
Alana berkali-kali menguap karena mengantuk. Dia memang biasa tidur sebelum jam sembilan malam, dan ini sudah melebih jam sembilan malam. Ambisinya untuk pergi ke Angkringan Pendopo Lawas sangat tinggi. Entah kenapa dia menjadi manja seperti ini dengan Ardha. Kantuknya makin menyerang, dia sangat terlihat lagi-lagi menguap.
Ardha melirik Alana yang menyandarkan kepalanya dan matanya sayup-sayup ingin terpejam. Ardha tahu, kalau Alana sudah mengantuk sekali. Tapi, mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur setengah perjalanan untuk menuju ke Angkringan Pendopo Lawas malam ini.
Ardha melihat Alana sudah tertidur, kepalanya dari tadi naik turun karena tertidur. Sesekali Ardha membenarkan kepala Alana yang membentur kaca mobil. Dia melihat wajah ayu Alana saat tertidur. Ardha tersenyum bahagia sekali. Ardha melanjutkan perjalanannya yang tinggal lima belas menit lagi sampai.
Sesampainya di sana, Ardha membangunkan Alana. Alana terkejut sudah berada di keramaian malam yang menyelimuti jalanan sekitar Angkringan Pendopo Lawas . Alana tersenyum menatap Ardha. Mata yang menyipit karena mengantuk, kini berubah menjadi mata yang indah di penuhi dengan kebahagiaan.
"Ardha, terima kasih, kamu benar mengajakku ke sini?" tanya Alana.
"Iya, lah. Nanti kamu ngambek lagi kalau tidak di turuti," jawab Ardha.
"Ayo turun," ajak Alana dengan manja.
"Oke, tapi minum air putih dulu, biar fresh lagi.” Ardha memberikan botol minuman yang berisi air putih yang ia bawa dari rumah.
Alana lebih suka air putih bawa dari rumah, daripada dia harus beli air mineral di jalan. Katanya sih,air putih yang masak sendiri lebih sehat dari pada beli, dan lebih steril, karena di rebus dahulu.
"Ayo keluar." Ardha membukakan pintu mobilnya dan menyuruh Alana keluar dari dalam mobil.
Ardha menggandeng tangan Alana berjalan menyusuri jalan. Ardha menawari Alana ingin makan apa, tapi Alana menolaknya. Bahkan permen kapas yang ia beli juga belum dia makan.
"Kakak ingin makan apa?" tanya Ardha.
"Tidak, kakak hanya ingin melihat keramaian di jalan ini," ucap Alana.
"Mau jagung bakar?" Ardha menawari lagi, hanya gelengan kepala yang mewakili penolakan Alana.
"Mau makan gudeg?" tanya Ardha lagi.
"Gak mau," jawab Alana manja.
"Lalu?" tanya Ardha.
"Mau jalan-jalan saja, sama dudukan di sini, kamu pesan saja minuman atau cemilan. Aku lama sekali tidak ke sini, sejak aku kuliah di Jakarta," ucap Alana.
__ADS_1
“Memang dulu sering ke sini?” tanya Ardha.
“Kalau liburan aku di rumah budhe, ikut bantu-bantu di toko budhe, nanti upahnya aku gunakan untuk jalan-jalan, ke malioboro, ke sini, dan banyak lagi tempat yang aku kunjungi, tapi sekarang, lama di sini hampir setengah tahun, keluar Cuma di toko dan check-up saja. Gara-gara kamu nih, Iwan selalu sibuk,” ucap Alana.
“Ya maaf, kalau tahu kamu sepupunya, aku gak akan seperti itu. Tapi, memang aku pun kerja lembur terus,” jelas Ardha. “Malam ini puas-puasin deh, Lan. Besok kalau mau ke mana-mana bilang aku.”
“Hmm ... makasih lho kamu sudah menuruti aku,” ucap Alana.
“Iya, sama-sama,” jawab Ardha.
Ardha hanya menurutinya saja. Maklum Alana tidak pernah ke luar selama enam bulan, jadi wajar dia ingin keluar dan menikmati malam di Angkringan Pendopo Lawas . Alana merasakan dingin sudah menyentuh kulit tangannya. Ardha yang melihat, dia segera melepas jas yang masih melekat di badannya.
"Pakai ini, kakak kedinginan, kita pulang saja, ya? Nanti besok kita ke sini lagi, ini sudah malam sekali. Kasihan budhe, menunggu kakak," ucap Ardha.
"Sebentar lagi, And. Aku ingin menikmati malam di sini dulu. Kamu juga kopiya belum habis?" ucap Alana.
Ardha menuruti apa yang Alana minta. Ardha melihat arlojinya, sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Alana belum mau pulang. Dia masih ingin menikmati malam di Angkringan Pendopo Lawas .
