Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Tidak Rela


__ADS_3

Fatih masih melihat Ardha yang kacau. Lagi-lagi Ardha meremas rambutnya, seperti orang yang sedang frustrasi. Fatih tahu perasaan Ardha saat ini, dirinya pun sama, sama kecewannya, saat mendengar penuturan Ardha kalau Alana akan menikah dengan Zhafran.


“Lalu apa rencana kamu, Kak?” tanya Fatih.


“Mau merencanakan apalagi, Tih? Ya sudah, sudah begini mau apa? Masa iya aku melanjutkan rencanaku yang ingin melamar Alana besok malam? Kalau aku lanjutkan namanya aku bunuh diri, Tih? Aku sama saja menambah beban Alana, dan aku tidak mau ada perseteruan dengan kakakku hanya karena wanita. Sudah biarkan saja mereka menikah. Tolong jaga rahasia ini, Ar. Aku mohon rahasiakan ini dari siapa pun, jangan sampai ada orang tahu kalau aku sangat mencintai Alana. Biar saja rasa ini perlahan menghilang ditelan waktu,” ucap Ardha.


“Kamu yakin akan menyerah?” tanya Fatih.


“Aku bukan menyerah, tapi aku tahu keadaan, Tih. Mereka mau menikah, aku yakin Alana juga mencintai Kak Zhafran. Jangankan Alana, semua perempuan banyak yang berlomba-lomba ingin menjadi pendamping Kak Zhafran, gak salah Alana mau. Lihat dari ketampanan Kak Zhafran saja pasti Alana sudah suka, apalagi diminta untuk menjadi istrinya?” jelas Ardha.


Fatih hanya mengangguk, kalau masalah ini sudah pasti lah Alana langsung mau. Apalagi seusia Alana, pasti dia hanya memikirkan fisik yang utama. Yang tampan, sempurna, dan pastinya banyak uang. Bukan apa-apa, Fatih tahu, itu yang paling utama saat perempuan mencari pasangan, meski gak semua begitu, tapi kebanyakan seperti itu.


“Iya juga sih, benar kata kamu kak, jelas Alana mau kalau melihat fisik Kak Zhafran, tapi mungkin Alana juga cinta sama Kak Zhafran,” ucap Fatih.


“Iya mungkin juga, aku gak mau menduga-duga lagi. Sudah, memang sudah begini mau gimana lagi? Aku gak bisa melawan kenyataan. Biarlah, semoga Alana bahagia dengan pilihannya,” jelas Ardha.


“Lalu besok kakak gak jadi mau bilang sama Alana?”


“Iya jelas gak jadi lah, Tih? Kamu ini tanya apa ngeledek sih!” sembur Ardha.


“Santai dong kak, jangan ngegas. Sudah pokoknya kakak harus tenang, harus fokus, masa depan kakak masih panjang, jangan down karena cewek, Kak,” tutur Fatih.


“Gak masalah sih kalau itu, ya down sih sedikit, lebih tepatnya shocked. Tapi ya sudah memang ini kenyataannya. Yang aku bingungkan, besok aku sudah bilang sama mami dan papi, kalau aku mau mengenalkan perempuan, ya memang rencananya, habis aku ajak Alana ke mami-papi, pulangnya aku mau menyatakan cintaku, tapi kan gini jadinya, Tih?”


“Terus besok?” tanya Fatih.

__ADS_1


“Ya pikir besok sajalah. Sudah yuk pulang, mami sama papi chat terus nih, malesnya gini kalau di rumah, pergi malam-malam saja ditelfonin. Gak tahu aku saja yang selalu diginiin, Kak Zhafran keknya bebas, Kak Lina juga bebas, mami sama aku kayak gini, ditanyain mau pulang jam berap terus.”


“Itu tandanya mamimu sayang, ya mama juga gitu sama papa, kalau aku, Shaka, dan Kak Acha pulang agak terlambat, pasti di chat atau di telfonin terus,” ucap Fatih.


“Sudah yuk pulang, nanti keburu mamiku telfon lagi,” Ajak Ardha.


Ardha melajukan sepeda motornya untuk pulang, ia sudah menerima semuanya, biar Alana menikah dengan kakaknya, biar cinta untuk Alana ia simpan sendiri di dalam hatinya.


^^^


Fatih sudah sampai rumahnya, benar mama dan papanya belum tidur nunggu dirinya sampai rumah. Fatih memeluk mamanya yang menyambut dirinya pulang.


