Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Cinta Tak Butuh Alasan


__ADS_3

Alana masih bimbang dengan hatinya. Sebisa mungkin ia ingin menghindari keluarga Ardha dan keluarganya Fatih, malah dia dekat dengan Zhafran yang juga menginginkannya. Tidak pernah ia sangka juga, kalau dirinya akan jatuh cinta pada Zhafran, duda dengan satu anak. Alana memang menyukai anak kecil, ia juga sangat menyayangi Nina, ia sudah menganggap Nina seperti keponakannya sendiri.


“Kamu tidak kasihan sama Nina, Lan? Apalagi Nina suka sama kamu, dan dia sepertinya sangat membutuhkan kamu, Lan. Kasihan Nina, dia harus jauh dari mamanya, dan mamanya juga sampai sekarang jarang menemuinya,” ucap Tita.


“Bu, saya sayang dengan Nina, tapi tidak untuk menerima Pak Zhafran yang meminta saya menjadi istrinya. Pak Zhafran kan banyak kenalan perempuan yang lebih dari saya? Kenapa malah meminta saya yang menjadi istrinya?” jawab Alana.


“Cinta tidak butuh alasan, Lan.”


“Aku tidak percaya Pak Zhafran semdah itu melupakan mantan istrinya, apalagi sepertinya Pak Zhafran sangat mencintai mantan istrinya saat dulu?”


“Itu kan dulu, Lan, sebelum Binka berkhianat pada Zhafran. Saya juga tidak mengerti kenapa Binka setega itu. Kakak saya sampai sekarang pun masih tidak percaya seorang Binka bisa mengkhinati suaminya, dan bermain api di belakang suaminya,” ujar Tita.


“Ya saya juga tidak menyangka istrinya Pak Zhafran akan seperti itu, padahal saya melihat mereka sangat harmonis dan romantis. Ternyata kok seperti itu?” ucap Alana.


“Ya sudah pikirkan baik-baik kamu harus menerima Zhafran atau tidak. Menurut saya sih, terima saja, Lan. Saya percaya kamu bisa menjadi istri yang baik untuk Zhafran, pun dengan Zhafran. Saya berharap kamu mau menerima Zhafran, Lan. Mami papinya Zhafran juga akan menerima kamu dengan baik, kamu harus percaya dengan saya.” Tita terus membujuk Alana supaya Alana mau menerima keponakannya sebagai suaminya.


Tita sudah terlanjur suka dan cocok dengan Alana, mungkin kalau putranya belum menikah saja, dia ingin menjodohkan putranya dengan Alana, sayangnya kedua anak Tita semuanya sudah menikah. “Kalau saya punya anak laki-laki, saya juga ingin menjodohkannya denganmu, sayang anak laki-laki sya sudah menikah, dan sudah memiliki cucu,dia dengan istrinya tinggal di Berlin, menemani opanya, begitu juga anak saya yang perempuan, dia juga sudah menikah, dan sudah lama menetap di Australia, ikut dengan suaminya.”


“Bu Tita ini bisa saja, ibu kan tahu saya ini bagaimana statusnya, tidak jelas, Bu,” ucap Alana.


“Tidak jelas bagaimana? Jelas-jelas kamu ini punya ibu angkat, ayah angkat, yang sangat menyayangimu, ya memang keadaannya kan seperti itu, tidak ada bukti untuk kamu supaya bisa membantu mencari siapa orang tua kandungmu,” tutur Tita.


Alana membenarkan ucapan Tita. Benar dia memiliki ibu yang sangat menyayanginya, bahkan ibunya takut sekali jika dirinya menemukan orang tua kandungnya, padahal dirinya hanya ingin tahu, siapa orang tua kandungnya, bukan akan meninggalkan ibunya setelah tahu siapa orang tua kandungnya.


^^^


Sore ini Alana izin dengan Tita untuk pulang lebih awal, dia ingin menemui Zhafran yang dari tadi meminta dirinya untuk bertemu sebentar. Untung saja hari ini Alana sedikit free. Setelah cukup lama ngobrol dengan Tita, dan dibujuk oleh Tita, akhirnya Alana mau menerima telefon dari Zhafran dan mau diajak bertemu Zhafran setelah pulang kerja.


