
Zhafran dan Alana sudah menyelesaikan makan malamnya. Nina malam ini tidur di rumah opanya. Tadi siang Arkan dan Thalia menjemput Nina ke butik Tita, karena Nina ikut kerja Alana di butik. Mereka ingin mengajak Nina ke taman rekreasi, dan dengan sorak gembira Nina ikut dengan Opa dan Omanya. Zhafran duduk di sofa yang ada di ruang keluarga sambil menikmati kopi yang di buatkan Alana.
Zhafran baru kali ini, di manjakan seorang istri, pulang kerja sudah melihat makan malam tertata rapi di meja makan. Di sambut dengan istrinya yang cantik, dan tentunya semua kebutuhan Zhafran, Alana yang menyiapkan, begitu setiap hari yang di lakukan Alana selama 3 Minggu menikah.
Alana masih sibuk dengan pekerjaannya yang belum ia cek dari kemarin. Sekarang ada Nina, jadi setelah dari butik, Alana fokus dengan Nina, mulai dari menyuapi, bermain, dan mengajak Nina belajar. Dan, malam ini di harus menyelesaikan semua pekerjaannya yang terbengkalai, beruntung Tita tidak mempermasalahkannya.
Zhafran mendekati Alana yang sibuk di meja kerjanya. Dia terlihat begitu serius dengan laporannya itu. Zhafran memeluk Alana dari belakang dan mencium pipinya.
"Masih lama?" tanya Zhafran.
"Iya sedikit lagi, Mas? Kenapa?" jawab Alana.
"Emm ... tidak apa-apa, ya sudah lanjutkan," ucap Zhafran dengan berat.
Alana hanya tersenyum melihat wajah Zhafran yang sepertinya menginginkan sesuatu. Alana tahu, Zhafran menginginkan apa darinya. Alana menyudahi bekerjanya. Dia mematikan laptopnya, menutup bukunya, dan mengemasi semua yang berhubungan dengan pekerjaannya itu.
"Kenapa sudah? Katanya masih lama?" tanya Zhafran.
"Sudah, selesai," jawab Alana.
Alana mendekati suaminya yang sudah duduk kembali di sofa yang tidak jauh dari meja kerja Alana. Dia duduk di samping suaminya, dan merebahkan dirinya di pangkuan Zhafran.
"Ini Quality time buat kita, aku tidak mau menyia-nyiakannya, Mas. Bukankah mas menginginkan hal baru, misal di sofa, di meja makan, atau di dapur?" ucap Alana sambil menyentuh pipi suaminya dengan lembut dan menggoda.
"Kamu bisa saja. Aku kan sudah bilang tadi pagi, aku ingin mencoba hal baru denganmu, makanya, aku menyuruh mamah dan papah menjemput Nina, dan mungkin Nina di sana sampai tiga hari," ucap Zhafran.
"Hmm ... Jadi ini ide kamu? Pantas aku pegang kerjaan kamu cemberut," ucap Alana.
"Iya lah cemberut, kamu tahu? Aku sudah menahannya dan membayangkannya sampai aku gak konsentrasi bekerja," ucap Zhafran.
“Ih masa sampai segitunya?”
“Kamu terlalu menggodaku, Sayang?”
“Ih aku gak godain kamu lho?”
Zhafran mencubit pipi Alana dengan gemas. Ia ingin sekali malam ini Alana bebas memakai baju seksi di depannya, mumpung tidak ada Nina di rumah, jadi ia ingin Alana memakai baju seksi yang ia belikan tadi.
“Lan, aku punya sesuatu untuk kamu,” ucap Zhafran.
“Sesuatu apa?”
“Sebentar aku ambilkan.” Zhafran menuju garasi mobil, karena baju seksi yang ia beli masih ada di dalam mobil.
“Kok ke garasi?” tanya Alana.
“Barangnya aku masih taruh di mobil,” jawab Zhafran.
Alana mengekori suaminya, ia penasaran apa yang akan diberikan suaminya. Perhiasankah? Bunga, atu mungkin gaun? Alana sangat penasaran.
__ADS_1
“Ini untuk kamu.” Zhafran memberikan paperbag warna putih pada Alana.
“Ini apa?”
“Buka saja, dan aku kamu memakainya malam ini.” Jawaban Zhafran membuat Alana makin penasaran, ia tahu pasti membelikan baju seksi lagi, karena yang kemarin sudah tidak bisa dipakai lagi. Zhafran terlalu ganas di atas ranjang, dan baju seksi Alana sobek semua.
