
Nadia masih menatap lekat foto bayi perempuan yang selama bertahun-tahun ia cari. Ia tidak bisa melupakan kejadian nahas yang terjadi dua puluh tahun yang lalu. Nadia masih belum bisa menghapus jejak memory itu, yang terus menghantui dirinya setiap hari. Anak perempuan satu-satunya yang lahir dari rahimnya belum juga diketahui kabarnya. Apa dia meninggal, atau ditolong orang saat jatuh ke dalam jurang.
“Ma ... sudah jangan seperti ini, papa juga merasa sangat kehilangan Ayleen, Ma. Baru beberapa bulan papa bahagia memiliki anak perempuan lagi, tapi Tuhan malah memintanya, Tuhan lebih sayang Ayleen, Ma.” Ucap Devan menemangkan istrinya. Ia memeluknya dari belakang.
“Tuhan belum mengambil Lin, Pa. Mama yakin dia masih ada, dia belum meninggalkan dunia ini. Mama yakin suatu hari nanti mama akan bertemu Lin lagi. Mama percya itu,” ucap Nadia dengan berlinang air mata.
“Papa juga yakin Lin masih hidup, Ma. Tapi mau cari di mana lagi, Ma? Semua orang sudah mencari di mana Lin, sampai dua puluh tahun belum ada titik terangnya,” ucap Devan.
“Tapi mama tidak akan pernah menyerah, Pa. Mama masih yakin Ayleen masih ada. Dia masih hidup. Mama yakin suatu hari mama akan bertemu Ayleen lagi.” Ucap Nadia dengan penuh keyakinan.
“Ya, papa juga yakin,” jawab Devan. “Sudah, ya? Hapus air mata kamu sayang, jangan nangis lagi. Papa akan semakin merasa bersalah kalau mama terus seperti ini, apalagi sampai mama menyalahkan diri mama atas kecelakaan itu,” ucap Devan menenangkan istrinya.
“Bagaimana mama gak menyalahkan diri mama, Pa? Aku tidak bisa menjaga Ayleen yang ada di gendonganku, Pa,” ucap Nadia dengan terisak.
“Kamu waktu itu pun pingsan, Sayang. Sudah jangan diingat lagi, ya? Sudah jangan nangis, kita kan mau menghadiri pernikahan Zhafran sama Alana, Ma?” ucap Devan.
“Iya, tapi mama kok gak terima sekali, Alana sama Zhafran ya, Pa? Ya mama tahu, Zhafran itu saudara mama, dia kan anaknya Om Arkan, tapi papa tahu lah seperti apa Zhafran? Jauh beda dengan papinya, dan Ardha. Tapi, salah Om Arkan dan Tante Lia sih, terlalu manjain Zhafran!” ucap Nadia.
“Lalu mama setujunya Alana sama siapa? Fatih? Atau Ardha?” tanya Devan.
“Maunya mama sama Fatih atau Ardha, mereka cocok lho? Mama juga yakin Ardha dan Fatih suka sama Alana. Malah milihnya duda anak satu!” ucap Nadia.
“Jangan asal nebak, gak mungkin mereka suka sama Alana, tapi iya sih, Fatih juga suka sama Alana, tapi entahlah, kenapa dia kok malah lihatnya Ayleen kalau sama Alana, katanya mencintai Alana tapi dia malah mikrinya Alana itu Aylee. Kalau Ardha jelas dia suka sama Alana, kasihan dia, malah keduluan kakanya,” jelas Devan. “Ya mungkin Alana pengin dapat Sugar Daddy, pantas kan Zhafran jadi Sugar Daddy, dia tampan, banyak uang, siapa yang gak kenal seorang Zhafran, Ma? Papa saja ketampanannya kalah sama dia,” lanjut Devan.
“Hmmm ... papa mah udah diturunin semua ke Shaka dan Fatih, tuh hasilnya bagus-bagus, kan?” ucap Nadia.
“Nah itu tahu?”
“Makanya gak rela aku Alana sama Zhafran. Dia memang tampan, tapi kayaknya suka main perempuan,” ucap Nadia.
“Jangan gitu, jangan berburuk sangka kalau mama belum tahu seperti apa Zhafran,” tutur Devan. “Lagian Fatih kayaknya masih suka sama siapa itu namanya, Vina atau siapa papa lupa,” imbuhnya.
“Papa sok tahu ih!” tukas Nadia.
“Ya memang gitu, Ma. Lihat saja nanti, pasti Fatih bawa ceweknya ke pernikahan Zhafran,” jelas Devan.
“Kenapa Fatih gak cerita sama mama kalau Fatih sudah pada punya cewek? Padahal mama ngarep sekali Alana sama Fatih,” ucap Nadia.
