Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Menuruti Kemauan Alana


__ADS_3

Alana merasakan malam ini dimanja oleh Ardha. Ya, dia berani seperti itu, karena Ardha masih paman dari anak yang ia kandung itu. Alana turun dari mobilnya. Ardha menggandeng tangan Alana menuju ke taman hiburan dan pasar malam untuk mencari permen kapas atau harum manis.


Mata Alana langsung berbinar, ia bahagia melihat warna-warni permen kapas tergantung. Alana juga sudah lama sekali dia tidak melihat keindahan malam. Ya, memang selama hampir enam bulan di Jogja Alana tidak ke mana-mana, hanya keluar rumah ke toko milik budhenya atau ke klinik untuk check-up kandungannya.


"Ardha, ayo ke sana?" ajak Alana ke tempat penjual permen kapas.


"Iya, kita ke sana, jangan cepat-cepat jalannya. Ingat, kamu sedang hamil," ucap Ardha memperingatkan Alana.


"Iya, Ardha, kamu cerewet sekali dari tadi," ucap Alana.


"Karena kamu seperti itu, bandel di bilangin," ujar Ardha.


Alana menarik tangan Ardha agar cepat berjalan menuju ke penjual permen kapas. Alana menyilangkan tangannya pada tangan Ardha. Ardha merasa bahagia malam ini Alana bermanja dengannya. Alana meminta dua permen kapas, tapi Ardha melarangnya. Alana menekuk wajahnya dan merajuk pada Ardha. Dengan terpaksa Ardha membelikan dua permen kapas untuk Alana.


"Ardha, ke sana yuk?" ajak Alana lagi.


"Ke mana?" tanya Ardha.


"Ke sana, Ardha." Alana menunjukan kearah permainan yang tidak jauh dari penjual permen kapas.


Permainan memanah yang jika bisa memanah di titik fokus akan mendapatkan hadiah utama, berupa boneka beruang yang besar.


"Main itu, Ardha. Biar dapat boneka yang gede itu," pinta Alana.


Kening Ardha mengernyit, mendengar permintaan Alana. "Main itu? Harus dapat gitu? Kalau tidak dapat?" tanya Ardha.


"Harus dapat, aku mau boneka itu," ucap Alana dengan manja.


"Hmm ... Oke," jawab Ardha.


Ardha terpaksa menuruti Alana malam ini, padahal dia sama sekali tidak bisa memanah. Namun, apalah daya, demi Alana, wanita yang ia cintai, dia rela melakukan apa saja.


"Ayo, Ardha, cepat arahkan busur panahnya," pinta Alana dengan antusias.


Ardha mengarahkan busurnya, dia gagal menancapkan anak panah di titik tengah.


"Yah, gagal ... Lagi dong, Ar?" pinta Alana.


"Oke, aku coba dua kali lagi, kalau tidak bisa, kita pulang, cari toko boneka dan aku akan membelikan boneka seperti itu, terserah kamu mau minta berapa aku akan belikan," ucpa Ardha.


"Aku tidak mau, And. Aku maunya itu," pinta Alana setengah merajuk manja.

__ADS_1


"Oke, akan aku usahakan," ucap Ardha.


"Ayo mas, semangat, itu yang minta calon anaknya lho, bukan ibunya. Masa ayahnya gak mau berusaha," ucap salah seorang yang melihat Ardha dan Alana.


"Tuh, dengar, ini anakku lho yang minta," ucap Alana.


"Oke," ucap Ardha sambil mengusap kepala Alana.


Ardha mencoba menarik busur panahanya. Dan, Ardha gagal lagi. Alana dengan raut wajah kecewa memandangi Ardha.


"Cium aku, kalau ingin anak panah ini berada di titik tengah," titah Ardha pada Alana.


"Ardha, apaan sih," ucap Alana.


"Ya sudah, kalau tidak mau, jangan salahkan aku kalau anak panah ini jatuh di luar titik tengah," ucap Ardha.


"Gak lucu, ah," tukas Alana.


"Ya sudah, kalau tidak mau, jangan salahkan aku, dan jangan ngambek," ucap Ardha sambil bersiap-sipa menarik busur panahnya.


"Cup ...." Alana mencium pipi Ardha dan tersenyum manis di depan Ardha.


"Semangat demi anakku, kalau gagal lagi, aku mau kamu terus melakukannya hingga berhasil," ucap Alana.


"Yeay ... Dapat!" Alana kegirangan Ardha bisa mendapat hadiah boneka beruang yang besar itu.


Alana dengan reflek memeluk Ardha dan mencium pipi Andi lagi.


"Ehm ... maaf, Ar," ucap Alana.


