Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Senyum Kemenangan


__ADS_3

Tiga hari Alana dan Zhafran bulan madu di Vila milik Devan. Zhafran sebetulnya masih ingin di sana sampai seminggu, tapi Alana sudah ingin pulang dengan alasan dia kangen sekali pada Nina. Padahal Alana tidak mau Zhafran bertemu lagi dengan Binka di sana, karena Binka dan Alex masih di sana. Apalagi Binka sepertinya penasaran dengan Zhafran yang tiba-tiba menikahi Alana, dan seleranya sangat rendahan menurut Binka.


Tidak sekali dua kali, sejak bertemu dengan Alana di tepi pantai, Binka selalu menemui Zhafran, kalau melihat Zhafran dan Alana sedang santai menikmati indahnya pantai.


“Yakin ini mau pulang?” tanya Zhafran.


“Iya, aku kangen sama Nina,” jawab Alana dengan sibuk mengemasi bajunya.


“Bukan karena Binka?” tanya Zhafran.


“Pertanyaan yang tidak butuh jawaban, Mas,” jawab Alana.


Zhafran tahu Alana masih kecewa dengan penuturan dirinya, tapi memang itu kenyataannya. Zhafran tidak mau menutupinya. Zhafran menuruti Alana yang sudah ingin pulang, padahal Zhafran masih ingin di Vila, ya itu juga karena ada Binka di sana. Tapi, ia menghargai Alana sebagai istrinya.


"Bunda!" Nina berlari ke arah Alana yang baru saja pulang dari bulan madu yang sedikit mengecewakan.


"Hai, bunda kangen sekali sama kamu, Nak." Alana menggendong Nina dan menciumi pipi Nina.


"Bunda, 3 hari Nina rindu bunda, ingin sekaki makan sayur sop buatan bunda, sama udang cispy buatan bunda," ucap Nina.


"Oke, nanti bunda buatkan, mana Tante Lina?" tanya Alana.


"Di dalam," jawab Nina.


Thalia keluar dari dalam melihat Zhafran dan Alana sudah pulang. Thalia baru saja selesai membuatkan cupcake untuk Nina.


"Alana, Zhafran, sudah pulang kalian?" Thalia mencium pipi menantunya dengan sayang.


"Sudah, Mah. Aku sudah kangen sekali dengan Nina," jawab Alana.


Padahal dirinya sudah tidak mau di sana, karena Binka masih berada di sana bersama Alex. Dan yang membuat Alana sedikit kecewa adalah, Binka yang terlihat penasaran dengan pernikahan Alana dan Zhafran. Bukan malah menanyakan kabar Nina, malah Binka penasaran sekali mengapa Zhafran meikahi Alana.


"Sayang, aku ke kamar dulu," pamit Zhafran.


"Ah, iya," jawab Alana.

__ADS_1


Thalia mengerti sepertinya mereka berdua ada sedikit masalah, entah itu masalah apa. Thalia tidak berani menanyakan pada Alana.


Zhafran sudah berada di kamarnya. Kamar yang dahulu ia pakai saat dia masih muda. Semua barang-barang milik dia dahulu masih tersimpan rapi sekali di lemari kecil. Dia membuka lemari kecil itu, dia melihat album photo yang menampakan photo dia bersama Binka dulu. Entah Kenapa hati Zhafran benar-benar goyah saat ini. Dia mengingat kembali cerita bersa Binka.


"Binka, aku masih sangat mencintaimu, tapi hati ini sudah terlanjur sakit karena kamu berkhianat," gumam Zhafran sambil melihat foto-foto dirinya bersama Binka.


Zhafran merebahkan dirinya di tempat tidur. Zhafran mamandangi langit-langit kamar dengan berbantal kedua tangannya. Mata Zhafran sayup-sayup, dan akhirnya memejamkan matanya. Zhafran sebenarnya ingin sekali melupakan cintanya pada Binka. Tapi, bayang-bayang masa lalu yang indah masih ia rasakan saat bersama Binka.


Alana masuk ke dalam kamar Zhafran. Dia perlahan menutup kembali pintunya karena melihat Zhafran yang sudah tertidur pulas. Alana melihat album Photo yang ada di samping Zhafran. Dia membukanya dan melihat satu persatu foto-foto Zhafran dengan mantan istrinya itu. Mantan istri yang masih sangat di cintainya.


Air mata Alana seketika luruh melihat semua gambar yang ada di dalam album photo itu.


"Aku tahu kamu masih sangat mencintainya, Mas. Tapi, tolong, hargai aku sebagai istrimu. Ya, aku benar-benar menjadi boneka dia. Oke, jika kamu anggap aku boneka pelampiasan hasratmu saja, aku terima, Mas. Dan jangan salahkan aku, kalau aku juga akan berbuat semauku," gumam Alana.


Hari sudah malam, Zhafran dan Alana pulang ke rumahnya sendiri. Mereka saling diam di dalam mobil, karena Nina juga sudah tidur dan berada di pangkuan Alana.


Alana tidak memulai percakapannya. Padahal dia yang selalu membuka percakapan saat masih bersama. Kali ini Alana sudah benar-benar tidak peduli dengan sikap Zhafran yang berubah karena bertemu sang mantan.


