua sudah tahu hubungan kita," ucap Ardha.


"Iya, aku tidak takut, kan ada kamu. Lucu saja, tadi mama telefon aku, sekarang mami?" ucap Alana.


“Namanya juga sudah kangen, Lan?” ucap Ardha.


Setelah perjalanan panjang, mereka sampai di rumah Devan pukul tujuh malam. Sudah rame di sana, semua keluarga sudah berkumpul, meski acara pernikahannya akan di adakan di balroom hotel sesuai keinginan mempelai wanita, tetap saja rumah Devan ramai sanak saudara di sana, semuanya berkumpul di sana.


Nadia dan lainnya sudah menyambut kedatangan Ardha. Ya mereka sudah berada di teras rumah, untuk menyambut kedatangan Ardha, Alana, dan anaknya.


"Ayo turun, Lan," ajak Ardha.

__ADS_1


Alana hanya diam menatap semua orang yang sudah berjejer menanti kedatangan Ardha. Dan pandangannya jatuh ke arah Zhafran.


"Ayo turun," ajak Ardha.


"Ah iya, Ar," ucap Alana dengan gugup.


"Katanya ada aku tidak takut?" ucap Ardha.


"Iya, aku tidak takut, ayo turun," ucap Alana.


"Askara, kita sudah sampai di rumah opa, kamu jangan rewel, ya? Kita di rumah Oma dan opa," ucap Ardha pada Askara dan mencium pipinya yang baru saja bangun tidur.


“Biar aku saja yang menurunkan koper, Bu,” ucap Iwan saat Aninggar akan menurunkan koper.


Ardha turun dulu, dan membukakan pintu Alana, Ardha menggendong Askara dulu, dan turunlah Alana. Alana mengambil alih Askara dari gendongan Ardha.


"Alana!" ucap Zhafran dan Binka bersama.


“Kenapa kaget ada Alana juga? Dia putriku, dia Ayleenku, Zhafran!” ucap Devan.


“Jadi Alana?” ucapan Zahfran tercekat.


“Iya dia putri kami, Fran,” cetus Nadia.


“Kami sudah tahu Ardha dengan Alana, dan kami juga sudah menemui Alana dua kali, maafkan mami, tidak memberitahukan kamu,” ucap Thalia.


“Aku juga sudah dua kali ketemu Bunda,” ucap Nina.


“Jadi waktu mami dan papi ke Jogja, mami ke sana menemui Alana?” tanya Zhafran.


Ardha menggenggam tangan Alana, mereka berjalan bersisian. Askara minta digendong Ardha lagi, entah kenapa dia begitu lengket sama Ardha akhir-akhir ini, seakan tidak mau jauh-jauh dari Ardha.


"Papa ... mama ..." Alana memeluk Devan dan Nadia bergantian.


“Bagaimana perjalanan kalian?” tanya Devan.


“Ya cukup melelahkan,” jawab Alana.


“Ih calon pengantin ....” Alana memeluk Fatih, lalu Shaka secara bergantian.


“Mi, Pi.” Ardha memeluk mami dan papinya bergantian.


“Ayo sama opa?” ajak Arkan. Tapi Askara menepiskan tangan Arkan. “Kok gak mau?”


“Biasa kalau bangun tidur Askara begini, Pi,” ucap Ardha.


“Ar?”


“Kak Zhafran.” Ardha memeluk kakak laki-lakinya. Zhafran melihat Askara dengan tatapan sendu, ia mengusap pipi Askara, lalu menciumnya.


“Anakmu, Kak,” ucap Ardha.


“Boleh aku gendong?” pinta Zhafran.


“Tanya sama bundanya dulu, Kak,” jawab Ardha.

__ADS_1


“Iya, tidak apa-apa,” jawab Alana.


Zhafran mencoba menggendong Askara, tapi Askara tidak mau, dia malah menangis, dan memeluk erat Ardha.


“Kok nangis? Itu papa lho?” ucap Ardha.


Askara semakin menjerit-jerit di gendongan Ardha. Ia masih belum mau dengan siapa-siapa, hanya mau dengan dirinya saja, bahkan Alana mengajak saja Askara tidak.


