Sejuta Cinta Untuk Alana

Sejuta Cinta Untuk Alana
Honeymoon Dadakan Part 2


__ADS_3

Ardha menciumi pipi istrinya yang sedang ia dekap tubuhnya. Tubuh mereka masih polos, hanya tertutup selimut tebal saja. “Terima kasih, Sayang.” Ardha mengucapkan terima kasih dengan menciumi setiap jengkal wajah istriya.


“Sama-sama, Mas.” Jawab Alana dengan mengusap pipi suaminya. “Kamu bermain sangat lembut sekali,” imbuhnya dengan memagut bibir suaminya.


“Jangan nakal, kalau aku mau lagi bagaimana?”


“Aku masih siap. Mau lagi?”


“Nanti saja, kamu nanti kelelahan. Aku tidak mau kamu sakit. Tugasmu bukan hanya di atas ranjang memuaskan aku saja, tugas kamu banyak, ngurus Askara, ngurus aku, jadi nanti lagi. Kita istirahat dulu,” ucap Ardha.


“Oke, kita istirahat dulu satu jam, nanti aku mau lagi,” ucap Alana.


“Hmm ... oke.”


“Aku pengin seperti tadi.”


“Di atas?”


“Hmmm ....”


“Oke, terserah kamu senyaman kamu maunya gimana. Ayo tidur.” Ardha memeluk erat istrinya. Ia benar-benar tidak ingin melepaskan Alana. Apalagi Alana mampu memberikan apa yang ia inginkan. Alana adalah istri yang sangat sempurna.


Ardha memandangi wajah Alana yang sudah memejamkan matanya. Alana begitu cantik dan menggemaskan sekali. Ardha tidak tahan melihat Alana yang sedang tidur. Ia mencium bibir Alana lalu mencium keningnya. Ia mendekap istrinya lebih erat lagi, dan Ardha pun tidur dengan memeluk erat Alana.


Tidak terasa pagi menyapa mereka yang sedag bergulung di dalam hangatnya selimut tebal. Padahal dia ingin lagi setelah istirahat satu jam, tapi malah sampai pagi, mereka belum membuka matanya.


Ardha merasa tangannya kebas, dia merasa memeluk sesuatu tapi bukan guling. Ardha sadar, ada Alana di pelukannya. “Astaga ... aku lupa, aku punya istri. Dua malam tidak pernah tidur sedekat ini dengan memeluk Alana erat,  karena di rumah tidur dengn Askara, dan Askara berada di tengah-tengah kami,” batin Ardha dengan menatap wajah Alana.


Alana mengeliatkan tubuhnya. Ia merasakan tanga Ardha masih melingkar di perutnya. Alana mengerjapkan matanya, samar-samar melihat wajah Ardha di depannya yang sedang menatap dirinya. “Pagi Mas,” ucap Alana dengan suara parau.


“Pagi, Sayang ...,” jawab Arya lalu mengecup kilas bibir Alana. “Bagaimana tidurnya?”


“Nyaman, sampai lupa, semalam aku pengin tidur satu jam, terus mau lagi,” jawab Alana dengan tersenyum.


“Aku juga lupa, ketiduran, habis nyaman memeluk kamu,” jawab Ardha


“Lalu mau lanjut sekarang atau nanti?” tanya Alana menggoda dengan mengalungkan lengannya di bahu Ardha.


“Kau terlalu manis pagi ini, terlalu menggodaku, dan terlalu sayang untuk tidak disentuh pagi ini. Ayo sini naik, katanya mau di atas lagi. Tubuhmu begitu indah saat berlenggok di atasku, kau hebat sayang,” bisiknya, lalu mengecup leher Alana dengan lembut.


Alana membiarkan Ardha mencumbu dirinya seperti itu. Memasrahkan dirinya kepada Ardha seutuhnya. Ia mengikuti dengan patuh ketika Ardha mencumbunya perlahan dengan lembut. Dua gundukan telah Ardha raih dengan lembut dengan menggunakan bibirnya. Alana menggeliat, mengerang lirih, dan membiarkan suaminya puas menikmati apa yang menjadi haknya.


Tubuh Alana menjadi perjalanan panjang yang tak pernah usai ditempuh oleh Ardha, dari ujung rambut, hingga ujung kaki, kembali ke ujung rambut lagi. Ardha menjelajahi sekujur tubuh Alana dengan bibirnya yang dahaga. Seperti ingin menandai setiap jengkal  daerah kekuasaannya.