“Fatih itu perasaannya tajam, Ma. Mama coba deh cari cara apa gitu, buat membuktikan Alana itu Ayleen? Tidak usah lah mengajak Alana tes DNA, kan bisa itu dari rambut. Mama kan selama ini dekat sama Alana, mama bisalah, pura-pura menyisiri rambut Alana atau bagaimana, papa juga sama seperti Fatih, papa yakin Alana adalah Ayleen, Ma. Apalagi gelang itu, gelang yang Fatih pilihkan untuk Alana, waktu kami ke toko perhiasan untuk beli perhiasan buat mama dan Acha,” ujar Devan.
“Iya gelang itu mirip dengan gelang Ayleen yang dipakai saat kecelakaan,” ucap Nadia. “Kenapa mama tidak kepikiran begitu ya, Pa? Padahal mama sering sama Alana, ngajak Alana ke salon, dan sering meluk Alana, ngusap kepalanya, kok gak kepikiran ambil rambut Alana buat tes DNA?” lanjutnya.
__ADS_1
“Papa saja baru mikir saat Fatih bilang kalau ia merasa Alana itu Ayleen. Apalagi gelang itu, gelang yang dipakai Nina, yang kata Nina adalah gelang Alana saat masih kecil. Mama tahu kan Alana kecil kan chubby, dia gemuk, tangannya saja sama dengan tangan Nina sekarang yang sudah lima tahunan?” jelas Devan.
“Iya, mama juga yakin Alana adalah Ayleen, dan anak seusia Nina itu tidak mungkin bohong, Pa,” ucap Nadia.
“Ya sudah kita bahas ini nanti, kita siap-siap ke pernikahan Zhafran. Anak-anak sudah pada di sana masa kita belum?” ucap Devan.
Devan semakin yakin kalau Alana itu Ayleen. Apalagi saat Nina main ke rumahnya dengan Zhalina dan memakai gelang yang katanya diberi Alana, Devan semakin ingin mencari tahu soal Alana, tapi rasanya sekarang akan lebih sulit, apalagi Alana sudah menikah dengan Zhafran, pastinya Alana semakin jarang bersama Nadia, dan main ke rumahnya. Alana pastinya semakin sibuk karena sudah bersuami, apalagi ada Nina.
“Aku harus mencari cara, supaya bisa membuktikan kalau Alana itu Ayleen, apalagi gelang itu, dan Alana juga hanya anak angkat. Bisa jadi saat dulu aku menemui ibunya Alana, ibunya Alana menyembunyikan Ayleen yang telah ditemukan? Karena saat dulu ibunya Alana bicara gugup seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Waktu bertemu dengan kami juga ibunya Alana selalu terlihat panik, mimik wajahnya seperti orang yang ketakutan dan sedang menyembunyikan sesuatu,” gumam Devan.
^^^
Devan sudah sampai di rumah Zhafran. Pernikahan Alana dan Zhafran digelar di rumah baru Zhafran. Mewah sekali pesta pernikahannya. Manik mata Devan menerawang ke setiap sudut ruangan, mencari-cari di mana gadis yang akan menjadi pengantin hari ini. Perasaannya masih kuat, bahwa Alana adalah Aylen, matanya mencari-cari sosok pengantin wanita yang akan menjadi pendamping keponakannya.
Nadia pun begitu, dia mencari-cari Alana, sampai ada seseorang yang memanggilnya, yaitu Thalia.
“Sudah datang, Nad?” tanya Thalia.
“Iya, Tante. Mana anak-anak?”
“Di kamar pengantin, sedang bersama Alana,” jawab Thalia.
“Boleh aku ke sana?” pinta Nadia.
Nadia berjalan di sisi Thalia, Devan juga diajak Nadia ke kamar pengantin untuk menemui Alana yang kata Thalia sedang dirias. Devan dan Nadia berpapasan dengan ibunya Alana dan budhenya.
“Eh ibunya Alana, ya? Lama tidak bertemu ya, Bu. Bagaimana kabarnya?” tanya Nadia basa-basi pada ibunya Alana.
“Baik, bu,” jawabnya sedikit gugup.
“Kamu kenal ibunya Alana, Nad?” tanya Thalia.
“Iya, Tante, kenal. Waktu Alana wisuda kan kami ke sana, dengan Fatih juga, memberikan ucapan selamat Alana, dan kami sempat makan siang bareng juga sih, iya kan, bu?” jawab Nadia.
“I—iya, kami pernah makan siang bersama Bu Nadia dan Pak Devan,” jawab Arofah.
“Hmmm bagus kalau begitu, jadi tante tidak usah mengenalkan besan tante,” ucap Thalia. “Ini Nadia, keponakan papinya Zhafran, Bu? Anak dari kakak sepupunya papinya Zhafran. Dan, di sebelahnya Devan, suami Nadia, sekaligus sahabat papinya Zahfran saat kuliah dulu.” Thalia mengenalkan Nadia dan Devan pada besannya.