Zhafran sudah berada di depan butik Tita, dia menjemput Alana dan ingin mengajaknya bicara sebentar, sambil menunggu Nina yang sedang les. Alana masuk ke dalam mobil Zhafran, lalu Zhafran mengajaknya ke taman yang dekat dengan tempat Nina les. Zhafran mengajak duduk di bangku yang ada di area taman. Senang sekali rasanya bisa bertemu cukup lama dengan Alana, karena sejak kejadian malam itu, Alana selalu menghindar, Alana hanya mau menemui Zhafran kalau ada Nina saja, kalau bukan urusan Nina, Alana tidak mau menemuinya.


“Pak Zhafran mau bicara apa?” tanya Alana.

__ADS_1


“Bicara soal yang aku katakan malam itu. Maaf, bukan aku ingin cepat-cepat, Lan. Memang kenyataannya seperti itu, Lan. Aku ingin kamu, aku jatuh cinta dengan kamu, dan aku yakin kamu bisa menjadi ibu yang baik untuk Nina dan anak-anak kita kelak,” ucap Zhafran. “Aku mencintaimu, menikahlah denganku.”


Alana menarik napasnya dalam-dalam mendengar permintaan Zhafran yang menurutnya terlalu cepat. “Secepat itu, Pak? Apa bapak tidak memikirkan lebih dulu kalau bicara?”


“Apa yang harus aku pikirkan lagi, Lan? Aku memang mencintaimu, aku tulus, mencintaimu, Alana,” ungkap Zhafran.


Alana tidak tahu harus menjawab apa. Lama kenal dengan Zhafran, dan dia pun sering bersama, Zhafran berhasil menebar benih simpati dan cinta di hati Alana. Alana akui, kalau dirinya memang jatuh cinta dengan Zhafran, apalagi Zhafran selalu perhatian dengannya.


“Pak Zhafran belum tahu siapa aku. Belum tahu keluargaku bagaimana, dan statusku itu bagaimana,” ucap Alana.


“Status? Kamu masih gadis, kan? Belum pernah menikah?” tanya Zhafran penasaran.


“Aku masih gadis, Pak. Aku masih perawan!” jawab Alana.


“Terus status bagaimana, Lan?”


“Ya statusku yang hanya angkat ibu dan ayahku. Aku ini tidak jelas anak siapa, Pak. Aku ini dibuang oleh orang tua kandung saya di depan rumah ibu, lalu akhirnya saya diadopsi oleh ibu dan ayah. Ya aku akui ibu dan ayah sangat menyayangiku, mereka memberikan apa pun yang terbaik untukku. Tapi, setelah ayah meninggal, ibu sering sakit-sakitan, dan sejak itu, ibu menjual sawah, dan tanah peninggalan  ayah, itu kenapa saya kuliah sambil bekerja, karena di desa pun ibu butuh biaya untuk berobat jalan,” jelas Alana.


“Lalu apa masalahnya? Kalau kamu hanya anak angkat, yang penting sudah tertulis jelas di Kartu Keluarga, dan sah menjadi anak angkat, masalah keluarga kamu, saya tidak ada masalah, yang penting kamunya, mau tidak menikah denganku?”


“Lan, cinta itu bisa datang kapan saja, kapan dia mau. Aku juga tidak punya alasan kenapa aku bisa mencintaimu, kenapa aku bisa jatuh cinta dengan kamu. Bukan karena aku butuh sosok ibu untuk Nina, aku juga butuh kamu untuk melengkapi hidupku yang kemarin sempat hancur, melengkapi hatiku yang kosong,” tutur Zhafran.


Alana hanya diam saja. Ia tidak tahu harus menjawab apa pada Zhafran. Alana pun menyimpan perasaan untuk Zhafran. Waktu yang cukup singkat, yang sering ia lalui dengan Zhafran, membuat hatinya menghangat mengenal sosok Zhafran.