“Anak bujangnya mama baru pulang, lembur atau dari mana?” tanya Nadia.


“Lembur sih, sama sekalian ketemu Kak Ardha, lama gak ketemu dia, mumpung dia belum berangkat lagi ke Jogja, sama ngasih kabar juga sih Kak Ardha. Pasti mama dan papa kaget nih kalau aku bilang sama mama dan papa?” jawab Fatih.


“Ya aku juga kaget sih, Kak Ardha bilang gini, gak nyangka banget pokoknya,” ucap Fatih.


“Makanya buruan ceritain ke mama, Ardha ngasih kabar berita apa?” Nadia bertambah penasaran dengan apa yang Ardha sampaikan pada Fatih.


“Kak Zhafran mau menikah lagi, Ma, Pa,” ucap Fatih.


“Itu kabar beritanya? Cepat sekali cari pengganti Binka?” ucap Nadia.


“Jelas lah cepat cari pengganti, orang Binka yang mengkhianati kok?” ujar Devan.

__ADS_1


“Iya juga sih, tapi siapa calonnya?” tanya Nadia.


“Alana, Ma,” jawab Fatih.


“A—apa? Alana? Ini dari mana ceritanya Alana mau sama Zhafran? Kamu kok baru bilang sih?”


“Fatih saja baru tahu sekarang kok, Ma? Ya kaget saja sih, kok bisa Alana mau sama duda, kayak sudah gak ada perjaka di dunia ini, sama duda anak satu kok mau?” ujar Fatih.


“Ya masalah dudanya gak apa-apa, Fatih ... masalah selisih umur gak masalah juga, tapi kan ....”


“Tapi kan apa, Mama? Iya Fatih tahu, mama dapat papa yang jaraknya cukup jauh, tapi gak masalah, ini masalahnya ada lho teman Fatih yang suka banget sama Alana, dia deketin Alana dari dulu banget, ehh malah Alana milih duda, kasihan lho?”


“Ya gak apa-apa sih? Kan Zhafran lebih mengayomi mungkin?” ujar Devan.


“Ih papa juga malah ikutan ke tim Zhafran? Papa sama Fatih tahu sendiri bagaimana Zhafran, kan? Dia suka gonta ganti cewek dulu?” ucap Nadia.


“Ya itu kan dulu, sebetulnya papa gak rela juga, tapi mau bagaimana lagi? Zhafran gitu-gitu juga keponakan kita, kan?” ujar Devan.


“Iya sih, tapi tetap mama gak setuju,” ucap Nadia.


“Mama itu bukan mamanya Nadia, ibunya saja kata Kak Ardha sudah setuju kok? Kemarin Kak Zhafran ke sana sama Alana, menemui ibunya Alana di desa,” jelas Fatih.


“Ya sudah, Fatih mau tidur dulu. Sudah biar saja mereka menikah, gak ada yang rugi juga kan kita, kalau mereka menikah? Ya kalau ada apa-apa kan ditanggung mereka sendiri? Alana yang susah sendiri kalau sampai Zhafran macam-macam? Ya bukan mau ngatain gimana, Ma, Pa, kan istilahnya resiko ditanggung penumpang? Ya, kan? Mereka yang memutuskan ingin berkomitmen, ya sudah, biarkan saja. Kita hanya menonton saja bagaimana? Bukanah enak lihatnya saja? Mereka yang melalui ya mungkin gak enak,” jelas Fatih.


“Betul juga ucapanmu, tapi semoga Zhafran tidak seperti dulu lagi, dia berubah. Kasihan punya anak cewek kalau sampai mengulang yang dulu,” ujar Devan.

__ADS_1


Nadia sebetulnya tidak ingin Nadia dengan Zhafran. Ia sebetulnya sangat mengharapkan Nadia dengan Fatih. Tapi setiap kali ingin menanyakan Alana sudah punya teman spesial apa belum, Nadia kelupaan, karena sudah saking asiknya ngobrol dengan Nadia kalau bertemu. Mau dibicarakan lewat telefon, Nadia merasa kurang sopan membicarakan seperti itu lewat telefon, meski dengan Alana, yang usianya di bawah anaknya.


“Aku tidak rela sekali, gadis sebaik Alana, akan menikah dengan Zhafran. Semoga zhafran tidak seperti dulu lagi, aku tidak mau melihat Alana disakiti Zhafran,” gumam Nadia.


__ADS_2