Arofah semakin tidak tenang. Arofah melarang Alana dengan Fatih supaya Alana bisa jauh dengan keluarganya Fatih, bisa jauh dari orang tua kandungnya, sekarang malah Alana akan menikah dengan anak dari saudaranya Thalia. Padahal sebisa mungkin ia menjauhkan Alana dari Fatih, tapi malah Alana dengan saudara dari Fatih.
“Haruskah aku bilang pada semuanya, kalau Alana anaknya Pak Devan? Tidak, ini belum saatnya aku bilang dengan mereka. Aku tidak mau kehilangan Alana, aku tidak ingin Alana lebih dekat dengan orang tua kandungnya. Alana aku rawat dari bayi, mana bisa aku melihat Alana lebih dekat dengan orang tua kandungnya. Aku tidak sanggup untuk itu,” ucap Arofah dalam hati.
__ADS_1
“Gak nyangka ya, Bu? Alana mau menikah dengan saudara saya? Saya penasaran, Alana seperti apa saat dirias menjadi pengantin,” ucap Nadia.
“Iya, Bu. Ternyata malah Alana akan jadi bagian keluarga besarnya ibu,” jawab Arofah dengan gugup.
Aninggar tidak tahu, kenapa adik iparnya itu gugup sekali kalau bicara dengan Nadia. Aninggar memang tidak tahu soal Devan dan Nadia, kalau mereka adalah orang kandung Alana. Yang Aninggar tahu, Arofah hanya menitipkan Alana saat masih bayi supaya saat orang tua kandung Alana datang ke rumah, Alana tidak ada. Aninggar tidak tahu seperti apa orang tua kandung Alana.
Nadia masuk ke dalam kamar pengantin, ia melihat Alana sudah cantik sekali dibalut dengan gaun putih elegan dan cantik. Nadia melihat Alana mirip dengan dirinya, tidak hanya Nadia saja yang merasa Alana seperti dirinya, Acha dan Zhalina pun sampai bilang Alana mirip dengan Nadia.
“Ih kembaran kamu datang, Lan,” ucap Zhalina.
“Kak Lina bisa aja?” ucap Alana.
“Kembaran Alana gimana?” tanya Thalia.
“Mami, lihatlah Alana kan mirip sama Tante Nadia?” ucap Zhalina.
Thalia mendekati menantunya, melihat dengan detail setiap inci wajah Alana. Benar dengan apa yang dikatakan Zhalina dan Acha, kalau Alana mirip dengan Nadia.
“Ih iya, kok sama kayak kamu, Nad? Ini seperti pinang dibelah dua lho? Kok bisa gini? Lan, kamu ini kembarannya Nadia atau gimana?” ucap Thalia. “Ini kalian persis banget lho?” imbuhnya.
“Inilah jodoh, kalau sudah jodoh, pasti ada salah satu yang mukanya sama. Ya Nadia juga kan mirip dengan mamanya aku kok?” jelas Devan.
“Iya juga sih, tapi ini seperti pinang dibelah dua lho, Dev?” ujar Thalia.
“Ya memang begitu, aku juga kaget saat dulu Alana bekerja di cafenya Tiara, kok masa istriku jadi pelayan? Tapi masih muda sekali,” ucap Devan dengan terkekeh.
“Ini ada apa rame sekali di sini? Mana menantuku? Ayo keluar, Lan? Itu lho penghulu sudah datang?” ajak Arkan yang baru masuk di kamar Alana.
“Ini lho pi, papi ngeh gak sih, Alana mirip sapa? Lihatlah dengan detail wajah Alana?” ucap Thalia. “Nih sama tidak?” Thalia menjejerkan Nadia dan Thalia.
“Astaga ... kalian ini kembar? Nadia, ini kembaran kamu yang baru lahir kemarin? Ini kok aku baru ngeh kalau kalian seperti pinang dibelah dua?” ucap Arkan.
“Nah, papi baru ngeh, kan? Mami juga baru ngeh tadi, Pi,” ucap Thalia.
“Memang kalau jodoh ya seperti ini. Papi gak percaya kalau kamu mirip sama keponakanku ini,” ucap Arkan. “Ayo Alana, itu ibu kamu sudah menunggu di sana. Papi yang ingin menjemputmu, dengan Ardha,” ucap Arkan.
“Ayo, Kak. Sudah ditunggu Kak Zhafran di luar,” aja Ardha.
“Iya, Ar,” ucap Alana.
Ardha tidak mengerti kenapa jadi seperti ini. Wanita yang sangat ia cintai, hari ini akan menjadi milik orang, dan orang itu adalah kakak kandungnya sendiri.
__ADS_1
“Ya Allah, sakit sekali rasanya. Aku menggamit tangan Alana, tapi ia akan menikah dengan kakakku, bukan dengan aku. Lan, aku sangat mencintaimu, cinta ini akan aku simpan, entah sampai kapan,” ucap Ardha dalam hati.