Alana tersengal dalam kenikmatan yang sudah cukup lama ia nantikan selama ia menjadi janda. Menyongsong tuan tanah baru yang sudah lama meninggalkan daerah kekuasaannya. Tatapan dan sentuhan Ardha membuat Alana merasa tak memerlukan apa pun untuk menjadi cantik. Tak perlu lingerie yang berbakut sutra, cantik, dan menggirahkan untuk memperindah tubuhnya. Tak perlu makeup berpendar untuk memulas wajahnya. Dan, Alana tak peduli lagi seperti apa penampilan dirinya pagi ini setelah bangun tidur dan langsung bercinta dengan Ardha. Karena Ardha hanya menginginkan tubuhnya bertaut nyaman dengan Alana pagi ini, pun dengan Alana.


Entah kapan Ardha membuang selimut tebal itu ke lantai. Tahu-tahu saja, tubuh Alana tergolek polos tanpa tertutu selimut tebal itu, yang semalam menutup tubuh polosnya. Meski begitu kecantikan Alana makin sempurna. Kulitanya yang putih mulus, terlihat demikian bercahaya. Tampak memukau di atas ranjang yang berbalut kain sutra berkilau. Tungkai kakinya memikat, pinggulnya yang menggoda, perutnya yang tampak rata dan kencang, meski pernah melahirkan, dadanya yang membuncah indah seperti patung lilin yang karena keindahannya dihadiahi jantung oleh sang pemahat, tempat napa dan perasaan bersemayan agar ia bisa mencintai dan dicintai.


Ranjang pun menjadi bumi tempat menyemai harapan. Tanah yang semula tandus kini subur kembali. Tunas bermekaran memulai kehidupan baru.


Ardha terus mencumbu tubuh Alana, seraya berbisik “Izinkan aku menjadi hujan selamanya, karena cintaku bukan gerimis yang terputus.”

__ADS_1


Ardha mendaki tubuh Alana yang semakin memanas. “Aku tak sanggup berpisah darimu. Aku ingin bersamamu, ingin memilikiumu sepanjang sisa hidupku, aku sangat mencintaimu, Alana. Aku terlalu mencintaimu.”


Mereka bercinta di pagi hari. Berawal, dan tak mau mengakhiri. Terus dan lagi, tanpa pernah berhenti. Mereka saling berbagi nyaman di pagi ini, berbagi peluh bergairah, ranjang yang semula tertata rapi, dari semalam hingga menjelang siang sudah berantakan. Baju dinas Alana, selimut, dan pakaian lainnya berserakan di lantai.


Tubuh Ardha terkulai di atas tubuh Alana. Alana menyeka peluh di kening Ardha lalu mengecup kening Ardha cukup lama, merasakan kasih sayangnya yang mengalir lembut dari hatinya, merasakan cinta yang sebenar-benarnya cinta. “Aku telah menemukanmu, di antara keping cintaku yang pecah. Hanya kamu yang utuh,” batin Alana. Alana menatap kembali wajah Ardha, lalu mengecup kilas bibir Ardha. “Aku sangat mencintaimu,” cetus Alana.


“Aku lebih, aku sangat, bahkan aku terlalu mencintaimu. Aku menginginkanmu lebih dari aku menginginkan dunia dan seluruh isinya,” balas Ardha. “Kamu nyaman?” tanya Ardha.


“Hmmm ... sangat nyaman. Terima kasih, kamu sudah memberikan yang terbaik untukku, memberikan seluruh cintamu untukku,” ucap Alana. “Setelah beribu malam pudar meninggalkan sunyi, setelah beribu mimpi pergi menyisakan nyeri. Hari ini, aku mengerti yang kucari, aku mengerti yang kunanti. Satu seorang. Dirimu.” Bisik Alana, lalu kembali mengecup bibir Ardha.


Mereka kembali bercinta di pagi ini, tidak mengenal letih, dan lelah. Alana memegang kendali di atas Ardha. Setelah dari tadi Ardha yang terus memegang kendali.


“Kau terlalu menggairahkan, entah itu di atas atau pasrah tergolek lemas di bawahku,” bisik Ardha.


Alana hanya tersenyum saat suaminya membisikkan itu. Ia semakin bersemangat untuk mencapai puncak lagi bersama suaminya.


Pagi ini hingga menjelang siang, mereka baru mengakhiri permainan mereka hingga melupakan sarapan paginya.


Ardha mendengar perut Alana berbunyi, ia tahu istrinya sudah lapar. Ardha memesan makanan, karena ia tidak mau meninggalkan kamar, pun dengan Alana, dia juga tidak ingin keluar kamar, karena pangkal pahanya sedikit nyeri untuk berjalan.


“Kenapa masih sakit? Padahal kamu pernah menikah?” tanya Ardha saat Alana mengeluh sakit di pangkal pahanya untuk berjalan.


“Aku baru merasakan bercinta selama ini, Mas. Semalam saja gak tahu berapa kali, tadi pagi sampai mau jam sebelas kita istirahat hanya sebentar, sudah gitu kamu lebih gede,” ucapnya dengan menunduk malu, karena terlalu terang-terangan bicara seperti itu.