Mereka sampai di rumah. Alana menggendong Nina masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkan Nina dan mencium kening Nina. Zhafran segera membuka laptopnya, karena sudah 3 hari ia meninggalkan kantor, banyak email yang masuk dan harus segera di buka.


"Kopinya, Mas," ucap Alana.


"Iya, Terima kasih, Alana," jawab Zhafran.


Tanpa menjawab lagi Alana keluar. Dia juga sibuk dengan pekerjaannya. Laporan pekerjaan yang ia tinggalkan selama 3 hari, dan beberapa laporan pemesnan baju dari asisten pribadinya. Alana mencoba melupakan semua dan sedikit demi sedikit mengerjakan laporannya dengan kepala yang di penuhi rasa kecewa pada suaminya.


"Malam ini aku akan mulai biasa saja pada Mas Zhafran. Buat apa aku lelah-lelah mengurusi dia tapi dia hanya setengah hati mencintaiku? Sial sekali hidupku bertemu orang yang setengah hati mencintaiku, dan setengahnya untuk mantan. Apa aku harus mengemis cinta padanya? Oh, tidak! Ya aku mencintainya, tapi aku tak merendahkan diriku di hadapan Mas Zhafran, karena mengharap cintanya," gumam Alana.


Alana masih berkutat dengan pekerjaannya. Dia tidak peduli malam ini, entah nanti Zhafran meminta untuk melayaninya tau tidak, dia tak peduli.


"Jika dia memintanya, aku akan layani dia sebaik mungkin, karena dia suamiku, jika tidak, ya sudah. Aku juga punya hak untuk bahagaia walaupun tanpa cinta darimu, dan tanpa merebut kebahagiaan orang lain," gumam Alana.


Alana mendengar ponselnya berdering, nomor baru masuk ke dalam ponsel Alana. Ya, nomor itu meneleponnya, tapi Alana tak mengangkatnya. Nomor itu berkali-kaki meneleponnya, akhirnya dia mengangkat telepon itu.


"Hallo, dengan siapa ini?" tanya Alana dengan suara yang ramah.

__ADS_1


"Hallo, nyonya Zhafran, apa kabar?" tanya seseorang dari balik telepon Alana.


"Ehm ... maaf ini siapa?" tanya Alana.


“Rupanya kamu belum tahu siapa aku? Mamanya Nina,” jawab wanita yang ada di sana.


“Oh Mbak Binka? Ada apa?” jawabnya dengan santai. Alana sangat terkejut mendapat telepon dari Binka.


"Ya, ini Binka, duh yang sudah jadi nyonya Zhafran, selamat deh, tidak menyangka Zhafran seleranya hanya seorang pelayan Cafe!" ketus Binka dengan sedikir menyindir Alana.


"Ada apa malam-malam seperti ini mbak meneleponku?" tanya Alana.


"Mengganggu, kah?" tanya Binka dengan nada yang sedikit sombong.


"Ya ini kan waktunya istirahat, Mbak?" ucap Alana.


"Oh iya lupa, pengantin baru masih anget-angetnya, ya nancep terus. Ah nanti juga bakalan ngalamin Zhafran bosan dengan kamu, apalagi kamu bukan tipenya," ucap Binka yang membuat dada Alana sesak.


"Maaf itu adalah urusan pribadiku dan suamiku! Kalau tidak ada keperluan lagi, mending tutup teleponmu!" tukas Alana dengan suara sedikit tinggi.


Alana masih geram dengan Binka yang masih saja mengoceh di balik teleponnya, hingga dia tidak sadar Zhafran menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Seperti biasa dia manja dengan Alana, dan lansgsung menciumi pipi Alana, tak peduli Alana sedang menelepon. Dan dia mengira, Alana sedang bicara dengan pelanggan butiknya seperti biasa.


"Sayang, sudah malam, tidurlah, jangan bekerja terus. Kamu masih marah? Maafkan aku, love You." Zhafran memeluk Alana dan menciumi pipi Alana hingga kecupan itu terdengar nyaring di telepon Binka.


Binka sejenak terdiam mendengar mantan suaminya itu berbicara lembut sekali dengan Alana, apalagi dia mendengar kecupan Zhafran saat mencium Alana, begitu jelas sekali di telinga Binka.


Senyum kemenangan Alana terpancar dari wajahnya, dia sengaja meletakan ponselnya yang masih aktif panggilannya dengan Binka di meja.


"Sebentar Sayang, aku tadi kan masih menelepon pelanggan butikku," ucap Alana.


"Sudah di matikan?" tanya Zhafran.


"Sudah, mau apa? Kamu itu, tadi cuek, ini manja sekali, sini peluk." Alana memeluk dan mencium Zhafran.


Alana tak mempedulikan ucapan cinta dari Zhafran tadi. Karena dia hanya menganggap itu hanya drama saja, biar mendapat jatah malam ini.

__ADS_1


Zhafran langsung menyambar bibir manis Alana, dia menciumnya dan kecapan mereka terdengar di setiap sudut ruangan. Hingga Binka mendengar apa yang mereka lakukan di meja kerja Alana.


__ADS_2