“Apa kamu mencintaiku, Lan?” tanya Zhafran. Alana tidak menjawabnya, dia hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa.


“Lan, aku tanya sekali lagi dengan kamu, apa kamu mencintaiku?”


“Tidak, Pak. A—aku tidak bisa menjawabnya,” jawab Alana


“Kenapa?” Zhafran menyentuh bahu Alana, ia sedikit memutar tubuh Alana supaya bisa menatapnya. “Kenapa tidak bisa menjawabnya, Lan? Jangan bohongi perasaanmu,” ucap Zhafran meyakinkan.

__ADS_1


“Jujur selama ini aku belum pernah merasakan jatuh cinta, dan aku tidak pernah sedekat ini dengan pria. Ya meski ada seseorang yang pernah dekat, tapi aku selalu menghindar, entah kenapa saat dengan Pak Zhafran aku tidak bisa menghindarinya, aku biasa saja, aku tidak takut didekati bapak, mungkin karena aku memandangnya Nina. Namun, semakin lama, ada sebuah perasaan yang mengganggu di dalam hatiku, Pak. Entah perasaan apa itu, aku tidak pernah merasakan hal seperti itu, meski aku dekat dengan pria, dan ketika dekat dengan Pak Zhafran, perasaan itu tiba-tiba muncul. Entah perasaan itu, apa itu cinta, atau hanya perasaan kagum, atau mungkin karena aku sering bertemu dengan bapak, jadi aku merasa nyaman, tenang, dan entah apa lagi yang aku rasakan,” ungkap Alana.


“Lalu?” Tanya Zhafran dengan menatap lekat wajah Alana, membuat Alana salah tingkah, karena jaraknya cukup dekat.


“Lalu apa, Pak?”


“Ya lalu kamu mau menerimaku? Menerima cintaku, dan menjadi istriku?”


“Kalau Pak Zhafran menginginkan saya menjadi pendamping Pak Zhafran, kapan bapak akan ke rumahku? Ke rumah ibu, ke desa tempat di mana aku berasa?”


“Jadi kamu mau, Alana?” ulang Zhafran.


“Ada seorang laki-laki yang berniat melamarku, memintaku dengan baik, apa aku harus menolaknya Pak Zhafran?”


Zhafran tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia membawa Alana dalam pelukannya. Ia merasa sangat bahagia sekali Alana menerima cintanya.


“Terima kasih, Alana. Aku janji, aku akan bahagiakan kamu, aku mencintaimu,” ucap Zhafran lalu mengecup kening Alana.


“Janji harus dibuktikan, Pak. Dan satu yang harus Pak Zhafran ketahui, aku baru pernah merasakan jatuh cinta dengan bapak, aku tidak mau ada pengkhianatan untuk ke depannya. Aku tidak mau dalam pernikahanku kelak ada orang ketiga, kalau sampai itu terjadi, mau tidak mau aku yang akan pergi. Aku ingin mencintai orang sekali seumur hidupku,” ungkap Alana.


“Aku janji, Alana, aku tidak akan mengecewakan kamu, aku tidak akan mengkhianati cintamu, terima kasih, Alana. Besok atau lusa aku akan segera menemui orang tuamu di desa,” ucap Zhafran.


“Aku pegang janji Pak Zhafran,” ucap Alana.


“Ini ngomong-ngomong kenapa manggilnya pak terus? Aku bukan bapakmu, Lan?”


“Lalu aku harus memanggil apa?”


“Mas, Kak, atau mungkin sayang?”


“Mas Zhafran,” ucap Alana dengan mengembangkan senyumannya.

__ADS_1


Zhafran memeluk erat Alana, ia merasakan damai di sisi Alana. Entah kenapa gadis kecil yang umurnya jauh sekali dengan dirinya, bisa meluluhkan hatinya, dan membuang semua kenangan bersama Binka dulu. Alana adalah obat untuk Zhafran, Alana juga kebahagiaan putri semata wayangnya.


“Aku janji akan membahagiakanmu, Alana,” ucap Zhafran dalam hati.


__ADS_2