“Jadi aku lebih gitu?”


“Hmmm .... lebih segalanya,” jawab Alana.


“Iya lah, nanti juga sakitnya hilang kok,” jawab Alana.


“Ya sudah, kamu istirahat dulu, aku mandi dulu, ya?” ucap Ardha. Alana hanya mengangguk. Ardha mengecup kening Alana, lalu mengambil handuk, dan melilitkan handuk ke pinggangnya.


“Mas?” panggil Alana saat Ardha akan melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Ardha menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Alana yang masih duduk di atas tempat tidur. “Ada apa, Sayang?” tanya Ardha dengan mendekati Alana lagi, dan duduk di sebelahnya.


Alana memeluk Ardha erat, “jangan tinggalkan aku, jangan khianati aku, aku ingin kamu yang terakhir dalam hidupku, Mas,” ucap Alana.


“Aku tidak akan meninggalkanmu, aku janji. Aku ini sudah mengucapkan janji di depan papamu, di depan penghulu, di depan para saksi, dan di hadapan Tuhan. Aku sudah janji untuk memilikimu, untuk menjagamu, mencintaimu, dan tidak akan pernah mengkhiantimu. Aku tidak akan meninggalkanmu kalau bukan Tuhan yang mengambil nyawaku. Jangan pernah takut untuk kutinggalakan, jangan pernah takut, Sayang,” ucap Ardha.


“Kamu tahu sendiri, bagaimana aku setelah perceraian itu? Aku tidak menyangka seorang yang sudah aku titipi hatinya, malah berkhianat, dan memilih hidup dengan orang ketiga dalam pernikahanku kemarin. Aku tidak ingin itu terulang lagi, Mas. Aku tidak mau.”


“Tidak akan terjadi, Sayang. Itu tidak akan pernah terjadi,” ucap Ardha dengan lugas. “Aku tidak pernah jatuh cinta selain denganmu, kamu perempuan pertama yang membuat aku bisa jatuh cinta, menggetarkan hatiku, dan menyalurkan cinta ke sekujur tubuhku. Hanya kamu yang bisa membuat aku jatuh cinta, Lan. Ya meski banyak perempuan yang berlomba mendapatkan cintaku, tapi aku tidak peduli, karena aku gak suka, aku gak cinta,” jelas Ardha.


“Maaf aku bicara seperti itu, seperti tidak percaya kamu begitu mencintaiku. Aku sangat percaya kamu begitu mencintaiku, dan aku tidak akan meragukan lagi, tapi sekali kamu mengkhianatiku, jangan harap kamu akan bertemu denganku lagi, juga anak-anakmu,” ucap Alana.


“Tidak akan aku mengkhianatimu, kamu pegang ucapan aku, Sayang,” ucap Ardha meyakinkan.


“Iya aku pegang ucapanmu, Mas.”


“Ya sudah yuk mandi,” ajak Ardha. “Kita mandi bersama, ya?”


“Hmm ... gendong, ya? Kakiku sakit,” pinta Alana.

__ADS_1


“Sini aku gendong.” Ardha menggendong tubuh Santi di depan.


Mereka mandi bersama, dan mereka tidak bisa menahan gejolak hasrat dalam diri mereka, hingga ia melakukannya lagi di dalam kamar mandi.


“Kan gini lagi?” ucap Alana setelah selesai bercinta.


“Lagian kamu juga menggodaku, aku gak bisa kalau kamu sudah menggodaku seperti tadi. Kamu tadi nyaman, kan?” tanya Ardha.


“Iya, sangat. Ayo mandi, aku sudah lapar sekali.”


Mereka sudah selesai mandi. Alana sudah berdandan, menggunakan dress selutut yang sudah di sediakan di lemari pakaian. Tak lama kemudian pegawai hotel mengantarkan makanan. Sarapan sekaligus makan siang, memang Ardha memesan masing-masing dua porsi untuk dirinya dan Alana.


“Ini banyak sekali, Mas?” tanya Alana.


“Biar dobel, Lan. Kan tadi pagi gak sarapan, aku juga merasa lapar sekali,” jawab Ardha.


“Sama sih, jajanan semalam saja ludes, untung kan kita beli banyak jajanan semalam,” ucap Alana.


“Ya sudah yuk, kita isi tenaga, lalu setelah itu lanjut lagi, orang tua kita minta banyak cucu dari kita,” ucap Ardha.


Sama-sama anak bungsu, yang malah lebih mandiri dari kakak-kakaknya, membuat Devan dan Arkan tidak mau jauh dari mereka. Tapi, mereka juga tidak bisa memaksa mereka, karena mereka punya jalan sendiri untuk menjalani kehidupannya. Arkan tidak pernah menyangka Ardha yang kurang perhatian darinya, malah dia lebih dewasa dan lebih mandiri dari kakaknya.