"Iya, tidak apa-apa, aku tahu, ini semua karana si utun yang ada di perut kama," ucap Ardha.


Ardha mengambil boneka hadiah utamanya itu, dan memberikan pada Alana. Senyum bahagia terlukis indah di wajah Alana saat ini. Ardha melihat Alana sangat bahagia sekali. Ardha merangkul pinggang Alana dan berjalan pergi menjauh dari tempat permainan yang menurut Ardha sedikit konyol itu. Ya, dia sama sekali tidak bisa memanah, dan akhirnya dia bisa karena Alana.


"Sudah, kita mau ke mana lagi?"tanya Ardha.


"Pulang," jawab Alana.


"Tidak jadi makan rendang di Rumah Makan Padang itu? Lalu serabi solo? Tidak jadi juga?" tanya Ardha.


"Emm ... Tidak, aku ingin ke angkringan Pendopo Lawas saja" pinta Alana.

__ADS_1


"Astaga Alana ...  untuk ke sana jauh lho. Ini sudah malam, kamu sedang hamil," ujar Ardha.


"Tuh, kan?" Alana merajuk lagi dan berjalan mendahului Ardha.


"Iya, iya, kita ke sana," ucap Ardha menyerah, karena Alana marah.


Ardha meraih tangan Alana dan menggandengnya menuju mobil. Sesekali dia mengusap kepala Alana dengam sayang. Entah mengapa Alana nyaman dengan perlakuan Ardha yang seperti itu. Malah dia semakin manja dengan Ardha.


Suara dering ponsel Alana terdengar dari tas Alana. Dia melihat nama Iwan tertera memanggil Alana pada ponselnya. Alana memgangkatnya, dan terdengar Iwan sangat khawatir soalnya dari tadi menelepon Ardha atau Alana tidak ada jawaban.


"Ya Ampun, Lan ... kamu kemana saja? Dari tadi aku telepon kamu dan Ardha tidak ada jawaban terus, ini ibu tanya dari tadi. Ini sudah jam sembilan lebih Lan? Masa kamu masih di klinik sampai jam segini?" ucap Iwan dari balik ponsel Alana.


"Aku di taman hiburan, Wan. Yang dekat dengan klinik. Aku ingin makan permen kapas, jadi mampir ke sini," jawab Alana.


"Lan, ini sudah malam, kamu sedang hamil lho, pulanglah, budhemu sangat khawatir," ucap Iwan.


"Tapi aku ingin ke angkringan Pendopo Lawas, Wan," ucap Alana.


"Ini sudah jam sembilan lebih, Sayang. Besok lagi ke sananya, ya? Kamu sedang hamil, Lan," ucap Iwan.


"Gak mau, aku mau ke sana sekarang, malam ini." Alana berkata sambil menangis karena tidak di izinkan Iwan. Ardha merebut ponsel Alana dan berbicara pada Iwan.


"Wan, bagaimana ini? Aku sudah menolaknhya, tapi dia seperti itu, malah ngambek, jalannya setengah lari, kan aku takut sendiri. Terus tadi kamu tahu tidak, tadi dia minta aku bermain panahan biar bisa menaruh busur panahnya ke titik tengah. Itu hanya karena dia ingin dapat boneka beruang Segede orang, Wan. Aku sampai berulang kali memanah biar dapat boneka beruang Segede orang." Ardha menjelaskan pada Iwan soal Alana.


"Ya sudah, kamu turuti saja sebentar, kamu hati-hati. Aneh saja sama kamu jadi minta aneh-aneh dia. Pakai acara ngambek sama nangis lagi," ucap Iwan dengan nada kesal.


"Oke, aku ajak Alana ke sana, mungkin ini semua bawaan bayi yang ada di perut Alana," ucap Ardha.


"Ya mungkin saja, ya sudah kalian hati-hati." Iwan menutup teleponnya.


Ardha memberikan ponsel Alana. Dia melihat wajah Alana yang masih merengut. Ardha menghadapkan tubuh Alana agar menghadap dirinya. Ardha memegang bahu Alana, dan melihat wajah Alana dengan tatapan lembut.


"Jangan ngambek, iya kita ke angkringan sana, memang mau apa sih ke sana?" ucap Ardha.


"Yakin?" ucap Alana dengan lembut dan Manja.


"Iya, sudah jangan menangis." Ardha menyeka air mata Alana yang sudah membasahi pipinya.


“Aku pengin menikmati malam di sana, sambil lihat live musik, kan biasanya ada,” ucap Alana.


“Iya sudah kita ke sana.”

__ADS_1


Ardha dan Alana masuk ke dalam mobil. Ardha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat yang Alana inginkan.


__ADS_2