
“Ar, mereka kenapa pada pulang?” tanya Arkan pada Ardha.
“Kayaknya Om Dev sama Tante Nadia ada urusan, Fatih juga, tapi gak tahu Acha sama Shaka,” jawab Ardha dengan raut wajah yang santai, supaya semua orang tidak curiga. Padahal dia masih sangat panik mendengar Askara masuk ke rumah sakit karena demam.
“Kayaknya tadi kamu juga tahu, kakak lihat saat kamu selesai bisik-bisik pada Shaka merek pada pamit semua? Saat tadi kamu bicara bisik-bisik pada Om Dev juga,” ucap Zhafran.
“Kak Zhafran hanya perasaan saja mungkin. Ya gimana gak bisik-bisik, kan di sini rame, bicara dengan teriak pun gak dengar, Kak. Harusnya ya deketin telinga dan bisik-bisik dikit,” jelas Ardha.
“Ini kita lagi bicara jauhan lho, Ar? Bisa kan dengar? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu?” Zhafran semakin curiga, apalagi tadi sekilas mendengar nama Askara, saat Shaka menyebutnya lirih.
“Menyembunyikan sesuatu apa, Kakak? Lagian ya kita bisa lah ngobrol gini, kan musiknya berhenti, gak ada suara musik lagi, tadi kan sedang ada musik, ya bisik-bisik lah?” Jawab Ardha. Untung saja memang saat bicara dengan Zhafran musik berhenti.
Zhafran hanya mengangguk, membernarkan ucapan Ardha. Benar sih dari tadi dia juga bicara sedikit kesusahan harus mendekati telinga orang yang sedang ia ajak bicara karena ada musik yang keras suaranya.
Ardha masih bertukar pesan dengan Iwan soal keadaan Askara. Kata Iwan Askara menangis terus, dan demamnya belum juga turun. Semalaman Askara juga rewel, dan tidur hanya sebentar saja. Ardha pamit untuk ke kamarnya, dia ingin telefon Alana atau Iwan untuk mengetahui secara detail keadaan Askara.
“Mau ke mana, Ar?” tanya Arkan.
“Kamar, Pi. Mau rebahan, pegel badan Ardha, nanti malam juga Ardha mau ke Jogja, atau besok pagi-pagi. Soalnya tadi klien tiba-tiba mengubah jadwal ketemu, besok siang harus bertemu,” jawab Ardha.
“Apa gak bisa ditunda, Ar?” tanya Zhalina.
“Maaf, Kak. Gak bisa sepertinya.” Jawab Ardha.
“Kamu jahat ya, masa sebentar di rumah?” protes Zhalina.
__ADS_1
“Tenang nanti mungkin awal tahun aku agak lama di sini,” jawab Ardha.
Ya awal tahun pastinya Ardha akan pulang dan lebih lama tinggal di jakarta, karena Fatih akan menikah, tentunya Alana akan pulang, dan dia akan memberikan kejutan pada keluarganya, kalau Alana dan anaknya ada dengan dirinya. Dia juga ingin tahu bagaimana reaksi kakaknya yang sudah meninggalkan Alana, yang sudah memberikan anak laki-laki.
“Askara kuat di sini, Kak. Ingat Kakak tidak punya anak laki-laki, meskipun nantinya Kak Lina punya anak laki-laki, yang berkuasa di sini adalah Askara, mungkin dia yang akan menjadi penerus perusahaan papi dan mami, dia anakmu, dia akan tumbuh menjadi anak hebat di atas asuhanku. Aku janji itu, dia akan jadi anak yang hebat, akan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, dan menghargai perempuan, tidak seperti kamu!” gumam Ardha.
Ardha bertukar kabar dengan Alana. Kata Alana Askara sudah mendingan setelah diberi obat oleh dokter, sekarang Askara sedang tidur.
“Infusnya sudah lepas tiga kali, Ar. Dilepasin terus tadi.”
“Kamu yang sabar, ya? Aku akan pulang nanti malam. Kamu jangan panik, papa dan mamamu sudah on the way ke sana katanya, sama kakakmu juga.”
“Apa tidak apa-apa kamu pulang, Ar? Nanti Kak Lina marah? Mami sama papi kamu juga apa tidak marah kalau kamu malam ini langsung pulang ke Jogja?”
Arkan mendengarkan Ardha bicara dengan seseorang lewat telefon. Arkan juga curiga, siapa Askara? Tadi pun Arkan mendengar Devan , Nadia, dan Fatih menyebut nama Askara.