Dengan cepat Alana membuka paperbag itu, dan dengan senyum menggoda Alana mengambil baju seksi itu. “Sudah saya duga,” kekehnya. “Oke aku pakai, kamu tunggu di meja makan!” ucap Alana dengan berlalu.
“Eh kok di meja makan?”
“Mas mau mencoba di situ, kan?” tantang Alana.
“Yakin kamu mau?”
“Ya kalau mas mau, apa salahnya aku coba, toh yang minta suamiku, bukan pria lain? Sudah kewajibanku, kan?” jawab Alana.
Alana padahal masih sedikit takut, Zhafran akan main agak kasar sepeti semalam, sampai dia tidak bisa mengimbangi permainan Zhafran karena sudah terlalu lelah, dan terlalu sakit bagian intinya.
“Alana, kamu pasti bisa, kamu jangan mengecewakan suamimu. Biar dia tahu, kamu juga bisa seperti Binka! Ya aku tahu kamu masih sangat mencintai Binka, hingga kamu perlakukan aku seperti itu, dan membanding-bandingkan aku dengan Binka. Tapi, aku yakin, aku bisa mengambil seluruh cintamu, dan tidak akan tersisa untuk Binka!” gumam Alana.
Zhafran melongo melihat Alana berjalan mendekatinya bak model pakaian seksi. Ia berjalan berlenggok seksi dan mendekati suaminya. Ia duduk di pangkuan Zhafran, menyentuh pipi Zhafran, dan menggodanya. Zhafran tidak menyangka Alana bisa seperti ini, merayu Zahfran hingga Zhafran tidak berkutik karena sentuhan Alana semakin membuatnya bergairah.
Zhafran menggendong Alana ke arah meja makan. Mereka menghabiskan malam bersama, dan berpindah-pindah posisi, juga tempat bercinta. Alana berusaha mencoba menuruti apa yang Zhafran mau, walaupun sedikit berat, karena sudah lelah. Alana semakin yakin Zhafran adalah pria hiper seksualitas, jadi ia pandai bervariasi dalam bercinta, Alana hanya menurutinya saja. Malam ini, Alana juga puas dengan permainannya bersama Zhafran.
Zhafran menyibakan selimutnya, dan memulai lagi permainan di ranjang bersama istrinya. Berulang kali mereka melakukan itu. Entah kenapa Zhafran merasa nyaman sekali bercinta dengan Alana. Karena Alana pandai mengimbangi apa yang Zhafran inginkan.
"Lan ...," panggil Zhafran dengan lembut setelah melakukannya.
"Apa kamu nyaman melakukan ini dengan aku? Apa kamu puas?" tanya Zhafran.
Alana tersenyum dan membelai pipi suaminya. Dia mencium kilas bibir Zhafran dan menatap Zhafran dengan kasih sayang.
"Aku nyaman sekali, kalau tidak puas, aku tidak akan sampai berkali-kali, Sayang," ucap Alana.
"Terima kasih, Sayang. Kalau kamu tidak nyaman, bicaralah, biar aku bisa membuat kamu nyaman," ucap Zhafran.
"Iya, sayang. Aku lelah, aku ingin tidur," ucap Alana.
Alana memang kelelahan, dia melakukan bersama suaminya berkali-kali. Zhafran memang menginginkannya lagi dan lagi. Dan, Alana tak menolaknya.
"Tidurlah, aku akan memelukmu." Zhafran mengeratkan pelukannya pada Alana.Alana begitu nyaman tidur di pelukan Zhafran.
Zhafran mengusap kepala Alana, membelainya dengan lembut dan mencium kepala Alana. Alana terlihat sudah terlelap di pelukan Zhafran. Zhafran semakin mengeratkan pelukannya.
"Mungkin cinta ini belum seutuhnya untuk kamu, Lan. Tapi raga ini milikmu selamanya," gumam Zhafran.
Pagi harinya, Alana di kejutkan dengan tangan Zhafran yang memegangi bagian tubuhnya yang sangat sensitif itu ketika di sentuh dengan lembut. Sentuhan lembut terasa di sekitar dada Alana, membuat Alana menggeliat dan meleguh manja.
"Hmmp ... mau lagi?" tanya Alana.