“Ya sudah sama ayah saja. Ayo mainan yuk sama Kak Nina. Kamu pasti kangen Kak Nina, kan?” ucap Ardha.


Zhafran tidak menyangka Ardha sudah mengajari Askara memanggilnya ayah. Dada Zhafran merasa sesak, melihat anaknya laki-laki yang sangat dekat dengan Ardha, ditambah Ardha sudah mengajari Askara untuk memanggil ayah. Dia benar-benar merasa berdosa sekali, melihat Askara yang sudah besar, dan memanggil Ardha dengan sebutan Ayah.


Zhalina mencoba menyapa Askara lagi, dia mencoba merayu Askara lagi karena dia gemas melihat keponakannya yang lucu, dan ingin sekali menggendongnya


"Ayo dong sama tante? Masa gak mau?” rayu Zhalina pada Askara. Askara hanya melihat saja, memerhatikan Zhalina yang terus menggodanya, terus merayunya supaya mau ikut dengannya.


“Alana ....” Zhalina memeluk Alana, setelah Alana selesai kangen-kangenan sama keluarganya.


“Kak Lina, maaf saat kakak menikah aku tidak datang,” ucap Alana.


“Tidak masalah, aku senang kamu pulang, akhirnya aku mau dapat adik ipar,” ucap Zhalina.


“Doakan secepatnya ya, Kak. Setelah Kak Shaka menikah kami akan menikah,” ucap Ardha.


“Sudah mantap nih?”


“Sudah dong, nanti kalau kelamaan diambil orang lagi, Kak,” jawab Ardha.


“Judulnya kutunggu jandamu ya, Ar?” ledek Shaka.


“Kamu bisa saja kak?”


“Ayo sama pakdemu yang tampan, pasti kamu mau,” ajak Shaka pada Askara.


Benar Askara langsung mau dengan Shaka. Dari tadi diajak orang-orang menolak, diajak bundanya pun menolak, tapi dengan Shaka langsung mau.


“Ayo mainan sama pakde, yuk Kak Nina, main sama adiknya,” ajak Shaka pada Nina juga.


“Kok Askara mirip kamu, Ar?” tanya Zhalina.


“Ya gak tahu, kata papi juga mirip sama aku waktu bayi. Aku mah lihat dia perpaduan Alana dengan Kak Zhafran,” jawab Ardha.


“Gak apa-apa juga mirip kamu, kamu kan mau jadi ayah sambungnya?” ujar Fatih.


Mereka kumpul bersama, menikmati makan malam bersama. Askara masih saja duduk di pangkuan Shaka. Hingga Shaka makan dengan memangku keponakannya. Raut kebahagian terlihat pada semua yang berkumpu, tapi tidak untuk Zhafran dan Binka. Dari tadi Binka hanya diam, memandang  mertuanya bahagia mendapatkan cucu laki-laki dari Alana.


"Harusnya aku tidak kembali ke sini, hanya Zhafran yang masih mau menerimaku, hanya dia, bahkan anakku, dia tidak mau denganku lagi, tapi dia begitu menyayangi Alana. Iya, harusnya aku tidak di sini." Binka terus merutuki dirinya sendiri.


Zhafran tahu, hati istrinya gelisah, dia memegang tangan Binka dan menatap Binka agar kuat mengahadapi ini semua.


"Sayang, kamu mau ini? Ini kesukaanmu, kan?" Zhafran menawari ikan patin asam manis kesuakaan Binka.


"Iya nanti aku makan, Zhafran," ucap Binka dengan tersenyum.


Semua tahu, perasaan Binka seperti apa, tapi mereka tidak medulikannya, karena itu semua juga karena ulah dirinya. Dan setelah Zhafran menikah dengan Binka lagi, kedekatan dengan papi dan maminya merenggang, juga dengan adik perempuannya. Tidak seperti dulu, waktu pertama menikah dengan Binka dan saat menikah dengan Alana.

__ADS_1


Zhafran tahu, jika kepercayaan yang sudah di sia-siakan, pasti sakitnya akan membekas. Seperti keluarga besar Zhafran saat ini. Dia sudah tidak percaya lagi apa yang Binka katakan. Dan, semenjak itu, Binka dan Zhafran jarang ke rumah orang tuanya kalau tidak ada hal yang penting sekali.


__ADS_2