^^^


Setelah dua hari melakukan honeymoon dadakan, Ardha dan Alana pulang, ia pulang ke rumah Arkan lebih dulu untuk menjemput Askara.


“Sini aku lepaskan helmnya.” Ardha melepaskan helm yang Alana pakai. “Rambutnya berantakan, sebentar aku rapikan.” Ardha merapikan rambut Alana yang sedikit berantakan.


Dari kejauhan, terlihat seorang laki-laki yang sedang memandangi perlakuan Ardha yang begitu lembut pada Alana. “Dia begitu menyayangi Alana, dia terlihat begitu tulus mencintainya. Alana benar-benar beruntung mendapatkan Ardha, jujur melihat kemesraan mereka aku iri sendiri, aku menyesal, kenapa aku dulu menyia-nyiakan seorang wanita yang begitu baik seperiti Alana, aku mengkhianatinya, demi kepuasan sesaat, dan demi cintaku yang masih ada untuk Binka, tapi sekarang, aku benar-benar tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti saat dengan Alana dulu. Dia perempuan yang paling mengerti laki-laki, dia perempuan yang sangat patuh terhadap suami, tapi aku menyia-nyiakan dia. Begitu beruntung Ardha menjadi suami Alana.” Zhafran merasakan tidak baik-baik saja hatinya saat melihat Alana dan Ardha seromantis itu.


“Papa itu bunda sudah pulang,” Ucapan Nina membuyarkan lamunannya.


“Ah iya, bunda sudah pulang, sana bilang sama opa, bunda sudah pulang,” jawab Zhafran. Nina berlari masuk memberitahukan oma dan opa nya kalau Om dan bundanya sudah pulang.


Zhalina yang juga masih di rumah papinya, dia melihat kegundahan hati kakaknya itu. Zhalina mendekatinya dan menepuk bahu Zhafran.


“Kenapa, kakak merasa menyesal atau gimana melihat mereka?” tanya Zhalina. “Sudah, jangan disesali, kan kakak sendiri yang mau, kakak sendiri yang memutuskan untuk kembali dengan Kak Binka? Ya sudah sekarang kakak harus bisa menerima Alana yang bahagia dengan adik kita. Lagian kakak gak cinta sama Alana, ngapain kudu menyesal sih?” ujar Zhalina.


“Iya aku memang tidak mencintai Alana, Lin. Tapi aku pernah merasakan hidup dengannya, merasakan ketulusan dia mencintaiku, dan aku membalasnya dengan cara yang menyakitkan. Meski aku tidak mencintai Alana sepenuh hatiku, aku merasa nyaman dan tentram bersama dengan Alana. Dia sosok istri dan ibu yang sangat baik. Beruntung Ardha memiliki Alana, dan Alana pun beruntung, kaarena dia mendapatkan laki-laki yang begitu tulus mencintainya,” ucap Zhafran.


“Bodohnya kamu, Kak! Kamu nyaman dan aman, tapi kamu mengkhianatinya!” ujar Zhalina kesal. “ Ya susah juga sih kalau belum jodoh, ya sudah kakak gak usah galau gitu, biar mereka bahagia, toh mereka memilih gak tinggal di sini, jadi kakak gak setiap hari dihantui rasa bersalah kakak pada Alana.”


“Lebih tepatnya kakak gak merasakan cemburu dan sakit hati jika melihat mereka bermesraan jika dia hidup di Jogja, Lin.” Ucapan Zahfran hanya dalam batinnya.


“Iya, Lin, tapi papi kayaknya memaksa Ardha dan Alana tinggal di sini deh, apalagi Om Dev, sepertinya tidak mau jauh-jauh dari Alana. Jadi kayaknya mereka akan meminta Alana dan Ardha tetap di sini,” ucap Zhafran.


“Kakak kayak gak tahu Ardha saja. Mau seribu orang memaksa dia untuk tinggal di sini, aku jamin dia gak akan mau. Dia itu punya pendirian yang teguh, Kak. Kalau ini yang harus ini, kalau itu ya harus itu, gak mungkin ini berubah itu, atau sebalikanya,” ujar Zhalina.


“Iya benar, Ardha memang kuat dengan pendiriannya. Contohnya sekarang, dia tanpa meminta bantuan papi pun usahanya berkembang, dia memang mandiri sejak kecil,” ujar Zhafran.


Zhafran dan Zhalian diam seperti tidak sedang membicarakan mereka, saat Ardha dan Alana berjalan masuk ke dalam. “Sudah jangan membicarakan mereka, tuh mereka ke sini,” ucap Zhalina.

__ADS_1


__ADS_2