"Lan, kenapa?" tanya Ardha yang melihat wajah Alana seperti mengingat sesuatu.
"Kamu tahu, Ar? Ini adalah tempat pertama kali ayah mengajak aku jalan-jalan di sini, sebelum ada angkringan ini, sebelum ramai seperti ini. Di tempat ini, aku bisa puas mengenang kebersamaan dengan almarhum ayah, dan kalau aku rindu, pasti aku ke sini, aku ajak Iwan" ucap Alana dengan memandang ke arah lalu lalang orang yang berjalan
“Kalau kamu ingat ayah, doakan dia, jangan sedih, kasihan ayah yang melihat kamu sedih gini,” tutur Ardha.
“Kadang aku merasa, aku sangat bersalah dengan ayah. Aku belum bisa membahagiakan ibu, karena aku langsung menikah dengan kakakmu, aku terlalu percaya bahwa kakakmu akan menjadi sosok yang bisa mencintaiku dan menyayangi dengan tulus, tapi nyatanya begini? Dia selingkuh, dan memilih selingkuhannya. Secara tidak langsung aku sudah mengecewakan ayah, Ar,” ucapnya dengan tatapan sendu.
“Apa kamu benci dengan kakakku?”
“Aku tidak benci orangnya, tapi kelakuannya yang aku benci,” jawab Alana.
"Kamu boleh membenci Kakak, tapi ingat, dia ayah dari anak yang sedang kamu kandung," tutur Ardha.
"Iya, Ar, aku tahu itu. Aku kan tadi bilang, aku tidak membenci kakakmu. Yang aku benci adalah perbuatannya," ucap Alana.
"Apa kamu masih mencintai Kak Zhafran?" tanya Ardha.
__ADS_1
"Entahlah, aku tidak tahu, yang kurasa saat ini adalah kekecewaanku pada kakakmu,” jawab Alana.
"Kenapa kamu dulu mau diajak menikah Kak Zhafran?" tanya Ardha lagi.
"Semua karena Nina, Ar," jawab Alana.
"Sekarang, kamu harus lupakan masa lalu menyakitimu, lupakan Kak Zahfran, dan hiduplah dengan bahagia untuk membesarkan anak kamu," tutur Ardha.
"Itu pasti, Ardha. Tapi, kasihan anakku, dia lahir tanpa ayah." Alana berkata dengan tatapan yang kosong.
Ardha menarik tubuh Alana, dia menyandarkan kepala Alana pada pundaknya. Ardha tau, Alana lelah menjalani hidupnya sendiri. Dan Ardha bertekad, dia akan menjaga Alana sampai kapan pun, dan tak akan melepaskan Alana lagi.
"Lan, ada aku, kalau kamu butuh apa-apa. Minta diantarkan ke mana, kamu bilang sama aku. Aku siap mengantar kamu. Kamu jangan terlalu banyak pikiran, jangan sedih, jangan stres. Kasihan keponakanku dalam perut kamu," tutur Ardha.
"Iya, Ardha. Terima kasih, tapi aku mohon, jangan bilang semua keluargamu, dengan Nina pun jangan," pinta Alana.
"Iya, aku tidak aka bilang, kak. Tenang saja," ucap Ardha.
"Sudah mau jam dua belas. Pulang yuk, sudah dingin," ajak Ardha.
"Ya sudah, ayo." Alana mengandeng tangan Ardha dan menuju ke mobil.
"Ini bener, kamu gak mau beli apa-apa?" tanya Ardha.
"Gak, Ardha. Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin duduk di sana saja tadi, karena aku rindu ayah," jawab Alana.
"Oh ya sudah, mau aku gendong?" Ardha menawarkan menggendong Alana, karena Alana terlihta lelah sekali.
"Perutku sudah besar, Ar, masa mau di gendong," ucap Alana.
Tanpa aba-aba, Ardha membopong tubuh Alana. Alana tak memberontak karena memang dia sudah sangat lelah. Dia mengurai senyum pada Ardha yang wajahnya menunduk ke bawah memandang Alana.
"Aku berat, Ar, turunin aku," pinta Alana.
"Sudah jangan banyak bicara, kamu itu lelah. Nanti tidur ya di mobil," ucap Ardha.
__ADS_1
"Iya, Ar, terima kasih," ucap Alana dengan menyandarkan kepalanya di dada Ardha.
Alana merasa sangat nyaman sekali diperlakukan Ardha seperti ini. Dia tidak tahu, kenapa adiknya iparnya dari dulu baik sekali dengannya, bahkan sebelum ia mengenal Zhafran, Ardha sudah baik sekali dengan dirinya.