“Askara, siapa Askara? Devan, Nadia, Fatih juga menyebut nama Askara. Ini Ardha juga iya? Terus Askara kuat seperti bundanya? Bundanya? Berarti Askara anak kecil? Ardha menyembunyikan apa lagi dariku?” ucap Arkan dalam hati.
Arkan memberanikan diri mengetuk pintu kamar Ardha. Ia ingin membangun kedekatan dengan Ardha, yang selama ini tidak pernah ia lakukan. Ia hanya memandang Ardha sebelah mata, dan hanya fokus pada Zhafran.
“Ardha, boleh papi masuk?” Arkan memangil Ardha dan meminta izin untuk masuk ke kamarnya.
Ardha mendengar papinya memanggil, ia langsung mengakhiri panggilannya dengan Alana. Ardha bergegas membuka pintu kamarnya.
“Iya, Pi? Ada apa?” tanya Ardha.
__ADS_1
“Boleh papi masuk? Ada yang ingin papi bicarakan,” jawab Arkan.
“Oh iya, Pi. Silakan masuk,” ucap Ardha mempersilakan papinya masuk ke kamarnya.
Arkan duduk di sebelah Ardha. Ia merangkul Ardha dengan menepuk-nepuk bahunya. “Papi bangga sama kamu. Maafkan papi yang selama ini tidak pernah memerhatikanmu, papi selalu saja memandang kamu sebelah mata. Harusnya papi tidak pilih kasih dengan anak-anak papi,” ucap Arkan.
“Papi jangan begitu, Ardha tidak merasa dibedakan oleh papi kok. Ardha paham, papi lebih condong ke Kak Zhafran karena papi mempercayai Kak Zhafran untuk mengurus perusahaan papi, dan Ardha tidak pernah mau untuk itu. Ardha yang harusnya minta maaf, karena Ardha selalu melawan Ardha selalu menolak untuk belajar soal perusahaan papi, Ardha memilih bebas dengan hobi Ardha di motor dan game, tapi sekarang Ardha sedang berusaha merintis karier Ardha, Pi,” ucap Ardha.
“Apa pun pilihan kamu, papi tidak akan mempermasalahkan lagi. Sejak papi tahu kamu hanya diam memendam cintamu pada Alana, papi sadar, kamu pergi menghindar dari kami karena apa? Dan, dengan kepergian kamu, kamu berhasil membuktikan di sana kamu bisa membangun usahamu dari nol,” ucap Arkan. “Sekarang papi tidak mau lagi kamu menyembunyikan sesuatu pada papi. Bicaralah, kalau papi bisa bantu, papi akan bantu kamu,” imbuhnya.
“Ardha tidak menyembunyikan apa-apa, Pi,” jawab Ardha.
“Jangan bohong, Ardha?” tukas Arkan. “Siapa Askara?” tanya Arkan.
Ardha sedikit terhenyak mendengar papinya menyebut nama Askara. Dari mana papinya tahu nama Askara. “Kok papi tiba-tiba tanya Askara?” tanya Ardha.
“Dari tadi papi dengar Devan, Nadia, dan Fatih bicara soal Askara, dan tadi papi dengar kamu bicara dengan orang yang kamu telefon, kamu sebut nama Askara. Siapa dia, Nak? Kamu mau menyembunyikan sesuatu pada papi?” Arkan terus mendesak Ardha supaya menjelaskannya siapa Askara.
Ardha bimbang, antara ingin menjelaskan atau tidak. Papinya adalah opanya Askara, dan harusnya berhak tahu soal Askara, apalagi Askara cucu laki-lakinya. Namun, di sisi lain, Alana melarang dirinya agar tidak bicara dengan siapa pun tentang di mana Alana berada. Ardha tidak bisa berbohong, papinya terus mendesak dirinya, untuk menceritakan siapa Askara.
Ardha mengambil ponselnya, lalu membuka galeri ponselnya, dan menunjukkan foto Askara dengan dirinya dan Alana.
“Ini Askara, Pi,” ucap Ardha dengan menunjukkan foto Askara, Alana, dan dirinya di galeri ponselnya.
“Askara? I—ini Alana? Jadi Askara anaknya Alana?” Arkan menatap ponsel Ardha dengan mata berkaca-kaca, tidak percaya Alana melahirkan anak laki-laki, dan itu adalah cucunya.
__ADS_1