__ADS_1
"Iya, aku ambil cuti hari ini, kamu juga jangan ke butik, kita akan pergi ke suatu tempat nanti," ucap Zhafran.
"Pekerjaanku banyak mas? Aku gak enak sama Tante Tita," ucap Alana
"Pekerjaanku juga banyak, Sayang. Tapi, kita butuh Quality Time bersama, sayang. Sehari saja, please ... aku sudah bilang juga sama Tante Tita, dia paham," pinta Zhafran.
"Oke. Ya sudah aku siapkan sarapan kamu dulu," ucap Alana.
"Eitss ... kamu jangan meninggalkan singa yang sudah terbangun dari tadi, ya. Lihatlah." Zhafran menunjukan milik dirinya yang sudah mengeras sempurna.
"Ih, mau lagi?” tanya Alana.
“Iya dong, ayo ke atas.” Zhafran menaikkan tubuh Alana di atasnya, dan pagi ini Alana yang memegang kendali di atas ranjang,
Alana menurutinya. Alana menggerakkan tubuhnya mengimbangi gerakan Zhafran yang ada di bawahnya. Zhafran meraskaan cengkraman dari milik Alana yang sungguh menggugah gairahnya di pagi hari.
"Kamu nyaman, sayang?" tanya Alana.
"Sangat nyaman, kamu? Dengan posisi ini nyaman?" tanya Zhafran dengan napas yang terengah-engah.
"Sangat nyaman, sayang.” Alana menjawabnya dengan sedikit laguhan yang lolos dari bibir manisnya.
"Lebih cepat, sayang," pinta Zhafran.
Alana menggerakan tubuhnya di atas Zhafran lebih cepat sesuai apa yang Zhafran minta. Zhafran juga semakin menghentakkan di setiap gerakannya itu, hingga Alana memekik lirih. Erangan Zhafran semakin terdengar nyaring di dalam kamar. Mereka kembali melepasakan hasratnya bersama di pagi ini.
Alana masih berada di atas tubuh Zhafran, dengan napas yang belum beraturan. Zhafran mengusap punggung Alana dengan lembut, yang basah dengan keringatnya
"Terima kasih untuk pagi ini, sayang," ucap Zhafran.
"Sama-sama, sayang," jawab Alana sambil menggeser tubuhnya yang hendak beranjak dari atas tubuh Zhafran.
"Jangan, tetap di sini, biar lepas sendiri, jangan di lepas. Aku masih ingin di cengkram kamu, Sayang. Kamu semakin pintar," ucap Zhafran.
"Kan sudah diprivat kamu, Sayang?" ucap Alana dengan manja.
“Sekarang nakal, ya?” ucap Zhafran dengan menarik hidung Alana.
"Nakal dengan suami sendiri boleh, kan?"
"Iya, iya, gak apa-apa, asal jangan nakal dengan suami orang saja," ucap Zhafran.
Zhafran dan Alana kembali melakukannya lagi berkali-kali di pagi ini. Mereka selesai melakukan ritualnya hingga pukul delapan pagi. Ini adalah pertama kalinya Alana keluar dari kamar siang sekali. Paling siang, dia keluar kamar jam 7 pagi. Ini sudah jam 8 pagi, Alana baru saja keluar dari kamar dan bergelut dengan dapur untuk memasak sarapan.
Zhafran memandangi istrinya yang dengan lincah bergulat dengan wajan dan spatula di pagi ini. Alana membuat capcay dan ayam goreng untuk sarapan pagi. Zhafran mendekati Alana dan ikut memotong sayuran.
"Kamu bisa?" tanya Alana.
"Bisa dong, kan sudah di ajari kamu," jawab Zhafran.
__ADS_1
Baru kali ini Zhafran memasak di dapur dengan istrinya, dan itu begitu menyenangkan baginya. Memang selama dia menikah dengan Binka, dia tidak pernah melihat Binka di dapur. Masakan yang ia makan setiap hari adalah masakan Mba Iyem. Dan, sekarang, Mba Iyem tidak bekerja lagi di rumah Zhafran karena dia ingin pulang ke kampung halamannya. Begitu juga dengan Baby sitter Nina, dia juga sudah berhenti bekerja karena Alana ingin merawat sendiri Nina tanpa baby sitter. Dan, mereka sudah keluar kerja sejak Zhafran menjadi duda, dan pindah rumah.